Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 56


__ADS_3

Rika kini telah tiba di rumahnya. Mobil sudah iya parkir di bagasi. Kini iya mulai melangkah masuk.


Di ruang tengah iya dapati suaminya sedang duduk dengan kondisi televisi yang menyala. Entah ada apa denganya.


Televisi itu berkoar-koar tetapi iya sama sekali tak memperdulikannya. Manik matanya malah memperhatikan sebuah jam tangan yang melekat di pergelangan tangannya.


Rika berdehem dengan maksud memecah suasana.


Dion hanya melirik sekejap. Setelahnya iya kembali menatap benda yang melilit pergelang tangannya itu.


"Heh, ternyata bukan menungguku."ujar Rika kemudian mulai menyusuri anak tangga. Iya melangkah tanpa melihat ke belakang lagi.


Rika langsung masuk ke dalam kamar. Iya lelah. Tubuhnya seakan lengket semua. Iya tak mungkin tidur dalam kondisi seperti itu. Ini memanglah bukan kebiasaannya.


Mandi dan menyegarkan diri barulah iya akan tidur lelap.


Tanpa menunggu lagi iya langsung masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan diri dan Beberapa menit kemudia keluar dengan sudah berganti pinyama.


"Tokk!! Tokk!! Tokk!" Suara ketukan pintu dari luar.


Rika berteriak tanpa bangkit dari depan meja rias."Masuk."


Dari baliknya, Bi Maya muncul dengan segelas susu di tangannya.


"Eh, Bi Maya. Ada apa?"tanya Rika ramah.


Pelayan paruh baya itu tersenyum seraya berkata "Bu, ini susu hangat nya, di minum dulu sebelum tidur."


Si majikan itu juga tersenyum." Makasi Bi."


Rika meraih segelas susu itu lalu menenggak sampai titik penghabisan.


Karena keadaan tubuhnya yang kurang baik di akhir-akhir ini, pelayan paruh baya itu secara khusus membuatkannya susu di pagi dan malam harinya. Itu semua supaya kondisi tubuhnya cepat membaik.


Rika sangat beruntung karena mempekerjakan orang sepertinya.


"Bu saya juga sudah buat makan malam, mau saya bawakan?"


Rika dengan cepat menggeleng.


"Ah, tidak usah. Biar saya turun saja. Bibi siapkan saja di meja."


Pelayan setengah tua itu pun pergi. Sementara Rika iya kembali menyisir rambutnya kemudian baru beranjak.


****


Sementara itu, pertengkaran sengit sedang berlangsung di ruang tengah. Dion dan Reta entah masalah apa yang menghujani mereka. Ini kali pertamanya mereka berdebat sepanas ini.


Sebelumnya jarang bahkan tak pernah. Hanya kasih sayang yang ada di antara mereka.


"Dari mana saja kamu?" Tanya Dion geram kepada istri keduanya. Matanya melotot seakan ingin menelan seseorang hidup-hidup.

__ADS_1


"Aku habis jalan-jalan lah, sama teman-teman aku." Jawab Reta dengan santainya tanpa dosa.


"Habis jalan-jalan, jam berapa ini? Istri macam apa sih kamu?" Gerutu Dion menunjuk ke arah jam tangan yang melekat di tangannya.


Di sana sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Reta istri keduanya itu baru menapakkan kaki di rumah. Dion tentu saja geram melihatnya.


Ternyata sedari tadi ia duduk di ruang keluarga, sedang menunggu Reta pulang. Pantas saja iya tak menghiraukan kedatangan Rika. Padahal Wanita itu sudah berusaha menyapanya.


Namun dia hanya melirik kemudian kembali menunggu.


"Loh, kok kamu malah marah-marah sih? Mas, aku tuh cari hiburan, aku capek di rumah."


"Ahh! Kamu itu memang tahunya cuman kelayapan. Cari hiburan di mana-mana.


kamu itu sudah jadi seorang istri!"hardik Dion mengingatkan status wanita itu.


Reta mengerutkan alis. Iya seakan tak terima dengan ucapan suaminya.


"Mas! Aku pergi kamu marah. Kalau Mbak Rika yang pergi kamu diam saja. Kamu nggak pernah tuh ngomelin Mbak Rika yang kadang pulang seenaknya saja."


