Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 99


__ADS_3

Keesokan harinya, Rika mengawal keberangkatan suaminya. Mengantar sampai di bandara saja. Begitupun dengan Bu Rossa, mengantar sampai di situ saja.


Kini mereka telah sampai. Bahkan lima memit lagi pesawat para suami itu akan lepas landas.


"Mah, jaga dirimu."pamit tuan Huda pada istri tercintanya.


"Iya Pah, hati-hati." Balas Bu Rossa melepas pelukannya.


Kini beralih kepada Reyhan dan Rika. Kedua pasangan itu masih saling berpelukan. Bahkan sudah sejak tadi. Tampak dua orang itu memang tak ingin berpisah.


Tapi mau bagaimana? Reyhan memang punya tanggung jawab di sana. Harus menyelesaikan tugas dan misinya dulu baru kembali.


Cuppp,


"Sayang, aku harus pergi. Jaga dirimu dan kedua calon anak kita." Kata Reyhan dengan kecupan berulang-ulang di puncak kepala Istrinya.


"Iya, hati-hati. Ingat untuk mengabariku ketika kau sampai."


"Iya, itu pasti."


"Rey, ayo pergi," ucapan tuan Huda itu membuat pelukan keduanya terurai.


Rika dan Reyhan melepas pelukannya. Keduanya masih saling menatap satu sama lain. Sungguh enggan rasanya.


Haihhh,


Sorot mata Reyhan kini menangkap bayangan seorang pria yang tingginya juga hampir sama seperti dirinya. Dia adalah Randy asistennya. Dia tak ikut. Reyhan telah memberinya tugas lain di sini.


Yaitu menjaga Rika istrinya selama dia pergi.


"Iya Rey, Rika aman bersamaku. Tenanglah,"angguk asisten itu yang paham juga akan arti dari tatapan bos sekaligus sahabatnya.


"Jika istriku lecet sedikitpun, bersiaplah kau kukirim ke Afrika Selatan sana."suara Reyhan itu terdengar menekan dengan ancaman mematikan yang sangat mengerikan.


Randy hanya bisa mengangguk dengan senyum peliknya. Reyhan telah mempercayakan istrinya padanya. Tentu dia akan melaksanakan titah itu. Jika tidak, entah bagaimana nasibnya.


"Sudahlah Rey, aku akan baik-baik saja. Sudah sana, pesawatnya akan pergi."


"Baiklah." Sekali lagi Reyhan memeluk istrinya. Menatapnya dengan dalam lalu mengecup keningnya. Tak lupa juga mengecup perut istrinya yang didalamnya terdapat dua baby boy dan girl-Nya.


Baru setelah itu, kini berbalik pergi. Memasuki burung putih besar nan gagah itu.


Semua orang melambai setelah pesawat itu mulai lepas landas. Termasuk Rika. Dia terus menatap pesawat yang didalamnya terdapat suami dan ayahnya.


Dia terus berharap dua orang yang disayanginya itu selamat sampai tujuan.

__ADS_1


Kembali dengan sehat walafiat juga.


"Ehhhmm!" Suara deheman Randy membuat ibu dan anak itu terhenti dari lamunannya.


"Balik sekarang?" Tanya Rika menatap sosok asisten suaminya itu.


Randy mengangguk dengan senyumannya.


"Iya, Nyonya."


Rika tertawa mendengar sebutan Randy untuknya.


"Tolong jangan memanggilku seperti itu. Aku terdengar seperti seorang wanita tua."


"Ah baiklah."asisten itu hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Bu Rossa, Rika, dan Randy pun pergi. Langsung masuk ke dalam mobil yang sama . Kini langsung menuju pulang. Mereka harus segera sampai di rumah.


Mengingat di Kediaman Rika dan Reyhan, sudah ada Oma yang menunggu. Dia akan tinggal di situ juga selama cucunya pergi. Dia akan ikut menemani Rika di rumah besarnya. Semuanya juga sudah dibicarakan. Reyhan baik Rika sangat senang untuk itu.


****


"Zzzzzz!! Zzzz!!! Zzz!!"getar ponsel Randy dari balik jasnya. Segera ia mengambil dan mengangkat panggilan itu.


"Bagus, kumpulkan mereka semua. Sebentar lagi aku tiba." Hanya mengatakan itu lalu memutuskan panggilan. Kini kembali fokus menatap padatnya jalan raya di hampir senja hari itu.


Waktu terus berjalan. Tak terasa deruman mobil pun berhenti. Kini mereka telah sampai. Rika langsung turun bersama ibunya.


