
Malam harinya, Rika baru selesai dengan pekerjaan butiknya. Baru saja iya hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba seseorang datang membekap dan mengangkat dirinya pergi.
"Heyyy!! Lepaskan aku!!! Tolong!!! Aku di culik!! Tolong!!!!" teriak Rika meronta-ronta.
Seseorang itu pun membawa dirinya ke tempat yang terlihat sepi. Hal itu membuatnya semakin yakin bahwa sekarang ini dirinya memang sedang diculik.
"Tolonggg!!! Aku diculik!!! Tolongg!!! Ada yang menculikkuhh!!!"
"Diamlah, apa kau tak bisa mengenali kekasihmu sendiri?" Cerca orang itu sembari menurunkan Rika yang sedari tadi melakukan perlawanan.
Rika terkejut setelah mendengar suara familiar itu. Kini iya melihat siapa penculik dirinya.
"Reyhan! Apa yang kau lakukan? Kau menakutiku,"omelnya.
"Bagaimana bisa kau berbuat begini terhadapku?"tambah Rika dengan mulut manyunnya.
"Hey, apa wanita pujaanku ini sedang marah? Wah ternyata begini kalau sedang marah,"bujuk Reyhan dengan memegang kedua pipi wanita di hadapannya itu.
Rika menepis karena rasa kesalnya. Pikirnya tadi memang iya sedang diculik layaknya di novel-novel yang telah dibacanya.
Huuffff!! Menjengkelkan sekali, kenapa Reyhan tidak datang dengan sebuah kuda, Bungan, atau kalau bisa helikopter biar kaya romantis gitu.
Sudahlah.
"Aku akan membawamu ke suatu tempat."cakap Reyhan dengan menggenggam kedua tangan wanita yang disayangi nya itu.
Rika mendongak.
"Kemana?"
"Berbelanja."
Kembali Rika menunduk dan melepas pegangan tangan Reyhan.
"Tidak mau."
Reyhan sedikit terkejut dengan mengerutkan keningnya. Baru kali ini iya mendengar penolakan dari wanita tentang berbelanja.
Bukankan hepi-hepi dan menghabiskan uang adalah kegemaran setiap wanita? Apakah fakta itu sudah beruba sekarang? Hahhhh! berubah? Apa itu mungkin?
"Kau tak ingin berbelanja?"ujar Reyhan mengulang pertanyaannya.
__ADS_1
Rika menggeleng. "Tidak mau."
Reyhan kini menampakkan senyum di wajah tampannya. Jari telunjuknya dengan lembut mendongakkan wajah Rika itu ke atas. Ke empat Indra penglihatan itu akhirnya kembali bertatapan dengan dalamnya.
Entah mengapa Rika merasa aman dan tenang jika melihat Reyhan begitu.
Hal itu juga ikut dirasakan sosok pria yang sedang jatuh cinta itu, melihat Rika seperti ini, iya merasa memiliki cinta yang sempurna di hidupnya. Kasih sayang yang kurang didapatkannya selama ini jadi lengkap dengan adanya wanita ini di sisinya.
Namun apakah semua itu akan bertahan lama?Tidak bisa dipungkiri bahwa Rika itu milik orang. Dia wanita yang sudah memiliki suami. Hal itulah yang selama ini mengganjal di hati dan fikiran seorang bos besar itu. Iya juga merasa bodoh karena baru bertemu Rika sekarang ini. Kenapa tidak dari dulu pertemuan mereka terjadi?
Aahhh!! Bodoh sekali.
"Aku akan membawamu ke tempat yang paling indah di dunia ini."Rika tersenyum dengan lebarnya.
"Kalau itu, aku mau. Ayo jalan."
Tanpa menunggu lagi segera Reyhan membawa Rika masuk ke dalam mobil. Kendaraan roda empat itu pun dengan cepat melesat dan bersatu dengan padanya kendaraan lain yang masih berlalu-lalang.
****
Selang beberapa jam kemudian, mobil pun sampai di tempat tujuan. Reyhan melirik ke kursi sampingnya. Tampak Rika menguap karena kelelahan.
"Oh, kita sudah sampai yah."kata Rika dengan suara paraunya. Iya kini mengucek-ngucek matanya.
"Ayo turun."ajak Reyhan lalu keluar dari mobil.
