Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 95


__ADS_3

Di rumah sakit. Rika dan Reyhan sudah bisa bernafas lega. Bu Rossa kini telah sadar. Dokter mengatakan dia baik-baik saja. Benturan di kepalanya tidak terlalu parah. Cedera ringan.


Hanya harus istirahat saja. Itu sebabnya anak dan menantunya kini hanya duduk menunggu di luar kamar sana. Itu sudah menjadi titah dari sang dokter. Itu juga agar Bu Rossa cepat baikan.


"Ayo, saatnya mengecek keadaanmu,"Reyhan menarik tangan Rika, langsung membawanya untuk ikut melakukan pemeriksaan.


"Aku?"


"Rey, aku tidak apa-apa, sungguh, aku tidak terluka sedikitpun,"


"Rey!"Rika berkata dengan langkah yang terhuyung. Tampak suaminya terus menarik tangannya dan kini telah memasuki ruangan Dokter itu.


"Rey,"


"Aku sungguh tidak apa, aku tidak luka."


"Rey, kita hanya akan membuang waktu saja."


"Kita pergi saja,"


Bukannya mengidahkan perkataan istrinya, Reyhan malah langsung mendudukkanya di kursi. Kini berbalik dan langsung memerintah pimpinan Dokter itu agar segera mengurus Rika istrinya terlebih dulu.


"Tinggalkan semua pekerjaanmu!"


"Periksa istriku. Aku tidak mau dia lecet sedikitpun."


Titah lantang Reyhan itu membuat semua orang terdiam. Kini semua mata tertuju padanya. Termaksud Kepala Dokter yang sangat di segani itu.


Menurungkan sedikit kacamata rabunya agar bisa dengan jelas melihat siapa yang berani mendatanginya dan langsung memerintahnya.


Manik matanya membulat kejut setelah melihat siapa yang sedang berdiri di hadapannya. Reyhan Ardiwiningrat. Presedir sekaligus CEO perusahaan Andorgroup yang terkenal itu.


Pantas dia berani memerintah, batinnya menelan paksa salifa.


"Apa kau tak mendengarku?"Dengan kening yang mengerut Reyhan mengulang perkataannya.


Baru setelah itu suasana kembali normal. Kepala Dokter itu segera bangkit dari duduknya dan langsung memberi salam kehormatannya.


"Tuan Reyhan, silahkan bawa istri anda ke sebelah sana."

__ADS_1


"Saya akan menyiapkan peralatannya dulu."


"Cepat! aku tak bisa menunggu lagi."cecar Reyhan agar Dokter itu segera bergegas.


Reyhan kini berbalik menatap istrinya. Wanita itu kini melipat kedua tangannya.


Memanyunkan sedikit bibirnya. Yah, tepat sekali. Dia sedikit kesal karena Reyhan tak mendengarkannya.


"Sayang, aku baik-baik saja, percayalah."


"Tak ada lecet sedikitpun."kata Rika Kembali menjelaskan kondisi tubuhnya yang memang benar adanya. Dia sama sekali tidak terluka.


Pergelangan tangannya saja yang tadi sedikit terkilir akibat ulah dion mantan suami sekaligus pria pengacau itu. Tapi itupun sudah agak baikan.


Tinggal menyuruh Bi maya asisten rumah tangga setianya saja untuk mengurutnya, maka akan sembuh. Tapi entah ada apa dengan Reyhan. Dia bahkan sepanik itu.


Sampai-sampai nekat mendatangi kepala Dokter itu langsung. Masih memaksa istrinya untuk diperiksa. Hendak memastikan apakah ada yang lecet atau tidak.


Rika tak bisa berbuat apa lagi. Meskipun dia sudah mengatakan itu berulang kali. Reyhan tetap kekeh untuk membuatnya diperiksa. Bahkan kini menggendongnya ke arah ranjang pasien.


Rika menutup wajahnya karena menahan malu. Tapi dia tersenyum bahagia juga. Reyhan, dia seperhatian itu padanya. Sangat haru rasanya.


****


Beberapa menit kemudian, tampak Dokter itu baru selesai melakukan pemeriksaan pada Rika.


Mengecek ke arah detak jantungnya, menyenter bola matanya dan masih banyak lagi. Itu semua atas perintah Reyhan sendiri.


Dia memang tak mau jika ada luka ataupun sakit sedikit saja yang tak berhasil diketahuinya. Itulah Reyhan. Pria yang sangat mencintai istrinya itu. Semua wanita pasti ingin mendapatkan suami penyayang sepertinya.


