
"Dia wanitaku!" Terang pria itu sekali lagi mengingatkan. Ekspresinya mulai tak senang.
"Iya iya. Aku tahu," Rival mengelus keningnya yang sedikit memerah. Heh, Reyhan ini, iya bersikap seperti seekor kucing saja. Takut sekali jika ikan asinnya direbut.
Rika hanya bisa tertawa melihat kelakar dua pria di hadapannya itu. Reyhan, dia memang terlihat menjaga sekali Rika. Sedikitpun iya tak mau jika ada lelaki lain yang mendekati wanitanya. Rika miliknya. Orang lain tak punya kekuatan untuk mengambilnya.
Selang beberapa menit kemudian. Rika sudah menjalani pemeriksaan. Tampak iya masih berbaring di ranjang pasien itu. Sementara Reyhan, iya duduk sembari menunggu hasilnya. Menunggu selama setengah jam.
Terus memperhatikan gerak-gerik sang dokter. Jangan sampai menyentuh hal yang bukan-bukan. Jika yah, maka Reyhan tak segan-segan merobohkan bangunan itu sekalipun ini adalah milik sahabatnya.
Rival datang dengan selembar kertas di tangannya. Keningnya mengerut . Tampak terlihat tegang. Secara berulang iya membaca hasil medis Rika yang baru saja keluar itu.
Reyhan memfokuskan duduknya. Serius menatap sang dokter yang sudah berjalan menghampirinya.
"Bagaimana?" Tanyanya antusias.
Rival memasang tampang sedih. Menepuk pundak Reyhan seraya berkata.
"Rey, tampaknya Rika akan kembali ke pada mantan suaminya."
Reyhan mengangkat salah satu alisnya. Iya masih tak paham dengan apa yang dikatakan dokter sekaligus sahabatnya itu.
"Rey, Rika hamil!"
"Oh hamil." Angguk Reyhan lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Iya Rey, dia HAMILL!!"
"Apaaa!! Hamil!!"
Reyhan terkejut besar mendengar ucapan itu. Tubuhnya seakan terpental hebat hingga hampir mencium Rival yang ada di hadapannya.
Rival mengusap wajahnya. Mulutnya mencemoh.
"Santailah, kau hampir menjatuhkan martabat ku sebagai seorang lelaki sejati."
Reyhan menyorot pria yang ada di hadapannya itu.
Tatapan harimau ganas siap menerkam mangsa dilemparkannya ke arah pria yang bekerja sebagai dokter itu. Rival yang tak tahu apa-apa hanya bisa menunduk layaknya kelinci putih kecil yang memohon agar tak disantap oleh sang penguasa hutan.
"Val, Kau jangan membohongiku." Sergahnya.
"Rey, aku serius, kalau tak percaya lihat saja hasilnya." Rival menyodorkan lembaran kertas di hadapannya. Reyhan langsung mengambil dan membacanya.
Manik matanya membulat sempurna.
__ADS_1
Rika positif hamil tiga bulan. Yah itu benar dan itu nyata. Keterangan itu yang memang tertulis di sana.
Tidak, ini mimpi. Tidak, ini nyata. Dia akan menjadi seorang ayah. Reyhan menepuk-nepuk kedua belah pipinya. Dirinya seakan masih tak percaya dengan apa baru saja terjadi.
Kumohon, ini adalah kenyataan, kumohon.
Kembali Rival membaca keterangan medis itu. Kini iya mengucapkannya dengan nyaring.
Iya tak mau jika Reyhan pria yang sudah bersahabat lama dengannya itu tak mendengarnya lagi. Tak percaya pula dengan apa yang sebenarnya terjadi kepada Rika.
Wanita yang sudah menjadi miliknya itu.
"Rika, positif hamil! Usia kandungan tiga bulan!!"
"Brakkkk!!!"
Bersamaan, Reyhan dan Rival menoleh ke arah sumber suara yang terdengar seperti sesuatu yang jatuh.
"Rika!!" Teriak Reyhan berlari menghampiri wanitanya yang sudah terkapar di lantai.
"Val!! cepat tolong Rika!! Cepat!!! Val!!!"
"Iya iya."
****
Rika, iya tiba-tiba ambruk setelah mengetahui bahwa dirinya hamil. Mungkin karena iya tak kuasa menahan kebahagiaannya. Kebahagiaan yang selama ini ditunggu-tunggunya.
