
Rika duduk di ruang makan. Tampak beberapa cemilan di hadapannya. Segelas jus wortel juga ikut menemaninya. Hari ini iya akan bersantai dan beristirahat saja di rumah. Mengingat kondisi tubuhnya. Melangkah saja iya terbata-bata, Lalu bagaimana iya akan menghadapi pekerjaan di butiknya jika kesana.
"Tring !!! Tongg!! Tringg Tongg!!" Bunyi bel pintu yang ditekankan seseorang.
Baru saja Rika hendak bangkit dan membukanya, pelayan tahunan rumahnya muncul dan menghentikan dirinya.
"Ibu duduk saja. Biar saya yang buka."
Rika mengangguk seraya tersenyum.
Tak lama kemudian, Bi Maya datang dengan sebuah bingkisan di tangannya.
Rika menatap bingkisan itu. Bi Maya kemudian meletakkannya di atas meja setelahnya berkata
"Kurirnya bilang, Ini buat anda Bu."
Rika menaikkan alisnya. Buat dirinya? Dari siapa? Dan Apa isinya? Tanpa menunggu lagi ia pun membuka.
Alisnya mengerut setelah melihat isi dalamnya.
Dari dalam bingkisan itu terdapat beberapa buahan. Seperti pisang, alpukat, strawberry dan masih banyak lagi. di bawahnya, secarik kertas bergores kan pena terlihat. Rika meraih dan mengambilnya.
Makanlah buah itu. Itu baik untuk kesehatan dan mengembalikan stamina mu.
From Kekasih.
Setelah membaca pesan itu, Rika jadi tahu siapa pengirimnya.
"Pasti Rayhan."batinnya.
Rika mengeluarkan semua buah itu. Kebetulan sekali rasanya ia ingin makan buah.
"Bi, Saya ingin makan rujak. Tolong buatkan
yah."
Pelayan paruh baya itu pun mengangguk lalu pergi.
****
Waktu begitu cepat bergulir. Kedekatan Rika dan Rehan semakin bertambah. Tak pernah absen, pria kaya itu selalu hadir menemani Rika di sepanjang malannya.
Reyhan terlihat lebih leluasa sekarang. Mengingat Dion suami Rika belum pulang dari bulan madunya bersama Reta istri keduanya. Hal itu menyebabkan iya tak perlu repot-repot lagi untuk memanjat dinding yang ketinggiannya lumayan itu untuk bertemu sang pujaan hati.
Seperti sekarang. Keduanya terlihat sedang memaduh kasih di atas hangatnya tempat tidur. Kini tiada lagi rasa cemas dan was-was yang biasanya dirasakan Rika. Apa yang perlu ditakutkan? Suami sahnya itu tampaknya terlihat sangat menikmati bulan madunya.
Buktinya, dalam waktu lebih seminggu ini pun mereka tak ada kabar. Dia sama sekali tak ada niat untuk mengabari Rika. Sementara ibu mertuanya, Dia sedang pulang ke kampung halamannya.Memamerkan bahwa ia sebentar lagi akan memiliki cucu dari anaknya Dion.
__ADS_1
Sungguh hidup yang dramatis.
"Zzzzz!! Zzzzz!! Zzz!!"Bunyi dering ponsel menghentakkan keduanya. Hal itu menandakan adanya panggilan masuk ditelepon Rika.
Rika segera meraih dan mengambil ponselnya. Dari layar itu, tertera panggilan masuk dari suaminya Dion.
Tumben suaminya itu telepon. Pikirnya iya lupa bahwa masih memiliki satu istri lagi.
Rika beranjak dari tempat tidur untuk mengangkat panggilan itu. Iya kini berjalan ke arah balkon agar suaranya lebih terdengar jelas. Sementara Rayhan, Iya bangkit lalu menuju kamar mandi.
"Kenapa Mas?"tanya Rika dengan ketusnya.
"Loh, kok kamu kedengarannya gak suka gitu sih Rik? Mas di sini itu untuk kamu juga. Kamu mau kan punya anak. Nih, Mas lagi berusaha."
Rika memutar mata malas mendengarnya.
Rasanya iya enggan mendengar perkataan itu.
"Langsung sajalah, ada apa?"
"Em, begini Rik. Uang Mas sudah habis. Kamu b ...?"
Belum sempat Dion mengutarakan maksudnya, Rika langsung menyergah perkataannya. Istri pertamanya itu seakan tahu apa yang akan ia katakan.
"Maaf Mas, aku juga lagi nggak punya uang."
