Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 83


__ADS_3

Di sebuah gedung terbengkalai. Dion duduk di sebuah kursi.


Tangan dan tubuhnya terikat. Masih tertidur. Ah, mungkin masih pingsan. Akibat beberapa pukulan yang iya terima dari orang-orang Randy tadi. Dia di siksa hingga setengah babak belur. Hampir setengah mati. Hingga pada akhirnya, pandangan matanya mulai buram dan akhirnya masih tak sadarkan diri sampai sekarang ini.


"Biurrrrrr!!" Seseorang datang dan langsung menyiraminya dengan seember air. Dion terkejut dan langsung membuka paksa pejaman matanya.


Masih dengan samar-samarnya. Melihat pria yang menangkapnya berdiri di hadapannya.


Reyhan dan Randy, kedua orang itu menatap dirinya dengan tajam. Penuh amarah dan mungkin sebentar lagi akan diluapkan padanya.


"Rey, mau kau apakan dia?"Randy bertanya pada bosnya.


Reyhan tersenyum penuh cemohan. Menatap sengit pria tak berdaya itu. Tak lama iya pun menjawab.


"Membuatnya menyesal karena sudah terlahir didunia ini."


Randy terdiam. Tampaknya amarah bos sekaligus sahabatnya itu tak tertahankan lagi. Dion pasti akan sengsara karena berani melawan seorang Reyhan yang perkasa.


"Brukkk!!"Reyhan melayangkan tendangan kakinya ke pria yang masih setengah sadar itu. Alhasil, Dion terkapar dengan kondisi tubuh yang masih terikat di kursi.


"Lepaskan ikatanya." Tak lama beberapa orang muncul dan langsung melepas tali yang sedari tadi mengikat kaki, tangan, dan tubuh Dion itu.


Hening sejenak.


Tak lama,


"Hahahaha!!!! Ahahahah!!!!"Dion berusaha bangkit dengan tawa yang menjegelegar di mulutnya terus tertawa hingga membuat semua orang heran melihatnya.


Kecuali Reyhan. tampak pemuda itu masih memasang wajah datar dengan pandangan mematikannya.


Sangat geram dan ingin segera mengubah tawa itu menjadi jeritan, rintihan dan tangisan akan kesakitan yang tiada tara.


Reyhan sangat muak melihat tingkah laku Dion yang sudah tak berdaya itu tetapi masih sempat-sempatnya terkekeh. Entah apa yang terjadi dengan otaknya itu.


"Reyhan mulai mendekati Dion yang masih setengah berdiri itu. Mencengkram kera bajunya kemudian,


"Bugggghhhhh!!!"


Tinjuan pun melayang ke wajah yang memang sudah setengah babak belur itu. Dion kembali terjatuh ke lantai. Terkapar lemah tak berdaya. Tapi hal itu tak membuat Reyhan berhenti memberinya pelajaran.


"Bugghh!! Buggghhh!! Buggg!!!"berkali-kali Reyhan melayangkan pukulan, tendangan, dan tinjuannya hingga membuat Dion sudah tak sanggup lagi.


Iya akan tiada jika Reyhan terus dan lagi memukulinya. Tampak amarah dan kebencian pria itu berkobar begitu hebatnya.


Memuaskan diri untuk menghajar habis-habisan pria yang dulunya selalu menyakiti Rika itu.

__ADS_1


Reyhan membalaskan semua sakit, derita dan penghinaan yang dulu dirasakan wanitanya. Tampilannya saat ini seperti harimau ganas yang sedang mencabik-cabik mangsanya. Dion tamatlah riwayatmu.


"Buggghhh!! Buggghh!! Bugghh!!"


Randy datang dan menghentikan kebejatan Reyhan itu. Melihat kondisi Dion yang sudah mungkin tak sadar lagi membuat pria itu sedikit menelan liurnya.


"Rey! Cukup Rey!!"


"Kau akan dalam masalah jika membunuhnya,"


Reyhan bangkit. Tampak tangannya berlumuran darah. Tapi itu bukan miliknya. Melainkan milik Dion yang sudah babak belur itu. Wajahnya bahkan sedikit tak bisa dikenali.


"Kupikir kau sudah lama mengenaliku?"cakap pemuda itu yang tampak masih kurang puasnya.


Randy jadi gelagapan dibuatnya.


"Emm, bukan itu Rey. Kita harus menghadiri rapat dewan direksi di perusahaan. Syasya sudah menelepon beberapa kali. Kini hanya menunggu kita."


