Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 79


__ADS_3

"Rik, kumohon, dia anak-anak ku kan?"


"Katakanlah Rika!" Dion berlutut memohon di depan mantan istrinya itu.


Tampak Rika malah membuang pandangan matanya. Muak rasanaya jika melihat drama itu. Sudah melakukan seribu kesalahan sekarang baru sadar dan meminta maaf.


Cih, itu menjijikkan.


Apa dia pikir dengan memohon begitu bisa menghapuskan semua luka di dalam hati? Itu hanya akan merusak citra pemain utama jika drama itu dilihat oleh penonton yang tak paham dengan awal ceritanya.


Hufff,


"Rey, ayo pergi." Ajak Rika yang sudah nampak bosan.


Reyhan merangkul pinggang Rika kemudian membawanya berlalu dari tempat itu.


****


Di dalam mobil. Suasana tampak sepi. Hanya suara deruman mobil yang terdengar terus melaju. Sementara supir dan penumpangnya hanya diam tak berbicara. Reyhan fokus mengemudi sementara Rika menatap ke luar jendela mobil.


Citttt!!


Seketika mobil berhenti yang membuat wanita hamil itu tersadar dari lamunannya.


"Rey, kok berhenti?"tanya Rika yang celingak-celinguk melihat sekelilingnya.


Terlihat mereka sedang berada di depan sebuah pusat perbelanjaan yang sangat ramai akan pengunjung nya.


"Ayo turun."ajak pemuda itu.


Rika patuh iya turun dari mobil dan langsung bergabung bersama Reyhan yang sudah menunggunya.


"Kita berbelanja?"


Reyhan mengangguk.


"Kau tak lupa kan dengan acara ulang tahun Oma ku."


Rika terdiam sejenak. Acara besar itu. Iya bahkan hampir melupakannya. Ah bodoh, acara sebesar itu bagaimana dia bisa lupa. Itu bahkan sudah menjadi notifikasi pemberitahuan di semua ponsel.


Banyak juga media-media yang sudah meliput dari awal persiapan besar itu. Hanya sebatas ulang tahun. Eh jangan salah, ini ulang tahun seorang Oma dari Reyhan Ardiwiningrat.


Tentu akan diadakan sebesar mungkin. Itu juga untuk menunjukkan sisi dari siapa sebenarnya keluarga Ardiwiningrat itu dan juga seberapa bertalenta perusahaan Andorgroup itu yang dipimpin oleh Reyhan sendiri. Tentu ini akan menjadi berita populer kan.


Orang akan untung besar jika masuk dan menjadi tamu undangan nanti. Wah, menjadi tukang sapu dan cuci piring di tempat itu saja sudah sangat beruntung rasanya.


"Ayo, ajak pria itu."


"Kita akan beli gaun."tambahnya.


Rika hanya ikut melangkah saja. Beli gaun. Dia bahkan seorang desainer juga. Tentu iya juga sudah menyiapkan gaun untuknya dipakai nanti.

__ADS_1


Tapi sayang gara-gara perampokan yang direncanakan manatan ibu mertuanya itu, gaunnya jadi rusak. Bukan hanya rusak tapi kini sudah hilang entah kemana. Mungkin kini sudah ikut dijual perbelikan seseorang.


Ah, terserahlah.


Beli gaun baru dan mahal juga bagus, lumayan buat tambahan koleksi dan motifasi.


Hehehe ....


Wanita itu terkekeh dalam hati.


"Hey, aku bukan wanita Matre yah!"


"Iya, iya. Lalu kenapa kau tertawa?"


"Aku hanya tertawa karena mau berbelanja."


"Oh,"


"Aku bukan wanita Matre! Ingat itu,"


"Iya,"


"Aku juga bukan wanita yang gila duit!"


"Iyaaaaaaaaa!!!"


Debat Rika dengan sang penulis. Iya tak mau karakternya diganti. Menjadi wanita pekerja keras hanya itu yang iya mau.


Heh,


****


"Tuan kami akan memperlihatkan beberapa koleksi kami."ucap wanita itu dengan ramah. Dia adalah manager dari toko itu.


Reyhan mengangguk tipis kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi sofa. Rika datang dan ikut duduk juga.


"Sayang, silahkan kau pilih." Ujar Reyhan pada Rika. Dihadapannya kini sudah terpampang beberapa gaun dan karya desainer terkenal juga.


Setelah cukup lama memilih akhirnya Rika menemukan gaun yang sangat cocok dan pas juga untuknya.


