
"Bu, saya sudah mencoba menghentikan mereka. Tapi mereka tetap bersih keras untuk mengambil beberapa gaun."
Rika mengangguk mengerti akan ucapan orang kepercayaan itu. Kini bola matanya memicing tajam ke arah dua tamu tak diundang itu.
"Apa lagi yang kalian lakukan di sini?Kalian memang gak ada kapok-kapoknya yah."
Reta memutar mata malas. Tangannya juga iya lipat ke dada.
"Mba, aku tuh cuman mau ngambil gaun."
Rika semakin geram. Tangannya terkepal keras seakan ingin menjambak salah satu dari mereka yang tak tau diri itu.
"Enak saja yah kalian!! Emang kamu fikir di sini itu apa? Hahhh!!!"
"Rika!! Mama itu punya hak di sini."
"Hak apa Mah?? Hak apa?? Ini semua itu hasil kerja keras aku sendiri, lalu dari mana hak yang sebenarnya mama maksud?"Sambar Rika benar-benar murka.
"Kamu berani yah, berteriak dengan mama."
"Emang kenapa? Selama ini aku sudah sabar ngadepin kelakuan kalian, sekarang tidak lagi!!"
"Lia, telfon polisi sekarang!" Titah Rika kepada Lia asistennya.
Lia mengangguk mengiyakan perintah atasannya itu. Ponsel pun segera di raihnya.
Bu Diana tersentak. Hahhh polisi! Buat apa menantu pertamanya itu memanggil polisi. Apakah dia akan melaporkan mereka.Yah, Rika pasti akan nekat melakukannya.
Wanita separuh baya itu jadi gelagapan mendengarnya. Iya kini memasang senyum pelik di kedua bibirnya."Em ... Rika sayang. Mama datang ke sini itu untuk minjem baju kamu buat Reta yang mau ke Prancis besok.
Kasian dia, bajunya udah ketuaan semua."
Rika semakin murka. Enak saja minjem. Hehh kata minjem buat mereka berdua itu tak ada. Dalam kamusnya pun juga tak ada.
Kalaupun mereka sudah nyentuh sesuatu itu, maka pasti akan menjadi miliknya. Apapun yang terjadi. Itulah faktanya.
" Tidak!! Lebih baik sekarang kalian pergi!! Mah, ibu memang mertuaku. Tapi jangan mama fikir aku akan terus diam jika ditindas."
Bu Diana memudarkan senyumnya. Kini batal sudah untuk iya merampas gaun-gaun cantik di butik menantunya. Sudahlah, nanti saja lagi iya kembali.
Kini iya pun pergi bersama Reta yang mengekor di belakangnya.
Rika mendesah dengan nafas kasar. Huff!! Ada-ada saja. Kedua orang itu memang tak ada puasnya. Mengambil baju di sini layaknya punya sendiri. Emangnya mereka pikir semua itu gak pake modal apa. Tambah lagi, itu semua untuk madunya. Bikin Rika mau gila rasanya.
__ADS_1
Entah sudah berapa puluh juta Rika rugi karena kedua orang itu.
****
Siang kini telah berganti malam. Rika melangkahkan kakinya masuk ke dalam kediamannya. Di ruang keluarga iya dapati penghuni rumahnya sedang menyaksikan acara televisi. Rika hanya melirik. Mulutnya terkunci. Iya enggan menyapa. Mengingat kejadian mengesalkan tadi.
Tampaknya orang-orang ini tambah melunjak dengan kesabarannya selama ini. Hal ini tak boleh berlanjut. Rika adalah pemilik rumah besar itu. Tetapi kenapa malah dia yang sering ditindas?
Rika kini masuk ke dalam kamarnya. Tempat dimana kesendiriannya selama ini. Iya punya suami, tetapi sedikitpun tak pernah bersamanya. Dion lebih memilih tidur dan menghabiskan waktu dengan istri keduanya.
Iya hanya akan masuk ke kamar istri pertamanya itu untuk berganti pakaian. Setelahnya. Iya akan turun ke bawah.
Alasannya melakukan hal seperti itu adalah supaya mereka cepat punya anak. Rika tak bisa memberinya. Maka dari itu untuk apa menidurinya. Sudahlah.
Jika mengingat lagi hanya air mata kesedihan yang akan tumpah.
