Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 94


__ADS_3

"Ahhhhh!!!!"Rika memekik kala seseorang datang dan langsung menarik tangannya.


Bu Rossa terkejut panik melihat itu. Mantan menantunya kini berdiri tepat di hadapannya. Menghadang jalan dan menahan putrinya.


"Mahhhh!!"Rika Kembali berteriak ringis menahan sakit di pergelangan tangannya.


Tampak mantan suaminya itu memang mencengkramnya dengan kuat. Mungkin takut dirinya akan kabur.


"Dion!! Lepaskan Rika!!"


"Lepaskan dia!! Kau menyakitinya!!"


Bu Rossa sudah berteriak beberapa kali untuk meminta mantan menantunya itu melepaskan putrinya. Namun hasilnya nihil. Dion malah tambah mempererat cengkraman tangannya.


"Mah, tanganku sakit!! Dionn, lepaskan aku!!"


"Rika! Tenang Rika!! Aku tidak akan melepaskanmu, kau pasti akan kabur. Tidak! Berjanjilah kau tidak akan pergi dariku, aku mohon Rika, aku mohon!"Dion mencoba menenangkan suasana riuh itu.


Berusaha membuat mantan istrinya itu menurut tapi tidak, Rika malah semakin merontah-rontah. Ditambah Bu Rossa yang terus berusaha membantu Rika agar bisa segera terlepas.


"Plakkk!!"


"Brukkk!!"


Tanpa sadar Dion melepaskan pukulan tangannya ke arah Bu Rossa. Wanita paruh baya itu terbentur ke tembok dan sekarang terkapar di tanah. Dia tak lagi bergerak.


Rika yang melihat ibunya sudah tak sadarkan diri berteriak histeris.


"Mama!!!! Mama bangun Mah! Tolongg!! Tolonggg!! Mah!! Bangun!!"


Dion sendiri panik melihat hasil perbuatannya. Jujur saja dia sama sekali tak ada maksud untuk melakukan itu semua. Suasana menegang, dirinya juga kehilangan kendali.


"Dion!!! Kau melukai Mamaku! Lepaskan aku!!"


"Lepaskan aku Dion!!" Tangis wanita itu tak tertahankan lagi. Dia sangat panik melihat wanita yang melahirkannya itu terbaring di tanah.


Meskipun begitu, Dion dengan hati dinginnya masih saja tak melepaskan cengkraman tangannya. Dia juga ikut panik sekarang. Apa lagi kini terdengar langkah begitu banyak orang yang berdatangan. Dia pasti akan digerebek saat ini.


Benar saja, kini para anak buah Reyhan sudah berdiri di hadapannya. Mengepung dan akan segera menangkapnya.

__ADS_1


Tapi sebelum itu, Dion sendiri kini telah menodongkan sebilah pisau ke arah wajah Rika.


Dia berhasil menyandera toko utamanya. Sungguh ini semua tak pernah terlintas di benaknya. Awalnya Dion ingin menemui Rika untuk mengajaknya balikan.


Kembali hidup bahagia dengan dua anak yang masih dalam kandungan. Walaupun itu jelas bukan darah dagingnya. Dia tetap akan menerimanya. Siapa sangka masalahnya akan jadi runyam seperti ini.


Dion sendiri kini telah menyandra wanita yang hendak diajaknya berbaikan itu.


"Mundur semua!! Jika tidak, istri majikan kalian ini akan kehilangan nyawanya."Dion berkata dengan lantangnya.


"Mundur!! Aku tidak main-main untuk ini!"


Semua anak buah Reyhan perlahan tunduk. Terpaksa mereka menurut. Dalam kondisi seperti ini memang harus pasrah dulu.


Tunggu sampai ada kesempatan, baru bisa melumpuhkan musuh bebuyutan itu.


Melihat situasi yang sudah dikendalikannya, Dion baru mulai bergerak. Berbalik ke belakang dulu untuk memastikan tak ada yang akan menciduknya.


Setelah memastikan semua aman, Kini dia berjalan mundur. Membawa Rika, mantan istrinya sebagai sanderanya. Masih menodongkan pisau guna tak ada yang berani bergerak ataupun melawannya.


"Dion!! Lepaskan aku! Aku mohon!! Aku sedang hamil!!!"


Dia sangat takut. Pria yang dulu pernah menjadi suaminya itu benar-benar sudah gila. Entah setan apa yang telah merasukinya. Dia sangat berbeda.


