
Hahh, batin Dion terkejut. Iya sedikit tak paham dengan perkataan ayah mertuanya itu.
Sementara Reyhan. Iya tersenyum aneh menatapnya. Iya juga tak tahu apa maksud pria itu memandangnya.
Tapi ini pasti sesuatu yang tak baik. Mengingat bagaimana dulu dia di hancurkan.
Dengan paksa Dion menelan Salivanya. Bibirnya tersenyum kaku seraya menyapa.
"Tu ...tuan, Rey ... Reyahan."
****
Pagi telah tiba. Dion melangkah gontai masuk ke rumah kediamannya. Wajah babak belur, memar di hampir seluruh tubuhnya.
Yah apa lagi, Reyhan tak akan mudah melepaskan mangsa yang datang sendiri mengantarkan nyawa. Ini kesempatan bagus kan?
Dengan penuh tenaga Dion merebahkan tubuhnya di atas kursi sofa. Kelopak matanya mengeriput keras menahan sakit yang didapatnya. Entah dendam kesumat apa Reyhan padanya. Dion pun tak tahu akan hal itu. Yang pasti, pria itu sangat tak suka padanya.
"Rika ...,"
"Reta ...."
Teriak dion beberapa kali dengan suara lemahnya.
Mendengar suara parau itu, dua wanita yang tadinya sedang menikmati sarapan paginya langsung bergegas menuju sumber suara. Ternyata dari ruang tengah.
Terlihat Dion sudah terkapar tak berdaya di sana.
"Mas Dion!" Panik Reta menghampiri sang suami. Rika ikut mengekor di belakang. Wajahnya juga panik melihat Dion yang pulang dengan kondisi seperti itu.
"Apa yang terjadi, Mas? Kau terluka."Reta duduk sembari memangku kepala suaminya.
"Mas, lukumu parah sekali,"
"Apa yang terjadi Mas?"tambahnya. Dion sama sekali tak merespon.
"Mba, cepat telefon dokter."titah Reta pada Rika yang sedari tadi diam tak tahu harus apa.
Rika terkesiap, segera iya mengambil ponselnya lalu melakukan panggilan.
"Halo dok,"
"Datang ke rumah ku sekarang."
"Yah, cepatlah kami menunggu."
Cakap Rika dari panggilan tersambung hingga terputus.
"Bagaimana Mba?"tanya Reta.
Rika mengangguk. "Dokter akan tiba."
****
Satu jam kemudian, sang dokter baru saja melakukan pemeriksaan pada Dion yang kini telah berbaring di kamar. Dua wanita berdiri dengan cemas di belakangnya.
Sang dokter melepas alat yang baru saja melekat di kedua telinganya.
__ADS_1
"Dia baik-baik saja, jangan khawatir."
Reta bernafas lega. Kembali iya mengerutkan alis. Suaminya terlihat masih memejamkan mata dengan kain kasa yang melilit di kening.
"Tapi, kenapa dia belum sadar?"
"Tenang, itu mungkin karena pengaruh anastesi yang telah kami berikan."
Reta berjalan mendekat lalu duduk di bibir tempat tidur. Dia menatap lekat suaminya. Memegang dan menggenggam tangan yang tak terikat tali infus.
Iya menciumnya dengan salah satu bulir air mata yang lolos dari sudut mata.
Rika melihatnya. Sudah sangat jelas bahwa Reta sangat mencintai Dion.
Dari tatapan matanya, sentuhannya, bahkan belaiyan. Hanya orang bodoh yang tak bisa memahami itu.Ternyata pada akhirnya, ada juga seorang wanita yang dapat menggantikan cintanya.
Oh rumah tangga ini semakin tak terkendali saja.
****
Rika masih di kamar Mas Dion dan reta. Iya duduk di kursi sofa dekat jendela. Sesekali manik matanya menatap layar ponsel.
Beberapa pesan sudah iya kirim ke Reyhan melalui pesan WhatsApp.
Tampak pemuda itu belum membalas atau pun Melihatnya.
Sementara Reta, iya masih senantiasa duduk dan menemani Dion yang tak kunjung sadar juga. Terus menggenggam tangan tak ingin melepaskan.
Dengan begitu iya akan tahu jika suaminya itu bangun atau tidak.
Kelopak mata Dion kini bergerak. Perlahan mulai memisah untuk kembali melihat indahnya dunia.
Merasa tangannya mulai keram, iya segera menariknya.
Reta yang tadinya hampir tertidur segera terbangun. Senyum lebar senang terpancar di wajahnya.
Bagaimana tidak, sudah hampir setengah harian ini suaminya pingsan.