Rika kini selesai membersihkan tubuhnya. Iya tak bisa tidur jika belum mengguyur tubuhnya di bawah shower. Hal itu sudah dilakukannya sedari dulu. Sudah menjadi rutinitas malam baginya.
"Srakkk." Bunyi sesuatu yang bergerak dari balik jendela balkonnya membuat dirinya tersentak. Matanya kini menyorot ke kaca jendela yang hanya ditutupi gorden putih transparan.
Dari baliknya tampak bayangan seorang pria.
Rika mengerutkan kening.
"Mungkinka ....??"
"Kau ....?"
Reyahan tersenyum. Kedua tangannya merentang lebar.
"Ayo peluk, tidakkah kau rindu."
Rika tak melakukan itu. Yang ada, dengan panik iya berlari ke arah pintu kamarnya dan segera mengunci rapat-rapat kenop itu. Setelahnya dengan kesel iya melantungkan omelnya ke arah pria yang baru datang itu.
"Kau adalah pria paling nekat yang pernah ku temui."cecarnya.
Reyhan kini merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk itu.
"Yah, apa kau suka?"
Rika mendesah geram.
"Apa kau tak takut jika ada yang datang dan melihatmu. Kita akan ketahuan Reyhan. Apa kata orang nanti? Seorang CEO perusahaan terkenal ternyata perusak rumah tangga orang."
__ADS_1
"Lalu?"tanya pria itu tanpa rasa takut sedikitpun. Iya malah melipat dan membantali kedua tangannya.
Rika hanya terdiam tak percaya dengan apa yang didengarnya. Hufff tampaknya ocehan yang keluarr dari mulutnya sama sekali tak berpengaruh pada pria santai itu.
"Sudahlah, aku punya banyak uang. Jika mereka protes, tinggal ku lemparkan saja uangku. Beres kan."
Rika menaikkan salah satu alisnya. Iya kini duduk di bibir ranjang.
"Reyhan, kau tak bisa menutup mulut semua orang kan."
Reyhan bangkit." Aku bisa. Lagipun gudang uangku masih ada beberapa."
Pria kekar itupun bangkit dan membuka kemeja putih yang menutupi tubuhnya.
"Aku mau mandi. Setelahnya, bersiaplah."
"Hahhh!! Kemana?"tanya Rika sedikit kejut. Ini pun sudah larut. Kemana lagi pemuda itu akan membawanya?
Reyhan berbalik dan berkata dengan senyuman yang tak bisa digambarkan
"Tentu saja tidur."
****
Keesokan harinya. Sinar mentari pagi telah menyangsang. Hawa panasnya mulai merambat melalui kaca jendelal yang tiranya sudah terbuka lebar. Rika membuka pejaman matanya. Iya masih terdiam di tempat tidur seraya mengumpul separuh nyawanya yang hilang dibawa mimpi. Seperti biasa iya akan merentangkan kedua tangannya.
Tak lupa juga iya menguap dengan puasnya.
Rika bangun. Kakinya kini telah siap untuk dilangkahkannya.
"Uhhh, Punggungku," lirihnya dengan kaki yang gemetar.
Dengan getir, Rika pun berusaha berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tampak sekali bahwa iya sedang kesakitan saat ini. Bukan hanya pinggang, tetapi seluruh tubuhnya seakan remuk semua.
Bagaimana tidak, Reyhan telah ******* habis tubuh wanita mungil ini dengan rakusnya semalam. Iya bahkan tak diberi kesempatan untuk memejamkan mata.
Uhhh sungguh buas gairah CEO besar itu. Rika sampai encok karenanya.
Semalam, ruang kamar besar itu telah menjadi saksi pertempuran panas antara sepasang pria dan wanita itu. Reyhan telah meleburkan hasrat ganasnya Kepada istri Dion itu.
Iya bermain dalam kecepatan penuh sehingga Rika hanya bisa merintih dengan ******* cepat yang keluar dari mulut manisnya.
Stamina Reyhan itu memang tak ada habisnya. Buktinya setelah air putih kentalnya keluar, iya bahkan masih melanjutkannya. Itulah mengapa Rika terlihat sangat kelelahan setelah semalam.
__ADS_1
......... happy reading..........
like vote and komen