Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 86


__ADS_3

Setelah mengetahui kebenaran itu, Karin memutuskan untuk meninggalkan Dion.


Dia juga tak mau ikut menjadi korban dari pria itu. Lelaki yang hanya mau menikahi seorang perempuan demi mendapatkan ratusan anak.


Itu memuakan.


Kini tinggallah Dion seorang diri. Berlutut di tengah jalan, meratapi nasibnya yang malang.


Guyuran hujan yang begitu lebatnya membasahi. Itu pun seakan tak dirasakannya. Pria itu terpuruk. Perkataan dirinya mandul kembali terlintas di benaknya.


Apakah benar dirinya mandul? Apakah kenyataan itu memang benar adanya? Apakah dirinya yang tak bisa memproses si cabang bayi itu? Apakah dan apakah, pria itu mulai ragu akan dirinya sendiri.


"Ahhhhhhhh!!!!"berteriak, hanya itulah yang bisa dilakukannya saat ini.


Hidupnya benar-benar hancur. Tak ada lagi yang menemaninya. Semuanya kini telah pergi, meninggalkan dirinya sendiri.


****


Pagi kembali menyingsing. Terlihat Dion menaiki sebuah angkutan umum. Entah hendak pergi kemana, yang pasti dia tampak lesuh dan dengan ekspresi frustrasinya di wajah.


Tak lama, angkot yang ditumpanginya pun berhenti. Menjulurkan uang lima ribu, kemudian iya pun turun.


Kini pria itu sudah berdiri tepat di sebuah rumah sakit besar di perkotaan itu. Menatap dengan pandangan yang sulit di gambarkan.


Yang pasti, keningnya pada saat ini mengerut dengan dalamnya. Matanya juga memicing tajam ke arah bangunan yang penuh dengan orang sakit itu.


Menghela nafas berat, kemudian mulai berjalan memasuki bangunan itu. Langsung ke lobby utama dan bertemu sang dokter.


"Pak, keluhannya apa yah?"tanya dokter wanita itu.


Sejenak Dion terdiam. Menatap rendah. Kembali memikirkan tentang kedatangannya hari ini. Yah, dia datang untuk memeriksakan kesuburannya.


Apakah sebenarnya dirinya bisa memproses bibit bayi atau tidak. Itu yang dia ingin ketahui saat ini.


Hampir sepuluh wanita sudah iya tanami, namun sampai saat ini tak satupun dari mereka yang hamil. Bahkan ada yang hamil tapi jelas itu bukan dari bibitnya.


Ditambah lontaran perkataan Reta kemarin itu, entah kenapa membuat Dion seketika itu juga terus termenung. Memikirkan jangan-jangan yang dikatakannya itu memang benar.


Kalau tidak, kenapa dirinya sampai saat ini belum berhasil juga membuat satu wanita pun mengandung anaknya. Pasti ada yang salah dengan wanita-wanita itu jika bukan karena dirinya.


Setelah cukup lama mengumpulkan tekad, akhirnya pria ini mau juga. Datang dan memeriksakan alat tempur bawahnya itu.


"Sa ... Saya ingin cek ke ... Kesuburun."

__ADS_1


"Baik kalau begitu silahkan ikut kami yah pak."Dokter itu berkata dengan ramahnya.


Dion bangkit. Kini mengekor di belakang dokter wanita itu. Sangat gugup rasanya. Sebentar lagi dia akan tau dirinya mandul atau tidak.


****


Tak tik tak tik bunyi detik jam dinding yang terus bergerak. Dion sedari tadi memperhatikannya.


Sementara dokter spesialis yang tadi menanganinya tampak sibuk memeriksa di dalam ruangannya.


Dion hanya disuruh mengeluarkan sedikit cairan alat tempurnya. Setelah itu, dia di suruh duduk dan menunggu di luar. Hasilnya akan segera keluar kata dokter itu.


Menit demi menit berlalu, tak terasa sudah hampir sejam lamanya. Dion duduk menunggu hasil pemeriksaannya.


Gugup, tentu saja pria itu gugup. Bahkan Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Iya sedikit takut mendengar hasil itu nanti. Tapi, mau tak mau dia sendiri harus mengetahuinya bukan.


"Clekkk!" Dokter itupun keluar dari ruangan.


Langsung menghampiri pasiennya yang tampak duduk di kursi sofa. Dion semakin bergetar. Menelan Salivanya secara kasar.


Keringat dingin. Kakinya bahkan mulai keram saat dokter spesialis itu berjalan mendekat.


