Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 82


__ADS_3

Di aula pesta. Acara besar itu sudah tampak dimulai.


Kini giliran sesi pemotongan kue. Potongan pertama yang biasanya selalu diberikan kepada Reyhan kini berganti suda.


Oma memberika potongan pertamanya kepada Rika. Begitu cepat dua orang itu menjadi akrab. Mereka bahkan saling menyuapi. Terus bersama kemampuan perginya. Reyhan bahkan sampai merasa tersisihkan. Tak terlihat atau bahkan dilihat.


Setelah selesai memperkenalkan calon menantu cucunya, Rika dan Oma duduk di kursi sofa. Rehat sejenak.


Dikarenakan wanita itu sedang hamil dia pasti cepat kelelahan. Tambah lagi ini bayi kembar. Ibunya perlu banyak istirahat.


Sementara Oma, umurnya sudah tua. Tulangnya akan encok jika terus berkeliling dan menyapa semua orang.


"Oma, mau kuantar ke kamar?" Tawar Reyhan yang menghampiri. Tampak iya baru selesai mengobrol dengan beberapa rekan bisnisnya. Randy, Rival dan Galdin ikut bergabung. Mengerumuni tiga orang itu.


"Ah, tidak. Ini ulang tahun ku. Itu datang sekali dalam setahun, jadi biarkan aku duduk dan menikmati." Tolaknya.


"Oma, kau sudah lelah. Biarkan aku yang mengurus semua." Tambah Reyhan membujuk.


"Aku juga di sini Oma, aku akan membatu Reyhan." Tambah Randy meletakkan tangannya di pundak Rival. Rival tentu saja risih dengan itu. Iya langsung menepisnya.


"Apa sih Ndy, gak enak tau kalau ada yang liat. Apa lagi kalau cewe, apa katanya nanti, kau menyentuhku."risihnya melirik Galdin di samping. Tampak wanita yang bekerja sebagai dokter itu hanya menunduk sembari tersenyum tipis.


"Ih, cuman gini doang, apanya yang gak enak. Bilanga aja karena ada Galdin."celetup Randy kini mendekat ke nenek tua yang dipanggil Oma itu.


"Oma, biar aku saja yang mengantarmu ke kamar."


"Hufff, yasudah, ayo."Perempuan tua itu pasrah. Kini bangkit. Memegang pada Randy dan bersiap melangkah menuju lift.


"Tunggu!!!"Suara henti itu membuat semua orang tersentak. Seketika itu juga bersamaan berbalik melihat ke arah sumber suara.


Di hadapan mereka, kini berdiri seorang lelaki yang tak karuan. Tampilannya acak-acakan dan terlihat tak terurus.


Pria itu tersenyum penuh cemohan. Kini menatap tajam kearah perempuan tua yang baru saja hendak pergi itu.


"Oma, kenapa harus buru-buru pergi? Tidak kah kau ingin tau bagaimana kelakuan busuk cucumu itu!" Dion berkata dengan menunjuk ke arah tuan rumah pesta itu.


Dia adalah Reyhan, pria yang kini tengah berdiri di samping Rika. Memasang wajah datar.


Menyembunyikan kemarahannya. Hanya bisa mengepalkan tangan dan berdecak dalam hati. Iya harus tetap tenang.


Bagaimanapun banyak media yang meliput acara besar ini.


"Kelakuan busuk? Apa ini? Apa maksudnya??" Oma bertanya tak paham atas lontaran perkataan itu.

__ADS_1


Sebelum tambah penasaran. Randy segera memerintahkan orang-orangnya untuk Menangkap Dion. Mengunci tangannya ke belakang hingga tak bisa melakukan perlawanan lagi.


Meskipun begitu, pria itu tetap saja memberontak. Bahkan berteriak-teriak hingga kini mereka sudah menjadi sorotan semua orang. Semua mata memandang.


Penasaran atas apa yang terjadi. Bukan netizen namanya kalau tak begitu.


"Hey pria sampah, kembalikan istriku!! Kembalikan anak-anakku!! Kembalikan rumah tanggaku!! Kau pria tak tau malu!! Lepas!! Lepaskan aku pria brengsek!!"


"Kau akan membayar semuanya!! Ingat! Ingat itu!!" Teriak Dion berangsur-angsur hingga tak lama raga dan suaranya menghilang dari pandangan semua orang.


Pria pengacau itu memang sudah pergi, tapi sekarang, yang ada malah para media yang sudah berkumpul dan mengepung Oma, Reyhan dan Rika.


Melihat itu, Randy Kembali mengerahkan orang-orangnya. Menghalau para wartawan itu yang sudah melemparkan berbagai pertanyaan kritis.