"Mas, kamu sudah sadar,"
Mendengar itu Rika juga segera menghampiri.
"Mba, Mas Dion sudah sadar." Terang Reta dengan senyum cerahnya. Kini istri pertama suaminya berdiri di sampingnya.
"Gimana keadaan kamu Mas?" Tanya Rika.
Manik mata Dion seketika menyorot istri pertamanya. Dengan susah paya iya bangkit dan mendorong Rika hingga terpental ke lantai.
"Aduhh!!" Pekik Rika.
"Ini semua gara-gara kamu!"hardik Dion menunjuk wajah istri pertamanya.
"Mas, kenapa Mas?"tanya Reta heran melihat tingkah suaminya. Setelahnya, Segera iya membantu Rika yang masih tersungkur ke lantai.
"Aduh perutku!"rintih Rika memegangi perutnya yang nampak masih rata.
"Ayo Mba, saya bantu."
__ADS_1
Dion menghentikan Reta dengan cara menarik tangannya hingga kembali berdiri.
"Aku minta, kamu gak usah bantu wanita rendahan ini!!"
"Asal kamu tahu, karena dialah aku babak belur seperti ini!!"
"Hahh, maksud kamu Mas?" Reta tak paham.
"Ayahnya si tua Bangka yang keparat itu tak mempekerjakanku lagi di perusahaan."
"Masssss!!!!!!!!!!"
"Cukuppp kamu!!" Rika menghentikan Dion yang telah mengatai ayahnya tuan Huda.
Iya berusaha bangkit dengan masih memegangi perutnya.
"Cukup kamu mengatai ayahku!! Aku tidak akan terima!! Lancang sekali kamu!!" Murka Rika dengan mata yang berapi-api. Iya tak peduli lagi sekarang. Suaminya itu lagi dan lagi berkata tak enak padanya.
"Selama ini aku selalu diam dengan perlakuan kalian! Tapi sekarang tidak lagi, jika ini menyangkut orang tuaku maka aku tidak akan tinggal diam!"
"Memangnya kamu mau apa? Hahh!! Apa yang bisa kau perbuat dengan rahim rusakmu itu?"
"Masssss!!!"
"Plakkkk!!" Teriakan Rika disertai tamparan dahsyat yang menyusul di belakang.
Iya sangat marah sekarang. Tak segan-segan iya berikan stempel lima jari di pipih yang memang dari awal sudah bengkak itu.
"Rika, tega sekali kamu memukulku. Aku ini lagi sakit."Ringis Dion memegangi sebelah wajahnya.
"Itu balasan untuk kamu Mas. Pokoknya, aku akan membalas semua perlakuan kamu terhadapku. Aku tidak akan membiarkan kalian menindasku lagi! Ingat itu."
"Mba, gak gini juga. Kasian Mas Dion dia lagi sakit." Bela Reta. Segera iya mengecek bekas tamparan itu. Memang ada bekas lima jari di sana. Rika memang tak main-main dengan itu. Betapa keras pukulannya tadi.
Rika menarik salah satu sudut bibirnya. Iya tersenyum miring. Mulutnya mulai mencemooh.
"Hehh, untuk apa membelanya. Itu balasan yang tepat untuknya. Lihat saja, cepat atau lambat pria bajingan ini akan berbalik memukulmu."
"Rika! Jaga ucapanmu. Aku ini suami kamu, tega sekali kamu mengataiku bajingan." Kata Dion tak terima.
"Cih, suami yang telah melakukan KDRT pada Istrinya. Gitu kan Mas,"
"Rika." Geram Dion tapi tak bisa apa-apa.
"Mas sudah dong. Emang benar kamu juga akan memukulku?"Tanya Reta mulai tak yakin tentang suaminya.
Mengingat perlakuan Dion pada Rika selama ini tak menutup kemungkinan bahwa iya akan diperlakukan sama. Apa lagi sampai sekarang Reta belum hamil juga. Oh astaga wanita kedua ini jadi resah sekarang.
"Tenang saja, aku akan selalu bersikap baik padamu. Selama kamu bisa memberiku anak yang banyak."
Reta jadi terharu mendengarnya. Yah dia kan wanita yang subur. Sudah dibayangkan bahwa hanya ada kebahagiaan yang akan menyinari mereka nantinya.
Ditambah kehadiran ribuan anak yang akan menemani perjalanan hidup keduanya.
"Makasi Mas."
Rika hanya bisa mendecih dengan kasar.
__ADS_1
"Dua orang ini terlalu berhayal tinggi."
....... happy reading like, vote and komen favoritkan juga yah