
Rika dan Reyhan kini telah kembali ke kediamannya. Sepanjang perjalanan malam mereka, keduanya saling berdiam diri. Rika tak berkata sedikitpun.
Iya hanya memandang keluar jendela mobil dengan kedua tangan yang mengelus perutnya. Begitupun dengan Reyhan, tapi dia masih sempat melirik sesekali istrinya itu.
Dia paham juga dengan apa yang dirasakannya. Pasti masih memikirkan perkataan dokter tadi. Sebenarnya Reyhan juga. Tapi dia tak terlalu memikirkanya lagi.
Mengingat Randy asistennya akan menyelesaikan semuanya. Mencari Dion yang masih sempat-sempatnya melarikan diri itu.
"Citttttt!!!"
Suara gesekan ban mobil dengan aspal. Bersamaan, deruman mobil pun ikut berhenti. Sepasang suami istri itu kini telah sampai di kediamannya.
Rika langsung turun dari kendaraan roda empatnya. Masih dalam diam. Kini melangkah masuk ke dalam rumah yang bagaikan istana megah itu. Reyhan juga bergegas turun hendak mengejar istrinya yang kini sudah di dalam.
Baru teringat, orang hamil tidak boleh banyak pikiran. Setres, itu akan berpengaruh juga pada si bayi. Ah, Reyhan! bisa-bisanya dia melupakan itu.
Di dalam rumah. Rika tak terlihat di manapun. Suaminya itu sudah mencarinya dimana-mana.
Di kamar, loteng, dan ruang tengah tak ada. Dapur, sisah itu yang belum diceknya.
Kini Reyhan sudah menuju ke sana. Bukannya menemukan istrinya, pria itu malah menemukan Bi maya. Asisten rumah tangga tua yang dipekerjakan Rika dulu di rumah lamanya.
"Bu Rika?"wanita paruh baya itu tampak menjeda perkataannya. Tampak ia mengingat kejadian sewaktu dia berpapasan tadi dengan majikan perempuannya tadi.
"Saya melihatnya ke halaman belakang. Sepertinya ke lapangan golf, Tuan."
"Apa!!!!" Reyhan terlonjak kaget mendengar penuturan itu. Tubuhnya bergetar hebat saking syoknya. Dia begitu lemasnya hingga tak sadar hampir ambruk ke lantai.
Tubuhnya lemas dan bergetar seketika.
darahnya berhenti mengalir dan jantungnya seakan telah jatuh ke dasar perutnya. Tanpa menunggu lagi, segera dia berlari pontang-panting ke lapangan belakang itu.
Sempat singgah ke laci tempat penyimpanan senjatanya dulu. Lalu kembali berlari dengan sebuah pistol di tangannya.
Bi Maya juga heran melihatnya. Entah apa yang terjadi. Kenapa Reyhan sepanik itu ketika mengetahui istrinya berjalan ke lapangan golf belakang sana.
Memang ada apa? Kenapa begitu takut? Batin pelayan rumah itu bertanya-tanya. Mengingat dia juga baru bekerja di situ.
Tentu dia belum paham betul tentang apa saja yang ada di rumah yang bagaikan istana itu. Termasuk lapangan besar yang ada belakang sana.
__ADS_1
"Rika!!! Rika!!!" Teriak Reyhan ketika tiba di sana. Suasana tampak hening dan tak ada pergerakan sedikit pun. Hal itulah yang membuat pria itu tambah kebeliangan jadinya.
Terus berteriak memanggil-manggil nama istrinya tapi tak ada sahutan.
Sungguh benar sudah terlambat.
Reyhan menjatuhkan diri ke ke Padang rerumputan itu. Tiba di titik keputus asaanya. Hanya bisa menangis dan meraung begitu hebatnya.
Dia yang bodoh karena tidak mengatakan ini dari awal. Memelihara harimau besar putih yang agresif di sini. Rika yang tak tahu telah berjalan kemari. Reyhan yakin, kini dia sudah menjadi santapan harimau biadap itu.
"Ahhhhhhh!!!!"teriak pria itu dengan penuh sesalnya.
Masih dengan gemetarnya mulai mengatur senjata itu agar bisa menembak. Dia bukan ketakutan. melainkan begitu murkanya mendapati istri dan calon anaknya telah tiada. Di tangan binatang peliharaannya sendiri.
Sampai mati Reyhan tak akan bisa terima itu. Dia yang menyebabkan wanitanya sendiri tiada. Mungkin akan lebih baik jika dia ikut tiada juga.
"Rogerr!!!! Rogerrrrr!!! Keluar kau!!!!" Reyhan bangkit dan dengan penuh kemurkaan kini berteriak memanggil binatang buas peliharaannya.
