
"Pak!! sini, mampir dulu, Saya mau beli!!"panggil Rika
"Nyonya, bagaimana kalau anda masuk saja dan biarkan kami yang membelinya,"tawar salah satu bodyguard itu.
"Ah, kalian ini. Tuh penjualnya juga udah mutar ke sini." Kekeh Rika tak mau jika minuman dingin yang diharapkannya itu mampir lagi ke tangan orang lain.
Mas pendorong gerobak es itu sudah berdiri di hadapan Rika dan para penjaganya.
Dia terlihat sedikit menunduk. Gemetar juga. Ah tidak, mungkin Rika salah. Tampak memakai sebuah topi, kaca mata hitam dan sebuah masker mulut yang hampir menutupi sebagian wajahnya.
Bukan hanya wajahnya, tapi hampir semua tubuhnya. Jari-jemarinya saja tampak memakai kos tangan. Intinya, kulitnya saja tak terlihat sedikitpun.
"Kenapa dandanannya harus seperti itu? Pakai masker pula. Wajahnya kan jadi gak terlihat," batin Rika merasa aneh. Tapi semua itu ditepisnya dengan positif thinking saja.
"Ah, ini kan lagi musim pandemi, semua orang tentu harus pakai masker kan,"
"Mas, es cendolnya satu yah. Eh, enggak deh, tiga aja. Sekalian,"kata Rika memesan. Ibu dan Oma suaminya tentu haus juga. Itu sebabnya langsung membeli tiga.
Pria penjual es Itu tampak diam, hanya mengangguk saja. Dia langsung meracik minumannya. Membuat tiga gelas seperti apa yang dipinta pembelinya.
Tak berapa lama. Tiga minuman itu pun jadi. Rika menjulurkan uang, setelahnya meraih dua gelas minuman menyegarkan itu. Satunya lagi dibawah oleh bodyguard nya.
"Makasi pak,"Rika berterima kasih sebelum pergi. Tampak pria yang berjualan itu masih diam dan menunduk. Tanpa sepatah katapun, kini mendorong gerobaknya lalu pergi.
"Aneh,"batin Rika mengamati.
"Sayang!! Apakau sudah selesai?"suara Bu Rossa yang terdengar dari balik halaman membuat Rika segera bergegas.
"Ah, iya Mah!"
****
Sinar Surya itu sudah berada di puncaknya. Rika duduk di kursi sofa ruang tengah seorang diri. Tampak jenuh menatap layar ponselnya.
Dari tadi tak menunjukkan notifikasi apapun yang masuk. Baik itu dari google ataupun Reyhan suaminya.
Oh ini sungguh membosankan. Bu Rossa, ibunya keluar untuk berbelanja. Sementara Oma, dia sedang istirahat di kamarnya. Lalu bi Maya, dia masih banyak urusan dapur yang haru dikerjakannya.
Rika jadi tak punya teman untuk mengobrol. Masa ngobrol dengan para bodyguard rumahnya yang kebanyakan itu.
Yang benar saja. Mereka yang dengan ekspresi serius dan dinginnya itu, apa yang akan dibahas. Yang ada malah akan membuat kita takut telan liur jika menghadapnya.
Sebuah ide cemerlang melintas di otak Rika. Hal itu membuatnya tersentak dan kembali bersemangat lagi.
Kini membuka aplikasi WhatsApp nya. Langsung melihat grup chatnya yang berisikan dirinya, Vina, Aska dan Syila.
"Hy, kalian lagi apa?" Tanya Rika. Tampak menunggu setengah menit lamanya baru ada balasan dari sahabatnya.
Aska, "Gak ada nih? Kenapa Rik?"
__ADS_1
Syila,"Hy juga, nih lagi rebahan di kamar.
Vina,"Gak ada Rik,"
Dengan lincah jari-jemari Rika itu kembali mengetik.
"Ngumpul di rumahku yuk,"kirimnya.
Syila,"malas ah, diluar panas."
Vina, "iya Rik, ini kan masih jam dua belas siang,"
Aska, "iya Rik, kita juga gak tau rumah kamu di mana."
"Yakin, gak mau. Rumah baruku besar loh, kolam renangnya ada dua, besar lagi," kirim Rika dengan emoticon tawa di akhir kalimatnya.
Syila mengirim emoticon mata berbinar, setelahnya lanjut mengirimkan pesan chat nya, "OTW, bentar lagi aku nyampe yah Rik, hehehhe ...."
Vina, "dasar syila, yaudah sekalian yah jemput aku, heheheh ...."
Syila, "kirain lu gak mau ikut."
Vina," kalo ada kolam renangnya sih, pasti gue ikut. Di rumah gue kan adanya bak mandi doang,"
Aska, "Rik, emang rumah baru kamu di mana?"
