
Bi Maya kembali masuk ke kamar Rika. Sebuah nampan berisi segelas susu dan beberapa lembar roti di tangannya.
Rika tak ada di tempat tidur. Pelayan itu dengan segera meletakkan barang bawaannya di atas meja.
"Hoekkkk!!" Manik mata wanita paruh baya itu tertuju pada pintu kamar mandi.
Bu Rika pasti di dalam, batinya.
Bi Maya mengetuk ointu untuk mengecek kondisi majikannya. Dari tadi bahkan belum keluar-keluar.
"Bu, apa anda baik-baik saja."
Rika keluar dengan wajah pucat pasihnya. Lemas, loyo, dan tak bertenaga. Entah sudah berapa kali iya bolak-balik masuk ke dalam sana.
Rika membaringkan tubuhnya di sofa. Bi Maya juga duduk di sampingnya.
"Bu, anda harus makan. Lalu minum obat."
Rika mengangguk pelan. Iya meraih segelas susu hangat di hadapannya. Iya hanya meminum setengahnya.
"Rotinya, Bu."
Rika menggeleng. Meminum setengah gelas susu sudah masih mending iya lakukan.
Bi Maya merangkul majikannya kembali ke tempat tidur. Iya menarik selimut putih tebal kemudian menutupi tubuh lemah itu.
Rasa tak tega dan kasihan menghampirinya. Bi Maya sudah menganggap Rika layaknya anak sendiri. Itu karena Rika sudah sangat baik padanya.
Rika menggabungkan kedua kelopak matanya. Istirahat itulah yang harus iya lakukan saat ini. Perutnya sangat tak nyaman. Mungkin akan lebih baik jika iya tertidur.
****
Di perusahaan Andorgroup. Reyahan duduk di kursi singgasananya. Iya berkutat dengan beberapa berkas di hadapannya.
Menatap dengan teliti dan sesekali menatap laptop untuk mencocokkan data. Terlihat bahwa masih banyak lagi tumpukan map kertas yang harus iya hadapi.
Tak boleh ada kesalahan sedikit pun karena dia adalah pemimpin perusahaan.
Randy masuk dengan beberapa berkas lagi di tangannya. Reyhan melirik dengan alis yang mengerut. Kembali iya fokus menatap benda lebar pipih itu.
"Bos semuanya sudah beres. Tinggal anda tanda tangani saja. Setelahnya, kita bisa terbang ke Eropa."
Reyhan menghentikan aktivitas jarinya. Manik matanya kini menatap Randy yang tampak rebahan santai di kursi sofa. Kedua matanya tertutup karena memang tugasnya dia sudah beres.
__ADS_1
"Eropa, tidak."
Randy terkejut. Iya mendekat ke arah atasannya meminta penjelasan. "ada apaa bos? Kita harus melihat proyek yang ada di sana kan."
Reyhan menarik nafas kemudian kembali menatap layar laptopnya. "Kau yang pergi, bukan aku."
Randy jadi tak paham dengan perkataan bosnya itu. Mereka akan bertemu dengan beberapa orang penting di sana. Apa katanya jika mereka tak datang.
"Bos, proyek ini adalah proyek yang sangat besar. Jika gagal maka pasti akan berpengaruh besar terhadap perusahaan kita."jelas Randy mengingatkan.
Reyhan bangkit dari duduknya. Iya meraih jas hitamnya yang terpaut di sandaran kursi. Segera iya memakainya.
"Itulah gunanya aku mempekerjakanmu. Kau akan terbang ke sana bersama Syasya."
"Tapi Bos,"
"Sudahlah. Aku tahu, kau suka dengannya. Masi mending aku kasih kalian kesempatan. Liburan ke sana, dia pasti suka."terang Reyhan yang mengetahui perasaan sahabatnya itu.
Randy sudah lama menyukai salah satu karyawan yang bernama Syasya. Reyhan tahu akan hal itu. Hanya saja asistennya itu tak punya cukup keberanian. Tak seperti dirinya yang tak punya rasa takut sedikitpun.
Istri orang iya bahkan embat juga.
Heyy!! Author, Rika kan tak bahagia dengan suaminya, makanya aku kejar. Jika denganku, dia pasti bahagia.
Mau kualat nih orang.
