Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 58


__ADS_3

Rika jadi merinding dengan perkataan itu. Perasaan baru beberapa menit yang lalu dia dibaiki.


Sekarang wanita ini jadih paham kenapa ibu mertuanya berubah 180°.


Toh, besannya mau datang makanya bertingkah seperti itu. Entah apa lagi yang diharapkannya.


"Eh, ayo masuk." Rika menggandeng tangan ibunya masuk ke dalam. Mereka langsung duduk di ruang keluarga. Sementara Reta iya langsung ke dapur karena memang di suruh oleh mertunya.


"Suamimu mana Rik?"tanya Bu Rossa duduk di kursi sofa. Manik matanya sedari tadi mencari sosok menantunya.


"Ah, mas dion ....?"


"Dia lagi ada kerjaan." Sela Reta yang tiba-tiba muncul dengan secangkir teh di tangannya.


Bu Rossa mengernyit.


Matanya menatap Reta. Iya memang baru pertama kali melihat istri baru menantunya.


Rika yang sadar akan pandangan sang ibu segera memperkenalkan.


"Dia istri kedua mas dion Mah."


Reta menunduk sopan seraya tersenyum. Iya juga meletakan barang bawaannya.


"Oh, jadi ini. Menantu baru mertua kamu." Cibir Bu Rossa kepada Bu Diana.


Ibu dari dion itu gelagapan jadinya.


"Ah, emm yah, dia Reta istrinya Dion. Em, istri sirih sih. Rika tetap istri sahnya. Dia cuma bertugas untuk melahirkan anak."


Reta mengerutkan alis seraya menggeleng kepala. Iya menatap tingkat laku ibu mertuanya. Entah kenapa iya merasa di kucilkan.


"Bawa makanannya kemari, jangan lupa jus buahnya." Pinta Bu Diana.


"Em, biskuitnya juga. Taruh di piring kemudian tambahkan beberapa lembar roti."


Reta beranjak dengan kessalnya. Dirinya tak menyaka akan diperlakukan seperti itu.


Selama ini dia selalu di manjakan oleh mertua dan suaminya. Mengangkat sesuatu ke dapur saja tak pernah dilakukannya. Pasti iya selalu di layani oleh pelayan.


Tapi entah apa sekarang. Mertunya itu menyuruhnya ini dan itu. Dan dia harus melakukannya.


****


Rika duduk di depan meja rias. Selembar handuk putih melilit tubuh dan kepalanya. Tampak iya baru membersihkan dir di kamar mandi. Beberapa alat make-up iya poles di wajahnya. Setelahnya baru iya berganti pakaian.


"Rik, boleh Mama masuk."Bu Rossa membuka setengah pintu.


Rika berbalik dan tersenyum.

__ADS_1


"Tentu saja, masuklah Mah."


Bu Rossa masuk dan duduk di kursi sofa. Rika bergabung dan duduk di samping ibunda tercinta.


"Ada apa Mah?"


"Enggak, mama cuma mau bilang kalau perusahaan ayahmu sudah kembali bangkit.


Em, rencananya sih dia mau terjun ke pasar internasional dengan dorongan tuan Reyhan."


Rika terkesima mendengarnya.


Reyhan, mau kah iya melakukan itu untuk ayahnya. Tidak, itu resiko yang besar baginya. Entahlah, Rika harus bertanya itu padanya.


"Terserah sajalah, asal kali ini papa tak drop dan jatuh sakit lagi." Ungkap Rika yang berharap ayahnya tuan Huda akan selalu sehat.


Bu Rossa menatap lekat putrinya. Teringat sewaktu dia berbohong tentang kesehatan ayahnya. Suaminya yang kala itu hanya sakit sebentar saja.


Namun harus bersandiwara sampai akhirnya Rika mengetahui sendiri.


Namun wanita paruh baya ini belum mengatakan alasannya. Mengungkapkan bahwa menantunya tak sebaik yang dilihat. Mungkin Rika akan syok jika mengetahui semuanya. Itulah alasannya kenapa Bu Rossa belum mengatakan apapun.


Mengingat kondisi Rika yang juga kurang baik.


Tunggu sajalah.


****


Iya baru akan pulang setelah mencicipi makanan yang ada di rumah anaknya. Rumah besar ini juga berasal darinya kan. Hadiah pernikahan.


"Eh, ada Mama. Mama kapan tiba." Sapa Dion melihat ibu mertuanya duduk di samping istri pertamanya.


"Tadi siang, nih habis makan mau pulang."


