
Siang telah berganti malam. Dion tampak masih berdiri di balkon kamar. Malam ini iya tidur di kamar tamu.
Tak ada sedikitpun niat nya untuk membujuk ataupun minta maaf kepada istri keduanya. Reta, Iya masih duduk di bibir ranjang sembari menatap pintu yang mungkin sebentar lagi akan diketuk suaminya.
Sayangnya, dion sama sekali tak melakukan itu. Iya berdiri menyandarkan tubuhnya di besi pembatas balkon. Matanya menatap indah lagi malam yang penuh taburan bintang. Alangkah indahnya langit Ini. Andaikan itu seindah hidupnya. Pasti dirinya akan sangat bahagia.
Dion tak meminta banyak, Iya hanya menginginkan kehadiran seorang anak yang dapat mewarnai hidupnya.
Rika tak bisa mewujudkan harapannya. Reta, Apakah dia bisa? Sosok pria termenung ini jadi ragu padanya. Pikirannya mulai mengarah kepada nasib buruk istri pertamanya.
Jangan-jangan Reta istri keduanya itu itu juga mandul. Mungkin saja dia juga tak bisa memberikannya keturunan.
Ahhh, pikiran itu terus berputar di kepalanya. Belum lagi perkataan dokter kandungan itu tadi siang. Kepala Dion seakan ingin pecah kala mengingatnya.
Apa jadinya jika kedua istrinya itu tak bisa memberikannya anak. Ibunya pasti akan menyuruhnya. Dan Dion, tentu saja mungkin akan melakukannya.
Malam kini semakin larut. Dion enggan mengistirahatkan tubuhnya diatas kasur empuk dan nyaman itu. Sudah lama rasanya Iya tak menghabiskan waktu dengan angin malam sesejuk ini.
Mungkin iya hanya akan terus berada di tempat itu meskipun pagi telah menjeng.
"Krekkk!!"
Suara jendela terbuka tiba-tiba menyadarkan pria itu dari lamunannya. Iya pasti tak salah dengar. Bagaimana tidak? Bunyi itu keras sekali, hanya orang tuli yang tak mendengarnya Clingak-clinguk, Dion mencari sumber suara.
Malam-malam begini Siapa yang membuka jendela? Batinnya.
Karena tadinya dia memang sedang berada di kamar tamu lantai bawah. Dengan cepat ia pun kini sudah berada di halaman rumah.
Dilihatnya jam tangan yang melekat di pergelangannya.
Hampir jam satu. Itulah yang tertera di sana. Pasti maling, cakapnya menerka
Mana ada orang yang keluar di jam selarut ini. Kecuali dirinya yang masih terjaga karena keresahan hatinya.
"Krekkk!!"
Suara itu kembali terdengar. Perhatian Dion mengarah kepada kamar Rika yang penerangnya sudah mati.
Pria itu menyorotnya. apa istri pertamanya itu belum tidur? Tapi tak mungkin, ini sudah malam. Rika bukan orang yang suka begadang. Jadi tak mungkin jika iya masih terjaga seperti dirinya.
Dion jadi penasaran. Takutnya, suara yang barusan di dengarnya itu adalah maling. Rika pasti dalam masalah jika iya tak segera mengeceknya.
Sementara itu, Rika tampak sedang mendumel parah kepada pria yang tiap malam tak pernah absen mendatanginya. Rika takut suara gaduh Reyhan tadi mengundang perhatian.
"Kenapa berisik sekali sih?"
__ADS_1
"Jangan salahkan aku, salahkan kaki bodohku ini. Bisa-bisanya dia menendang kaca."Desis Reyhan memperlihatkan kaki panjangnya.
"Aku takut jika mas Dion mendengarnya."terang Rika khawatir. Pria ceroboh di depannya itu membuatnya merasa tak tenang.
"Tenanglah," Reyhan memegang kedua pipi tirus itu.
"Dia tak mungkin mendengarnya. Ini makanan yang kau minta. Kau harus segera memakannya supaya tenagamu cepat pulih."
Imbuhnya menyerahkan satu bingkisan kecil.
Rika meraihnya kemudian meletakkannya di atas meja.
Perasaan was-was masih menghantui dirinya. Tak pernah terbayangkan bagaimana jika Dion mengetahui perbuatannya selama ini.
Entah perkataan apa yang akan keluar dari mulutnya itu.