Rika kembali mengetik, "soal itu gampang, entar aku share lokasinya,"
Rika kembali meletakkan ponselnya. Kini dia merasa senang. Akhirnya para sahabat-sahabatnya itu terbujuk dan akan datang juga. Yeh, rumah besarnya akan jadi rame. Sungguh senang rasanya.
Rika naik ke kamarnya. Langsung mandi karena merasa sedikit gerah. Setelahnya keluar, lalu berdanda sedikit cantik.
Bagaimanapun dia harus terlihat berbeda meski itu di hadapan para sahabatnya. Takut kawan-kawannya itu akan berfikir reyhan tak mengurusnya dengan baik. Itu tak boleh terjadi kan.
Setengah jam berlalu. Ketiga sahabatnya itu tak kunjung datang. Rika berfikir mungkin mereka masih sibuk mencari rumah besar ini.
Itu sebabnya kini dia memutuskan untuk keluar dan duduk di teras depan. Mungkin dengan begitu mereka akan cepat ketemunya.
"Kalian udah di mana?"Rika mengirim pesan chat ke grup itu. Tapi tak ada yang membalas satu pun. Mungkin karena semuanya masih di jalan.
"Tutttt!!" Rika menghubungi Aska dari ponselnya. Cukup lama baru panggilan itu terhubung.
"Halo, kalian di mana?"
"Rik, nih kayaknya kami nyasar deh,"
"Yaela, kok bisa sih?"
"Entar yah. Rik, kau bisa gak keluar dulu. Em, nunggu di pinggir jalan gitu,"kata Aska. Karena memang dia sudah keliling sedari tadi. Dia juga sudah membawa Syila dan Vina di mobilnya.
__ADS_1
"Oh, Yasudah. Emang kalian masih jauh?"
"Dari lokasinya sih gak juga. Pokoknya kamu tunggu di pinggir jalan yah,"
"Yasudah, nih aku keluar."
Panggilan pun terputus. Rika berjalan ke arah pintu gerbang. Baru hendak memutar kuncinya, Randy datang dan menanyainya.
"Rik, kamu mau kemana?"
"Eh ini ...,"
" Aku harus ke kuluar sebentar, teman-temanku akan datang. Aku hanya akan menungguinya, "Tampak Rika sedikit gugup.
"Yasudah, biar aku yang tunggu. Kamu masuk saja. Bos Reyhan akan murka padaku jika dia tau kau pergi sendiri."
"Tidak, aku hanya akan di pinggir jalan saja, begitu mereka datang aku akan masuk juga."
"Tapi Rika ....?"Randy masih mencoba mencegah istri sahabatnya itu untuk tidak pergi. Tapi Rika terus membantahnya.
"Randy tenanglah, aku tidak akan pergi jauh. Aku akan di sini saja. Kumohon, kau bisa masuk, aku akan baik-baik saja. Kumohon."
Asisten Reyhan itu hanya bisa menghela nafas. Dia baru tahu istri bos sekaligus sahabatnya itu sekeras kepala ini. Bahkan tetap kekeh walau sudah dilarang juga.
"Baiklah,"Randy hanya bisa berkata itu seraya berbalik dan pergi. Tapi tak lupa dengan tajam menekan para anak buahnya itu untuk terus mengawasi istri majikannya.
"Kalian tahu kan, akan semurka apa tuan Reyhan jika tahu Istrinya terluka."
"Baik tuan! Kami paham." Serentak semuanya menjawab.
****
Rika sudah berdiri di pinggir jalan. Celingak-celinguk mencari mobil Aska sahabatnya. Tapi tak ada, Yang ada hanya penjual es cendol keliling tadi pagi.
Dia masih di situ, mangkal di bawah pohon rindang itu. Rika bahkan berfikir dia sudah pergi setelah dirinya membeli.
Mengingat memang langsung mendorong gerobaknya tanpa berucap satu katapun. Rika tak mungkin salah. Itu penjual yang sama. Tampilanya, dari atas sampai bawah masih asli diingat Rika.
Ah biarlah, Rika hendak tak menghiraukannya. Tapi, siapa sangka pria aneh penjual es cendol itu malah bangkit. Tampak berjalan ke arahnya. Langkahnya begitu cepat dan semakin dekat.
Sampai tiba-tiba,
"Pippppp!!" Suara bariton mobil askan menghentakkan semuanya. Rika terkejut, sontak berbalik dan melihat kini ketiga sahabatnya.
Mereka telah sampai. Bahkan sudah turun dan berdiri di hadapannya.
"Huh, kalian ini," Rika berkata baru setelah itu, memalingkan wajahnya lagi. Hendak melihat penjual misterius yang tadi mencoba mendekatinya.
Tapi dia telah menghilang, bahkan dengan gerobaknya sekalipun.
__ADS_1
............. happy reading...........
Like, vote, komen, and foforitkan juga yah