"Loh kok cepat Mah?"tanya Dion.


"Mama harus Peking koper buat ayah mertua kamu. Dia mau ke Eropa besok siang."


"Oh, baguslah. Tadi siang Dion habis dari perusahaan. Tadinya mau menawarkan papa mertua bantuan. Mengingat dia baru sembuh dari sakitnya. Pasti dia butuh bantuan aku." Terang Dion mengungkapkan tadi siang dia pergi ke mana.


Mengetahui bahwa perusahaan yang dulu dimilikinya kembali bangkit, Dion berfikir untuk datang membantu ayah mertuanya. Bagaimana pun dia masih CEO dari perusahaan itu pikirnya.


Bu Rossa diam tak berkutip mendengar kepercayaan diri menantunya. Dion pandai sekali berbicara. Kata membantu, bukankah karena ulahnyalah perusahaan itu bangkrut.


Dia juga yang telah membuat tuan Huda terkena stroke. Memaksa pula untuk menjadi CEO di perusahaan. Inilah orang yang benar-benar bermuka dua.


Bermuka tebal pula. Sayangnya Rika belum tahu akan hal itu. Syukur saja tuan Huda tak bertemu dengannya tadi. Jika bertemu, bisa naik pitam iya.


Makan malam berlangsung tenang. Sesekali mereka berbincang untuk mengisi dan mencairkan suasana.

__ADS_1


Beda halnya dengan Reta. Iya makan dalam diam. Dirinya merasa seperti orang luar. Tak dilihat tak juga di anggap.


Itu salahnya karena mau ada di tempat itu. Menjadi orang kedua memanglah tak enak. Itulah sebabnya kita harus mencari pasangan yang masih singgel.


****


"Rik, kalau begitu Mama pulang yah,"pamit Bu Rossa setelah perutnya terisi dengan kenyang. Iya tampak berdiri di teras rumah bersama sang anak.


Rika memeluk ibunya dengan penuh rasa cinta. Wanita yang melahirkannya itu akan pulang ke rumahnya. Heh, Rika bersikap seperti tak akan bertemu ibunya lagi.


Sampai-sampai iya enggan melepas pelukannya itu. Padahal jika iya mau bertemu, dirinya tinggal datang ke kediaman orang tuanya saja. Jarak tempuh nya pun hanya dua sampai tiga jam. Semuanya tergantung kondisi macetnya perjalanan.


"Sudah anak manja, Mama kehabisan napas nih."pekik Bu Rossa.


Rika terkekeh, sembari melepas pelukan.


"Iya iya. Mah, hati-hati yah."


Bu Rossa mengangguk lalu kembali berkata.


"Ingat cek yang mama kasih, simpen sebagai tabungan. Suamimu kan tak kerja lagi, mama yakin, dia gak pernah nafkain kamu lagi, setara kan, dia punya istri lagi."


Rika terdiam sejenak. Teringat di kamar tadi siang, ibunya memberi cek sebesar satu milyar. Awalnya Rika menolak. Mengingat pemasukan dari butik bajunya juga masih bisa memenuhi kebutuhannya.


Namun karena paksaan dari sang ibu, iya akhirnya menerimanya. Lagian dia adalah anak semata wayang dari Bu Rossa. Cepat atau lambat, pada akhirnya iya juga akan mewarisi segalanya.


"Ingat yah, kamu gak boleh boros. Ingat masa tuamu nanti."tambahnya menasehati si anak.


Meskipun iya tahu bahwa Rika adalah tipe orang yang tak suka menghamburkan uang, Bu Rossa tetap menasehatinya.


Ingat, bersikap hematlah. Jika tidak, pada saat kau kesusahan, siapa yang akan datang dan menolongmu kalau bukan dirimu sendiri.


Rika mengangguk seraya memberi hormat layaknya anak SD yang sedang hormat bendera.


"Siap, Mah."


Bu Rossa tersenyum lebar. Iya membelai puncak rambut anaknya kemudian berlalu pergi.


Rika melambaikan tangan dengan mobil sang ibu yang mulai menjauh.


Sementara dari balik jendela, Bu Diana berdiri dengan mata yang berbinar. Mata yang seakan penuh dengan uang.


Membayangkan bagaimana banyaknya satu milyar itu. Kupingnya memang tak salah dengar.


Menantunya punya uang sebanyak itu, wah ini adalah kesempatan emas baginya.


............ happy reading..............


like vote and komen favoritkan juga yah

__ADS_1


__ADS_2