Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 67


__ADS_3

"Beberapa preman muncul dan menghancurkan semuanya. Mereka mengobrak-abrik apapun yang ada. Kami sudah berusaha menghentikannya.


Tapi kami tak bisa. Salah satu dari mereka memakai senjata tajam. Alhasil, lia yang jadi sasarannya." Tangis karyawan itu pecah di akhir kalimatnya. Terlihat jelas bahwa dia menyaksikan semua itu. Trauma mungkin di alaminya sekarang.


Sementara Rika, iya terlihat lemas setelah mendengar penjelasan itu. Butiknya baru saja diserang Beberapa penjahat dan orang kepercayaan yang jadi korban.


Entah bagaimana keadaannya sekarang.


"Bu, mereka mengbil beberapa uang dan juga gaun malam yang ada di ruang ibu." Tambahnya menjelaskan.


Rika tersorot pada penjelasan karyawannya itu. Seoarang preman mengbil gaun? Untuk apa? Apa hendak dijualnya. Tidak, ini sedikit ada keganjalan.


Meskipun menemukan keganjalan pertama pada kasus penyerangan butiknya itu, untuk sekarang Rika tak bisa berbuat apa-apa. Entah kenapa tubuh nya terasa sangat lemas sekarang. Iya bahkan tak bisa merasakan kakinya yang menapak.


Reyhan melihat Rika yang mulai terhuyung. Segera iya menangkap dan mendekap Rika ke pelukannya. Iya meraih ponsel yang ada di saku celananya. Sekarang waktunya untuk bertindak. Jika dia sudah bergerak maka tak ada yang bisa lolos meskipun itu semut sekalipun.


"Randy, ada tugas untukmu. Seperti biasa, cari petunjuk apapun. Usut sampai tuntas. Bawa dalangnya untuk menatap mataku."


Panggilan terputus. Reyhan menjulurkan tangannya dan mengangkat Rika ke dalam gendongannya. Membawa keluar dan kembali masuk ke dalam mobil.


Rika kembali sadar. Sebenarnya iya tak pingsan hanya saja tumbuhnya melemah.


Pandangannya juga hanya sedikit buram.


"Tenanglah, aku sudah menyuruh orang untuk mengurus butik dan kerugian yang kau alami."


"Lia, kita harus kerumah sakit sekarang." Cakap Rika dengan perjuangan nafasnya.


Reyhan mengangguk. Mobil pun iya tancap gas dan mulai melesat di tengah jalan raya.


****


Rika tiba di rumah sakit. Di sana beberapa karyawanya tampak berjaga di depan ruang UGD. Segera iya bergabung.


"Bagaimana keadaan lia?" Tanya Rika yang berusaha mengatur nafasnya. Ekspresi cemas masih menghiasi wajahnya. Reyhan tampak melindungi di belakangnya.


"Dia masih ditangani Bu." Kata salah satu karyawannya.


Rika hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya. Tampak raut wajah penyesalan di wajahnya. Reyhan jadi khawatir. Apa lagi wanitanya itu hampir pingsan tadi.


"Duduklah, kau juga harus mengingat kondisi tubuhmu."


Rika mengistirahatkan tubuhnya di kursi tunggu. Iya sudah menangis sedari tadi. Ini adalah masalah yang besar baginya. Sungguh kasihan.


Reyhan jadi iba Melihatnya. Rasa tak tega tentu saja menyeruak di hati. Huh, awas saja preman sialan itu. Tunggu saja.


"Tenanglah, Randy akan mengurus semuanya. Pelakunya akan segera ditangkap."


Rika hanya diam dalam tangis. Iya menyandarkan tubuhnya di pundak Reyhan. Reyhan merangkulnya.


Mengelus puncak kepalanya agar menjadi lebih sedikit tenang. Reyhan, dia sudah berhasil mengukir namanya di dalam hati Rika. Perlahan menghapus nama pria yang sebelumnya ada di dalam sana.


Reyhan, cinta Rika sudah berhasil kau dapatkan. Itulah hasil perjuanganmu.

__ADS_1


Selamat Reyhan, selamat.


"Apa ada keluarga pasien?" Suara perawat menghentakkan Suasana.


Rika bangkit dan langsung berhadapan langsung.


"Saya atasannya, keluarganya sedang tak ada. Saya yang akan menjaminya."


"Oh, baiklah, luka di bagian perutnya sudah kami obati. Pendarahan juga sudah berhenti. Kalian bisa menjenguknya setelah kami memindahkannya. Sebelum itu, silahkan ibu ikut saya ke ruang administrasi."