"Bagaimana keadaannya?"Tanya antusias pria itu. Tak sabar ingin mengetahui kondisi istrinya.


"Tuan, dia baik-baik saja. Tenanglah," kata Dokter sembari melepas alat yang bernama stetoskop itu.


"Rey sudah kubilang kan, aku baik-baik saja."timbrung Rika. Dia memang sudah mengatakannya dari tadi. Tampak pria yang kini menjabat sebagai suaminya itu tak mendengarnya.


"Em, maaf Tuan. Kondisi ibunya memang baik baik saja. Tapi ...??"perkataan Dokter itu terjeda. Bersaman Rika dan Reyhan menyorotnya. Jika ada kata tapi, itu artinya sesuatu yang tak beres telah terjadi.


"Dua baby di perutnya sedikit mengalami guncangan tadi. Hal itu bisa berakibat buruk bagi ibu dan anaknya. Jadi sebaiknya, anda harus lebih memperhatikan semua aktivitas istri anda lagi. Nyonya, anda juga harus berhati-hati." Pungkas Dokter itu lalu kembali ke meja kerjanya.

__ADS_1


Sementara Rika dan Reyhan, dua orang itu masih membatu. Terpaku dan terdiam di tempat. Masih mencerna perkataan dokter tadi.


"Guncangan, Cih!" Reyhan mendecih kasar setelah mengulang kata itu. Jari-jemarinya mengepal keras. Wajah dingin dan menakutkanya yang terlihat sekarang ini.


Dia benar-benar marah. Mengingat biang kerok dari kejadian ini. Dion pria itu. Dialah sumber masalah saat ini. Reyhan jadi semakin geram kala mengingat mantan suami istrinya itu.


Tampaknya dia memang sudah bosan hidup. Baiklah jika itu yang dia inginkan.


Dengan langkah berapi-api, Reyhan kini berjalan ke luar. Meninggalkan Rika yang juga masih berdiam diri di ranjang pasien itu. Dia juga tidak menggubris kemana perginya pria yang menjabat sebagai suaminya.


****


"Brukkk!! Brukkk!!! Brukkk!!" Beberapa pukulan keras dilayangkan Reyhan tepat di wajah anak buahnya.


Itu hukuman karena tidak becus menjaga istri dan ibu mertuanya. Sekarang rasakan kemurkahan Reyhan yang perkasa. Ditambah berita tentang Dion yang tetiba hilang dari penyergapan itu. Tentu tambah membuat pria itu murka habis-habisan.


"Agggrrrrrrrrrr!!" Rasanya sudah seperti singa ganas yang terus mengaung di tepi hutan. Tak peduli mangsa seperti apa yang datang. Langsung santap saja. Yang penting amarahnya bisa terlupakan.


Melihat bosnya yang sudah lepas kendali, Randy segera menghentikannya. Tak ada gunanya juga Reyhan menghajar mereka. Itu hanya akan membuatnya kehabisan tenaga.


"Rey, sudah Rey. Dion, biar aku yang urus, mereka juga."


"Aku akan mencari pria keparat itu. Kemanapun dia pergi. Kau tau kan, dia tidak akan bisa lolos dari kita."


Reyhan benar menghentikan aksinya. Kini dia mulai mengontrol emosinya. Mengusap keringat dan tak lama langsung pergi dari parkiran itu.


Pergi begitu saja. Mungkin menyusul Rika yang masih di dalam ruang pemeriksaan itu. Wanita itu mungkin cemas. Mengingat Reyhan pergi tanpa sepatah katapun tadi.


Sementara Randy, kini membawa anak buahnya masuk ke rumah sakit. Tak menyangka juga sahabat sekaligus bosnya itu akan berbuat sejauh ini. Sampai membuat semuanya babak belur begitu.


Reyhan, tampaknya dia memang sudah sangat benci kepada pria yang bernama Dion itu.


Cepat atau lambat, pasti dia akan segera menghabisinya. Bukan Reyhan namanya kalau tidak begitu. Sampai saat ini, belum ada yang selamat jika sudah membuat seorang Reyhan murka.


Itu sudah menjadi konsekuensinya jika berani berurusan dengannya. Makanya tak ada satupun mahluk di muka bumi ini yang berani mengusiknya. Kecuali Dion, pria yang tak sayang nyawa itu.


................. happy reading...................


Pliss tinggalkan like, vote, komen, and foforitkannya. Gak maksa sih, tapi ngarep heheheh

__ADS_1


__ADS_2