
"Hehhh sayang, apa ini? Apa yang kau katakan?"Bu Diana terlihat tak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.
Kini mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tak ingin menatap anaknya itu yang terus mengatakan hal yang sama.
Dion, putranya mandul, ahahahah ....
Itu tak mungkin. Bu Diana tidak akan pernah mempercayai perkataan itu.
"Mah, Dion yang mandul! Bukan mereka, Rika ataupun Reta, atau bahkan wanita lainya."
"Cukup, Dion!!" Bu Diana menepis tangan anaknya yang sedari tadi menggenggam jari-jemarinya itu.
"Mama tidak akan pernah percaya dengan bualanmu itu!"
"Mah," Pria itu seakan bingung sendiri. Bingung dengan cara apa yang harus dilakukannya agar wanita yang menjabat sebagai ibunya itu percaya bahwa dirinya memang mandul.
Itulah sebabnya tak ada satu wanita pun yang bisa hamil darinya.
Terdiam sejenak. Tak lama Dion mengambil sebuah lembaran kertas dari saku celananya. Melihatnya sebentar dan tanpa pikir lagi langsung menyodorkannya.
"Mah, ini hasil pemeriksaan Dion."
Bu Diana menyorot kertas itu. Entah kenapa tubuhnya mulai gemetar. Tak enak, tak tenang tak nyaman pula. Nafasnya mulai susah untuk diaturnya. Mulai terasa berat untuk di keluarkannya.
Tapi wanita paruh baya itu tetap berusaha kuat. Kini mulai mengambil kertas yang sudah dijulurkannya itu.
Langsung menatap dan membacanya.
Benar saja, wanita paruh baya itu terkejut hebat dibuatnya. Kertas itu memang menerangkan bahwa putranya Dion benar mandul.
Selesai sudah.
"Brukkk!!" Bu Diana tumbang begitu saja.
__ADS_1
Dia kejang-kejang dengan memegangi bagian dadanya.
Entah apa yang terjadi sekarang. Dion yang melihat itu tentu saja panik kalang kabut dibuatnya. Ibunya sudah tak sadarkan diri di dalam sel itu.
Tetapi dia malah tak bisa masuk dan segera menolongnya. Tampak jeruji besi itu masih dalam kondisi terkunci.
"Mah!!! Kenapa Mah!!! Tolong!!! Siapapun tolong!!"
Tak lama, Kepala sipir datang dan langsung membuka gembok itu. Beberapa polisi wanita juga ikut dikerahkan. Menelepon ambulance dan langsung melarikan tahanan itu ke rumah sakit terdekat.
Dion masih dengan paniknya. Kini ikut naik mobil ambulance itu dengan tangis histeris yang tak kunjung mereda.
Memegangi tangan ibunya. Dia sangat takut melihat kondisinya seperti itu. Tampak langsung dipasangkan selang infus serta alat bantu pernapasan. Ibunya, dia kritis saat ini.
****
Di rumah sakit. Bu Diana langsung dibawa ke ruangan UGD. Ditangani. Langsung mendapat penanganan dan pemeriksaan secara menyeluruh.
Sangat cemas dan sangat takut. Dia bahkan menangis. Menggigit bibir bawahnya guna menahan Isak tangisnya keluar.
Ibunya kritis saat ini. Itu mungkin kesalahannya. Bagaimana tidak, Bu Diana bisa sampai begitu karena telah membaca surat keterangan dirinya mandul itu. Dion, dia tak tahu harus berkata apa saat ini.
"Cekleekk!!" Suara suster yang tetiba keluar dari ruangan. Sontak Dion berbalik dan dengan cepat langsung menghentikannya.
"Susss, bagaimana keadaan Mama saya?"
"Pasien terkena serangan jantung! Dia kritis!! Kami masih harus menanganinya!"
Dion terpaku, tak berdaya. Tanpa sadar kini sudah menjatuhkan diri ke lantai. Dia berlutut menelaah perkataan tadi. Ibunya terkena serangan jantung
Betapa syoknya dia. Andaikan darahnya bisa berhenti mengalir saat itu, maka berhentilah. Jantungnya, andaikan bisa berhenti berdetak saat ini juga maka berhentilah.
"Mama ...." hanya bisa mengucapkan kata itu dengan tangis yang sudah tak tertahankan lagi.
__ADS_1
Tangisnya pecah hingga menjegelegar di mana-mana. Dion, saat ini memang sudah benar-benar hancur. Semua wanita telah meninggalkannya.
Ibunya juga, jika wanita yang melahirkannya itu pergi juga, maka sudahlah.
Dia benar-benar akan hidup sendiri. Entah apa yang akan dilakukannya nanti. Mungkin hanya akan terus meratap dan berduka. Dengan paksa menjalankan sisa nasib buruknya.
"Permisi, apa ada keluarga pasien!!" Dokter keluar dari dalam ruangan itu. Dion berusaha bangkit dan dengan lemahnya mulai menghampiri. Menatap dengan tatapan tak berdayanya.
Dia memohon. Sangat memohon. Hanya ini yang bisa dia lakukan. Ibunya, Dokter itu harus melakukan apapun demi menyelamatkan nyawa wanita terakhirnya itu.
Wanita yang telah melahirkannya. Pasti akan menerima dia apa adanya.
"Se ... selamatkan ibu saya,"
Dokter itu menghela nafas berat. Merasa menyesal. Namun apa daya, dia memang sudah melakukan semuanya semaksimal mungkin. Jika yang di atas sudah berkehendak maka dia bisa apa.
"Maaf, yang maha kuasa sudah menetapkan panggilannya." Pungkas Dokter itu kemudian berlalu.
Dion hanya bisa kembali menangis setelah mendengar kenyataan pahit itu. Sekarang, tinggallah dia seorang diri.
Kini dengan tatapan kosongnya. Perlahan melangkah masuk. Mulai mendekat pada ibunya yang sudah tertutup penuh kain putih itu.
Tangannya gemetar. Mulai membuka kain putih itu hendak melihat wajah terakhir wanita yang telah melahirkannya. Bu Diana kini benar-benar sudah tiada.
Dia meninggalkan anaknya Dion seorang diri. Mungkin dia juga tak mampu jika harus hidup seperti ini. Hidup dengan penuh kehampaan.
Dia tak bisa mendapatkan seorang cucu.
Tak ada yang akan membahagiakannya. Membuatnya tertawa, ataupun marah. Jadi lebih baik jika dia pergi. Mengakhiri semuanya.
....................... happy reading....................
like, vote, komen, and foforitkan juga yah
__ADS_1