
Mentari pagi kembali menyinari. Bias hangatnya masuk melalui sela-sela jendela. Membuat wanita yang pules itu terbangun. Rika membuka pejaman matanya. Menguap dan menggeliat meregangkan si otot yang terasa kaku.
Rika langsung bangkit. Iya hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi. Pandangan matanya yang seketika buram membuatnya kembali duduk.
Memegang kepala yang terasa melayang. Perutnya juga masih tak normal saja. Rika memegangi perut ratanya. Tercium bau minyak angin. Wanita itu jadi terpaku.
Reyhan, pasti dia yang melakukannya, Batinnya berucap.
Semalam Reyhan memang datang. Ketika hendak berbaring, iya melihat Rika yang meringis memegangi perut. Pasti dia masih sakit gumamnya.
Pria itu tentu saja tak tega melihatnya. Dengan kondisi wanita yang dicintainya seperti itu tubuhnya juga seakan ikut sakit rasanya. Mungkin karena iya sudah teramat mencintai istri orang itu.
Reyhan mengambil sebuah botol angin. Iya menaruh di tangan kemudian mengusapnya ke perut Rika. Mengoles dengan lembut hingga Rika lebih merasa baikan. Setelahnya baru iya ikut berbaring juga.
"Zzzztt!! Zzzzttt!!! Zzzztt!!" Bunyi getaran ponselnya yang berada di atas nakas.
Rika melihatnya kemudian meraih dan mengangkat.
"Aku meletakkan beberapa obat di meja. Apa kau sudah melihatnya?" Kata Reyhan ketika mendengar bahwa panggilannya telah tersambung.
Rika menyorot meja di dekat sofa. Memang di sana ada beberapa kapsul obat yang tergeletak.
"Ehem, kau merawatku?"
"Tentu saja, kau wanita ku. Sudah menjadi tugasku bukan."
Rika memejamkan mata kemudian kembali membaringkan tubuh lemahnya.
Salah satu tangannya masih menahan ponsel di telinga.
"Aku ingin sekali ada di sisimu sekarang. Merawat dan mendekapmu. Ku yakin kau akan jadi lebih baikan."
"Aku ingin sekali menjadi pendampingmu Rika." Ungkap Reyhan tulus.
Rika menghembuskan nafas halus. Iya hanya diam dalam mata terpejam. Mulutnya enggan untuk berbicara dan menjawab ungkapan itu.
****
Matahari kini telah berada di puncak kepala. Sinarnya seakan menyengat orang-orang yang bekerja di luar ruangan. Beda halnya dengan seorang Reyhan.
Iya duduk di kursi singgasananya dengan nyaman dan damai.
Matanya menatap fokus laptop. Jari jemarinya hanya tinggal mengetik dan orang-orang akan menerima perintahnya.
Sejuknya nya hawa AC membuatnya nyaman bekerja di ruangan yang ada di lantai tertinggi itu. Pagi, siang dan malam iya akan senantiasa bekerja tanpa mendapat gangguan sedikit pun.
Beberapa fasilitas pribadi pun ada di ruangannya.
Tempat istirahat, tempat gym, ruangan yang mewah dan masih banyak lagi. itu semua ia dapatkan karena dirinya yang sebagai presiden di perusahaan itu. Dia adalah CEO nya.
"Bos, tuan Huda datang untuk bertemu."sela Randy yang tiba-tiba muncul dan membuka pintu.
__ADS_1
Rayhan berhenti dari pekerjaannya. Iya segera bangkit seraya berkata " persilahkan dia masuk."
Randi mengangguk mengiyakan perintah bosnya.
"Suruh Syaya menyiapkan segelas kopi untuknya. Jangan terlalu banyak gula itu tak baik untuknya." Tambah Reyhan memerintah.
Randy pergi dengan ekspresi yang datar. Tuan Huda adalah ayah dari wanita yang dicintainya. Tentu saja ia akan berlaku sopan dan baik. Hormat pula. Jika tidak, bagaimana Iya akan mendapat Restu.
Beberapa menit kemudian, Tuan huda masuk. Di dalam tampak Reyhan sedang duduk di kursi sofa sembari menunggu nya.
"Tuan yang terhormat, senang rasanya karena anda mau berkunjung."sambut Reyhan.
Tuan huda tersenyum miring. Iya mendesah kasar kemudian duduk.
"Harusnya saya yang senang karena bisa menginjakkan kaki di bangunan pencakar langit mu ini."
