
Rika kembali masuk ke dalam rumah.
Langkahnya tetiba dihentikan oleh ibu mertuanya yang menghadang jalan. Rika bertanya-tanya. Ada apa lagi dengan ibu suaminya ini.
"Kenapa Mah?"
Bu Diana tersenyum pelik. Menggereng-gereng tubuhnya, dengan kaki yang menggaruk lantai. Rika semakin heran melihatnya.
Aneh, sangat aneh. Pasti ada sesuatu lagi yang iya inginkan.
"Mah, Rika capek. Mau istirahat." Pungkas Rika lalu menyusuri tangga menuju kamarnya. Iya tak menoleh sedikitpun.
Sementara mertuanya itu terus tersenyum aneh ke arahnya. Tak menoleh ke arah lain, tak juga mengedipkan mata. Tampaknya uang dalam jumlah banyak itu memang merasuk ke dalam otaknya yang paling dalam.
****
Wusssss ....
Seperti biasa, Reyhan kini sudah berada di dalam kamar Rika. Memanjat tembok layaknya super Hero.
Mempertaruhkan nyawa demi bersama sang pujaan hati. Sedikit kesalahan jangan sampai terjadi. Atau semuanya akan berakhir.
Reyahan melonggarkan ikatan dasinya. Kaki panjangnya berjalan ke arah Rika yang sudah terlelap. Menatap lamat-lamat, kemudian mendaratkan bibir di keningnya.
Itu adalah tanda bahwa iya sangat mencintainya.
Tidur di samping Rika sudah menjadi candu baginya. Pulang ke rumahnya yang lebih besar, tak lagi pernah iya lakukan.
Entah sejak kapan kamar wanita ini menjadi tempat tinggalnya. Ini nyaman meskipun harus mempertaruhkan nyawa.
Reyhan bangkit, iya meraih selembar handuk kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Tubuhnya harus segar dan wangi jika ingin tidur bersama wanita pujaannya.
"Biurrrrrr!! Biurrr!!"Air sudah terdengar membasahi.
Berhenti sejenak kemudian kembali menyiram. Dan tak lama kemudian, Reyhan keluar.
Mengeringkan tubuhnya kemudian ikut berbaring di samping wanitanya.
Saat ini Rika memang dalam posisi membelakanginya. Itulah sebabnya Reyhan hanya bisa memeluknya dari belakang.
Tangannya iya letakkan di pinggang sembari mengelus perut yang mungkin masih tak nyaman itu.
Merasa ada pergerakan, Rika jadi terusik. Kelompok matanya mulai terbuka. Sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Rika berbalik.
Reyhan menyambutnya dengan ciuman.
Cuppp!
Rika membulat kejut. Heh, lagi-lagi serangan dadakan yang iya dapatkan. Jangan bilang pria ini akan kembali menerkamnya.
Tidak, kondisi Rika belum baik-baik saja. Hal itu tak boleh terjadi dulu. Dingin dalam air tapi hangat karena ada tubuhnya. Oh, dia akan kembali masuk angin.
Yang hari itu saja belum sembuh masa mau tambah lagi.
__ADS_1
Rika mulai meronta. Iya melepas penyatuan bibir itu.
Dengan segera Reyhan menenangkannya.
"Diamlah, aku tak akan melakukannya. Aku hanya ingin sentuhan bibirmu."
Rika terpaku. Reyhan pun kembali ******* sesuatu yang terasa kenyal manis itu.
Tiba-tiba ....
Suara kenop pintu berusaha dibuka dari luar. Kedua insan di mabuk asmara itu panik seketika. Terutama Rika. Dion suaminya pasti di luar, batinya.
Reyhan hanya bisa mendesah Kasar.
"Sial,"
Segera iya bangkit kemudian masuk dan bersembunyi di dalam kamar mandi.
Setelah memastikan Reyhan pergi, Rika kembali memejamkan matanya.
Iya pura-pura tidur seakan tak ada sesuatu yang terjadi.
Rika berfikir sejenak.
Siapa yang membuka pintu kamarnya? Bukankah dia sudah menguncinya. Itu artinya ada kunci lain yang cocok dengan pintu kamarnya. Rika berusaha mengintip.
Menyipitkan mata agar tak ketahuan.
Cekleekk,
Dari baliknya bayangan seseorang muncul kondisi lampu pada saat ini memang mati. Tetapi lampu tidur tetap menyala.
Itu sebabnya Rika hanya melihat bayangan seorang masuk. Entah itu pria atau wanita.
Rika terus memperhatikan sesosok itu. Iya sangat penasaran dengan siapa yang menyelinap di kamarnya itu.
