
Rika tentu heran melihat itu. Manik matanya terus melihat ke segala arah. Mencari sesosok itu tetapi tetap tak ada. Dia menghilang walau itu dalam sekejap saja.
Ini benar-benar aneh.
"Rik, kenapa sih? Kamu liat apa?"Syila bertanya. Tampak dia memperhatikan tingkah laku sahabatnya itu sedari tadi.
Rika menghentikan pencariannya. Kini berbalik ke arah para kawan-kawannya itu.
"Enggak kok. Yaudah, ayo masuk,"ajaknya.
Rika membawa ketiga sahabatnya itu masuk ke dalam rumah megah dan besarnya. Siapa yang tak kagum melihat itu. Ini bahkan tak layak disebut sebagai rumah, melainkan istana kerajaan, batin ketiganya.
"Gila, gedde banget! Rik, yakin loh tinggal di sini?" Kagum Vina ditambahi Aska dan Syila.
"Ini sih, istana. Kaya yang ada di novel-novel itu."
"Bukan di Novel, tapi di cerita dongeng."
"Yaelah, tergantung kali. Kalau authornya mau nulis itu di novel maka di novel,
Rika hanya tersenyum tipis melihat kelakar tiga sahabatnya itu. Rika sendiri pun awalnya takjub melihat rumah besar ini. Rumah yang lebarnya gak ketulungan.
Belum lagi halamannya yang begitu luas. Tambah lapang golf yang ada di belakang sana. Ah tidak, Rika tak boleh mengajak tiga temannya itu ke sana. Atau roger akan menakuti mereka.
Terbayang kan betapa garangnya harimau putih besar itu. Meskipun dia Sangat menggemaskan. Itu bagi Rika. Entah dengan yang lain. Kurasa tidak.
"Bi!! Tolong buatkan minum yah. Bawa ke kolam renang sana. Cemilannya jangan lupa," pinta Rika setelah mengantar tiga kawannya itu ke kolam renang yang ada di halaman rumah sana.
"Baik, Bu."
"Rik,"Randy muncul dan tetiba menghadang langkah Rika.
Istri reyhan itu tampak bingung. Mengerutkan alis dan bertanya-tanya dalam hati. Ada apa asisten suaminya itu datang dan menemuinya.
Apakah hendak melarangnya melakukan sesuatu lagi?"
"Mereka teman-temanmu?"Tanya Randy setelah cukup berfikir kerasnya.
"Mereka?"
"Oh yah, mereka tiga sahabatku. Ada apa?"
Randy terlihat gugup. Gelagapan bahkan terlihat bingung ingin berkata apa. Tampak menggaruk tengkuknya juga yang mungkin tak gatal.
Rika menghela nafas. Dia tersenyum. Baru setelahnya kembali bertanya pada asisten suaminya itu dengan sosoran.
"Kenapa? Apa kau naksir pada salah satu dari mereka?"
Pertanyaan Rika itu malah tambah membuat Randy semakin gugup gelagapan. Bintik-bintik keringat di dahinya yang muncul seketika, itulah sebagai pertandanya. Melihatnya saja semua orang sudah bisa menebaknya.
"Ah tidak, aku hanya ...?"
__ADS_1
"Hanya apa?" Kembali Rika bertanya dengan nada sedikit desakannya. Dia terkekeh melihat tingkah konyol asisten pribadi suaminya itu. Dia cukup paham dengan apa yang sebenarnya ingin dikatakannya.
"Randy, sudahlah. Jika kau naksir salah satu dari mereka maka boleh saja. Asal jangan aska yah," Rika berkata lalu melangkahkan kakinya.
Sementara Randy, dia masih berdiri dalam diam. Mencoba menelaah perkataan Rika barusan itu.
"Aska, kenapa tidak boleh?"cakapnya pelan tetapi Rika malah sempat mendengarnya.
"Haih, karena dia sudah bersuami."
Haahhhhh!!!
Batin Randy berteriak kencang. Tak sangaka wanita yang sedari tadi dipandanginya itu sudah menikah, sudah bersuami, dan sudah diperistri.
Singkat padat dan jelas. Agar otak Randy itu tak salah paham lagi ketika menelaahnya.
Sungguh kacau, bisa-bisanya dia melirik istri pria lain. Apa ini karena tertular dari Reyhan bosnya. Yang benar saja.
Ahhhh!! Ringis Randy tak paham juga dengan dirinya. Teringat si mantan pacar. Syasya, dia baru saja dicampakkan oleh wanita itu.