Baru saja Rika hendak melangkah, Reyhan seketika menghentikannya. Tak lama iya meraih sebuah kartu dari balik jasnya.


"Masukan tagihannya atas namaku."


Perawat tertegun setelah membaca kartu identitas itu. Reyhan Ardiwiningrat CEO dari perusahaan Andorgroup.


Siapa yang tak senang jika bertemu dengan orang sukses itu.


"Baik, tuan. Anda istirahat saja."kata perawat dengan penuh hormat.


"Aku ingin ruang rawat yang termahal di sini."


Perawat tersenyum tunduk kemudian pergi.


****


Reyhan berjalan ke loby utama rumah sakit. Setelah mendapat telepon dari sang asisten. Randy iya berdiri di depan mobilnya.


"Bos!"


Reyhan melihat sosok pria yang kian mendekat ke padanya.


"Ini yang anda minta." Si asisten menyerahkan ponselnya. Reyhan menerima dan langsung memutar rekaman yang ada di benda pipih itu.


"Bodoh kalian! kenapa harus melukai orang sih? Aku hanya menyuruh kalian untuk mengambil beberapa uang dan gaun!"


"Maaf nyonya, wanita itu terus menghalangi kami."


"Ah, sudahlah! Ini, ambil bagian kalian. Cepat pergi sana!"


Reyhan menyengir angkuh setelah menonton rekaman itu. Huh, ternyata bukan orang lain dalangnya.


Randy berhasil mengirim rekaman itu ke ponsel Reyhan. Setelahnya iya berkata.


"Berkas yang Bos minta juga sudah saya bawa."


Si asisten kembali masuk ke dalam mobilnya. Tak lama iya muncul dengan sebuah map di tangannya.


Reyhan kembali tersenyum lalu membuka lembaran itu.


"Heh, kau memang bisa kuandalkan."


Kedua orang itupun berpisah. Randy melaju di jalan raya sementara Reyhan kembali masuk untuk menemui Rika.

__ADS_1


Di kamar VIP. Lia tampak sudah sadar. Tangan kanannya terikat tali infus. Setengah tubuhnya tertutup selimut tebal.


Wajahnya masih terlihat pucat. Bagaimana tidak, iya sempat berjuang hidup atau mati tadi. Untung dia kini sudah selamat.


Klekk!!


Suara pintu terbuka. Rika yang tadinya duduk di samping Lia asistennya segera menoleh. Pria tampan dan gagah sudah berdiri di depan pintu. Tangannya memegang sebuah map.


"Reyhan," ujar Rika. Iya kini bangkit dan ikut bergabung bersama pria itu yang kini sudah duduk di kursi sofa.


Reyhan menyodorkan map tadi.


Rika sedikit heran.


"Apa ini?"


"Surat pisahmu."


Rika terdiam sejenak tak lama iya meraih kemudian mulai membukanya.


Reyhan menyodorkan sebuah pena.


Manik matanya menunjuk lalu melihat Rika.


"Tinggal tanda tangannmu dan dia. Setelah itu, kalian akan pisah.


Sejenak Rika menatap Reyhan. Pintu menuju perpisahan sudah ada di depan mata. Apa lagi yang ditunggu? Dion pria bajingan itu memang tak pantas untuknya.


Akan lebih baik orang sepertinya dimusnahkan saja dari muka bumi ini. Dengan begitu tak ada lebih wanita lagi yang akan sakit hati dan tersiksa.


Rika ini saatnya untuk memulai kehidupan baru. Pria sampah itu harus pergi dari kehidupanmu.


Tanpa berfikir lagi, Rika meraih pena itu. Iya mulai mengukir tanda tangannya di atas matrey.


"Kau sudah yakin dengan keputusanmu?" Tanya Reyhan.


Sejenak Rika memejamkan mata. Sudah, tak usah mengingat semuanya. Yang memang harus dilakukannya adalah melepas dan mengikhlaskan semuanya.


"Yah, seharusnya sudah dari dulu aku melakukan ini. Benar kata orang, aku terlalu bodoh. Aku terlalu buta akan cinta.


Aku sudah menjadi budak cinta hingga tak bisa melihat mana yang benar dan salah."


Cupppp,


Reyhan mendaratkan kecupan manis di kening Rika. Iya tersenyum menatap lembut wanita itu.


"Setelah ini, kau akan bahagia denganku. Aku janji, pegang kata-kataku. Aku pria yang paling mencintaimu Rika."


........................................


Gimana kk, episode selanjutnya tambah seru loh yuk kasi like, vote, komen, and foforitkan juga yah


biar penulis malangmu tambah semangat

__ADS_1


__ADS_2