
Rika terkesiap mendengarnya.
Anak, ini anak Reyhan. Benar itu adalah anak Reyhan. Selama ini Rika hanya berhubungan dengan pria itu. Dengan Dion tak pernah. Bersentuhan pun tidak.
Itu semua setelah mantan suaminya itu menikah lagi dengan perempuan lain. Pernikahannya pun sudah lewat setahun, dan selama itupun Dion tak pernah menggauli Rika.
Apa gunanya berhubungan? Toh sekuat dan sesering apapaun tetap tak ada hasilnya. Bagi Dion Rika adalah perempuan mandul jadi tak perlu menidurinya.
Bukan hanya itu mantan ibu mertuanya sendirilah yang melarangnya. Dion hanya harus fokus membuat anak dengan Reta istri keduanya. Menggempur setiap saat agar cepat menghasilkan anak.
Rika meraba perutnya. Manik matanya kini menatap Reyhan yang kini duduk di sampingnya.
"Rey, itu artinya aku tidak mandul. Dion yang mandul, benar kan." Cakap Rika masih tak percaya dengan apa yang terjadi.
"Tentu saja, cairanku begitu kuat sehingga bisa memperbaiki rahim rusak mu itu."angkuhnya.
Rika memutar mata malas. Kenarsisan pria ini kambuh lagi.
"Cih, memang dari awal rahim ku baik-baik saja. Dion itulah yang mandul dari awal. Jika diingat dia juga tak pernah cek up ke dokter. Selalu aku saja, karena memang mereka pikir aku yang mandul." Terang Rika.
"Yasudah, sekarang kita tinggal liat kehancuran mantan suamimu itu. Tanpa sentuhan tanganku pun dia akan tiada dengan sendirinya. Ahahahahah ....!!!!!" Reyhan menyertakan tawa jahat di akhir kalimatnya.
Iya tertawa senyaring-nyaringnya. Itu terlihat seperti seorang penyihir jahat di dalam buku dongeng anak. Sangat menakutkan dan sangat mengerikan.
Tuan Huda dan Bu Rossa yang sudah berdiri di ambang pintu mematung jadinya. Terpaku dan membeku melihat kelakar CEO perusahaan Andorgroup yang disegani ini.
Tak sangka ternya pemimpinnya punya sisi yang tak tertebak seperti itu. Oh astaga, karisma seorang Reyhan di depan calon mertua pupus suda.
"Pefftttt." Keduanya hanya bisa menahan tawa sembari melangkah masuk dan ikut bergabung.
****
Di kediaman Tuan Huda.
Bu Rossa tampak sedang berkutat di dapur bersama beberapa pelayan. Mereka memasak untuk hidangan nanti malam.
Sementara di ruang tamu. Dua orang pria tampak sedang asik mengobrol panas. Panas dan sangat panas. Auranya bahkan menyengat seseorang yang tak sengaja lewat di area itu.
"Tuan Reyhan yang terhormat. Aku sangat menyayangkan bahwa anakku Rika harus kembali bersama Dion menantu keparatku itu." Kata Tuan Huda dengan nada mengejek dan juga penuh sesalnya.
Reyhan tersenyum miring. Iya menegakkan posisi duduknya yang tadi menyandar di sandaran kursi sofa.
__ADS_1
"Atas dasar apa anda bisa berfikir seperti itu?"
Tuan Huda juga tersenyum miring.
Tampilannya tak jauh beda dengan Reyhan yang penuh keangkuhan dan penekanan di setiap kalimatnya.
"Putriku mengandung anak menantuku. Tentu mereka harus bersama bukan?"
"Heh bersama, Apa aku tak salah dengar? Itu artinya anda memang setuju jika Rika anak anda hidup menderita dan tersiksa bersama pria bajingan itu.
Dan lagi, Rika tak mengandung anak Dion. Dia mengandung anakku."
Dorrrrr!!!
Perkataan itu bagaikan kejutan happy birthday yang meledak di kedua telinga kiri dan kanan tuan Huda. Iya terkejut mendapati kenyataan menggemparkan itu.
Ada rasa marah dan campur senang juga saat ini.
Marah karena Reyhan telah menyentuh putrinya sebelum mensahkannya sebagai seorang istri.
Senang karena berkarat Reyhan semua orang jadi tahu ternyata Rika memang tidak lah mandul sama sekali. Cih, situasi ini jadi membingungkan sekarang ini.
"Rik, hati-hati dengan kopinya. Ah, mama sudah bilangkan kalau kau harus bnyak istirahat. Kata dokter kandunganmu melemah, itu pasti karena perbuatan kasar Dion selama ini."Decak kessal Bu Rossa.
