Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 60


__ADS_3

Rika kini menuruni anak tangga. Pandangan mata ya di sambut oleh sosok ibu mertuanya yang tampak clingak-clinguk mencari sesuatu. Melihat ke bawah kaki meja, bawah kursi dan semua penjuru ruangan.


Rika hanya mengerutkan alis enggan bertanya. Lebih baik iya ke ruang makan untuk mengisi perutnya yang mulai keroncongan.


"Bi, siapkan saya sarapan." Titahnya.


Bi Maya mengangguk.


"Nasi goreng telur ceplok Bu?"


Rika menggeleng.


"Nasi goreng saja, tambahkan kerupuk."


"Telurnya Bu?"


"Tidak usah, bau amis telur rasanya menyengat hidung saya. Saya tak suka lagi."Bi Maya heran mendengarnya.


Bukankah majikannya itu sangat suka telur dengan kuningnya yang setengah masak. Ah, sudahlah. Semua orang bisa berubah sewaktu-waktu.


Tanpa menunggu lagi pelayan paruh baya itu kembali ke dapur. Menyiapkan apa yang diinginkan sang majikan.


Reta datang, bukannya duduk di kursi, iya malah menunduk ke bawah kolong meja.


Tampak iya juga sedang mencari sesuatu.


"Aduhh!!"pekik Reta yang tetiba kepalanya terantuk kaki meja. Rika tertawa melihatnya. Ekspresi meringis madunya itu sangat lucu dilihatnya.


Segera iya menghentikan tawa setelah Reta berbalik dan menatapnya.


"Mba, liat gak gelang mama?"


Rika menggelang tak mengeluarkan suara.


"Huh, gelang mama hilang, dan aku yang repot dibuatnya."Decak Reta merasa kessal. Kepalanya kejedot meja pula.


Kini iya mendudukkan tubuhnya di kursi.


Rika tertegun dengan perkataan Reta barusan. Gelang, tadi pagi iya memang sempat menemukan gelang di kamarnya.


Iya tak tahu punya siapa makanya menyimpannya di dalam laci. Mungkin saja pemiliknya akan datang dan mencarinya.


"Gelang seperti apa?"tanya Rika penasaran.


"Ituloh, gelang yang baru-baru ini dibeli mama. Ada kayak permata-permatanya gitu. Em yah, warna permatanya merah." Jelas Reta.


Rika semakin penasaran. Alisnya mengerut dalam. Iya seakan menyelidiki sesuatu.


Memang sih gelang yang baru saja iya temukan itu hampir sama dengan apa yang digambarkan madunya. Tapi bagaimana mungkin? gelang ibu mertunya itu ada di kamarnya.


Wanita paruh baya itu bahkan tak pernah menginjak apa lagi masuk kedalam kamar tidurnya.


Ah, mungkinkan,


Rika naik ke kamarnya. Membuka laci dan mengambil aksesoris tangan. Dilihatnya dengan jelas. Memang benar ada permata merah yang mengelilingi gelang itu.

__ADS_1


Tak salah lagi itu adalah milik ibu mertuanya.


Rika kembali turun, di ruang tengah Bu Diana dan Reta sudah menunggunya.


Kedua orang itu bangkit melihat Rika yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Mah, ini gelang Mama?"tanyannya sembari memperhatikan sebuah aksesoris tangan indah dan cantik.


Bu Diana terbelalak terkejut melihat gelang yang dicarinya ada pada Rika. Dengan paksa iya menelan Salivanya.


Dirinya tak berani lagi menatap ke arah menantu pertamanya itu.


"Iya Mba, itu punya Mama."terang Reta.


Rika tersenyum miring.


Manik matanya menatap rendah ke arah wanita paruh baya itu. Iya baru tahu, ternya sesosok yang masuk ke dalam biliknya semalam adalah ibu mertunya. Entah apa yang diinginkannya.


"Tak kusangka, penyusup itu ternyata Mama yah."


"Bagaimana Mah? Dapat gak apa yang dicari?"


"Aku baru tahu, ternyata Mama punya kelakuan menyimpang seperti itu."tambah Rika mencibir.


Sang mertua kini telah tertangkap basah.


"Mba ada apa sih? Kok malah kasar gitu?" Tanya Reta yang penasaran dengan sikap istri pertama suaminya.


"Heh, kau tak perlu tahu. Yang pasti, mulai dari sekarang jaga saja barang-barangmu. Jangan Sampai nasibmu sama seperti ku."pungkas Rika lalu meninggalkan dua orang itu.


Sementara Bu Diana diam membatu. Mulutnya tak tahu harus berkata apa. Baru kali ini dia membisu. Tak berani melawan perkataan Rika menantunya. Padahal, biasanya dia yang selalu mencelanya habis-habisan.