Permasalahannya sepele saja. Gegara tak membalas chatnya tepat waktu, tak membayarkan belanjaannya, dan lupa mengucapkan good night di malam hari.
Memang hal sepele. Tapi jika terus dilakukan, para betina pasti murka juga. Hal itulah yang kadang membuat si jantan tak paham. Dia kurang peka terhadap sesuatu yang kecil itu.
****
Malam pun tiba. Vina, aska, dan Syila telah kembali ke kediamannya. Begitupun dengan Rika. Dia kini berjalan masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang serasa sepi tak berpenghuni itu untuknya.
Tapi tidak malam ini. Rika tampak kelelahan. Dia langsung mandi setelahnya rebahan di tempat tidur. Menatap langit-langit kamar seraya mengelus perut besarnya.
Tak lupa menaruh ponselnya di atas nakas. Jikalau reyhan suami menelepon pasti akan langsung di dengarnya.
Pria itu, dia bahkan tak menelepon setengah hari ini. Tidakkah dia rindu. Atau dia begitu sibuk hingga lupa mengabari.
Haih, Rika menghela nafas seraya memiringkan tubuhnya. Kini memejam mata, berusaha untuk tidur. Dengan begitu, dia tak akan mengingat rasa rindunya lagi.
"Zzzzz!! Zzzz!! Zzzz!!"dering ponsel dari atas nakas.
Sontak Rika membuka pejaman matanya.
Kini berbalik untuk mengambil benda penting itu.
My dear, yang tertulis di sana.
"Akhirnya,"batin Rika dengan senyum mekar di kedua bibirnya.
"Sudah tidur?"Tanya langsung Reyhan merasa istrinya sedikit lambat mengangkat panggilannya.
"Hampir saja,"
"Sayang kau terdengar lelah," kata Reyhan.
__ADS_1
"Itu karena dua jagoan kecilmu ini,"
"Bisa kau dekatkan ponselnya ke perutmu?"
"Hahhh? Untuk apa?"
"Dekatkan saja,"
"Baiklah."
Rika mengaktifkan pengeras suaranya. Setelahnya baru membawa ponselnya dan menaruh itu di atas perutnya.
"Sudah, Rey,"ucapnya.
"Dua jagoan Papa, apa kalian sehat? Pasti sehat kan? kenapa merepotkan ibu? Bukankah kalian sudah berjanji untuk tidak nakal. Ayolah sayang, Papa janji, Papa akan segera pulang. Setelahnya, kita akan kembali bersama, Papa akan menyambut kalian ke dunia ini. Ayo, sekarang kalian harus kembali berjanji. Tidak boleh nakal oke,"
"Sekarang, Papa akan kembali berbicara pada ibu kalian,"
"Rey,"ujar Rika. Sedari tadi ia diam. Tampak mendengarkan percakapan ayah dan calon anak itu. Reyhan berbicara seakan anak-anaknya itu sudah lahir di dunia.
Menasehatinya agar tak nakal pada bundanya. Sungguh mengharukan. Sedikit demi sedikit jiwa kebapaanya keluar. Rika sangat senang untuk itu. Dia yakin Reyhan pasti akan jadi ayah yang baik bagi kedua anaknya.
"Sayang, apa kau mengantuk?"tanya Reyhan.
"Em, yah. Sedikit tapi tak apa masih bisa ku tahan."
"Tidak, itu tidak akan baik untuk kesehatanmu. Sebaiknya kau tidur."
"Tapi Rey," Rika mencoba menolak. Mengingat suaminya itu baru ada waktu sekarang. Pasti di keesokan harinya akan kembali sibuk. Seperti seharian ini.
"Rik, kau istirahat. Aku juga akan istirahat. Sambungan teleponnya kita biarkan saja."
"Kau mengerti maksudku?"
"Yah baiklah."Rika hanya bisa manggung dengan menuruti permintaan suaminya itu.
Meskipun berbeda tempat, tetapi dengan kompak dua orang itu kini meletakkan ponsel masing-masing. Menaruhnya di samping telinga. Mereka akan tidur.
Tetap membiarkan panggilan itu terhubung sampai pagi hari menjelang.
Begitulah cara mereka agar bisa terus tidur bersama walau tak satu tempat.
.......... happy reading............
Like, vote, komen and foforitkan juga yah
Besok episode selanjutnya pasti akan jauh lebih seru lagi.
Dion, dia akan ...????
Yuk ikuti terus karya author ini
__ADS_1