Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 54


__ADS_3

Sementara Rika, iya hanya diam dengan air mata yang seakan ingin mengalir deras. Hatinya menjerit sangat menangis. Yah benar saja, kata-kata itu sangat menyakiti jiwa dan perasaannya.


Mereka tertawa tanpa memperdulikan dirinya. Iya terluka tapi tak ada yang melihatnya. Ini perih dan sangat perih.


****


Rika duduk di balkon kamar seraya menikmati segarnya rujak buah yang baru saja di antarkan pelayan setianya.


Bi Maya memang pandai menyenangkan hatinya. Masakannya saja hampir mirip dengan ibunya, Bu Rossa. Penuh cinta dan kasih sayang. Kata Rika sih.


Itulah sebabnya kenapa wanita yang dicap sebagai perempuan mandul itu sangat Betah mempekerjakan wanita paruh baya itu. Selain baik iya juga memperlakukan Rika layaknya anak sendiri. Kebaikannya memang tulus.


"Tingg!!" Bunyi pesan WhatsApp masuk ke dalam benda pipih yang disebut sebagai ponsel itu.


Rika langsung melihatnya.


"Hy besty, lama nih kita gak ketemu."kata Aska memulai percakapan di grup WhatsApp yang dihuni oleh Rika, vina, dan syila.


Vina "Ih apaan sih, si Aska. Alai banget pake kata besty lagi."


Syila membalas dengan emoticon tawa di akhir kalimatnya."Iya tuh mentang-mentang baru habis pulang dari luar daerah."


"Ih terserah gue dong, emang kalian yang keluar kampung aja jarang. Gegara pandemi tuh" Kata Aska juga dengan emoticon tawa.


Syila "Kalau gak salah besty itu artinya binatang buas Lo hahaha ...."


Rika tak tinggal diam. Iya juga ikut bergabung meramaikan group WhatsApp yang berisikan para sahabatnya.


Tingg!


Rika tersenyum puas setelah berhasil mengirimkan foto rujakkannya.


"Rika kembali mengirim chat. "Emmm, segarnya."


Syila "wahhh enaknya."


Vina "bagi dong Rik."


Aska "Rikaa, aku mau banget."


Dengan lincah, jari-jemari Rika itu kembali mengetik.


"Ayo ngumpul di tempat si Aska."


Aska " yah, aku aku belum beberes lagi, heheh gimana kalau di tempat si Vina."


Vina " oke sip."

__ADS_1


Grup WhatsApp itu pun sepi. Semuanya kini meletakkan gajet masing-masing kemudian bersiap. Jangan sampai ada yang mengatakan otw padahal masih rebahan.


Itu kan menyakitkan.


****


Di rumah Vina yang tampak sederhana namun tetap terlihat nyaman.


Tampak Aska, syila, sudah tiba di sana. Mereka asyik bercengkrama satu sama lain di ruang tamu. Layaknya besty yang baru ketemu setelah sekian lamanya.


Banyak yang harus di julidkan para kaum hawa itu.


Terutama syila yang selalu heboh tiap kali mereka berkumpul.


Iya akan bercerita panjang kali lebar tentang pacar atau mantan-mantannya. Hehh, beberapa orang itu yang terpaksa mendengarnya kadang lelah dan risih juga. Tapi jujur saja.


Tanpa kehadiran salah satu dari mereka, yah tentu saja kurang lengkap rasanya. Itulah cerita pertemanan mereka.


"Hy,"sapa Rika yang tiba-tiba berdiri di ambang pintu. Di tangannya sebuah kantong plastikk merah iya tenteng.


"Kok baru datang sih," keluh Vina.


"Yaelah tadi macet. Sekalian nih, aku beli beberapa buah lagi."


"Vina, kok temanmu gak kamu suruh masuk. Dia gak boleh loh berdiri di pertengahan pintu seperti itu. Pamali untuknya." Ujar seorang perempuan tua yang tiba-tiba muncul dari balik gorden.


Aska berbisisk ke arah Vina yang duduk di antaranya dan syila.


"Dia siapa Vin?"


"Kenapa dia ngeliatin Rika kek gitu? Ada utang apa?" Celocos syila ikut berbisik.