Reyhan kini mendudukkan tubuh mungil Rika di kursi sofa. Setelahnya iya menyalakan lampu agar semuanya terlihat jelas.
Pria itu melonggarkan dasi yang melilit di lehernya.
"Aku akan mandi, setelahnya kita tidur." Cakap Reyhan kemudian masuk ke dalam kamar kecil itu.
Rika masih duduk dengan rasa ketakutannya. Iya sangat gugup sekarang. Entah ada apa dengannya.
Baru kali ini iya merasa sangat khawatir. Dia melah memikirkan bagaimana jika tiba-tiba saja Dion suaminya datang dan melihat semuanya.
Darahnya seperti berhenti mengalir. Belum lagi jantungnya yang seakan ingin terbang ke luar.
Rika bangkit dengan paniknya. Cairan salifanya bahkan susah untuk iya telan.
"Rik! Rika!! Rika apa kau sudah tidur?"Benar saja apa yang dipikirkan Rika sedari tadi ini.
Dion suaminya berdiri di luar meminta dibukakan pintu. Oh astagaa Rika berharap iya punya kekuatan menghilang sekarang ini. Apa yang harus iya lakukan.
Reyhan berada di kamar mandi. Bagaimana jika Dion melihatnya.
Ahh, bodoh dasar gila, wanita itu jadi pusing tujuh keliling dibuatnya. Apakah iya harus memberi tahu Reyhan tentang ini? Tapi jika Rika memberi tahu Reyhan, Dion pasti akan mendengar suaranya. Suasana pasti akan tambah kacau.
"Rika! ini Mas. Apa kau tidur?" Panggil Dion sekali lagi karena tak ada sahutan dari istrinya.
Rika menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan kasar. Iya mencoba untuk menenangkan diri.
Jika iya panik, Dion suaminya pasti tambah akan curiga dengannya.
Rika mengacak-acak rambutnya. Matanya juga iya kucek sampai terlihat memerah.
__ADS_1
Waktunya bermain sinetron.
Wanita itu kembali menelan paksa salifanya. Perlahan tangannya memutar kenop pintu. Pintu terbuka setengah, kemudian iya mengeluarkan sebagian tubuhnya.
Rika menguap dengan tangan yang mengucek mata. Tampilanya kini seperti seseorang yang baru bangun tidur.
"Kenapa Mas?"
Dion kini berdiri tepat di depan Rika. Alisnya mengerut setelah melihat tampilan istrinya yang seperti itu.
"Baru bangun?" Tanya Dion sedikit heran.
Rika kembali menguap, setelahnya iya menjawab" tentu saja, kenapa sih Mas?"
Dion terkesima dengan jawaban istrinya.
Ekspresi herannya berubah datar sekarang.
"Mas mau masuk, tadi Mas dengar suara dari kamar kamu."
Rika menaikkan alisnya.
"Hahh, suara apa Mas? Gak ada kok. Tadi aku tidur,"
"Aku yakin, tadi itu Mas dengar ada yang buka jendela kamar kamu. Mungkin itu maling."terka Dion berusaha masuk dan memeriksa.
Rika tetap berdalih agar suaminya itu tak menginjakkan kaki ke dalam kamarnya.
"Aduh Mas, maling apa sih? Dari tadi tuh aku gak dengar apa. Mungkin itu perasaan kamu, atau mungkin suara kucing yang gak sengaja nendang kaca."
"Hahhh kucing nendang kaca?"ulang Dion tak paham.
Rika gelagapan jadinya. Aduhh mulutnya ini sangat tak pandai dalam membuat alasan.
"Em, maksudnya mungkin itu suara kucing yang emm, mungkin mau kawin Mas makanya ribut gitu."
Dion tambah mengerutkan alisnya, iya semakin tak paham dengan alasan istri pertamanya itu.
Sebelum Dion kembali berucap Rika dengan cepat menambah kalimatnya.
"Aduh udah yah Mas, aku ngantuk. Besok aja baru cari malingnya." Rika hendak menutup pintu namun Dion menahannya karena iya yakin bahwa memang tadi iya dengar suara dari dalam sana.
"Mas harus masuk, bagaimana kalau di dalam ada maling? Pokoknya Mas harus masuk dan memeriksa."kekeh Dion tak terbantahkan.
Rika jadi pusing dengan alasan apa lagi yang harus iya katakan. Dion pasti tak akan mengurungkan niatnya.
__ADS_1
................ happy reading............
like, vote, and komen favoritkan juga yah