Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 87


__ADS_3

Hari mulai senja. Dion kembali menyusuri ramainya alun-alun kota. Berjalan dengan penuh putus asanya. Tanpa arah dan tanpa tujuan yang pasti.


Kakinya hanya terus melangkah dan melangkah. Lagipun, kemana lagi dia harus menyeret kedua kakinya.


Pria itu, dia sudah seorang diri sekarang. Tak ada yang akan datang dan menemaninya. Hari ini, esok dan seterusnya.


"Pahhh! Lihat anak kita, dia sudah bisa berjalan! Hahahah!"


Tak sengaja Dion malah berpapasan dengan sepasang suami istri yang tampak sedang menemani buah hatinya bermain.


Mereka tampak saling merangkul sembari menatap putranya yang mungkin sudah menginjak umur setahun lebih itu.


"Iya mahhh, Dia bisa berlari juga, lihat dia, hahahaha!! Siapa dulu papanya."


"Ihh Papah, harusnya itu, siapa dulu dong Mamanya."


"Iya iya, hahhahaha ....!!"


"Ayo sini sayang, peluk ayah dan ibumu!"


Anak itu berlari dan langsung melemparkan tubuh mungilnya itu ke dalam pelukan kedua orang tuanya.


lagi-lagi tertawa dengan riangnya. Sungguh keluarga yang penuh kebahagiaan.


Dion hanya bisa tersenyum pilu melihatnya. Dia iri, sangat iri. Keluarga itu tampak sangat bahagia dan harmonisnya. Saling melengkapi satu sama lain.


Mereka terlihat begitu kompaknya. Layaknya mengamalkan peran orang tua dalam membimbing dan mendidik sang anak.


Mengajari sang buah hati untuk bermain dan mengenal segalanya. Dari apa yang tak ditahu menjadi tahu.


Sementara Dion, pria itu bahkan tak akan pernah bisa merasakannya. Berharap saja mungkin dia tak berani lagi.


Karena pada kenyataannya, dirinya memang tak bisa. Dia mandul. Itu benar. Sekarang harus mulai belajar menerima kenyataan pahit itu.


Kini pemuda itu kembali melangkahkan kakinya. Masih dengan putus asanya. Kini baru sadar bahwa saat ini telah berdiri di depan kantor polisi kota.


Mulai melihat ke gerbangnya. Teringat, bahwa di sinilah ibunya, Bu Diana ditahan. Dipenjara atas kesalahan yang telah diperbuatnya.


Haiiihhh, Dion tertunduk seraya menghela nafas beratnya. Teringat sudah lama memang dia tak mengunjungi wanita yang melahirkannya itu.


Pasti sudah sangat rindu. Oh mungkin sudah kessal dan marah padanya. Tanpa berfikir lagi, perlahan Dion masuk ke dalam sana.


Mulai melihat-lihat aktivitas para penegak hukum itu. Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing.


Termaksud kepala sipir penjara itu. Dion kini duduk di hadapannya. Mulai mengatakan maksud dan tujuannya datang.


"Saya ingin bertemu dengan Bu Diana."

__ADS_1


"Anda siapanya?" Tanya kepala sipir itu sembari meletakkan telepon genggam di tangannya itu.


"Saya putranya, Dion Aryaloka."


"Oh baiklah, tunggu sebentar." Kepala sipir kembali melakukan panggilan.


Tak lama salah satu staf keamanan di situ datang dan langsung membawa Dion menemui ibunya.


****


Di balik jeruji besi kuat itu. Seorang wanita paruh baya dengan penampilan lusuhnya, duduk dengan menatap kosong ke arah tembok.


Bu Diana, hampir tiap hari hanya melakukan aktivitas bersandar itu. Jika bukan, maka dia akan mencoret- coret dinding itu menggunakan kuku-kuku panjangnya.


Bahkan terkadang jari-jemarinya itu berdarah akibat ulah perbuatannya sendiri. Para penjaga terkadang iba Melihatnya. Dia terlihat sangat memprihatingkan. Menyedihkan pula. Tampak seperti orang yang depresi.


Wanita itu, dia bahkan tak pernah di kunjungi lagi oleh keluarganya. Kecuali wanita yang menjabat sebagai menantunya itu Reta, yang memang menyempatkan diri untuk berkunjung kemarin. Tapi itu juga hanya Sekejab saja.


Bahkan hanya berucap satu dua patah saja lalu pergi. Tapi masih untung itu. Dion anak semata wayangnya saja tak pernah menongolkan batang hidungnya lagi.