Hamil dan memiliki anak. Sungguh anugerah yang tak terkira. Penantiannya selama ini akhirnya terjawab juga. Reyhan, pria itu yang berhasil mematahkan Lebel dirinya. Wanita dengan rahim rusak. Mandul.
Ternyata Dia wanita yang subur. Buktinya kini iya sedang hamil anak kembar. Dokter yang memberi tahu semua orang tadi. Bahwa rahimnya sangat subur. Heh, sekarang sudah diketahui siapa yang mandul bukan? Dion kau pria impoten, sadarlah.
"Pah! Rika Pah, tadi tanganya bergerak." Teriak Bu Rossa merasakan pergerakan dari sang anak.
"Iya Mah, Papa juga liat matanya tadi bergerak."
Reyhan yang tadinya duduk di kursi sofa langsung bangkit dan ikut mendekat. Melihat kondisi wanitanya yang mungkin telah sadar.
Dengan susah paya Rika memisahkan kelopak matanya. Kembali melihat dunia yang sangat indah untuknya. Pandangan matanya tak lagi buram.
Sekarang iya sudah melihat dengan jelas sang ibu dan ayah yang berdiri di sampingnya.
"Mah, Papa." Kata itu yang pertama keluar dari mulutnya.
"Sayang, kau sudah sadar. Pah anak kita Pah," lirih Bu Rossa senang karena Rika putrinya kini telah baik-baik saja.
__ADS_1
Setetes air putih bening mengalir dari sudut mata wanita yang terbaring itu. Dengan penuh harapan iya berkata.
"Mah, apa benar Rika hamil?"
Bu Rossa mengangguk lembut seraya tersenyum.
"Iya sayang, selamat yah."
Rika tersenyum haru mendengar ucapan itu. Air matanya menetes bukan lagi sebagai tanda kesedian. Melainkan kebahagiaan yang menerpa dirinya. Dirinya sungguh hamil.
Ini seperti mimpi indah yang menemani tidurnya. Sungguh bahagia. Sebentar lagi iya akan menjadi seorang ibu. Merawat dan membesarkan anak.
Oh inilah impiannya Selema ini. Akhirnya iya bisa menjadi wanita sempurna.
"Sayang, selamat yah." Ujar tuan Huda ikut senang. Iya memeluk Putrinya seraya mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang.
Sebentar lagi iya akan punya seorang cucu. Dia akan menjadi seorang kakek. Oh hari-hari bahagianya baru saja dimulai.
Bermain di Padang rumput dengan tawa yang menggembirakan. Itu semua bersama cucu-cucunya yang sebentar lagi akan tiba di muka bumi ini. Iya akan terus berdoa agar puncak Kebahagiaannya segera terkabulkan.
"Maaf tuan, dokter ingin menjelaskan sesuatu." Sela seorang perawat yang tiba-tiba muncul.
"Oh, baik. Saya akan ke sana."kata tuan Huda.
"Em, jika bisa dengan Nyonya juga."
"Ah, baiklah. Tuan Reyhan, bisa kah anda menjaga Rika untuk kami?" Tanya Bu Rossa meminta tolong.
Reyhan tersenyum seraya mengangguk.
"Baik Mah, ehh emmm ...? Maksudnya, Nyonya."
Bu Rossa tertawa geli melihat kegagapan Reyhan. Hemm, tampaknya pria ini tak searogan yang dikatakan orang, batinya berlalu.
Rika juga ikut terkekeh.
Seorang tuan besar Reyhan ternyata bisa gagap juga. Dan itu terjadi ketika berhadapan dengan calon ibu mertua. Hahaha ....!! Bisa dibayangkan betapa lucu tingkah Reyhan tadi. Wajahnya bahkan sampai berkeringat.
"Ada apa Rey?"tanyanya menghentikan tawa. Keduanya Kembali akrab karena memang tinggal mereka berdualah di ruang rawat VVIP itu.
Reyhan menggaruk tengkuknya tak tak gatal. Setelahnya berdehem untuk mengembalikan citra dirinya yang tadi sempat hilang di hadapan Bu Rossa dan tuan Huda.
Pemuda itu berjalan mendekat ke arah wanita yang masih berbaring lemah itu. Tanpa berbasa-basi iya pun berkata.
"Itu anakku kan?"
__ADS_1
...........................happy reading...... gimana kak ceritanya semakin seru kan
nah, Jangan lupa like, vote, komen, and foforitkan juga yah satu jempolan saja sudah sangat berarti buat si penulis malang loh hehheeh