
Senyap seketika. Dion dan Reta diam tak bergeming. Tidak, kedua orang itu masih mengira bahwa ini adalah sebuah mimpi. Mimpi yang mungkin adalah sebuah kenyataan.
"Bos, dia masih belum menandatangani surat cerainya." Ujar Randy.
Reyhan memasang wajah datar dan dinginnya.
"Rika sudah bahagia denganku, menyerahlah "
"Hhahahahahha ....!! Ahahahha ...!! Dion malah tertawa dengan air mata yang bergenang di pinggir matanya. Orang lain akan ngeri jika melihat itu.
"Rika, ayo katakan bahwa ini bohong. Ayolah," bujuk Dion tak terima dengan kenyataan pahit itu.
"Rika, kupikir kau mencintaiku, ayolah katakan bahwa ini adalah kebohongan."
Sejenak Rika memejamkan mata. Membuka kemudian mulai mengatakan semua yang ada.
"Tidak, ini semua nyata Mas. Aku sudah bersama Reyhan sejak kau menikah dengan Reta. Sepanjang malam dia selalu hadir menemi dan mengusir kejenuhan dan kesepianku. Tiada malam yang kulewatkan sendiri."
"Ahaha ... Kau berbohong Rika, aku selalu di rumah ketika malam hari. Bagaimana mungkin?"
"Reyhan bahkan mempertaruhkan nyawanya hanya untuk bertemu denganku. Memanjat dinding itulah yang iya lakukan setiap malam."
Tawa Dion mulai memudar.
Iya terdiam.
Ingatannya kembali ke kejadian tengah malam itu. Apakah bukan maling? Pria ini jadi memikirkan kejadian waktu itu. Rika juga sempat melarang dirinya masuk dan memeriksa ke dalam kamar.
Saat iya hendak masuk Reta justru datang dan membawanya pergi.
Cih, Dion mengepalkan jari-jemarinya. Ekspresi tawanya dengan cepat terganti menjadi kemarahan besar. Iya berusaha mendekati Reyhan dan melayangkan tinju di wajahnya. Tapi beberapa orang menahannya.
Menangkap tangannya dan mengunci ke belakang.
"Lepaskan!! Lepaskan aku!!! Dasar bajingan!! Biarkan aku memukul wajahnya!!" Berontak Dion.
Sekarang dirinya jadi tahu kenapa Reyhan sangat benci padanya. Ternyata istri pertamanya, Rika menjalin hubungan dengannya.
"Mas, kita memang harus bercerai."Rika mengambil surat cerainya dari Randy. Iya melangkah mendekat dan menyodorkan kertas pemisah itu ke hadapan Dion.
"Ini memang berat Mas, dan aku sudah menderita sekian lamanya. Luka yang kau berikan sangatlah berat."
"Tanda tangani ini, aku masih berbaik hati. Jika Reyhan, maka dia akan menghabisimu."
Dengan getir Dion meraih kertas pemisah itu. Terpaksa tanda tangannya Iya ukir di sana.
Rika kembali mengambil kertas itu. Langkah selanjutnya adalah menyerahkan ini ke pengadilan setelahnya iya akan terbebas sepenuhnya.
__ADS_1
Reyhan kembali merangkul pinggang ramping Rika. Memeluk dengan erat enggan melepaskan. Sudut bibirnya tersenyum penuh kesenangan.
"Ayo sayang, kita pulang."
****
Mobil Reyhan kembali melaju di jalan raya. Rika tampak diam memandang keluar jendela. Rasanya iya belum bisa bernafas lega. Ada satu lagi yang masih mengganjal di hati. Kemandulan dirinya. Reyhan, iya belum tau akan hal itu.
Mau kah dia menerima Rika apa adanya. Tidak, Rika sedikit ragu akan hal itu. Reyhan adalah seorang pebisnis. Dia tentu membutuhkan seorang keturunan untuk melanjutkan hidupnya. Tentu itu hasil darah dagingnya. Huf, malang sekali nasib ini.
Cobaan bahkan tak ada hentinya menerpa. Reyhan, apa reaksinya jika mengetahui hal yang sebenarnya.
"Masih memikirkan mantan suami mu itu?" Sela Reyhan di tengah perjalanan itu.
Rika berbalik dan tersenyum padanya.
"Tentu tidak, mimpi buruk ku sudah berakhir sekarang."
Reyhan melirik sekilas, tampak iya siap mendengarkan curahan hati Rika.
"Terus?" Tanyanya.
Rika menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Iya membuang pandang ke depan.
Tak berani menatap Reyhan dengan menceritakan kekurangan yang iya punya. Oh apalah daya.
