Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 36


__ADS_3

Bu Diana berjalan mendekat lalu memegang kedua bahu istri pertama anaknya itu. Rika tentu saja heran dibuatnya. Sementara Reta iya duduk dan merebahkan tubuhnya di kursi sofa yang kini sudah berganti menjadi baru.


Akibat pertempuran sengitnya kemarin, kursi sofa baru terpaksa berada di ruangannya sekarang.


"Em Rika, mama ke sini untuk menagih uang bulanan mama dari kamu." Kata Bu Diana mengungkapkan maksud dan tujuannya datang.


"Hahhhh??"kejut Rika. Siapa yang tak tercengang dengan perkataan itu. Sejak kapan rika harus memberikan uang bulanan Kepada ibu mertuanya.


Gaji dari Dion saja tak Rika dapatkan, lalu bagaimana iya memberikan uang yang dipinta ibu mertuanya ini?


Rika menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan.


Iya kini membuka laci tempat penyimpanannya lalu mengambil beberapa lembar uang merah. Rika memutuskan untuk mengasih. Bagaimana pun dia adalah ibu dari suaminya, mas Dion.


"Ini mah." Kata Rika memberi.


Bu Diana dengan cepat menerimanya. Langsung saja iya menghitung berapa jumlah yang didapatkannya.


Dengan alis mengerut, iya kembali berkata.


"Loh, kok cuma segini?"


Reta bangkit dan mendekati ibu mertuanya juga.


"Berapa mah?"


"Cuman lima juta."


"Hahhh!! Mba lima juta mana cukup buat kami."


Rika terpelongo mendengar perkataan Reta barusan. Apa kedua orang ini waras dengan datang dan meminta uang. Apa mereka berfikir situasi sekarang ini sama seperti seorang anak yang sedang meminta uang kepada ibunya, dan ibunya itu harus dan mau memberi. Enak saja. Ini namanya dikasi hati malah minta jantung.


Oh Tuhan, kedua orang ini tampaknya sudah gila gumam Rika tak habis fikir.


"Cukup yah! Apa kalian fikir aku ini bank berjalan. Enak saja yah kalian datang dan meminta uang. Dan kamu Reta. Atas dasar apa kamu minta uang sama aku! Lancang sekali kamu, Memangnya kamu ini siapa hahhhh??"


"Aku istrinyaas Mas Dion. Dan aku ke sini buat minta uang yang telah dikasih Dion ke mba."lawan Reta menyampaikan maksudnya.


Rika hanya bisa tertawa pasrah dengan semua omongan madunya. Drama apa lagi sih ini? Dion bahkan tak pernah ngasi uang.


Lalu apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh kedua tamu tak diundang itu.


Rika sudah ennek melihat keduanya. Mereka ini sudah keterlaluan dengan datang dan meminta uang. Memang apa yang ada di dalam pikirannya.

__ADS_1


"Maaf yah mah, aku minta sekarang juga kalian pergi. Tolong jangan ganggu ketenanganku."


"Loh, kok kamu malah ngusir sih, Saya datang ke sini itu untuk meminta hak yang seharusnya saya dapatkan dari kamu."kata Bu Diana tak terima.


"Bener tuh, pokoknya mba harus ngasi uang. Kalau gak, kami gak bakalan pergi." Tambah Reta kekeh dengan permintaannya.


Rika tertawa dengan emosi besar di wajahnya. Iya tak pernah berfikir bahwa ada orang yang jauh lebih tak punya rasa malu seperti ini. Tambah lagi orang itu sedang berdiri di hadapannya sekarang.


"Kalau kalian tidak pergi, aku akan panggil satpam untuk ngusir kalian." Ancam Rika karena sudah tak tahan lagi.


Namun hal itu tampak sia-sia. Bu Diana dan Reta tampak menantang dengan perkataan barusan itu.


"Tidak, kami akan tetap di sini."


Rika kembali menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan kasar. Tampaknya, cara lain harus iya lakukan untuk mengusir kedua pengganggu itu.


"Hehhh, kalian yakin gak mau pergi?" Kata Rika dengan usiran terakhir. Senyum aneh juga iya tampilkan di wajahnya.


"Yakin." Ucap Reta dan Bu Diana serentak.


Rika melipat kedua tangannya hingga menjulang di atas perutnya. Hufff tampaknya untuk membuat pergi keduanya harus menggunakan sedikit lebih tenaga.