"Bagaimana jika para investor mencari anda."tanya Randy lagi tak yakin dengan suasana yang ada di sana.
"Katakan saja padanya, bahwa aku sedang sakit perut."
Randy mengernyit. Ih, Reyhan ini, alasan apa itu? Apa dia pikir ini sama dengan akan bolos bertemu guru les matematika. Seenaknya saja dia. Langkah Rayhan pun kini menjauh.
Randy tentu saja tak dapat menghentikannya lagi. Ini kan Reyhan. Pria yang selalu kekeh dengan perkataannya.
Randy lagi-lagi hanya bisa pasrah dengan kemauan bosnya itu. Hemm, tak apa-apa juga sih. Dengan begitu, dia jadi punya waktu untuk bersama wanita yang ditaksirnya.
Selama ini kan dirinya terlalu sibuk dengan segala urusan yang diperintahkan reyhan. Anggap saja ini hadiah liburan meskipun di sana ada urusan kerjaan.
****
Di sisi lain. Dion baru saja keluar dari ruangan dokter kandungan. Tampak dia tak bersemangat sama sekali. Mulutnya enggan mengeluarkan sepatah kata pun.
Iya hanya melangkah dengan Reta yang mengekor di belakangnya. Berat sekali hidungnya. Perkataan dokter tadi masih sangat terngiang jelas di kedua kupingnya.
__ADS_1
"Maaf Bu, rahim anda sama sekali tak menandakan adanya kehamilan."
Dion dan Reta tentu saja terkejut atas penuturan spesialis kandungan itu.
Kenapa dan bagaimana, hubungan pernikahannya saja sudah hampir satu tahun. Tapi masa sampai sekarang belum ada kehamilan juga.
Kandungan Reta pasti bermasalah juga sama seperti rika, batin Dion Sepenjang perjalanan pulang.
Mereka bahkan sudah menghabiskan waktu tiap saat. Bahkan tiada malam tanpa bercocok tanam. Pagi, siang, sore, pokoknya setiap hari.
Huuhhh!!! Dion jadi Kessel dibuatnya.
Percuma saja dia menikahi Reta jika pada akhirnya seperti ini. Reta berjanji akan memberikan anak sebanyak-banyak makanya itu Bu Diana setuju Dion menikahinya.
Mereka kan memang menginginkan seorang anak.
Dua orang itu kini sudah berada di teras rumah besar itu. Reta terus memanggil suaminya karena ada sesuatu hal yang harus iya katakan.
"Mas!! Mas!! Kamu dengar aku gak sih?"panggil Reta sedari tadi.
Sepanjang perjalanan Dion hanya diam termenung hanyut dalam pikiran kacaunya.
Istrinya berkotek sedari tadi dan iya tak mendengarnya.
"Masssss!!"teriak Reta nyaring karena sudah tak tahan dengan kecuekan Dion.
"Apa sih?"jawab Dion dengan suara yang tak kalah besarnya.
Reta kaget dibuatnya. Dion membentaknya. Ini kali pertama iya dibentak seperti itu.
"Kamu bentak aku Mas?"tanya Reta tak percaya dengan perlakuan suaminya. Selama ini Dion selalu bersikap baik, lembut, perhatian, dan selalu menunjukkan rasa sayang padanya. Bahkan sedikit nada tinggi pun tak pernah Dion lantungkan untuk istri keduanya ini.
"Iya kenapa? Kamu gak suka?"jawab Dion dengan suara yang semakin meningginya.
Setetes air putih bening pun lolos dari dudut mata itu. Reta menangis akan perlakuan kasar Dion padanya.
"Jahat kamu Mas," pungkas Reta berlalu meninggalkan Dion yang masih berdiri mengotot di ambang pintu.
Reta berlari masuk ke dalam kamarnya. Pintunya iya tutup rapat dan kunci. Keyakinan nya mengatakan bahwa Dion akan datang mengetuk pintu dan segera minta maaf padanya. Mengingat Dion sangat menyayangi Reta sebagai istri keduanya.
Namun, apakah prianya akan melakukan hal itu? Dion memang selaluh bersikap lemah lembut padanya, menuruti segala-galanya. Tapi semua itu supaya wanita kedua itu tak mudah stress. Dan cepat menghasilkan cabang baby untuknya.
.........semoga bahagia
__ADS_1
like, vote, komen, and foforitkan juga