"Pah, Reyhan, ini kopinya."
"Rika Pah, dia tak mau istirahat. Mama sudah bilang untuk dia di kamar saja." Adu Bu Rossa karena anaknya tak mau mendengar nasehatnya.
"Mah, Rika sudah baikan kok. Malah kalau dikamar, Rika bosan rasannya. Kan sudah lama juga Rika gak bantuin Mama di dapur."
Bu Rossa hanya bisa mendengus dengan kasarnya. Anak semata wayangnya itu tak mau mendengar nasehatnya. Teringat perkataan dokter tadi siang.
Kandungan putrinya melemah karena beberapa benturan. Belum lagi rasa setres yang dialaminya.
Huh, untung saja dua janin di dalam perut putrinya cukup kuat. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi. Mengingat ini juga adalah kehamilan pertama. Jadi harus benar-benar dijaga.
"Rik, Papa mau bicara. Mama juga di sini, kita akan sama-sama mendengar pengakuan dari putri kita,"ujar Tuan Huda meminta istri dan anaknya duduk.
Rika tampak heran. Apa sebenarnya yang ayahnya itu hendak tanyakan. Dari nada bicaranya terdengar sangat serius.
Rika menatap Reyhan yang duduk di seberangnya. Mencoba meminta pencerahan namun Reyhan malah menggodanya.
__ADS_1
Mengedipkan salah satu mata kemudian mengulurkan lidah dan menjilat bibir atas bawahanya. Rika membeku. Heh, si cabul ini. Dia memang tak ada takut-takutnya.
"Hehhmmm!"Suara deheman tuan Huda mengagetkan keduanya. Terutama Rika. Entah mengapa iya merasa sang ayah sedang mengintimidasinya. Oh, astaga kesalahan apa yang telah iya perbuat.
"Rika, jawab papa sejujurnya. Apa kau sudah bercerai dengan Dion?"
Pertanyaan itu membuat Rika terdiam sejenak. Dalam batinya berkata ayahnya pasti marah karena sudah mengambil keputusan sebesar ini sendiri tanpa memberitahukan keluarga terlebih dahulu.
Rika mulai menjawab dengan nada yang terdengar takut-takut.
"Iy ... Iyaa pah, Rika su ... Sudah resmi bercerai de ... Dengan Mas Dion. Maaf karena aku tak memberitahukan ini pada kalian."
Sejenak pria paruh baya itu terdiam. Sedikitpun senyuman tak ada di wajahnya. Begitu serius dia menanyai putrinya.
Sama halnya dengan Bu Rossa. Iya tampak memihak sang suami untuk mengintrogasi Rika yang terdiam menunduk.
Tuan Huda kembali bertanya dengan menunjuk Reyhan di akhir kalimatnya.
"Rika, apa kau mengandung anak pria ini?"
Rika terlonjak kaget. Reyhan ternyata sudah mengatakan semuanya. Dia bahkan belum mendiskusikan hal ini terlebih dahulu. Ih, Reyhan. Rika jadi kessal padanya.
Ah sudahlah, buat apa ditutupi lagi. Semuanya juga sudah terjadi. Ayahnya sudah mengetahui semuanya. Tinggal dirinya saja yang menjawab iya atau tidak. Pasrah saja.
" Iya Pah."Rika menjawab tunduk seraya memejamkan matanya. Iya tak ingin melihat kemarahan sang ayah begitu tau bahwa dirinya sudah hamil anak pria lain. Ah, bisa dipastikan bahwa tuan Huda akan sangat marah besar terhadapnya.
Kini giliran sang ibu yang bertanya. Sekilas Bu Rossa melirik Reyhan yang tampak duduk dengan penuh kesopanannya.
"Sayang, apa kau cinta dengan pria di hadapanmu itu?" Kini tiba di pertanyaan cinta atau tidak.
Hemmm, jika diingat Reyhan memang sudah lama menghiasi kehidupan Rika. Hadir menghiasi malam-malam sepinya.
Heh, sangat tidak mungkin jika tidak ada rasa di antaranya. Reyhan, iya sudah mengakui perasaannya. Tapi Rika belum, entah dia akan menjawab apa.
........ happy reading.........
Maaf yh pembaca setiaku penulis malang mu habis kena drop
berkat dukungan kalian semua dia kembali bangkit loh,
.............................................
__ADS_1
Terus like, vote, komen, and foforitkan juga yah supaya si penulis malang tak kabur lagi heheheh........