Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 53


__ADS_3

Rasa panik luar biasa kembali di rasakan Rika. Pintu kamar sudah terbuka lebar dan Dion sudah menyiapkan Kakinya untuk masuk dan memeriksa apa yang ada di dalam.


Entah siapa yang bisa menolong wanita itu sekarang. Mudah-mudahan Reyhan punya kekuatan menghilang dari bumi.


"Masssss!!" Teriak seseorang menghentikan langkah pria itu.


Rika dan Dion bersamaan melihat ke arah sumber suara.


"Reta,"ujar Dion melihat istri keduanya sedang berdiri tak jauh darinya. Berkacak pinggang dengan mata yang sedikit melotot.


Untuk pertama kali ini Rika tersenyum melihat kedatangan madunya. Bagaimana tidak, perempuan itu pasti akan membawa paksa Dion dari kamarnya.


Reta melangkah dengan kaki yang berapi-api. Ekspresi marah, kessel, emosi, semuanya campur aduk.


Dion kembali keluar dari kamar Rika. Entah apa lagi yang akan terjadi.


"Kurang ajar kamu Mas, aku udah capek nungguin kamu di bawah eh tau-taunya kamu malah enak-enakan di sini."hardik Reta melabrak suaminya.


Rika hanya melipat kedua tangan dengan memasang wajah datar. Madunya itu memang tak pernah suka jika Dion bersamanya yang padahal istrinya juga. Istri sah pula, sementara dia hanya lah sebatas istri siri.


"Ayo turun Mas!"Reta menarik lengan Mas Dion.


Dion terhuyung di buatnya. Iya tak bisa berbuat apa-apa karena keburu dibawah paksa oleh istri keduanya.


Rika berdecih kasar melihat suaminya kian menjauh. Di hati sedikit ada rasanya enyuh yang timbul. Rasa kesal pula.


Tingkah Reta memang terlampau batas. Dion itu juga terlalu menuruti apa kemauannya. Hehh, adegan ini seperti istri yang menangkap basah suaminya saja.


Rika hanya memutar bola mata malas kemudia kembali masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam Reyhan duduk di kursi sofa dengan kedua kaki di atas meja.


Rika melihatnya. Pria ini bersikap santai tak sopan pula. Tidakkah dia takut dengan kejadian tadi yang suaminya hampir memergoki. Rika merebahkan tubuh di samping Reyhan.


Reyhan menurunkan kakinya. Wajah datar iya berkata.


"Apa lagi yang kau harapkan dengan suamimu?"


Rika mengerutkan alis. Iya tak paham dengan ujaran pria di sebelahnya.


"Apa maksudmu?" Tanyanya melihat ke arah pria itu.


Reyhan mmebuang nafas kasar. Iya menatap Rika dengan serius.


"Dia tak lagi mencintaimu, ku harap kau sadar dengan itu. Lihat aku, aku di sini pria yang akan selalu ada dan menyayangimu."


Reyhan memegang kedua tangan Rika. Iya menggenggamnya seakan tak akan pernah melepasnya.


"Aku mencintaimu Rika, hiduplah bersamaku."


Pria ini. Kenapa malah mengungkapkan perasaannya, membuat suasana canggung saja.


Rika mengalihkan pandangannya. Salifa kasar berusah di telanya.

__ADS_1


Yah benar, mungkin Dion tak lagi mencintainya. Bodohnya dia karena masih menaru harapan dan berharap hubungan rumah tangganya kembali baik-baik saja.


Apa itu mungkin? Jika dilihat, Rika dan Dion sudah berjalan berlainan arah.


Hehhh,


****


Di kamar bawah sepasang suami istri itu kembali cekcok.


Reta sangat kessal karena suaminya itu malah pergi menemui istri pertamanya ketimbang membujuk dirinya yang masih marah.


"Kenapa sih, kamu?"


"Mas, kamu mau tidur sama Mba Rika yah," duga Reta kepanasan.


"Enggak lah, aku tuh tadi cuma ....?"


Dengan segera Reta memotong Kalimat Dion.


"Cuma apa Mas? Kamu mau tidur sama dia kan, terus aku datang,"


Dion menggeleng. Iya sama sekali tak mengerti dengan pikiran liar istrinya. Pria itu kini duduk di bibir tempat tidur.


"Mas, kenapa kamu diam. Benar kan! atas apa yang kulihat." Reta mengotot dengan mendekati suaminya.