Sementara Rika, iya hanya tersenyum tipis menerima tatapan nenek tua itu.


Meskipun sedikit takut dan gugup, dirinya tetap menunduk sopan dengan dasar menghormati.


"Emm, kenalin, dia nenekku, ibu dari ayahku."sela Vina memperkenalkan.


"Oh yah Rik, ayo duduk. Syil, geseran dong." Tambah Vina.


Rika mengangguk. Iya meletakkan barang bawaannya di atas meja lalu duduk di samping syila.


"Nih, kalian kupas yah. Aku beli banyak loh."


"Wah, banyak banget. Ngerujak satu kampung pun ini gak akan habis."kagum Vina melihat isi plastik.


"Hahha ... Loh bisa aja." Meskipun Rika sudah mengalihkan perhatiannya, iya tetap saja jadi tak nyaman dengan adanya wanita tua itu yang tampak masih menatapnya.

__ADS_1


Matanya pun hanya sesekali mengedip. Entah apa yang salah dengan Tampilanya sekarang ini.


Wanita tua itu mendekat lalu mengambil sesuatu dari dalam lipatan kainnya. Setelahnya iya berikan kepada Rika. Semuanya jadi heran melihatnya. Termaksud Vina.


Iya jadi tak enak karena bukannya bersenang-senang, para sahabatnya itu malah sedikit takut dengan adanya si nenek dengan tingkahnya yang aneh.


"Bawalah bawang merah tunggal serta bulu landak ini kemanapun kau pergi."


Keempat orang itu tentu saja kaget terperangah mendengarnya.


What!! Bawang merah, bulu landak, untuk apa? Mengapa? Dan bagaimana? Apa bawangnya akan dijadikan bumbu nasi goreng jikalau lapar dadakan melanda? Lalu bulu landak yang tajam itu? Oh mungkin kah akan dijadikan senjata untuk menyucuk mata penjahat yang mungkin saja mencegat mereka di jalan.


Atau mungkin menyucuk mata pacar yang suka ganjen melirik wanita lain.


Oh Entahlah,


semuanya tak paham dengan apa yang dimaksud kan sang nenek.


Sebelum keadaan lebih tak enak lagi. Vina Segera berkata "Em, maaf yah gays sebenarnya nenek gue tuh orang yang rada-rada mistis gitu. Em, Maksudnya dia itu masih percaya dengan sesuatu yang tak masuk di logika kita. Yah seperti itulah orang dulu."


Rika, Syila, dan Aska menghembuskan nafas pelan. Yah buat apa mereka jadi takut dan terpengaruh dengan hal-hal seperti itu.


Tak mendengarnya, mereka juga tak boleh bertakabur. Benar kan teman.


Kalau menurut kalian gimana?


"Em nek, ibu menyuruh nenek istirahat di kamar. Ayo ku antar."


****


Naiknya harga minyak goreng di jagat bumi ini menjadi topik pergosipan keempat wanita itu. Sesekali mereka tertawa karena tak lama lagi mereka akan memakan makanan yang serba rebusan. Kalau tidak pasti Bakaran.


Mau bagaimana, harga minya terus naik, langkah pula. Meskipun beberapa dari mereka sedikit kaya, namun percuma saja.


Mereka tetap tak bisa beli jika minyaknya saja tidak ada untuk dijual.


Rika menghabiskan hampir sebagian harinya di rumah Vina bersama teman-temannya. Iya sangat senang karena bisa berkumpul bersama.


Yah, sudah lama rasanya mereka tak bertemu. Semenjak Rika dan Aska menikah, mereka jadi tak punya banyak waktu untuk berjumpa apa lagi mengunjungi dua sahabat yang masih lajang itu.


Vina dan syila mereka belum menikah. Syila masih sibuk memilih pasangan yang tepat untuknya, sementara Vina iya masih berjuang keras untuk lebih membahagiakan kedua orang tuannya. Mengingat iya adalah anak tunggal dari keluarga yang pas-pasan.


Dirinya harus membahagiakan kedua orang tuanya sebelum iya sendiri juga pergi dan membangun rumah tangganya sendiri. Itulah prinsip dalam kehidupannya.


.......... happy reading.........


like vote and komen favoritkan juga yah

__ADS_1


__ADS_2