Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 97


__ADS_3

Sinar mentari pagi kembali menyapa. Bias hangatnya masuk melalui sela-sela kaca. Hal itu membuat salah satu pengantin yang masih terbilang baru itu terbangun.


Reyhan, kini membuka pejaman matanya. Hendak mengeliat tapi tertahan oleh pelukan istrinya yang erat. Rika mesih memeluknya. Bahkan dari semalaman. Dia bahkan tak bergerak sedikitpun dari posisinya. Mungkin takut pria itu akan terbangun dan menangis lagi. Seperti bayi kecil yang sangat rewel. Pasti sangat repot urusannya.


"Rik, Rika."panggil Reyhan mencoba membangunkan Istrinya.


"Rey, tenanglah. Aku tak akan pergi kemana. Aku di sini, akan ada untukmu." Alih-alih terbangun, Rika malah mempererat lagi pelukannya.


Salah satu tangannya juga malah mengelus puncak kepala Reyhan itu. Pasti agar pria itu lebih tenang lagi. Mungkin masih mengira ini malam.


Malam, Reyhan terdiam dengan satu kata itu. Kejadian tadi malam mengudara di fikirannya. Yah, Rika istrinya telah membuatnya panik setengah mati. Mengira dirinya telah tiada diterkam harimau. Rupannya baik-baik saja. Untung Reyhan belum menembak dirinya sendiri.


Hahhaha ....


"Wanita jahil ini, dia hampir membuatku hidup sendirian di alam lain sana." Gemes Reyhan tak sadar kini mencubit hidung Istrinya hingga membuatnya ikut terbangun juga.


Rika mengeliat tipis dengan mengusap wajahnya. Entah kenapa hidungnya terasa sedikit sakit. Tapi dia tak terlalu menghiraukan itu. sembari mengumpulkan sebagian tenaganya, Rika menatap Reyhan suaminya yang kini telah menatapnya dengan senyuman.


"Pagi,"


"Pagi," balas Rika masih dengan suara paraunya.


Kini melirik ke arah alarm yang ada di atas nakas.


Jam delapan. Rika tentu terkejut melihat waktu yang menunjukkan hampir siang itu. Kini bangun dari tempat tidur. Langsung berbalik menatap Reyhan. Pria yang harus ngantor itu tetapi masih terlihat santai bergulingan di kasur.


"Rey, kau kesiangan,"


Reyhan dengan santainya berkata.


"Lalu?"


"Kau harus ke kantor kan?"


"Tidak, aku sudah minta Randy untuk menggantikanku hari ini. Dia akan menghendel semuanya."


"Tapi Rey, kau juga ada rapat kan?" Rika Kembali mengingatkan.

__ADS_1


"Sayang,"Reyhan bangun dari baringnya.


"Aku sudah menunda semuanya, aku libur. Aku akan menemani kau dan dua calon anak kita hari ini." Tambah pria itu.


Kini mengusap perut Rika istrinya yang tampak semakin membesar. Mengecupnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Setelahnya tampak berbicara kepada dua baby kembar yang ada di dalam perut itu.


"Sayang, Papa akan menemani kalian hari ini. Kalian senang kan?"


"Pokoknya kita akan bermain sepuasnya. Tapi ingat, jangan sampai merepotkan Mama kalian yah. Janji sama Papa,"


Rika tersenyum hangat sembari mengelus rambut belakang suaminya itu. Dia nampak sangat bahagia melihat Reyhan yang terus berkata seakan baby- Nya itu bisa mendengar ucapannya.


Tapi mungkin memang bisa. Buktinya sekarang. Perut Rika itu bergerak. Seakan ada tendangan kecil dari dalamnya. Itu terlihat jelas dari luar. Dan lagi, bukan hanya saat ini saja.


Tetapi setiap Reyhan memperdengarkan suaranya. Pasti dua janin itu akan merespon dengan cara bergerak-gerak di dalam sana. Entahlah mungkin ini yang namanya hubungan batin antara ayah dan anaknya. Walaupun anak itu belum dilahirkan ke dunia.


****


Siang harinya. Tampak Bu Rossa dan suaminya tuan Huda datang mengunjungi anak dan menantunya. Keduanya kini sudah berada di ruang tengah. Reyhan sudah datang menemui mereka tapi Rika belum.