Dion enggah memandang wanita di hadapannya itu. Segera iya tarik selimut kemudian menutup sekujur tubuhnya.


"Mas!"


"Mas!"


"Tidur, terus ritual sebelum tidur kita, gimana Mas?"


"Malam ini kita perai."


Reta hanya mendesah kasar mendengarnya. Ih kenapa jadi gini sih.


****


Pagi kini telah menjelang. Rika membuka kelopak matanya. Menguap seraya meregangkan otot-ototnya.


Separuh nyawanya yang terbang ke alam mimpi pun sudah kembali iya dapatkan.


Wanita itu memegangi perut ratanya. Iya melihatnya seraya mengelus.


Kondisi di dalam sana masih belum normal saja. Masih ada sesuatu yang tak enak seakan mengganjal. Entah apa itu, yang pasti membuat Rika merasa tak enak badan dibuatnya.


Kapan yah di dalam sini ada sesuatu yang bergerak. Menedang, meninju, atau entahlah, batinnya berharap.


Penantinya selama ini tampaknya belum terkabul juga. Rika ingin sekali punya anak. Namun yang maha kuasa masih saja belum mewujudkannya.


Rika bangkit. Iya turun kemudian langsung ke kamar mandi. Seperti biasa membersihkan diri kemudian berdandan cantik.

__ADS_1


****


Di ruang makan. Rika kini tiba di sana. Iya dapati suami, ibu mertua serta madunya yang sedang sarapan.


Rika langsung bergabung duduk dan memandangi apa yang ada.


Ikan goreng, ayam goreng, sambal goreng pokoknya makanan yang berasal dari lautan minyak panas. Wanita itu mengerutkan kening.


"Bi, semuanya serba di goreng?"tanyanya pada bi Maya yang berdiri di sampingnya siap melayani sang majikan.


"Maaf Bu, ini semua permintaan Bu Diana."


"Mama yang suruh. Kamu diam, gak usah bantah."Desis Bu Diana mengehentikan suapannya.


"Mah, maaf yah. Minyak goreng kan lagi mahal. Seliternya aja naik Lima puluh ribu."terang Rika setelah membaca berita hangat yang lagi di bicarakan.


"Kamu jadi orang kok perhitungan banget sih," Bu Diana mulai ngegas.


Rika menggeleng " Bukan guruh Mah, terus gimana kalau kolesterol mama juga naik. Hayo siapa yang mau tanggung jawab."


Bu Diana jadi gelagapan dibuatnya. Perkataan menantunya itu ada benarnya juga. Tapi gengsi dong jika harus mengakuinya.


"Bu, saya sudah siapkan sup sayuran untuk anda."


Rika mengguk pelan.


Melihat makanan banyak yang tersaji di hadapannya memang tak membuatnya berselera. Tapi jika perutnya tak diisi apa-apa, maka akan lebih parah akibatnya.


Bi Maya datang dengan semangkuk sup di tangannya. Iya langsung menaruh di hadapan majikannya.


Baru saja pelayan paruh baya itu hendak pergi, Rika kembali memanggilnya.


"Bi, tolongg buatkan rujak yah. Buahnya, mangga muda dan jeruk nipis aja. Jangan lupa kasih semangka, tapi dikit aja." Titahnya.


Dion yang tadinya hanya makan dalam diam langsung berujar.


"Kamu hamil Rika?"


Suasana seketika hening dibuatnya. Perkataan Dion itu membuat semuanya diam dalam sekejap.


"Hhahahahahha ....!! Ahhhahha ...!!"tawa Bu Diana memecah suasana.


"Uhhhuukk!! Uhhhuukk!" Iya sampai kessellek karena tawa dengan kondisi mulut yang penuh dengan makanan.


"Ahahah!! Kamu ini Dion, pintar sekali jika bercanda. Rika hamil, mana mungki, dia itu kan mandul!! hahahah...."


"Iya nih Mas Dion, ada-ada saja. Mba Rika mana mungkin hamil, dia kan Mandul." Tambah Reta tertawa karena perkataan suaminya itu yang sangat lucu baginya.


Dion hanya menggaruk kening. Hehh, mulutnya ini main ceplas-ceplos saja. Benar juga, Rika mana mungkin hamil. Hanya karena dia ingin makan rujak atau sesuatu yang kecut, belum tentu di dalam perutnya ada anak.


Pria itu menggeleng lalu kembali melanjutkan suapannya.


............ happy reading..........

__ADS_1


like, vote, and komen, favoritkan juga yah


__ADS_2