Pedas dan mematikan bagi seseorang yang tak terbiasa menghapi maraknya publik. Rika, kasihan dia. Dia sedang hamil. Dirinya pasti akan tertekan dengan situasi saat ini.


"Galdin, bawa Rika ke kamar yang sudah kami pesan." Titah Reyhan dalam kepanikannya. Iya tak mau wanita nya ikut terjebak dengan situasi saat ini.


Sementara itu dirinya akan menghadapi semua desakan awak media itu.


Galdin bergegas. Berusaha membawa Rika ditengah situasi ramai dan ricuh itu. Terlihat juga Rival sudah membopong si Oma melalui pintu belakang aula.


Wanita yang bernama Galdin itu berniat mengikut di belakang.


"Reyhannnn!!!" Suara teriakan Galdin yang teramat kencangnya. Membuat pemuda yang bernama Reyhan itu respon langsung menengok ke arah sumber teriakan.


"Rikaaaaa!!!!!!"Reyhan panik melihat Rika yang sudah tak bergerak di lantai. Beruntung sebagian tubuhnya masih dipangku wanita yang berteriak tadi.


"Tuan, Reyhan! Anda belum menjawab pertanyaan kami, apa benar anda sudah merusak rumah tangga orang!"


"Apa benar anda sudah merampas nona Rika dari suaminya?"


"Apa anda sudah menghamili istri orang!!!"


"Bugggghhhhh!! Buggghhh!!" Bugggghhhhh!!" Situasi memanas. Reyhan melepaskan tinju ke beberapa wartawan yang terus bertanya dan menghalangi jalannya.


"Rey, sudah Rey! Mereka aku yang urus!! Rika, Rey! cepat kau ke sana!" Henti Randy langsung membuka jalan untuk atasannya itu.


Reyhan terlepas dari kerumunan itu. Segera ia berlari menghampiri Rika yang tak lagi bergerak di lantai itu. Langsung menggendong di kedua lengan besar kekkarnya.


Membawanya pergi dengan Galdin yang mengikut di belakang.


****

__ADS_1


Reyhan sampai di kamar VIP nya. Langsung membaringkan tubuh Rika itu di ranjang. Masih dengan paniknya.


Dengan cepat meminta sahabatnya Galdin yang berfrofesi sebagai dokter itu untuk memeriksa wanitanya.


"Bagaimana? Apa yang terjadi? Kenapa dia pingsan? Apa penyebabnya?"tanya Reyhan bertubi-tubi. Bahkan dokter wanita itu belum selesai dengan pemeriksaannya.


"Rey, tenanglah. Jika kau begini, aku juga tak bisah fokus,"


Senyap seketika. Reyhan berusaha untuk menenangkan dirinya. Membiarkan dokter wanita itu untuk melakukan sebagaimana tugansnya. Dan tak lama.


Alat yang tergantung di kedua telinga itu terlepas. Reyhan Kembali mendekat. Masih dengan penuh khawatirnya. Kembali bertanya.


"Bagaimanapun? Apa yang terjadi? Bagaimana kondisinya?"


Galdin menghela nafas pelan. Kini menatap sahabat laki-lakinya itu.


"Rey, apa kau harus sepanik itu?"


"Tentu saja! Aku bahkan tak akan memaafkan diriku sendiri jika sampai sesuatu yang serius menimpa Rika wanitaku, kau tau itu. Cepat katakan, bagaimana kondisinya?"


"Dia baik-baik saja. Hanya kelelahan dan tubuhnya yang tiba-tiba mendapat goncangan."terang dokter Galdin itu.


Kini iya merebahkan tubuhnya di kursi sofa sembari menunggu yang lainya datang.


Sementara Reyhan, kini iya duduk di bibir tempat tidur.


Menggenggam tangan Rika kemudian mengecupnya berkali-kali. Mengusap rambutnya.


Mengecup di kening itu juga.


Dengan penuh ketidak berdayaan menatap wanitanya yang masih terbaring tak sadarkan diri itu.


Sungguh tak disangka semuanya akan jadi begini. Suasana yang tadinya sangat membahagiakan seketika berubah menjadi kekacauan. Itu semua hanya karena ulah salah satu orang.


Cih,


itu semua karena perbuatan pria keparat itu. Dion, manik mata Reyhan memicing tajam kala mengingat nama itu. Mantan suami Rika wanitanya.


"Awas saja dia."Reyhan berkata sembari mengepal keraskan tangannya yang tak lagi menggenggam tangan Rika itu.


Iya benar-benar murka saat ini. Dion bersiaplah kau, Reyhan datang untuk membinasakan mu.


..........Happy reading.........

__ADS_1


like, vote, komen and foforitkan juga yah


__ADS_2