"Penyebab Dion menikah lagi, karena aku mandul, dia ngebut ingin punya anak."
"Lalu?"
Rika terpaku. Keningnya mengerut. Iya menoleh ke arah pria yang sedang fokus menyetir itu . Lalu, pertanyaan itu yang keluar dari celah bibir pria di sampingnya. Tidakkah dia kaget mengetahui bahwa wanita yang dicintainya mandul?
Oh mungkin dia tak mendengarnya.
"Reyhan, aku mandul!" Rika mengulang Perkataannya.
"Yah, lalu?"pertanya itu lagi. Rika semakin heran.
"Kau tak keberatan kah?" Tanyanya menatap serius pemuda itu.
Reyhan menghentikan mobilnya. Kini iya juga berbalik dan menatap lamat wanita cantik yang seakan meminta penjelasan darinya.
"Tentu tidak. Cintaku lebih besar dengan keinginan punya anak. Jika kau tak dapat memberi, yah sudah. Tak apa, aku tak akan memaksamu Rika, karena aku mencintaimu."
Rika terenyuh. Kata-kata manis itu seakan hendak membuatnya melayang di udara. Oh Reyhan, wanita ini sangat terharu mendengarnya.
Rika kembali memalingkan wajahnya ke arah Jendela mobil. Senyum bahagia tak pudar di sana. Itu bisa terlihat dari pantulan kaca. Pipi itu memerah. Reyhan, jangan sampai iya melihat itu. Iya jadi sedikit gugup karenanya.
__ADS_1
Cupp!!
Pria itu meraih tangan Rika kemudian menciumnya dengan mesrah. Oh jantung ini, dia berdebar dengan begitu cepatnya.
Sudahlah, kebahagiaan ini tak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata. Rika bahagia, sangat bahagia.
"Kita mampir ke rumah sakit, setelahnya kita ke rumah ayahmu untuk meminta restu."
Reyhan kembali menjalankan mobilnya. Melaju dengan cepat hingga tak lama kemudian tibalah di rumah sakit terbesar di kota itu.
Reyhan segera turun. Berjalan ke arah pintu sebelahnya dan membukan untuk Rika. Wanita itu tersenyum. Bergandengan tangan kemudian melangkah masuk.
****
Di dalam. Antrian terlihat panjang. Rika menarik tangan Reyhan untuk ikut bergabung. Duduk dan berada di nomor paling terakhir. Reyhan menahannya.
"Apa kau lupa siapa priamu? Aku bahkan bisa membeli rumah sakit ini."
Rika terpaku. Manik matanya menatap orang-orang yang sudah lelah dengan antrian itu.
Rika terhuyung karena pria itu langsung menarik tangannya. Masuk dan langsung ke ruangan sang dokter. Melewati antrian panjang itu.
Entah kenapa Rika merasa tatapan mencekam mengenai dirinya. Iya merinding dan sedikit ngeri. Menelan liur dengan paksa hanya itu yang bisa di lakukanya.
"Dokter Rival!! Aku ingin kau memeriksa wanitaku." Ujar Reyhan ketika bertemu dengan pria yang memakai jas putih rapi itu.
"Reyhan! Kau??" Kejut Rival melihat teman karibnya sudah duduk di hadapannya bersama seorang wanita. Dia langsung masuk tanpa permisi sedikitpun.
Entah apa kata orang-orang yang sudah dari tadi pagi menunggu. Oh kegaduhan juga mulai terdengar dari luar sana.
"Ada apa?"tanya Reyhan menaikkan salah satu alisnya. Rasa bersalah sedikitpun tak iya rasakan.
Rival hanya menggeleng. Alisnya mengerut. Ingin berkomentar tapi cecaran dari mulut sahabatnya pasti jauh akan lebih pedas darinya. Ini salah satu ke ennekan jika punya sahabat yang kurang akhlak. Iya hanya bisa menurut dengan paksa.
"Periksa wanitaku!"
Rival tak terkejut. Sebelumnya iya memang sudah membicarakan ini dengan Randy. Menggosipi Reyhan yang katanya mendekati istri orang. Hahahahha ..... Mulut lelaki kadang suka rumpi juga.
Rival menatap lekat wajah Rika. Iya ingin melihat wanita seperti apa sih yang membuat sahabat karibnya itu mabuk kepayang. Katanya sih cantik. Dan ternyata itu benar.
Belum sempat pria itu mengungkapkan kekagumannya, keningnya langsung mendapat sentilan.
"Aw!! Reyhan!"Ringisnya.
.................. happy reading............
like, vote, komen and foforitkan juga yah
__ADS_1
jika tidak penulis malang akan sedih