Di perusahaan Sorayagroup.


Dion berusaha bertemu dengan tuan Huda ayah mertuanya.


Sang resepsionis telah mendapat perintah bahwa tak boleh membiarkan dirinya masuk. Itulah sebabnya kenapa perdebatan itu terjadi.


"Aku adalah pemimpin di perusahaan ini.


Sekaligus menantu dari tuan Huda! Beraninya orang rendahan seperti kalian ini menghentikanku masuk!"murka Dion tak terima.


"Maaf pak, ini sudah menjadi perintah dari atasan." Cakap resepsionis wanita itu tunduk dengan dasar masih menghormati. Bagaimana pun Dion memanglah pernah menjadi CEO di perusahaan itu.


"Dasar bodoh!! Asal kalian tahu, semua gaji kalian aku yang bayar. Apa kalian gila dengan tak membiarkanku masuk? Ayah mertuaku pasti membutuhkanku.


Kalian dengar tidak!!"kekeh Dion berusaha masuk. Nada bicaranya kian meninggi hingga menjadi pusat perhatian.


Semua orang yang tadinya sibuk dengan urusan masing-masing jadi beralih fokus melihatnya.


"Maaf pak, anda tetap tak boleh masuk."


"Aku bosnya, aku punya hak untuk masuk."


"Sekali lagi, tidak pak."

__ADS_1


Dion geram. Iya mencekik leher sang resepsionis wanita itu yang sedari tadi melarangnya masuk.


Cengkramannya semakin kuat hingga menimbulkan kepanikan pada semua orang.


"Hey anda gila! Lepaskan dia!!."


"Tolong!!ada yang mencoba melakukan pembunuhan!!"


"Tolong!! Dia akan membunuh!!"


Teriak beberapa orang meminta pertolongan. Melihat beberapa security datang, Dion langsung menghempaskan tubuh wanita itu ke lantai.


Wanita itu berusaha mengumpulkan nyawanya yang hampir saja melayang akibat menantu atasannya.


Beberapa orang baju hitam datang dan menangkap Dion.


Mengunci pergelangannya hingga iya tak mampu melakukan perlawanan lagi.


"Lepaskan aku!"


"Lepaskan bodoh! Aku bos kalian!" Pekik Dion meronta-ronta agar dilepaskan.


"Bawah dia ke ruang presedir"kata salah satu dari mereka.


Dion dibawa paksa ke ruangan Tuan huda. Memang sedari tadi iya ingin bertemu dengannya. Iya tak menyangka akan berbuat kasar dulu baru bisa dipertemukan oleh pemimpin perusahaan.


"Pak, dia sudah membuat kekacauan di bawah." Lapor salah satu security itu ketika sudah berada di ruangan presedir.


Perbincangan Tuan Huda dan Reyhan teralihkan seketika. Kedua orang itu menatap Dion dengan tajam. Terutama Reyhan.


Suami kekasihnya kini tepat berada di hadapannya.


"Lepaskan dia, kalian boleh pergi." Titah Tuan Huda selaku ayah mertua Dion.


Suami Rika itu kini berjalan mendekat dengan mulut yang mengaduh.


"Pah, wanita yang menjadi resepsionis sampah itu berlaku tak baik padaku. Papa harus memberinya pelajaran."


"Dia melarangku masuk, kurang ajar sekali dia."


Tuan Huda diam hanya memasang wajah datar. Begitupun Reyhan. Sudut matanya masih memicing tajam ke arah pria yang datang dengan penuh ketidakhormatan itu.


"Apa urusanmu menginjakkan kaki terkutukmu ke mari?"tanya Tuan Huda serasa muak. Iya tak lupa dengan apa yang telah menantu sialannya itu perbuat padanya waktu itu.


Membuatnya lumpuh dan merampas perusahaan darinya.


Dion terkejut heran dengan pertanyaan sang ayah mertua. Namun iya masih bersikap tenang. Anggap semua baik-baik saja.


"Te ... Tentu sa ...saja untuk membantu papa di kantor. Tapi karena orang bodoh itu, ta ...tampilanku jadi lusuh begini."jelas Dion tambah menyalahkan orang-orang tadi.


Tuan Huda berpaling ke arah Reyhan yang duduk santai di sampingnya. Iya bangkit seraya berkata "Reyhan, urus dia. Aku tak ingin dia ada di sini."Terangnya serasa muak.


Iya menyerahkan Dion kepada Reyhan yang seakan hendak di eksekusi.


......... happy reading...........

__ADS_1


terus dukung karya aku yah dengan cara


like, vote, and komen favoritkan juga yah


__ADS_2