Sementara di teras rumah besarnya. Tampak wanita yang sudah berumur lanjut berdiri. Memandang senyum ke arah dua orang yang baru saja tiba itu.


Rika dan Bu Rossa berjalan mendekat seraya menyapa.


"Oma! Kapan datang?"


"Baru saja sayang,"kata perempuan tua itu dengan membelai puncak kepala cucu menantunya.


"Bi Maya sudah buatkan minum?"tanya Rika.


Perempuan tua itu hanya tersenyum.


"Kita masuk dulu sayang. Ini sudah senja, ibu hamil sepertimu tak baik jika masih berada di luar rumah.


Rika mengangguk. Tiga orang itu kini berjalan masuk. Langsung duduk di kursi sofa ruang tengah. Mengobrol dulu, Bu Rossa dan Oma Reyhan itu. Sementara Rika, dia pamit naik ke atas. Dia akan membersihkan diri. Setelahnya turun dan ikut berbincang juga.


****

__ADS_1


Di meja makan. Oma, Bu Rossa, dan Rika sudah duduk di sana. Menyantap hidangan yang telah dimasak oleh Bi Maya, pelayan setia itu.


Dia juga duduk dan bergabung di sana. Rika yang memintanya. Makan ramai-ramai tentu ada kenikmatan tersendirinya kan. Dari pada makan sendiri, pasti lain rasanya. Meskipun ada ribuan lauk yang enak-enak di situ.


"Rik, bagaimana dengan acara tuju bulanan kamu?"Oma bertanya di sela-sela makan itu.


"Iya, acara tujuh bulanan itu harus ada." Tambah Bu Rossa.


Rika menengguk air putih dulu lalu menjawab.


"Tunggu mas reyhan dulu saja Mah, Oma."


"Lama dong, kandunganmu mungkin akan memasuki usia lapan bulan."


Rika terdiam. Itu artinya Reyhan suaminya akan kembali setelah satu bulan lagi. Oh, itu Sungguh lama.


Baru beberapa jam ditinggal saja sudah ada gelenyar rindu di hati. Apa lagi kalau sebulan. Entah bagaimana Rika akan menjalani harinya. Pasti akan sangat membosankan.


****


Makan malam telah selesai. Bu Rossa dan Oma asyik mengobrol di ruang tengah. Nyala televisi menemani kesantaian mereka.


Sementara Rika, Karena lelah, dia naik ke kamarnya. Kamar yang rasanya telah berbeda sejak Reyhan suaminya itu pergi.


Sungguh tak enak.


Sregg, rasanya. Membuka pintu kamar dan sudah mendapati ranjang empuk itu kosong. Biasanya ketika membuka pintu, pasti Reyhan tengah berbaring di situ.


Atau dia akan duduk di bibir kasur itu. Menunggui dirinya. Sekarang tak ada lagi. Itulah yang menyesakkan dada saat ini.


Merasa jenuh, Rika berjalan ke arah jendela. membuka sedikit tirainya tanpa menggeser kacanya. Dia takut akan masuk angin jika melakukan itu.


Sorot matanya menangkap bayangan asisten suaminya itu. Randy, dia tampak sibuk dengan orang-orang yang mungkin jumlahnya seratusan itu.


Semuanya memakai seragam hitam, mungkin mereka adalah para penjaga yang akan menjaga kediaman ini. Tapi kenapa begitu banyak?


Menjaga rumah besar ini menurut Rika paling hanya butuh sepuluh sampai dua puluh orang. Lalu yang dibawah itu, kenapa sampai ada seratusan kepala. Entahlah, Rika juga bingung dibuatnya.


Seketika menghentika rasa keheranannya saat ini. Dia teringat Reyhan suaminya. Pasti dia yang memerintahkan Randy untuk mencari penjaga dalam jumlah yang banyak.


Mungkin takut hal yang tempo hari itu terulang. Reyhan, suaminya itu memang sangat menjaganya.


Pasti dia tak mau jika ada kesalahan sedikit pun. Dia bahkan sampai meminta Randy asistennya untuk tinggal di rumah itu dalam beberapa hari terakhir ini. Pokoknya sampai dia kembali dari luar negeri.


Padahal kalau menurut Rika itu tak perlu. Cukup ada ibunya, Oma, dan seratusan kepala penjaga di bawah itu, sudah cukup.

__ADS_1


.............. happy reading................


Like, vote, komen, and foforitkan juga yah


__ADS_2