"Pak Dion!" Sapa dokter itu kini duduk di hadapan pasiennya.


"Iya Dok?"kata Dion dengan wajah penasaran dan takutnya.


Dion menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan.


"Silahkan anda baca saja."


"Baik. Maaf yah pak sebelumnya, ini kami juga sudah melakukan pemeriksaan secara berulang-ulang. Tapi hasilnya tetap sama. Pak, anda MANDUL!"


Jeddaaarrrrrrrrr!!!!!


Perkataan Dokter itu bagaikan Sambaran petir yang menyambar jiwa dan raga Dion seketika. Siapa yang tak terkejut batin mengetahui kebenaran pahit itu.


Dion, dokter baru saja mengatakan bahwa dirinya MANDUL!


"Tidakkk!!" Dion merampas lembaran kertas itu. Langsung membaca inti dari hasil medisnya sendiri.


Manik matanya kembali membulat sempurna. Ternyata benar, dirinya benar-benar MANDUL! dia pria impoten.


Tidak! Ini pasti ada kesalahan. Dokter itu pasti melakukan kesalahan.

__ADS_1


"Ahhhhhhh!!!" Dengan penuh ketidakpercayaan Dion hanya bisa berteriak dengan putus asanya. Kenyataan pahit sudah terpampang jelas dan nyata di depan matanya. Sekali lagi dirinya MANDUL!


"Brukkk!!" Pria itu tumbang begitu saja. Kini tubuhnya sudah terkapar tak berdaya di lantai rumah sakit itu.


Dia sudah tak sadarkan diri.


Segitu besarnya ketidakterimaan dirinya atas kebenaran itu. Pahit, memang kebenaran yang sangat menyakitkan.


Bukan hanya untuk Dion, melainkan untuk semua pria di luar sana yang juga mengalami hal yang sama. Ini menyakitkan. Rasanya pedih dan sangat perih.


"Perawat!! Cepat kemari.!!"Teriak Dokter itu yang juga panik meminta bantuan.


****


Di ruang rawat umum itu. Tampak Dion masih terbaring lemahnya. Masih tak sadarkan diri. Meskipun ini sudah cukup lama.


Entah kenapa pria itu tak kunjung sadar juga. Mungkin saat ini dia lebih memilih untuk terlelap di alam mimpi sana.


Dari pada harus bangun dan menghadapi sesuatu yang menyakitkan ini. Memperpanjang waktu pingsan terkadang menjadi pilihan untuk seseorang tak bangun dan menghadapi masalah yang sedang menanti.


Mereka berusaha mengelak dan terus mengelak. Tapi mau sampai kapan akan begitu. Cepat atau lambat dia harus bangun dan menghapinya kan?


Itulah yang dilakukan Dion saat ini. Kini kelopak matanya mulai membela. Perlahan kembali melihat gemerlapnya dunia.


Dion, hari-harinya akan terasa jauh lebih berat lagi mulai dari sekarang ini. Dimana akan dia lalui dengan penuh kesendirian. Kehampaan dan kesunyian.


Wanita, percuma lagi kaum hawa itu hadir di hidupnya. Itu sudah tak ada lagi artinya. Percuma, mulai dari saat ini itu percuma.


Dion, dia sudah dinyatakan mandul. Tak bisa memproses si bibit bayi. Pelengkap dalam hubungan rumah tangga itu.


Hidupnya sudah tamat. Ternya yang dikatakan mantan istri sirinya Reta itu benar. Dia mandul. Itu sebabnya dia tak kunjung menghamili wanita juga.


Bahkan meskipun dia menggempurnya tiap saat, tiap menit bahkan tiap detik kalau perlu juga.


Dion, sungguh malang nasibnya saat ini. Hanya bisa meratap dan meratap. Mungkin ini yang dikatakan karma.


Terus mengatai para wanita-wanita itu mandul padahal dia sendiri yang mandul. Memaksa wanita-wanita itu untuk segera hamil padanya dirinya yang tak bisa menghamili.


Huff Dion, inilah kehidupan yang sesungguhnya. Inilah kenyataan yang sebenarnya.


Mulai dari saat ini dia harus bisa tau diri. Tak boleh memaksa lagi karena dia yang tak bisa memberi.


........... happy reading............

__ADS_1


gak bosen-bosennya nih si penulis malang mengingatkan untuk terus like, vote, komen, and foforitkan nya juga.


yang paling dibutuhkan si penulis malang adalah vote and komen nya lohh


__ADS_2