"Rogerrrrr!!"
Hening sejenak. Tak lama, dari semak-semak ada pergerakan. Tiba-tiba,
Bahkan Reyhan kini telah mengarahkan pistol padanya. Dia hanya binatang. Mungkin tak akan paham dengan luka sakit yang dirasakan pemiliknya saat ini.
"Kraauunggggggg!!" Harimau itu kembali meraung. Dia terlihat gembira berjalan ke arah majikannya.
Entah senang karena pemiliknya itu datang menemuinya atau senang karena perutnya yang kekenyangan saat ini. Habis menelan istri majikannya bulat-bulat apa tak kenyang.
Kini harimau perkasa itu sudah tepat sekali berdiri di hadapan sang pemiliknya. Reyhan, wajahnya sampai memerah dilanda kemurkaan saat ini.
Dia benar-benar siap membidik binatang peliharaan yang tak tahu terimah kasih itu. Bukannya takut, tampak harimau itu malah terlihat bingung dan seakan heran melihat tingkah majikannya.
Tapi tidak, kemarahan pria itu sudah di puncaknya. Dia tidak akan mengampuni siapapun yang telah melenyapkan istri dan calon anaknya.
"Dorrrr!!!"Bersamaan dengan itu,
"Jangan Rey!!!!!" Sebuah teriakan yang membuat tembakan Reyhan melenceng.
Sontak pria itu berbalik ke arah sumber suara. Itu adalah teriakan Rika istrinya yang kini telah berdiri tak jauh darinya.
__ADS_1
"Reyyy!! Apa yang kau lakukan??"pekik Rika berlari menghampiri.
Reyhan tercengang melihatnya. Istrinya itu dalam kondisi sehat walafiat. Sementara Harimau peliharaannya itu malah duduk menunduk seakan minta diampuni.
Sungguh situasi saat ini sulit untuk dimengerti. Yang pasti Rika saat ini langsung berlari menghampiri harimau yang hampir dibunuh suaminya itu. Tanpa rasa takut sedikitpun.
"Kucing besar! Kau tak apa? Rey! Ada apa dengamu?kenapa menembaknya?"Rika bangkit dan langsung memprotes perbuatan pria yang menjabat sebagai suaminya itu.
Sementara Reyhan dia masih terpaku di tempatnya. Masih menatap istrinya yang baik-baik saja.
Tanpa menunggu lagi, Reyhan memeluk Rika dengan eratnya. Kembali pria itu menangis sesegukan. Sungguh dia sudah mengira kehilangan istrinya.
Dia bahkan hampir membunuh dirinya sendiri. Tak sanggup jika harus hidup tanpa wanita itu lagi. Reyhan, betapa pria itu sangat ketakutan. Takut kehilangan istri tercintanya.
Rika yang melihatnya tentu heran ples bingung juga. Baru kali ini dia melihat suami kuatnya itu menangis. Menangis sampai sesegukan pula. Ternyata seorang CEO perusahaan Andorgroup itu punya sisi seperti ini juga. Rika mau terkekeh tapi berusaha di tahannya.
Kini dua orang itu kembali ke rumah. Reyhan masih menangis. Tapi Rika sudah mencoba menghiburnya.
Terus mengelus punggung belakangnya tapi pria itu malah tambah menangis dengan kencangnya.
"Huuaaaaaa!!!"
"Husss! cup, cup, Diam yah, diam yah sayang,"
Layaknya anak kecil yang jika disuruh diam malah tambah jadi nangisnya. Membuat orang jadi tidak bisa berkutib. Seperti yang dilakukan Rika saat ini. Menepuk jidatnya karena bingung harus memakai cara apa lagi.
Kini Rika membawa Reyhan ke kamar. Mulai membaringkannya di tempat tidur. Wanita itu juga ikut. Berbaring di sebelah suaminya sembari memeluknya dengan hangat.
Baru setelah itu. Suara tangisan itu berhenti. Ketika Rika mengeceknya, Reyhan sudah terlelap dengan nyenyaknya. Baru bisa bernafas legah rasanya.
"Fiuhhhhh," mengelap keringat lalu Rika ikut terlelap juga.
Reyhan, Reyhan. Ada-ada saja kamu hahahahha ....
............... happy reading.....................
Like, vote, komen, and foforitkan juga yah
Suka dengan karyaku? Jika suka, jangan lupa tinggalkan jempolnya yah. Jika tidak, penulis mana tau kalau karyanya bagus. Itu juga terkadang bisa membuat penulis kehabisan ide untuk berfikir dan menulis bab selanjutnya.
__ADS_1
Komentar kalian terkadang menjadi penyemangat author juga untuk kembali berkarya.