"Diam Rika! Ini semua demi kebaikan kita. Aku, kau, dan kedua bayi kembar kita."bentak pria itu masih was-was takut ada yang tetiba menyerangnya.


Rika terkesima mendengarnya. Tak sangka mantan suaminya akan mengatakan omong kosong itu. Apa dia belum sadar juga bahwa semuanya telah berakhir.


"Tidak Dion!! Kau sudah gila! Lepaskan aku!!! Reyhan akan menghabisimu jika dia tahu tentang ini!"


Dion menyeringai. Tak takut sedikitpun kala mendengar nama orang yang bagaikan malaikat pencabut nyawa untuknya. Reyhan, suami mantan istrinya itu.


Pasti sedang sibuk berkutat di perusahaan besarnya. Pikir Dion saat ini.


Reyhan mana mungkin datang untuk menyelamatkan nyawa istri dan calon anaknya yang bagaikan sudah di ujung tanduk itu.


Kalaupun dia datang, paling hanya akan menemukan sebuah jasad dan genangan darah merah segar. Dia akan terlambat.


Karena saat ini sudah diputuskan Dion, jika Rika tak mau kembali dengannya lebih baik mati saja. Itu sudah menjadi pilihannya.

__ADS_1


"Rik,, ayolah. Kembalilah padaku. Kita akan mulai semuanya dari nol. Aku mohon,"pinta Dion terakhir kalinya. Tampak ia masih menodongkan pisaunya. Sesekali melihat ke arah anak buah Reyhan yang sudah tak berdaya dibuatnya.


"Tidak!! Itu tidak akan pernah terjadi!! Sampai kapan pun!! Aku tidak akan pernah kembali padamu!! Tidak akan pernah!!"Rika berkata dengan penuh penekanan di setiap katanya.


Langsung menolak permintaan itu tanpa berfikir walau sejenak saja. Tampak dia memang tak mau dan tak ingin.


Hal itu membuat Dion mulai dikuasai kemurkahan. Seperti yang sudah dipikirkannya tadi.


"Rika, kalau begitu aku juga tidak akan meminta lagi. Karena saat ini, mau tak mau kau akan tetap ikut denganku. Kita akan pergi ke alam sana bersama-sama. Reyhan, pria idiot itu, dia akan meraung habis-habisan untuk ini."


"Meraung! Benarkah?"


Sebuah suara muncul dan melawan perkataan itu. Baru saja Dion hendak berbalik menengok ke arah sumber suara tiba-tiba,


"Plangggg!!!"


Daratan panci teflon dilayangkan Reyhan tepat mengenai wajah pria yang menyandra istrinya itu. Sudah geram rasanya.


Itu sebabnya Reyhan tak tahan lagi. Langsung mengambil panci Abang tukang bakso itu dan menjadikannya sebagai senjata ampuh dan tak terkalahkan.


Buktinya, Dion terlempar dan terhuyung ke udara. Teler sekejab. Baru setelah itu, perlahan tumbang dan ambruk di tanah.


Hidung dan mulut yang berdarah. Wajahnya juga terlihat rata. Mungkin karena pukulan keras tepat di bagian bawah rata panci teflon lebar itu.


Dion langsung dibuat tak berdaya hanya dengan satu pukulan saja. Liat kan, betapa bar-barnya Reyhan.


Tak ada senjata profesional yang memadai, panci Abang tukang bakso pun jadi. Yang penting musuh terkalahkan dan tokoh utamanya terselamatkan.


Rika, kini berlari ke arah Reyhan. Memeluk erat suaminya itu. Melepaskan semua rasa takutnya. Kini dirinya sudah aman. Suami penyelamatnya telah datang.


Muncul di waktu yang tepat pula. Sungguh semuanya telah baik-baik saja. Hanya Bu Rossa saja. Kini dia sudah dilarikan ke rumah sakit kota.


Tanpa menunggu lagi, Rika dan Reyhan juga segera bergegas ke sana. Meninggalkan Dion seorang diri yang masih tergeletak di tanah. Dia tak sadarkan diri. Mungkin telah tiada.


................ happy reading ................


Gak bosan-bosanya nih si author minta like, vote, komen, and foforitkannya, kenapa? karena itu akan menjadi penyemangat buat di author untuk melanjutkan karyanya.


Jika kurang like, vote, komen, and foforitkannya pasti lemes BESTie

__ADS_1


__ADS_2