"Rey, aku akan memilih untuk mu."


Pemuda itu mengangguk.


"Baiklah,"


Rika kembali memilih. Mencari dan terus mencari setelan kemeja yang sangat pas untuk Reyhan. Jangan sampai salah. Mengingat ini akan dipakainya untuk acara besar dan penting nanti.


Karena tak menemukan yang bagus di hadapannya, Rika mencoba berkeliling guna menemukan yang iya cari. Sebelum menjelajah iya berbalik melihat Reyhan yang tampak sedang memainkan ponselnya.


Mungkin sedang membalas email kantornya. Sudah biarkan saja dia. Rika akan menemukan kemeja yang sangat bergaya untuknya.

__ADS_1


Rika kembali hendak melangkah.


Tiba-tiba,


"Kyaaaa!!!" Rika berteriak kencang karena kakinya mulai kehilangan keseimbangan. Dia terpeleset dan


"Bukkk!!" Beruntung saja tubuhnya mendarat di pelukan seorang pria.


"Kau tak apa?"tanya pria itu yang ternyata adalah Reyhan.


Yah, pemuda itu bergerak cepat untuk menangkap tubuh wanitanya yang entah apa yang akan terjadi jika jatuh ke lantai.


"Rey," Rika hanya bisa berkata itu dengan jantung yang masih berdebar-debar. Iya terkejut bukan main. Untung saja pemuda itu muncul dan dengan cepat menangkap dirinya.


Kalau tidak, kalian pasti bisa menebaknya. Jatuh terpeleset di lantai basah pada saat sedang hamil empat bulan.


Reyhan memasang wajah datar dengan mata yang memicing. Perlahan iya dudukkan tubuh Rika itu di kursi sofa. Setelahnya iya bangkit dan mulai memanggil manager toko itu.


"Apa saja yang kalian lakukan? Wanitaku sedang hamil!! dan dia hampir terpeleset!! Tutup toko kalian!!!"


Suara itu menggema di setiap telinga karyawan yang tampak sudah berbaris berlutut dan menunduk menerima amarah besar seorang Reyhan.


Yah, pemuda itu sudah murka. Siapa yang bisa meredanya. Akibat kesalahan itu sebuah toko terkenal dan laris di tempat itu terpaksa gulung tikar. Reyhan sudah berkehendak dan itu akan terjadi.


"Rey, sudahlah. Ayo kita pergi."Rika menarik paksa tangan pria itu dan membawanya pergi. Tampak Wanita itu terus menenangkan Reyhan yang masih berapi-api.


Di dalam mobil, Reyhan masih tampak sangat kesalnya. Rika sudah mencoba menghiburnya namun itu tak ada artinya.


"Rey, udah dong marahnya. Lagipun aku kan tidak jadi jatuh, aku baik-baik saja Rey,"


"Iya, tapi bagaimana kalau tadi aku tidak menolongmu!!"suara pria itu meninggi.


"Bayi kita taruhannya Rika!!"


" Aku tidak mau kehilangan mereka, kau juga kan? Makanya, kita benar-benar harus menjaganya! Aku juga tidak mau kalau sesuatu terjadi padamu."


Rika tertegun. Ada rasa menyeruak di hati. Ini kali pertama Reyhan membentaknya. Rasanya sedikit sesak. Itu sebabnya wanita itu kini terdiam.


Sementara Reyhan, iya baru sadar akan volume suaranya yang tadi sempat meninggi. Kini iya berbalik menatap Rika yang sudah terdiam di sebelahnya.


"Rik, Rika, maaf. Maafkan aku Rika, aku tidak bermaksud." Tangan Reyahan terulur pelan kemudian menarik Rika ke dalam pelukannya.


Rika menangis, dan Reyhan terus memeluk dan menenangkannya.


Berkali-kali mengecup puncak kepalanya. Sampai akhirnya tangis Rika mereda.


"Maafkan aku Rika, aku sungguh tidak punya maksud untuk menyakitimu."


"Aku hanya panik karena kau hampir terjatu tadi. Aku sungguh panik. Mulut bodohku ini terus mengoceh tanpa henti itu kesalahannya."


Ungkap Reyhan sekali lagi meminta maaf.

__ADS_1


Rika melepas tubuhnya dari dekapan Reyhan. Kini dia menatap lekat pemuda itu. Sudah hapal jelas bagaimana mana bentuk ceruk wajah tampan itu.


........... happy reading like vote komen and foforitkan juga yah


__ADS_2