Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 80


__ADS_3

"Rey, aku bukan menangis karena itu. Aku hanya tersentuh karena perhatian dan ketakutanmu itu."


Reyhan tertegun. Menatap Rika secara dalam. Tanpa aba-aba lagi langsung memegangi dua pipi itu.


"Egggfffff,"bibir itu pun bersatu. Menempel, menghisap dengan penuh kelembutan. Reyhan mencium Rika, dengan sentuhan yang sangat memukau. Membuat larut dalam kehangatan.


Menutup mata agar lebih bisa merasakannya. Bibir kenyal itu. Sungguh memabukkan.


Kenikmatan dan kenyamanan yang tiada Tara.


"Rey,"Rika hanya bisa berkata itu setelah penyatuannya terlepas. Menatap dengan sendu kemudian kembali memeluk erat pria itu.


Begitupun dengan Reyhan, memeluk Rika dengan erat. Melepas, tak ingin rasanya.


****


Di rumah setengah jabuk dan kecil itu. Dion duduk di dalam kamar. Tepatnya di depan sebuah cermin . Gambar dirinya terlihat dan terpantul dari situ.


Dia menatap dirinya sendiri. Mengingat semua yang telah terjadi. Rasanya seperti mimpi. Dia dan Rika telah bercerai. Dan mantan istrinya itu tengah hamil saat ini.


Perempuan yang selalu disebutnya sebagai wanitan mandul. Sekarang tengah mengandung bayi kembar.


Hhahahah ....


Pria itu malah tertawa dengan wajah yang datar. Tampak sedih namun masih mencoba menghibur diri. Terlihat seperti orang yang depresi.


Masih belum bisa menerima kenyataan bahwa mantan istrinya itu bukan hamil darinya. Itu lucu sekali.


Reta yang sedari tadi berdiri di ambang pintu akhirnya memberanikan diri untuk masuk. Datang dengan segelas air putih di tangannya. Tampak sedih melihat kondisi Dion suaminya yang sekarang ini.


Tampilannya saja sangat lusuh dan acak-acakan. Sepanjang pulang dari rumah sakit tadi hanya duduk di depan cermin kaca itu. Mungkin berusaha mengoreksi diri tentang semua perbuatannya selama ini.


"Mas, ini minum dulu. Setelahnya, aku akan membawakanmu makanan."


Pria itu tak merespon. Tak bergerak. Tak lepas pula dari pandangan kaca itu.


"Mas, ayo minumlah. Dengan begitu, kau akan sedikit lebih tenang."


"Tenang," Dion terdiam setelah mengulang kata itu.


Tak lama "Hahahhahahhaah ...."Pemuda itu malah tertawa dengan nyaringnya. Besar hingga menggema di kamar kecil dan sempit itu.


Entah apa yang lucu dari kata itu. Yang pasti dia hanya tambah terlihat memprihatinkan dengan tawa menjegelegarnya.


"Reta,"Dion menghentikan tawanya. Kini iya berbalik menatap wanita yang duduk di sampingnya itu.

__ADS_1


"Apa kau sadar, kau lah penyebab aku berpisah dari rika, Kau sadar tidak!!!" Suara pria itu meninggi di akhir kalimatnya.


"Haahhhhh!! Kau sadar tidak!!!"


Reta memalingkan pandangannya. Meskipun kini kedua bahunya dicengkeram keras oleh Dion suaminya. Iya tetap tak melihatnya.


Mengerutkan alis dan hanya menahan sakitnya.


"Reta!! Lihat aku!! Gara-gara kau aku jadi tidak pernah bersama Rika!! Aku tak pernah menidurinya lagi!! Itu karena kau Reta! karena kau!! Lalu apa yang kudapat? Kau juga tak kunjung memberiku anak. Dokter terus mengatakan bahwa kandunganmu normal, tapi apa? Kenapa sampai sekarang kau tak kunjung hamil juga?"


"Aku salah karena telah menikahi wanita MANDUL!! Sepertimu!" Perkataan itu berhasil membuat Reta membulatkan mata kejutnya. Dion baru saja mengatainya mandul.


"Mas!!!!"Reta berteriak kencang sekaligus menepis tangan besar suaminya yang sedari tadi mencengkramnya. Iya berdiri dengan lantang dan kini dengan pandangan yang berapi-api.


"Aku tidak MANDUL Mas!!"


"Berani sekali kau mengataiku seperti itu!!"


Dion juga bangkit dan langsung menghadapi kemarahan Istrinya Reta yang memuncak padanya.