Malam-malam begini, pasti ada sesuatu yang dicarinya. Jika tidak, kenapa iya tak mengetuk ataupun memanggil si penghuni kamar.
Di samping itu, Rika juga merasa khawatir. Reyhan sekarang bersembunyi di dalam kamar mandi. Bagaimana jika orang ini melihatnya. Semuanya akan berantakan.
Rika teringin sekali menangkap basah si penyusup. Tapi entah bagaimana caranya. Meminta bantuan kepada Reyhan tak mungkin. Bagaimana jika orang ini sebenarnya adalah suaminya.
Mengingat dion juga menyimpan kunci cadangan dari kamar besar ini.
Bayangan orang itu kini telah berdiri tepat di depan sebuah lemari.
Tanpa penerangan sedikitpun, iya mulai mengacak-acak di dalamnya. Rika mendengar semuanya. Suara benda di sentuh, digerakkan, dan bahkan diutak-atik.
Rika menelan Salivanya, iya harus berani menghadapi orang ini. Tapi entah bagaimana caranya. Bagaimana jika iya malah di sakiti oleh orang misterius itu.
"Maling!!! Malinggg!! Maling!!" Teriak Rika semberingin.
Sontak penyusup itu kalang kabut dibuatnya. Bangkit dan mencoba berlari keluar. Iya hendak melarikan diri namun Rika juga dengan cepat langsung mencegat dengan cara menarik tangannya.
__ADS_1
Alhasil sedikit pertikaian pun terjadi. Rika berusaha menahan namun tenaga orang itu juga tak kalah kuat.
Pada akhirnya,
Orang itu dengan penuh kekuatan berhasil memberontak. Berusaha melepaskan diri sebelum ada yang datang.
Jika iya tertangkap maka akan tak bagus untuknya.
"Brang!!"Rika terjatuh dan tersungkur ke lantai.
Segera setelahnya, iya mengambil langkah seribu. Menghilang secepat kilat.
Sementara Rika iya merasa sakit di bagian perutnya. Itu sebabnya iya tak dapat bangkut lagi.
Reyhan keluar dan melihat Rika yang sudah di lantai. Dengan panik iya segera menghampiri. Menggendong dan mengangkat ke tempat tidur.
"Mana yang sakit?"tanya Reyhan penuh kekhawatiran. Alisnya menyorot. Iya marah sekali terhadap orang yang telah melukai wanitanya.
Rika menggeleng, tangannya memegang perut ratanya dengan ekspresi ringis. Tentu saja iya tak baik-baik saja.
Reyhan memejamkan mata sejenak kemudian kembali membukanya dengan penuh ketidak berdayaan. Menggertakkan gigi dan mengepal jari-jemari.
Iya tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Mana mungkin iya mengejar orang itu. Iya hanya bisa mendecak dengan kasar.
"Ahhh sial!!"
"Kita periksa ke dokter besok. Sekarang tidurlah, aku akan menemanimu." Cakap Reyhan yang kini sudah ikut berbaring juga di samping Rika.
Iya kembali mengelus perut rata itu. Menahan amarah karena orang tadi.
****
Pagi kembali menyingsing. Rika melebarkan kelopak matanya. Melihat dunia yang kembali terang benderang. Menguap, mengeliat, dan meregangkan otot-ototnya.
"Aduh,"perut terasa masih sakit. Benar kata Reyhan, iya harus ke dokter untuk memeriksa. Lagipun, sudah beberapa hari ini iya tak enak badan. Entah ada apa dengan dirinya sebenarnya.
Rika beranjak dari tempat tidur empuk dan nyamannya.
Hendak melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Langkahnya tertahan oleh injakan sesuatu.
Rika menatap ke lantai. Iya melihat sebuah gelang emmas di bawah kakinya.
Rika menyorotnya. Segera iya menunduk dan mengambilnya.
Gelang siapa ini? Batinya bertanya-tanya.
Ini kali pertamanya iya melihat aksesoris itu. Jadi benar saja itu bukan miliknya. Tapi punya siapa? Kenapa ada di kamarnya.
Sudahlah, iya harus mandi, berdandan cantik dan rapi. Hari ini iya akan periksa ke rumah sakit setelahnya akan pergi ke butik bajunya. Iya harus melihat bagaimana perkembangan gaun pesta yang akan iya pakai di acara ulang tahun omanya Reyhan.
Yah, Rika tak lupa akan hal itu. Dresnya pun sudah dari jauh hari iya menyiapkannya.
__ADS_1
........ happy reading.........
like vote and komen favoritkan juga yah