Mungkin itulah yang saat ini sedang mengganjal hati dan fikiran mantan ibu mertua Rika dan Reta itu. Anaknya Dion, hilang entah kemana?


"Bu, ada seseorang yang ingin bertemu," ucap staf penjaga itu kemudian pergi.


Tampak Bu Diana hanya diam saja. Pandangan matanya juga masih tak teralihkan dari tembok polos itu.


Menatap nanar sang ibu yang duduk di sudut ruangan itu. Cukup lama baru mengeluarkan suara.


"Mah,"


Pandangan Bu Diana membulat seketika. Perlahan berbalik ke arah sumber suara.


Wajah pucat polosnya kini menampilkan senyuman.


Mulai bangkit dan berjalan ke arah sosok pria yang ternyata adalah putranya. Dion, anaknya datang. Ini tak salah lagi.


"Nak, apa itu kau?" Cakapnya Bu Diana masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Tangan yang sudah setengah keriput itu kini mulai menyentuh dan meraba wajah nyata anaknya itu.


Masih dengan senyum pilunya. Dengan lembut Dion memegangi kedua tangan ibunya.


Menatap dengan sendu. Sampai-sampai tak terasa satu butir air mata pun Lolos dari sudut matanya.


Keduanya menangis. Bahkan sampai terisak. Sepasang ibu dan anak itu terlihat saling merindu.


Ingin berpelukan tapi sayang, mereka terhalang oleh jeruji besi pembatas itu.

__ADS_1


Kini hanya bisa menangis dan meneteskan air mata sebanyak-banyaknya.


"Mah, Dion minta maaf," lirihnya.


"Selama ini aku sudah tak pernah lagi datang dan mengunjungimu. Maaf Mah,"


"Iya sayang, tak apa. Yang penting kau sudah datang. Pastinya dengan beberapa kabar bahagia kan?"


"Bagaimana? Apa Reta sudah hamil? Oh, mana dia? Apa dia tak ikut masuk?"Tanya Bu Diana antusias. Terus mencari ke sisi kiri dan kanan anaknya itu.


Sejenak Dion terdiam. Sempat bingung harus mengatakan apa. Tapi dia harus tetap mengatakan yang sebenarnya.


Menurutnya, tak ada lagi yang mesti di sembunyikan. Dia juga harus segera membuat ibunya sadar bahwa memang semuanya telah berubah. Karma sudah datang dan bahkan telah tiba padanya.


"Mah, aku sudah berpisah dengan Rika, dan Reta. Karim, dia juga tak mau menikahiku,"


Bu Diana kini diam tak bergeming.


Iya syok mendengar pernyataan itu. Tapi, kekagetannya masih bisa iya bendung. Yah, apa lagi sekarang? Jika anaknya telah mengambil keputusan, maka biarlah.


Nasi sudah jadi bubur. Lagi dan lagi anak semata wayangnya itu gagal dalam percintaan.


Tak apa, masih banyak wanita lain di luar sana yang menanti kedatangan Dion putranya. Masih banyak perempuan di luar sana yang bisa Dion jadikan sebagai tempat penanaman bibit anak itu.


Mengingat wajah anaknya itu juga tidak terlalu buruknya. Tentulah masih banyak wanita yang mengantri untuknya.


Pikir wanita paruh baya itu saat ini.


"Mah," Dion Kembali berucap dengan nada tak teganya.


Sungguh berat rasanya. Namun apa daya, ibunya harus segera mengetahui kenyataan pahit itu. Mau tak mau itu harus.


"Iya Nak, Apa lagi? Apa kau sudah menemukan wanita lain lagi? Baik kalau begitu, kenalkan saja padaku secepatnya. Nikahi dia dan segera buat anak yang banyak dengannya." Ucap Bu Diana secara terus menerus. Itu semua sesuai dengan harapan dirinya.


"Bukan Mah,"


"Lalu apa? Kau tak punya uang untuk menikahinya? baiklah, Mama masih punya sedikit uang tabungan di bawah kasur. Kau ... ??"


"Mah, bukan itu!" Suara Dion sedikit meninggi.


"Lalu, apa?" wanita itu tampak heran.


Senyap seketika. Dion sangat gugup untuk mengatakan Fakta tentang dirinya itu. satu yang dia harap, mudah-mudahan wanita yang menjabat sebagai ibunya itu tidak kenapa-napa setelah mengetahui semuanya. mengingat dialah yang paling menekan Dion untuk segera punya anak.


"Mahh, aku yang MANDUL."


............. happy reading.................

__ADS_1


like, vote, komen, and foforitkan juga yah


__ADS_2