
Rika kini berdiri di teras rumahnya. Mencium pundak tangan Reyhan suaminya yang kini akan berangkat ke kantor.
Reyhan, dia juga mengecup lembut kening Rika istrinya itu. Setelahnya melambaikan tangan kemudian masuk ke dalam mobil yang kini siap dikemudikan oleh asistennya, Randy.
"Sayang, aku berangkat dulu. Ingat jaga dirimu dan dua calon anak kita."
"Iya, itu pasti, dahhh!"balas Rika melambai seraya tersenyum.
Randy yang melihat itu tentu saja iri jadinya. Mengingat dia masih singgel. Dia bahkan belum punya keberanian untuk menghalalkan calon gebetannya. Disambar orang baru tau rasa dia.
"Aduhhhh!! Mesranya, bisa gak kalian liat aku yang masih di sini."
"Makanya NIKAH!!!" Ketus Reyhan menatap sekilas ke bawahannya itu.
Randy hanya bisa menelan paksa salifanya. Tak lama ia mulai menjalankan kendaraan roda empat itu.
Melihat mobil suaminya kian menjauh, Rika kini bersiap berjalan masuk. Menghentikan langkah ketika sebuah mobil yang dikenalnya berhenti tepat di depan rumah besarnya.
Dari dalam situ wanita paruh baya keluar.
"Mama!"sapa Rika melihat ibunya datang.
"Sayang,"ujar Bu Rossa berjalan menghampiri anaknya.
"Udah siap?"
"Udah Mah, tadi Rika habis nganterin Mas reyhan ke kantor."
"Mas?" Ulang Bu Rossa sedikit menaikkan alisnya. Kini keduanya melangkah masuk.
"Iya Mah, Mas reyhan." Rika tersipu malu mengulang perkataan itu.
Bu Rossa sedikit menyenggol bahu anaknya. Dia tersenyum Setelahnya Kembali berucap,
"Kirain bakalan manggil Reyhan terus hahahaha ....!"
"Ih Mama," sepasang ibu dan anak itu tertawa bersama. Saling menggoda satu sama lain. Mas, kata itu mungkin sudah cocok untuk reyhan. Mengingat dia kini telah resmi menjadi suami Rika. Yah, itu benar. Rika harus memanggilnya dengan sebutan itu.
****
__ADS_1
Di rumah sakit, tepatnya di ruangan sang Dokter. Rika baru selesai dari pemeriksaanya. Kini dia duduk bersama Bu Rossa seraya menunggu hasil cek up-nya.
Tak sabar rasanya ingin melihat perkembangan dua janin itu. Pasti mereka sudah hampir sempurna.
Dari awalnya hanya segumpalan darah pasti kini hampir sempurna menjadi seorang manusia. Mengingat usianya saat ini memasuki umur enam bulan.
Benar saja. Dokter Galdin yang menangani Rika tiba. Terlihat selembar kertas di tangannya. Itu hasil medis Rika yang menunjukkan semuanya baik-baik saja.
Siapa yang tak senang mendengar itu. Sepasang ibu dan anak itu bahkan sampai menangis haru karenanya. Semua berjalan normal dan tak ada sedikitpun masalah. Rika dan kedua calon baby nya sehat walafiat.
"Sayang, baik-baik yah di dalam sana. Ingat jangan merepotkan ibu kalian, atau dia akan menangis,"Bu Rossa berkata sembari mengelus perut buncit putrinya.
Ia teramat bahagia mengetahui dua calon cucunya di dalam sana ternyata baik-baik saja.
Rika ikut mengelus perutnya. Kini menatap ibunya yang masih meneteskan air mata.
"Mah, Rika tidak akan menangis ataupun mengeluh. Pokoknya, Rika akan tetap tersenyum bahagia menikmati setiap momen sakit yang terjadi di dalam sana. Mama tau kan, hamil dan memiliki anak adalah keinginan terbesar Rika setelah menikah. Yang maha kuasa sudah mengabulkannya, itu sebabnya Rika tidak akan mengeluh untuk itu."
Perkataan Rika membuat Bu Rossa terenyuh. Kini membelai rambut anaknya itu dengan penuh kasih sayang. Memeluk dan mencium puncak kepalanya dengan hangat.
****
Belum lagi para bodyguard yang sudah berjaga meski mereka memantau dari jarak yang sedikit jauh.
Tenang saja, jika sesuatu terjadi mereka akan dengan cepat melesat datang dan membantu. Itu sudah menjadi perintah dari sang majikan.