Reyhan berdecih. Kini mengambil sapu tangan. Membersihkan jari-jemarinya. Setelahnya berlalu meninggalkan tempat itu.


"Kalian!! Buang dia!"titah Randy kemudian ikut pergi dan mengikut ke arah Reyhan atasannya.


****


Keesokan harinya di kediaman Tuan Huda.


Sesekali memeriksanya apakah ada notifikasi chat dari Reyhan atau tidak. Yah, dari kemarin pemuda itu sulit dihubungi. Entah apa yang sedang diperbuatnya. Yang pasti Rika jadi risau memikirkannya.


"Rika!! Rika!" Bu Rossa datang dengan kepanikannya. Ngos-ngosan karena karena berlari tadi.


"Konferensi pers sedang berlangsung di perusahaan Reyhan. Ayahmu juga di sana."


"Hahhh!!" Rika terkejut. Kalang kabut meraih remote dan menyalakan televisi besar yang terpampang besar di kamarnya.


Benar saja. Reyhan, tuan Huda dan Oma tampak sedang mengadakan acara konferensi pers secara langsung. Tentu saja itu ditonton oleh semua orang.


"Apakah benar anda telah merusak rumah tangga orang?"


"Apa benar anda sudah merampas nona Rika dari suaminya?"


"Siapa sebenarnya pemuda yang mengacau kemarin di acara besar itu?"


"Apakah dia suami nona rika?"


Semua pertanyaan kritis itu ditujuhkan kepada Reyhan Ardiwiningrat. Dia harus menjawabnya sekarang dan detik itu juga.

__ADS_1


Meskipun banyak pertanyaan yang menyayat hati, pemuda itu tetap bersikap tenang dan dengan lancar menjawab semuanya. Sebelum mengungkapkan kebenarannya, Reyhan menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan.


"Pria itu adalah dion, mantan suami Rika Colon istriku. Kami akan menikah. Itu tak lama lagi. Merampas, yah aku tidak merampasnya. Aku hanya mengambil sesuatu yang tak dibutuhkan. Layaknya sebuah permata yang terbuang. Aku hanya mencoba mengambil dan membuatnya kembali berkilau. Ada pertanyaan lagi,"


"Apa benar nona rika sedang hamil anak anda?"


Senyap seketika.


Semua orang saling bertatapan. Entah pertanyaan siapa barusan itu. Tak ada orangnya. Ucapan itu seakan keluar begitu saja. Namun Reyhan tak gugup karenanya.


Tanpa berfikir panjang lagi, CEO perusahaan Andorgroup itu langsung menjawab dengan begitu percaya dirinya.


"Yah, dia mengandung ANAKKU!!"


"Wahhhhh!!"kejut semua orang. Tak lama suasan kembali senyap lagi.


Reyhan meneruskan perkataannya.


" Mantan suaminya yang bodoh itu mengira dia mandul. Aku hanya mencoba membuktikannya, dan ternyata dia salah. Rika calon istriku itu sangat subur. Buktinya dia sedang mengandung bayi kembar kami. Bagaimana, apa ada yang mau di tanyakan lagi?"


"Em, kapan pernikahan anda dilangsungkan?"tanya salah satu reporter lagi.


"Satu bulan lagi." Reyhan berkata dengan menyorot si penanya. Tatapan mengerikan dan mematikan. Siapa yang tak bergetar karena itu.


"Apa ada lagi?"


"Ah, ti ... Tidak, su ... Sudah selesai."


"Baik, konferensi pers hari ini selesai.


Semuanya dipersilahkan bubar." Randy sang asisten menutup pertemua itu.


Rika tertegun setelah menonton acara besar yang disiarkan di setiap media itu. Reyhan, tak sangka dia malah membocorkan kehamilan Rika itu ke publik.


Tidak kah dia takut akan reputasinya yang mungkin akan terpengaruh. Belum lagi perusahaannya, nama baik keluarganya. Oh astaga pria itu apakah sudah memikirkan semuanya?


"Rik, tampaknya Reyhan memang pria yang baik untukmu,"suara sang ibu membuat Rika terhenti dari lamunannya.


Tersenyum tipis kemudian berkata, "iya Mah, Rika juga bisa merasakan itu. Mudah-mudahan Reyhan adalah pria terakhir di dalam kehidupan Rika."


Sepasang ibu dan anak itu berpelukan. Merasa bahagia karena kini telah benar-benar menemukan lelaki tulus dan apa adanya.


Bukan ada apanya. Benar kan para pembaca


ku?"

__ADS_1


............... happy reading..................


like, vote komen and foforitkan juga yah


__ADS_2