"Reyhan tersenyum datar."anda terlalu berlebihan.
Tanpa berbasa-basi lagi, ayah Rika itu langsung menyampaikan maksud dan tujuannya datang. Dari balik jasnya, Iya keluarkan map kuning yang di dalamnya membutuhkan tanda tangan seorang CEO perusahaan Andorgroup.
Reyhan menyorotnya.
Tuan Huda meletakkannya di meja kemudian berkata " Silahkan di lihat."
Reyhan membuka map. Manik matanya membulat setelah membaca isi kertas.
"Ku harap, anda sebagai tuan Reyhan mau menerimanya." Ujar tuan Huda mengembangkan senyum di wajah.
Reyhan menelan Saliva dengan kasar. Ekspresi wajahnya sulit untuk ditebak sekarang ini.
****
Rika keluar dari kamarnya. Iya menuruni tangga dengan tangan yang memegang erat di besi pembatas. Rasa pening di kepala mungkin bisa saja membuatnya terjatuh.
"Eh ada Rika, ayo duduk sini."sambut Bu diana tersenyum melihat menantu pertamanya.
Tadinya ia sedang duduk di ruang tengah sembari menonton acara televisi kesukaannya. Reta juga duduk menemaninya.
Dua cangkir teh ikut serta.
Rika memutar bola mata malas. Yah tepat sekali, ibu mertuanya baik begitu pasi karena ada sesuatunya. Apalagi kalau bukan.
Bu Diana bangkit kemudian menggiring tubuh Rika duduk di kursi sofa. Rika hanya ikut terhuyung dibuatnya.
Tangan setengah keriput itu melebar menyentuh kenning.
"Kamu masih sakit? Yasudah, Mama ambilkan air yah," Bu Diana berjalan ke arah dapur dan tak lama datang lagi dengan segelas air di tangannya.
"Nih minum dulu."
Rika menenggak setengah air di gelas kaca itu.
__ADS_1
"Bi, buruan! Mana rotinya?"teriak wanita paruh baya itu.
Bi Maya juga datang dengan beberapa lembar roti berselai di nampannya.
"Ayo buruan, Bi, Lama banget sih kalau di suruh." Cercah Bu Diana tak sabaran.
Iya mengambil roti dan mencoba menyuapi Rika.
"Sayang, buka mulutmu."
Rika menggeleng.
"Ah, itu tak perlu Mah. Aku sudah baikan Sekarang."
"Tidak, wajahmu saja pucat begitu. Bagaimana mungkin kau sehat." Kekeh Bu Diana ingin menyuapi menantu pertanyaannya. Rika jadi canggung karenanya.
Entah apa lagi yang akan mertuanya itu lakukan. Ibarat ada udang di balik batu.
Tanpa sebab dan alasan mana mungkin dia diperlakukan baik seperti ini.
Sementara Reta iya hanya duduk menyaksikan semuanya dengan wajah datarnya. Tangannya meraih remote televisi kemudia memutar drama faforitnya yaitu Rahim yang tak Rusak. Film yang menceritakan seorang pria yang menikahi begitu banyak wanita untuk menghasilkan anak.
"Tring!! Tongg!! Tringg Tongg!!"
Bu Diana tersenyum mekar mendengar suara bel rumah di tekan seseorang.
Iya seakan sudah tahu siapa yang akan datang.
Baru saja Bi Maya hendak melangkah, tiba-tiba Bu Diana menghentikannya.
"Eh, biar saya yang buka. Kamu ke dapur buat cemilan."
Bi maha menunduk kemudian berlalu.
Sementara ibu Dion itu dengan senangnya berjalan ke arah pintu. Membuka dan melihat siapa yang datang.
"Ehhh, ada Bu besan."
Rika mendengar itu. Manik matanya kini melihat ke arah pintu.
Di sana terlihat ibunya berdiri. Rika tersenyum senang seraya berlari tipis-tipis menghampiri.
"Mama!"
"Hy sayang. Gimana sudah baikan." Sapa Bu Rossa melihat putrinya menghampiri.
Cepika-cepiki berlangsung. Rika sangat senang karena ibunya datang dan mengunjunginya.
"Rika udah sedikit baikan kok mah."
"Tentu saja. Selama ini, Rika sakit kan saya yang merawatnya." Sela Bu Diana tertawa bangga.
__ADS_1
Prett!!
........... happy reading...........