"Baiklah jika begitu. Lia, masuklah,"


Panggil Rika kepada orang kepercayaan itu.


Bu Diana dan Reta tentu saja heran melihatnya. Entah apa yang akan dilakukan Rika sekarang ini. Yang pasti apapun itu, mereka tidak bakalan pergi sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Iya Bu, "


"Kamu tau kan harus apa."kata Rika dengan kodean di kedua matanya.


Lia tersenyum seraya mengangguk. Kini iya duduk sembari mengelus anjing pintar di sampingnya. Tampak juga iya berbisik ke hewan peliharaan itu. Tanpa menunggu lagi, Lia melepaskan ikatan anjing itu lalu berseru.


" Ayo meky!"


"Gukkkk!!! Gukkkkk!! Gukkk!!"anjing yang bernama meky itupun menggonggong sembari mengejar dua orang pengganggu itu. Tatapannya seakan siap menyergap siapapun yang didapatkannya duluan.


"Kyaaaa!!!!! Tolongg!!!"teriak keduanya dengan berlari pontang-panting kian kemari mengelilingi semua tempat yang ada.


"Rika!! Hentikan anjing jodohmu itu!!"


"Dia akan menggigitku! Tolong!!"

__ADS_1


"Rika punggu mama sakitt!! Hentikan anjingnya!!"


Rika sama sekali tak memperdulikan teriakan meminta tolong itu. Sesekali iya memang harus bersikap tegas kepada seseorang yang tak punya rasa malu itu. Ini semua untuk mendidik mereka agar segera sadar diri.


Setelah lelah dan tak tahu harus kemana, keduanya kini berlari keluar agar anjing itu berhenti mengejar. Namun meskipun mereka sudah pergi, anjing **** galak itu tetap saja mengejar. Iya akan berhenti jika majikannya menyuruh berhenti.


Jika tidak, yah nikmati saja olahraga siang hari ini.


****


Dengan nafas yang ngos-ngosan, Reta dan ibu mertunya kini sampai di rumah. Keduanya langsung turun dari mobil yang ditumpanginya."Sialan mba Rika itu, beraninya dia berbuat begini sama kita."


"Sudah-sudah, jangan sampai Dion tau akan hal ini."henti Bu Diana sembari berjalan memegangi pinggang encoknya.


"Hahhh! Kenapa?" Tanya Reta bingung. Rika telah membuatnya kelelahan seperti ini lalu kenapa iya tak boleh mengadukannya kepada Dion?


Di ruang tamu, suami dari dua perempuan itu tampak sedang berbincang dengan Seseorang yang memakai jas lengkap layaknya pengusaha kantoran. Mereka terlihat serius dengan sebuah topik yang menjadi pembahasannya.


Melihat itu, Reta dan Bu Diana ikut bergabung. Penasaran, tentu saja. Memangnya apasih yang dibicarakan Dion sampai seserius itu?


"Baik, kalau begitu deal yah Pak" ujar Dion dengan mengajungkan tangannya hendak berjabat tangan.


"Tentu saja. Saya senang bekerja sama dengan anda." Kata pria setengah tua itu membalas salaman tangan.


"Ah, Tuan Ruhan bisa saja." Kata Dion tersipu sembari melepas tangannya.


Detik berikutnya, seseorang yang bernama Tuan Ruhan itu memberikan sebuah tas hitam kepada Dion. Dion meraih dan langsung menarik resleting tas kantor itu.


Didalamnya, tampak beberapa gepok uang merah yang tersusun rapi.


Bu Diana dan Reta tentu saja terkejut dengan uang sebanyak itu di hadapannya. Mulut terbuka lebar dengan mata yang sedikit melotot.


"Wahhhhh!!! Banyak sekali uangnya, aku pasti puasa berbelanja dengan ini."batin keduanya. Bersenang-senang dan berbelanja memang tak bisa lepas dari kedua orang ini.


"Ck, ini sesuai dengan kesepakatan kita kan."ujar Reyhan setelah memeriksa semuanya.


Tuan Ruhan menjawab.


"Tentu saja, semuanya ada satu milyar. Jika tak percaya, silahkan pak Dion menghitungnya kembali."


"Oh kurasa itu tak perlu, ini lebih dari cukup."


Setelah urusan keduanya selesai, pak Ruhan pun undur diri. Tak lupa juga iya kembali berjabat tangan lalu meninggalkan kediaman tersebut.

__ADS_1


............. selamat berbahagia.......


like and vote komen juga


__ADS_2