Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 50


__ADS_3

Manik mata Rika membulat kejut melihat Reyhan yang tetiba menyerangnya.


Ketika Rika berbalik, pria itu langsung membekapnya dengan ciuman.


Predator ini, sejak kapan dia masuk. Oh Astaga, itu kesalahannya karena tak mengunci pintu ketika hendak mandi.


Kini Reyhan jadi menggunakan kesempatan ini untuk bermain. Dia pasti tak akan memberinya kesempatan malam ini. Sudahlah, nikmati saja. Ini juga bukan yang pertama kalinya.


"Eghhhtttt!" Isapan pria itu semakin besar dan kuat. Lidahnya bermain bebas kian kemari di dalam bibir sana.


Tak peduli seberapa banyak cairan salifa yang terminumnya. Itu juga terasa manis dan nikmat baginya.


Tubuh Rika kini disandarkan di tembok. Kedua tangannya dicekam Reyahan ke atas. Dengan begitu pria ini jadi lebih leluasa bermain dengan tubuh putih halus itu.


Lidah nakal Reyhan kini mulai beralih dan menjalar ke bawah. Iya sempatkan untuk singgah mengapik ke leher jenjang itu.


Setelahnya, baru iya main bersama dua batu permata hitam yang tertanam di gunung kembar itu.


Rika merintih kenikmatan dibuatnya. Isapan Reyhan memang tak ada duanya. Kemampuan dalam menyenangkannya tambah hari tambah mantap saja. Itu mungkin karena hampir tiap malam mereka bermain. Jika terus memakai gaya yang sama bisa saja keduanya bosan kan.


Sebuah pusaka panjang tak bertulang namun keras kini sudah masuk ke dalam lembah kawah basah becek itu.


Pusaka itu bergerak maju mundur dengan kecepatan tinggi mengalahkan pembalap MotoGP di sirkui balap. Sunggu nikmat yang tak tertandingi. Tusukan Reyhan memang sangatlah luar biasa.


Lebih cepat bahkan lebih enak rasanya. Rika sampai kewalahan dibuatnya. Iya tak kuasa menahan desahannya.


"Ahhhh! Ahhh! Ahhhh!"suara yang dinanti-nantikan Reyhan akhirnya keluar juga.


Itu artinya Rika Sangat puas atas kerja kerasnya. Di bawah guyuran air shower iya akan menggempur Rika tanpa ampun.


Biarlah tidur di situ saja tak masalah, asal nikmat itu tak terputus.


****


Sinar mentari pagi telah menggeser terangnya bulan di malam hari. Rika mulai membuka pejaman matanya. Iya sadar ternyata dirinya sudah berada di tempat tidur.


Huffff ternyata pria itu punya rasa kasihan juga. Untung saja mereka tak menginap di kamar mandi. Uhh kamar mandi, malu rasanya jika Rika masuk ke dalam sana. Reyhan telah melepaskan hasratnya di tempat itu.


Oh semuanya masih terngiang sempurna di dalam pikiran kecil itu.

__ADS_1


Rika bangun dari tidurnya. Manik matanya melirik ke sebelah tempat tidurnya.


Seperti biasa, pria yang menjadi CEO perusahaan terkenal itu akan hilang di pagi hari. Ya iyalah, jika tidak. Semuanya pasti akan berantakan. Dion akan mengatainya perempuan kotor dan sama saja dengannya. Sama-sama bermain belakang.


Sebenarnya ada rasa nyesek dan tak enak yang di rasakan Rika Ketika bertemu Reyhan. Tak bisa dipungkiri bahwa nama Dion masih tertancap rapi di dalam hati Rika. Bagaimana pun, Dion adalah cinta pertamanya.


Sulit untuk melupakan itu. Meskipun Reyhan selalu ada dan menemaninya.


Jika saja Rika bisa memberikan anak, maka pasti rumah tangganya tak harus berantakan seperti ini. Hubungan terlarang dan diam-diam ini tak paya adanya.


Dion tak perlu selingkuh dan menikah lagi, begitu pun dengan Rika. Mungkin kehidupan pernikahan nya akan sangat bahagia seperti impiannya di masa lajang dulu.


Huff!! Sudahlah, mungkin inilah takdir cinta yang memang sudah tertulis untuknya dari yang maha kuasa.


****


Rika turun dengan lemesnya langsung ke meja makan. Terlihat jelas bahwa iya tampak tak sehat hari ini. Perutnya tak nyaman seperti ada yang terputar di dalam sana.