"Kalau kau tidak mandul, kenapa kau tak hamil juga. Tiap malam bahkan hampir tiap saat aku menggempurmu di atas ranjang! Lalu kenapa? Hahhh!!"


"Itu karena kau yang impoten, Mas!! Kau Mandull"


"Plaakkkkkkkk!!!"akhirnya pertengkaran panas itu dibubuhi dengan tamparan keras Dion ke wajah istrinya Reta.


Kini tampak Reta masih terpaku di tempat dengan salah satu tangannya yang memegang di pipi.


Wanita itu menangis. Dengan pandangan tak percaya iya berlalu dari kamar itu.


Meninggalkan Dion yang amarahnya masih belum reda juga.


Pria itu mengepalkan tangan yang tadi memukul wajah istrinya. Dengan sengit menatap bayangannya di cermin.


Tak lama, layangan tinju memecah seribukan kaca itu.


"Brakkk!!!" Hancur dan berserakan di mana-mana. Hasilnya, tangan Dion berdarah. Darahnya mengalir dan menetes dimana-mana. Begitu hancurnya dia.


****


Waktu terus berlalu. Pesta penyambutan ulang tahun Oma Reyhan pun terselenggara. Tampak acara besar itu dilaksanakan di sebuah hotel megah dan mewah.


Diliput oleh beberapa media dan dengan sistem keamanan yang ketat. Para tamu undangannya tentu dari kaum terhormat dan kalangan atas.


Sementara itu, disebuah kamar VVIP. Seorang nenek tua tampak berdiri di depan kaca jendela. Memandang luas hamparan kota yang padat. Dia adalah tetua keluarga Ardiwiningrat, nenek Reyhan.

__ADS_1


Entah sudah berapa lama iya berdiri di situ. Tak ada satu orangpun yang bisa mengganggunya.


Itu sudah menjadi titahnya. Dia sedang tak ingin menemui siapapun.


Kecuali Reyhan cucunya. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Apakah cucu satu-satunya itu sudah menemukan seorang wanita yang akan dinikahinya atau tidak. Dia tak tahu.


Itulah yang membuat seorang wanita yang sudah berumur itu termenung. Dari tadi sedang menunggu cucu nakalnya itu. Apakah dia akan datang bersama seorang wanita atau tidak.


Entahlah, setahu perempuan tua itu cucunya memang tak pernah dekat dengan seorang wanita. Mungkin sampai sekarang.


Huh, semakin terpuruk saja.


"Nyonya, dia sudah tiba."Sontak wanita tua itu berbalik dan menengok ke arah sumber suara.


Dibelakangnya tepat berdiri seorang lelaki tua yang merupakan asistennya. Dia bernama Huolan. Semua orang biasa memanggilnya asisten Huo


"Reyhan, dia sudah datang?" Tanyanya penuh harapan.


"Yah, nyonya."


"Mana? Wanita seperti apa yang iya bawa? Tunjukan padaku? Dimana mereka??"semangat Perempuan tua itu menghampiri.


Asisten Huo menunduk.


"Maaf nyonya. Tuan, dia datang sendiri."


Wanita tua itu lemas tak semangat mendengarnya.


Memang sudah diduganya dari awal. Reyhan, cucu satu-satunya itu memang tak patuh.


Putus harapan, wanita tua itu kembali berdiri di dekat jendela. Memandang dengan luas. Menghembuskan nafas keluhnya.


Tampaknya kado istimewa di hari ulang tahunnya itu tak berhasil didapatnya. Dia tak minta mobil, rumah atau bahkan sesuatu yang berharga lainya. Satu yang iya mau.


Melihat cucu kesayanganya Reyhan menikah dan mempunyai anak. Baru setelah itu dia bisa menutup usia dengan tenang. Wanita tua ini ingin agar Reyhan segera menemukan pendamping hidupnya.


Jadi setelah kepergiannya nanti dia jadi tak khawatir lagi.


Mengingat Reyhan sudah ada yang urus ataupun jaga.


Tapi tampaknya itu tak akan terjadi. Mungkin cucunya itu masih menutup diri terhadap sentuhan wanita. Kejadian na'as orang tuanya itulah yang membuatnya seperti itu.


Reyhan, memang besar cobaan hidup yang dilaluinya. Mungkin itulah takdir kehidupan yang sudah diatur sang penguasa untuknya.


................. Happy reading..................

__ADS_1


ini dulu yah kk lagi kehabisan ide nih hhehehe gegara kurang like, vote, komen ni kk faforitnya jg


__ADS_2