Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 75


__ADS_3

Dion langsung beranjak dengan penuh kesalnya. Meninggalkan Reta yang masih memasang senyum datarnya.


Uhhh,


ini benar-benar gila. Makan makan yang entah bisa di cerna perut atau tidak. Belum lagi beras campur batu. Supaya apa coba? Supaya berasnya berat gitu? Atau supaya banyak?


Aaahh, entah ada apa dengan semua ini.


Tak pernah terbayangkan kehidupan Dion akan memburuk begini setelah berpisah dengan Rika. Ini benar-benar gila, semuanya gila.


****


Untuk menyejukkan hati, Dion berdiri di halaman rumah. Memandangi lingkungan rumah yang sudah lumayan rapi.


Reta pasti dia yang sudah membereskannya. Menyusun rapi pot-pot bunga dan membersihkan sampah-sampah yang mungkin sudah beberapa tahun tinggal di sana.


Reta ternyata dia memang sudah berubah. Dion jadi memikirkan istrinya yang iya tinggalkan di ruang makan tadi. Gegara makan beras batu.


Hemm,,


"Mas lagi apa?"sapa Reta yang tiba-tiba muncul dari belakang dan langsung memeluk sang suami.


"Reta,"cakap Dion memegangi tangan istrinya yang kini melingkar di perutnya. Berbalik dan menatap wajah kusam itu.


"Kenapa Mas? Kok melihatku seperti itu?"


Dion tersenyum jari telunjuknya kini menyentuh pipi yang biasanya selalu putih berseri itu.


"Berminyak, kulitmu mulai rusak."


Reta terkesiap mendengarnya. Kini iya mengusap-usap wajahnya. Dion melihatnya. Segera iya menghentikan tindakan istrinya itu.


"Buat apa?" Tanyanya.


"Supaya bersih Mas supaya gak kusam lagi."


Dion menghela nafas. Dengan lembut tangannya mengelus puncak kepala Reta.


Cupp,


Sebuah kecupan sayang pun iya daratkan di sana.


"Reta, makasih Karena kamu udah mau menerima aku apa adanya. Kamu udah mau ikut susah denganku. Makasih sayang makasih."


Reta tersenyum mendengar ungkapan suaminya itu. Kini iya berbalik menatap pria yang kini telah menjadikannya istri satu-satunya.

__ADS_1


"Mas aku akan selalu ada untukmu. Aku dan anak kita nanti. Satu yang kuminta Mas, jangan pernah kau selingkuh dan menikah lagi. Ingat aku sudah mau ikut susah dan menemani perjalanan hidup kamu dari nol. Itu karena aku tulus cinta dengan kamu Mas. Semuanya kurelakan untukmu."


"Iya sayang, Mas janji. Asal kamu bisa melahirkan anak yang banyak untukku."


"Iya Mas, aku janji." Kata Reta dengan senyum percaya diri di wajahnya.


Iya sudah sangat yakin bahwa dirinya bisa memberikan anak untuk suaminya. Mengingat dia juga wanita yang subur.


Dokter yang mengatakannya. Itu sebabnya iya sangat percaya diri.


****


Di kediaman Tuan Huda. Sarapaan pagi sedang berlangsung di sana. Rika juga. Mulai dari sekarang iya akan kembali tinggal bersama kedua orang tuanya.


Bi Maya pelayan rumahnya iya bawa. Mulai sekarang juga akan tinggal di situ dan mengurus segala keperluannya. Mengingat rumah besar miliknya sudah laku iya jual. Rika tak mau lagi tinggal di sana.


Rumah itu telah menyimpan kenangan buruk untuknya. Lebih baik iya jual dan nanti uangnya iya pakai untuk membeli rumah baru yang lain.


"Bi, mangganya mana?"tanya Rika melihat rujak buah buatan Bi Maya kurang lengkap tanpa adanya buah mangga muda yang mengkal.


"Maaf Bu, pesanan mangganya belum datang. Kurirnya masih dalam perjalanan."


Rika tertunduk lesu. Kini sepiring rujak buah yang siap di santap di hadapannya iya pinggirkan. Iya tak ingin jika tak ada mangga mudanya.


"Eh, ternyata calon Mama muda kita sedang ngidam mangga muda yah,"goda Bu Rossa menyenggol bahu tuan Huda. Iya duduk di samping suaminya menatap anaknya yang tak ingin makan apa-apa kecuali rujak itu.