Reyhan Ardiwiningrat, dia telah mengutus beberapa orang bertubuh besar untuk menjaga, dan melindungi Rika istrinya dan Bu Rossa ibu mertuanya dari berbagai bahaya yang mungkin bisa saja datang kapan saja.
Bersama ibunya, Rika kini melangkah masuk ke toko pakaian miliknya. Tampak sedang ramai pengunjung hari ini. Bukan cuman hari ini saja, tapi dari hari-hari sebelumnya.
Butik Rika terus ramai didatangi pembeli. Beberapa karyawan di butik itu kadang sampai kewalahan dibuatnya. Terutama Lia, orang kepercayaan Rika.
Dia harus benar-benar memperhatikan segalanya. Dari semua pembeli, cara kerja karyawan, jumlah pemasukan setiap harinya dan masih banyak lagi. Semua dia urus sendiri. Mengingat Rika hanya mempercayainya seorang. Paling akrab juga hanya dengannya saja.
"Lia," sapa Rika yang menghampiri.
Melihat kedatangan bosnya, wanita itu bangkit dan langsung meninggalkan pekerjaannya. Tadinya dia sedang merapikan beberapa gaun yang akan dipajangnya.
"Bu Rika, anda di sini,"
__ADS_1
"Iya, aku mau lihat semua laporan di butik. Bisa kau perlihatkan padaku?"
"Tentu Bu, tunggu sebentar. Saya akan ambilkan."
Rika merebahkan tubuhnya di kursi sofa. Bu Rossa juga ikut duduk. Manik matanya menatap sekeliling tempat itu. Melihat hasil jerih payah putrinya. Sungguh luar biasa.
Anaknya memang seorang wanita pekerja keras. Jika dilihat, tak harusnya dia bekerja dan mencari uang lagi.
Ayahnya, bahkan suaminya sendiri sudah kelebihan uang. Seorang miliarder. Tapi ini Rika, dia tak mungkin bisa berdiam diri dan berpangku tangan. Menikmati hasil jerih paya sendiri pasti lebih enak rasanya. Itu prinsip wanita mandiri.
"Mah, mau minum dulu?" Tawar Rika menjeda lamunan ibunya.
Bu Rossa menatap putrinya. Dia menggeleng, "tidak sayang, kau saja. Mungkin kau dan anak-anakmu lapar,"
Rika menyengir"Hehehhe .... Kok tau Mah?"
Bu Rossa membalasnya dengan senyum, "Kau memang ibu dari anak-anakmu, tapi jangan lupa, jika aku ibumu."
Perkataan itu membuat Rika terdiam sejenak. Itu memang benar adanya. Jika ibu dan anak dekat, pasti naluri batinnya kuat. Dua-duanya bisa merasakan hal yang sama dalam waktu yang bersamaan pula.
"Yasudah, Mah di depan ada warung bakso. Yuk kita ke sana," ajak Rika. Kini langsung bangkit mengingat penjual bakso di dalam gang sana. Perutnya lapar dan dia tak bisa menunggu lagi.
"Hahhh! Di depan, suru orang aja untuk membelinya."tolak Bu Rossa. Warung itu cukup jauh, mobil pun tak bisa masuk. Jika begitu pasti harus berjalan kaki. Rika akan lelah karenanya. Pikir wanita paruh baya itu.
"Mah, Rika maunya makan di sana aja. Kalo bawa ke sini pasti tidak panas lagi,"
"Sayang, kau sedang hamil. Kau tak boleh kecapean kan." Bujuk Bu Rossa. Tapi percuma saja. Wanita hamil ini tetap kekeh mau makan langsung di warung bakso itu. Jika begini mau bilang apa lagi? Terpaksa harus nurut kan.
"Yasudah, tapi kamu harus hati-hati yah. Ingat babymu."
"Oke Mah."
Diluar butik Rika. Tampak keduanya sudah berjalan memasuki gang sempit itu. Terus berjalan mencari pangkalan si Abang tukang bakso. Entah dimana dia berada. Biasanya dia akan mangkal tak begitu jauh masuk ke dalam gang sana.
Lalu kenapa hari ini beda. Ah mungkin di dalam sana banyak pembelinya, pikir Rika dan Bu Rossa terus berjalan.
Tiba-tiba ....
..................Happy reading.................
__ADS_1
Like, vote, komen and foforitkan juga yah