
Manik mata Randy terbelalak lebar ketika melihat sosok Reyhan sudah berdiri di hadapannya.
Tampilannya lusuh seperti habis terkena badai. Rambutnya, kemejanya semua tak beraturan. Bahkan dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Tapi itu tak perlu diperhatikan. Yang harus dipertanyakan adalah bagaimana mungkin pria itu bisa tiba di rumah sakit ini padahal sedang di Eropa.
Apa dia bisa melesat seperti seorang vampir? Tidak, itu tak mungkin. Apa dia punya kekuatan menghilang? Tidak, itu tak mungkin juga. Lalu apa? batin Randy terus bertanya-tanya.
Dia tau betul, naik pesawat saja membutuhkan waktu kisaran sepuluh jam lamanya. Dia bahkan baru menghubungi bosnya itu selama kurang tujuh jam lamanya.
Tapi lihat, dia sedah berdiri di sini sekarang. Benar-benar apresiasi untuknya. Tapi nanti dulu.
Terlihat Reyhan kini melemparkan tatapan sengitnya. Tepat ke arah Randy sang asisten yang bertugas menjaga Rika, wanitanya.
"Di mana istriku???" Pertanyaan tanpa basa-basi itu di lemparkan Reyhan langsung kepada Randy. Penuh penekanan dengan nada mematikan. Dia juga mencengkram kerah baju asistennya itu.
"Katakan!!! di mana dia??"Dengan nyaring Reyhan mengulangi pertanyaannya.
"Rey,"ujar Randy menelan paksa salifanya. Dia sendiri tak berani menatap manik mata Reyhan yang seakan mengeluarkan percikan api di dalamnya.
Kemarahan bos sekaligus sahabatnya memang sudah memuncak. Dia bahkan tak berfikir dua kali untuk melayangkan pukulannya.
Yah tepat sekali, Reyhan hendak mengibaskan kepalan tangannya. Tapi tiba-tiba suara tangisan bayi dari dalam ruangan operasi menghentikannya.
"Ngeaa!!! Ngeaaa!!! Ngeaa!!" Semua orang terdiam. Terpaku di tempat sembari mendengar suara itu secara saksama.
__ADS_1
Hendak memastikannya bahwa itu memang berasal dari dalam ruangan Rika. Yah itu memang benar.
Perlahan Reyhan melepaskan cengkramannya. Dengan rasa tak bercaya mendekat ke arah ruangan itu.
Terus mendengar tangisan tersebut hingga tak terasa kupingnya sudah menempel di pintu. Mungkin bapak baru ini ingin lebih dekat lagi.
"Klekk!" Pintu tiba-tiba terbuka. Dari dalam situ, Dokter Galdin memunculkan diri bersama seorang perawat perempuan di belakangnya.
Apa yang penting? Yah yang penting adalah di tangan mereka terdapat seorang bayi. Bayi kecil yang sangat imut dan menggemaskan.
Reyhan tersenyum campur tangis melihatnya. Dia menatap dua bayi itu. Sangat mirip dirinya. Tak salah lagi, mereka pasti anak-anaknya. Yah itu benar.
"Rey, tenanglah. Mereka masih sangat lemah. Kami masih harus menyimpannya di dalam kaca," kata Galdin ikut tersenyum melihatnya.
"Mana rika?" Tanya Reyhan masih tak tenang karena belum melihat istri tercintanya.
Reyhan mengusap wajah penuh kelegahan. Bukan hanya dia, tapi semua orang yang ada di situ. Bu Rossa, Oma dan terlebih lagi Randy.
Nyawanya sudah selamat dari amukan Reyhan. Rika telah membaik dan kedua anaknya juga selamat. Tapi masih harus disimpan di dalam kaca dulu Mengingat mereka bayi prematur.
"Selamat Rey, kau sudah jadi seorang ayah,"Ujar Oma memeluk cucunya.
"Selamat sayang. Semuanya sudah baik-baik saja,"Bu Rossa membelai puncak kepala Reyhan menantunya.
Kini dia benar-benar bisah bernafas lega. Rika putrinya sudah tak kritis lagi. Dua cucunya juga lahir dengan selamat.
__ADS_1
Cucu, yah Bu Rossa kini telah menjadi seorang nenek. Kalau Oma entah apa lagi sebutan untuknya.
"Mah," Reyhan menatap Bu Rossa dengan dalam. Memandang dengan mata yang sudah basah sejak tadi.
Tak lama mulai mencium pundak tanganya. Mengucap syukur karena ibu mertuanya itu telah melahirkan sesosok Rika untuknya.
"Aku sangat berterima kasih Mah, sangat berterima kasih,"
Bu Rossa tersenyum seraya membelai wajah menantunya.
"Iya sayang. Terimah kasih juga karena sudah membahagiakan Rika untuk Mama,"
Keduanya saling berpelukan. Bu Rossa terlihat sudah menganggap Reyhan layaknya anak kandung sendiri.
Begitupun dengan Reyhan. Akhirnya ia kembali merasakan hangatnya pelukan seorang ibu. Sudah lama rasnya dia tak merasakan yang seperti ini. Ibunya sudah tiada sejak dirinya kecil.
Tapi sekarang ada lagi. Itu dari ibu mertuanya.
"Rey, selamat kau sudah jadi bapak-bapak,"ujar Randy dengan nyengirannya.
Dia bahkan merangkul pundak bos sekaligus sahabatnya itu seakan dirinya tak habis berbuat kesalah.
"Terimakasih, tapi aku masih belum selesai denganmu," kata Reyhan Kembali memasang wajah dingin kepada asistennya itu.
Randy hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Baiklah, pasrah saja, batinya tersenyum tak berdaya.
__ADS_1
.............. happy reading.............
Like, vote, komen, and foforitkan juga yah