"Ih, Papa." Dengus Bu Rossa malu dan kembali menyenggol bahu sang suami.


"Ih, Mama."balas Tuan Huda tersenyum aneh sembari menyenggol bahu sang istri.


Bu Rossa hanya menggeleng kepalanya. Kini pandangannya menatap Rika yang masih diam tak merespon.


"Sayang, kamu makan sup ini dulu yah. Habis itu kita ngerujak bareng."Bujuk Bu Rossa. Semangkuk sup sayur iya berikan untuk anaknya yang sedang hamil muda.


Itu semua supaya Rika tetap sehat dan dua anak di perutnya pun ikut sehat. Bahaya jika sang ibu tidak mendapat nutrisi yang baik.


Apalagi saat ini Rika sedang hamil bayi kembar.


Rika masih dengan mulut manyunnya. Kepalanya menggeleng tanpa sedikitpun semangat. Pokoknya mangga muda dan dia hanya mau itu.


"Gak Mah, Rika gak suka."


"Sayang kasian calon anak kamu. Setidaknya pikirkan untuk mereka." Bu Rossa kembali membujuk.


Alhasil Rika akhirnya mau. Benar katanya jika bukan untuk dirinya, pikirkan si kecil dalam sana yang membutuhkan asupan.

__ADS_1


Haihhh,


Rika meraih semangkuk sup hangat itu kemudian mulai memakannya. Menyendok demi sendok sampai akhirnya habis.


"Tringtonggg!! Triinggtongg!!" Suara bel pintu rumah yang ditekan seseorang. Bi Maya segera ke arah pintu depan untuk membuka pintu.


"Pagi Bi, sapa Reyhan dengan senyum mekarnya. Di tangannya tampak parsel buah-buahan.


"Pagi juga tuan."balas Bi Maya juga tersenyum setelah melihat dua pria tampan berdiri di hadapannya.


"Ayo Tuan, silahkan masuk." Tambah pelayan paruh baya itu mempersilakan.


Reyhan dan Randy masuk. Mereka langsung ikut bergabung di ruang makan dimna penghuni rumah besar itu sedang berada.


"Rey, seharusnya aku tak perlu ikut kemari kan," bisik Randy yang merasa tak nyaman.


Entah kenapa iya merasa sangat gugup. Apalagi iya akan berhadapan dengan tuan Huda, orang yang juga dikenal dengan ketajaman lidahnya.


"Sudah, diam. Ikut saja," balas Reyhan juga berbisik. Kini mereka telah tiba di ruang makan.


"Rey,"ujar Rika tersenyum melihat kedatangan pria pujaan serta ayah dari anaknya.


"Sayang, aku datang untukmu." Kata pria itu lalu duduk di samping Rika. Tak lupa iya letakkan buah tangannya di meja.


"Semalam aku mendengar bisikan anak anakku, dia bilang ingin makan buah. Itu sebabnya aku membawakannya untukmu."


Rika tersenyum mendengarnya. Aneh juga. Entah bagaimana pria itu melakukannya. Memang benar sih dia ingin makan buah khususnya mangga muda dan Reyhan tau akan hal itu.


"Hehh, hanya sekotak buah. Apa yang perlu dibanggakan." Cemoh tuan Huda yang terlihat sinis.


"Ah, emmm ...."gugup Bu Rossa merasa tak enak dengan ucapan suaminya itu.


"Ini lebih dari cukup, terima kasih untuk itu. Bi, ba ... Bawa buah ini ke dapur."


"Baik Bu, "kata Bi Maya.


"Ayah mertua, anda salah paham. Randy apa truk buah kita sudah tiba?"


"Oh, iya Bos. Mereka sudah ada di depan."


"Bagus, kau memang bisa kuandalkan." Senyum Reyhan puas akan hasil kerja asistennya.


Randy hanya bisa menunduk dengan senyum paksa di wajahnya. Entah mengapa iya merasa aura permusuhan yang sangat kental di sini. Ah, mungkin ini hanya perasaannya saja.


Menggaruk tengkuk yang tak gatal mungkin akan mengurangi rasa kegugupannya.

__ADS_1


................... Happy reading................


like, vote, komen, and foforitkan juga yah


__ADS_2