Entahlah. Ini semua karena si Reyhan itu. Ihhh!! Rika jadi Kessel dengan nya.


Rika duduk dengan susah payahnya di kursi makan. Melangkah saja berat rasanya.


"Bi! tolong buatkan teh hangat." Pintanya kepada pelayan tahunan di rumahnya.


Bi Maya datang dengan secangkir teh hangat di tangannya. Iya menaruh tepat di hadapan majikannya.


"Yaampu! Bu, anda pucat sekali. Anda sakit? Mau saya panggilkan dokter?" Ujar Bi Maya melihat ketidak beresan di wajah Rika.


Rika menggeleng dengan lemasnya.


"Tidak perlu. Aku ba ....?" Belum sempat Rika menyampaikan kalimatnya iya langsung bangkit dan berlari ke arah kamar mandi dapur.


"Hueeeeekkkkk!!! Huueekkk!!" Bi Maya hanya mendengar itu. Sontak iya juga ikut berlari dan melihat ada apa dengan majikan mudanya itu.


"Bu, anda baik-baik saja? Ada apa?"


Rika tak merespon. Yang ada hanya isi perutnya yang iya keluarkan dengan susah payah.


Rika berkumur, setelahnya iya dibantu oleh Pelayan setianya itu ke kursi meja makan.

__ADS_1


"Anda pucat sekali, mau saya antar ke kamar?" Tawarnya.


Rika mengangguk. Iya akhirnya dibopong kembali ke kamarnya.


"Bu nanti saya panggilkan pak Dion. Anda istirahat saja." Cakap Bi Maya sembari membaringkan Rika di atas ranjang tempat tidur.


Rika melilit perutnya dengan tangan. Entah ada apa dengan perutnya itu. Rasanya sangat tak enak. Dia pasti masuk angin sekarang.


Reyhan!!! Ini karena kamu!! Reyahan dengar tidak? Reyhan!!!


Bi Maya keluar dari kamar Rika. Iya segera kembali ke ruang makan. Pelayan itu hendak mengambil teh hangat yang barusan dibuatnya.


"Pak Dion,"sapa pelayan setengah tua itu ketika mendapati Dion dan Reta di meja makan.


"Pak, Bu Rika tampaknya sakit. Dia ada di kamarnya. Wajahnya pucat perutnya juga tak enak."


Dion menjawab tanpa melirik pemilik suara itu. Iya fokus melayani istri keduanya.


"Yasudah, kamu kasih dia obat. Pagi ini saya akan ke dokter kandungan bersama Reta." Kata Dion sembari mengambil selembar roti tawar kemudian diolesnya selay stroberi. Roti itu lalu iya berikan kepada wanita yang tengah duduk di sebelanya.


Reta menerimanya dengan tersenyum. Iya terlihat sangat bahagia dengan perhatian yang diberikan Dion untuknya. Akhirnya pria yang dicintainya itu akan seratus persen hanya menyayanginya saja.


Tambah lagi jika iya bisa secepatnya memberikan anak. Wahh!! Keluarga bahagia dan harmonis pasti akan iya rasakan. Cepat atau lambat. Itu sih kalau Rika sudah gak ada.


"Makasi Mas."


Dion juga tersenyum.


"Kamu harus makan makanan sehat. Ini semua supaya kamu cepat hamil."


Reta mengangguk lalu mulai memakan makanan itu.


Bi Maya hanya menunduk kemudian kembali ke dapur. Pak Dion memang tak lagi peduli dengan Bu Rika, kasihan sekali hubungan pernikahan mereka. Cinta, cinta mungkin tak lagi ada di antara keduanya, batin pelayan tahunan itu ikut prihatin dengan apa yang terjadi antara dion dan Rika.


Dulu mereka selalu bersama, kemanapun perginya. Sekarang sudah saling tak peduli. Mereka suami istri tapi layaknya orang asing yang tinggal satu atap.


Tampaknya mereka hanya menunda waktu perpisahannya saja. Jika ada yang berani mengatakan hal itu lebih dulu, Maka pasti akan terjadi. Bayangan hidup bahagia setelah pernikahan itu hanya sebuah ilusi. Itu tak akan pernah terjadi. Hanya kata pisah yang belum keluar dari mulut salah satunya.


............Happy reading..........

__ADS_1


like, vote, komen, and foforitkan juga yah!


__ADS_2