"Sudah ya Mas, aku masih ada urusan."kata Rika hendak mematikan sambungan telepon.
"Rik! Tunggu dulu dong. Ayolah, sedikit saja. Paling seratus juta."
Rika terkejut setelah mendengar nominal uang yang kini dibutuhkan suaminya.
"Apa!! seratus juta!!"
Hal itu tentu saja mengalihkan perhatian Reyahan yang kebetulan baru saja keluar dari kamar mandi. Iya pun mendekat seraya mencuri dengar pembicaraan sepasang suami istri itu.
"Mas! Enak saja kamu. Aku bukannya pelit, tetapi ini kan urusan kamu sama istri kedua kamu. Makanya, jangan bulan madu kalau gak ada biaya." Gerundel Rika lalu mematikan sambungan teleponnya.
Merasa suaminya itu akan menelepon lagi, sekalian saja iya mematikan daya ponselnya. Biar kapok mereka.
Sementara itu, disebuah resort megah nan mewah, Dion menatap layar ponselnya. Rika ternyata sudah mematikan sambungan telepon itu. Sementara iya belum selesai dengan pembicaraannya.
Dion hanya bisa mendengus kessal sekarang ini.
"Pak, bagaimana? Apakah mau diperpanjang?" Tanya sang resepsionis yang mendatangi kamar Dion dan Reta.
Dion menatap Reta yang berdiri di sebelahnya. Dari raut wajah istri keduanya itu, menunjukkan tanda tak rela dan tak ingin. tetapi mau bagaimana lagi, uang mereka sudah habis.
__ADS_1
Mau tak mau mereka harus keluar dari resort tempatnya berbulan madu selama semingguan itu. Dengan berat hati Dion pun berkata.
"Maaf Mba, sepertinya tidak."
"Baiklah, kalau begitu silahkan anda berberes di keesokan harinya." Pungkas wanita muda itu lalu meninggalkan sepasang tamunya.
"Mas! Tapi aku masih betah di sini." Rengek Reta tak mau pulang.
Dion menatap istrinya.
"Mengertilah sayang, uang kita sudah habis."kata Dion mencoba membuat istrinya itu paham akan keadaan.
Reta hanya mendecih kasar lalu kembali masuk ke dalam kamarnya yang sebentar lagi akan ditinggalkannya.
****
Malam kini telah berganti siang. Rika terbangun dari tidurnya, manik matanya kini menatap ke pria sebelahnya. Tampak pria tampan itu masih tertidur pulas. Rika hanya tersenyum menanggapi. Iya kini bangkit dari tempat tidurnya, baru saja iya hendak melangkah, Reyhan langsung menarik tangannya hingga dirinya kembali berbaring.
"Reyhan,"teriak Rika dengan mulut manyunnya.
Reyhan menyengir. Iya segera naik dan menindih wanitanya.
"Aku ingin jadi bayi, bisakah?"
"Tidak, kau memang tak ada puasnya."tolak Rika dengan menyilangkan kedua tangannya.
"Ayolah. kalau tidak, aku akan terus di sini dan tak berangkat kerja." Bujuknya sembari menelan paksa lendir salifanya.
Rika memutar bola mata malas. Apa lagi yang bisa iya lakukan? Reyhan si keras kepala ini mana mau mundur dari permintaannya. Hufff!!
"Baiklah, tapi sebentar saja."
Reyhan tersenyum girang. Lidahnya menjulur keluar dan menjilat kedua bibirnya.
Tampa menunggu lagi, ya kemudian membuka kancing baju itu. Matanya membulat senang melihat dua gunung kembar yang terbungkus montok oleh bra.
Langsung saja iya menyedot dua gunung kembar tak aktif itu. Jika aktif, maka pasti akan mengeluarkan lava putih yang rasanya sedikit manis dan asin.
"Pelanlah Reyahan. Aku Takan lari."lirih Rika tak tahan dengan kebuasan Reyhan. Mengisap gunung kenyal saja sekuat itu apalagi memasukkan pusaka panjang ke dalam sarang bawah sana.
****
Siang harinya Rika tampak duduk di ruang kerja butiknya. Kedua matanya memandang sebuah gaun berwarna pink penuh Kilauan. Jari telunjuknya menopang dagu.
Tampak iya berfikir keras dengan apa lagi yang kurang dengan baju buatannya itu.
"Lia!! Panggil Rika kepada orang kepercayaan.
__ADS_1
................ semoga bahagia..........
like vote and komen