Terlihat dia baru selesai membersihkan diri di kamar mandi. Semenjak hamil, rika sering merasa kegerahan. Itu bahkan lebih sering terjadi ketika siang harinya.


"Tuan, nyonya silahkan diminum." Ujar Bi Maya meletakkan beberapa cangkir kopi dan teh di meja ruang tengah itu.


"Makasi Bi,"kata Bu Rossa tersenyum ramah.


"Bi, buat makan siang juga yah." Titah Reyhan yang di iyakan pelayan paruh baya itu lalu kembali ke dapur.


Seyap seketika. Tuan Huda memulai pembicaraanya setelah dia selesai menyeruput kopinya. Itu juga yang menjadi alasan kenapa dia dan istrinya sampai datang berkunjung kemari.


"Rey, apa kau sudah memberitahukan rencana keberangkatan kita pada Rika?"


Reyhan tersentak. Sudah dia duga memang kedatangan ibu mertua serta ayah mertuanya itu kemari.


Pasti hendak menanyakan Apakah Rika sudah setuju atau tidak jika Reyhan melakukan perjalanan bisnis ke eropa.


Bagaimana mau setuju, Pria itu bahkan belum mengatakan apapun. Bukan tak mau sih, tapi Reyhan sendirilah yang malas rasanya ke sana.

__ADS_1


Mengingat istrinya itu tengah hamil besar. Sudah tentu Reyhan harus selalu ada dan menjaganya. Dia tak mau jika sesuatu terjadi lagi ketika dia pergi nanti.


"Pah, bisakah jika aku mengirim Randy saja?"tawar Reyhan. Perkataannya itu langsung dibantah ayah mertuanya.


"Rey kau tahu sendiri kan, ini proyek yang sangat besar. Jika kita berhasil memenangkannya, kita pasti akan untung besar. Perusahaanmu pasti akan naik satu tingkat lagi. Papa ragu kita akan menang kalalu kau tak terjun langsung ke sana."


Reyhan hanya bisa menghela nafas pasrah. Sungguh sangat tak ingin meninggalkan istrinya yang tengah hamil itu.


Apa lagi Dion pria keparat itu masih berkeliling di luar sana. Bagaimana jika dia datang dan mengacau lagi. Pasti akan tidak baik hasilnya.


Tapi mau bagaimana, Reyhan memang punya tugas dan tanggung jawab yang harus diselesaikannya di sana. Dia harus memenangkan tender kerja sama itu.


Haihhh, menyebalkan sekali, keluh pria itu. Kini diam dan tertunduk tak berdaya.


Melihat menantunya itu, Bu Rossa mendekatkan diri. Mengelus pundaknya. Seakan paham juga tentang keluh kesah suami putrinya itu.


"Rey, tenang saja. Mama akan berada di sini dulu untuk menjaga Rika. Oma kamu juga, dan lagi, kita akan perketat penjagaan rumah ini. Kita akan sewa penjaga lebih banyak lagi."


Reyhan diam tak merespon. Meskipun kini memperkuat penjagaan sudah dipikirkannya. Entah mengapa pria itu masih tak puas.


Mengingat kejadia kemarin lusa itu. Reyhan sudah menyewa penjaga juga kan, tapi nyatanya Rika istrinya masih hampir terluka juga.


"Rey,"ujar Rika menghampiri. Entah sudah berapa lama dia berdiri di belakang semua orang. Tentu dia sudah mendengar topik perbincangan itu.


Reyhan berbalik melihat Rika istrinya berjalan mendekat. Kini sudah duduk di sampingnya.


"Emang penting banget yah Pah harus ke sana?" Tanya Rika


Tuan Huda mengangguk dengan senyum tak tega


"Iya sayang, itu akan mendatangkan keuntungan yang sangat besar bagi perusahaan Papa dan suamimu."


"Rey, begini saja, setelah kau menemui klien itu, kau bisa pulang. Sisanya biar Papa yang urus," tawar tuan Huda.


Paham juga tentang ketidak relaan menantunya itu untuk meninggalkan Istrinya, yah putri tuan Huda sendiri. Rika, yang juga kini tampak berdiam diri. Dia pasrah dengan keputusan suaminya saat ini.


..................Happy reading............

__ADS_1


Like, vote, komen, and foforitkan juga yah


Episode selanjutnya dijamin pasti akan lebih seru dan menggeregetkan lagi.


__ADS_2