"Karena kamu beda. tugas kamu di rumah dan hasilkan anak untuk aku. Sementara Rika, Iya tak bisa melakukan itu. jadi terserah nya saja mau pulang kapan dan pergi kapan."


Srekkk!


Perkataan itu seakan menyucuk hati dan jiwa Rika yang paling dalam. Sedari tadi ia telah berdiri di pertengahan tangga.


Iya hendak ke ruang makan namun tak menyangka malah menyaksikan adegan seperti ini. Yang membuatnya sakit adalah lagi-lagi ia mendengar Dion mengatainya.


Ini sakit, Ini perih, Dion kapan dia akan mengerti.


Sementara Reta tambah mengotot. Iya tak terima dengan perkataan suaminya juga.


Iya menganggap dion telah pilih kasih antaranya dan Mba Rika.


Masa istri pertama suaminya bebas ke mana saja sementara dia, harus tinggal di rumah dan segera memproduksi anak untuknya.


Ini tidaklah adil baginya.


"Mas!! Enak saja kamu! Emang kamu pikir aku ini mesim yang harus segera mengeluarkan anak. Lancang sekali kamu."


Dion murka mendengar lontaran perkataan itu. Reta, Iya memang menikahinya karena dia bisa memberinya keturunan.


Namun Kenapa nada bicara wanita itu seakan menunjukkan bahwa ia tak ingin melakukan itu.


Pria itu sangat kesal.


Karena nya,tangan besar kekar nya hendak melayang ke pipi lebar itu.


"Ahhhhhhhhh!!"teriak Reta memejamkan mata sebelum tangan Dion mengenainya.


Hening sejenak. Reta tersadar, ternyata Iya tak mendapat pukulan sedikitpun. Dia membuka mata. Wanita itu tertegun.

__ADS_1


Dilihatnya seorang wanita yang tiba-tiba berdiri di antaranya dan suaminya.


"Kenapa kamu menghalangiku?"hardik Dion tak terima Rika menahan tamparannya.


Rika melepas cengkraman tangannya. Iya menepis dengan kasar. Mulutnya berdecih.


"Kau sudah kelewatan batas Mas.


Setelah menganiayayaku, kau juga ingin menganiayaya stri baru mu."


Dion mendesah kasar. Matanya memicing tajam.


"Ini bukan urusanmu."


"Tentu ini akan jadi urusanku. Kau sudah melakukan KDRT. Tidakkah Kau takut jika kami melaporkan mu."kata Rika dengan senyum miringnya.


Dion terdiam. Perkataan Rika benar-benar membungkam mulutnya.


Entah istri pertamanya itu hanya mengancam atau tidak. Yang pasti pria itu jadi gelagapan dibuatnya.


Dion pergi dengan langkah yang besar. Iya marah dan sangat kesal. Istri pertamanya itu benar-benar sudah berani.


Mengancam dan menangkis tangannya.


Rika memandangi punggung suaminya yang kini telah menjauh.


Iya sendiri tak menyangka bahkan akan berbuat begitu tadi.


Entah dari mana iya dapatkan keberanian itu. Huh, jika iya tak hadang pukulan itu, wanita di belakangnya ini pasti sedang meringis kesakitan.


Pukulan Dion kan memang keras dan sakit. Rika sudah beberapa kali merasakannya. Bahkan akan memar jika sudah bermalam.


"Makasi mba, karena sudah membelaku tadi." Ujar Reta


Rika berbalik. Iya tersenyum penuh keangkuhan.


"Nasib kita udah sama sekarang. Kau tinggal mempersiapkan wajahmu saja."


Reta terpaku. Apa maksudnya Rika ini. Apa dia baru saja mengatakan bahwa Dion juga akan sering memukulnya mulai dari sekarang. Tidak ini tak boleh terjadi. Itulah ketakutan yang kini mulai di rasakan Reta sekarang ini.


Rika kembali tersenyum. Iya menepuk pundak Reta seraya berkata.


"Bersiaplah."


Setelahnya, iya kini melangkah ke dapur. Entah kenapa perutnya mendemo lagi padahal tadi sudah di isi oleh Reyhan.


Diisi banyak pula. Tapi kenapa sekarang merasa lapar lagi.


Oh ini mungkin karena perutnya saja yang bandel. Ukuran tubuhnya pasti akan naik jika hal ini terus berlanjut.


........ happy reading.........

__ADS_1


like vote and komen favoritkan juga yah


__ADS_2