Setelah perasaannya membaik, Rika pun membuka pintu mobil untuk keluar dan melihat apa sebenarnya yang ingin pria itu tunjukkan padanya.
Baru saja iya keluar, matanya tiba-tiba dikejutkan dengan pemandangan kota yang sangat indah. Mereka ternyata sedang berada di hutan gunung kota yang sangat tinggi. Di atas, semuanya terlihat. Lampu bangunan, jalanan, perumahan, dan lainya tampak seperti Kilauan bintang yang sedang berkelap-kelip.
Sungguh pemandangan yang sangat indah. Rika bahkan tak tahu jika ada tempat ini di kotanya. Ini sangat cocok bagi seseorang yang sedang dimabuk cinta.
Rika masih dengan takjubnya melihat pemandangan indah itu. Iya kini berdiri di bibir tebing sembari merentangkan kedua tangannya. Iya bebas menghirup udara yang terasa sangat segarnya. Melepas penat setelah usai bekerja sangat cocok di tempat ini.
Bukan hanya itu, segala keluh kesah juga baik di lepaskan dan dibuang di sini.
"Apa aku boleh berteriak?" Tanya Rika memalingkan pandangannya ke arah Reyhan.
Pria yang sedang bersamanya itu tampak sedang duduk di kursi yang telah di sediakan. Sembari memandangi gadisnya, Reyhan tersenyum dan menjawab pertanyaan itu.
"Tentu saja, siapa yang akan melarangmu."
__ADS_1
"Apa penunggu tempat ini tak akan menegurku?"
Reyhan terkekeh geli dengan pertanyaan konyol itu. Setelahnya, iya pun kembali berkata.
"Kau ingin berteriak, atau melakukan hal lain denganku?"
Rika terdiam batu mendengarnya. Bisa-bisa Reyhan masih punya pikiran itu di tempat seperti ini. Apa gairah seorang bos besar memang setinggi ini? Jika hal itu memang terjadi, lalu dimana dia akan melakukannya? Dimana juga iya akan berbaring?
Rika yang tadinya terhanyut dalam pikiran itunya, segera tersadar. Iya memukul pelan wajahnya sembari menggelang kepala. Kenapa dirinya malah ikut memikirkan hal aneh semacam itu? Entah ada apa dengannya?
Reyhan hanya bisa tertawa kecil kala melihat tingkah bodoh wanita yang menjadi penghuni hati dan otaknya.
Iya merasa bahwa Rika terlihat sangat menggemaskan dengan fikiran liarnya.
Wanita yang terlihat cantik dan anggun itu kembali memandang luas perkotaan yang terhampar begitu besarnya.
"Aaaaaaaaaaaaahhhh!!!"teriaknya melepas penat. Suarannya seakan berlalu dibawah angin yang bertiup sepoi-sepoi.
Setelah melantunkan beberapa suara, kini Rika bergabung bersama Reyhan untuk menikmati suasana yang ada. Keduanya tampak bersantai seraya menghirup udara yang terasa segar itu.
"Ini adalah tempat faforitku. Jika aku merindukan kedua orang tuaku. Maka tempat inilah yang menjadi pelarianku."kata Reyhan mengungkapkan isi hatinya.
Rika berbalik menatap pria di sampingnya. perasaan sedih seketika menghampiri pebisnis kaya itu. Rika tak menyangka bahwa pria yang biasanya selalu bersikap angkuh dan arogan ini, punya luka besar yang terpendam di dalam hatinya kecilnya. Tampaknya, kehidupan kecil Reyhan tak sebahagia yang dikatakan orang.
Rika jadi tak tega melihatnya.
"Semua orang mengatakan bahwa aku ini kejam, dingin, hidup tanpa ekspresi, dan entah apa lagi. Ck, satu yang tak mereka tahu, aku ini kurang kasih sayang." Ungkap Reyhan disertai satu tetesan air mata yang keluar dari salah satu Indra penglihatannya.
Merasa diperhatikan, segera iya mengusap air putih bening itu yang masih tertanggal di pipi.
Melihat itu, Rika langsung menghentikannya. Mereka hanya berdua, jadi tak apa jika salah satu darinya mau berbagi cerita.
"Tak usah menghapusnya. Kau bisa bercerita, aku akan selalu ada untukmu."
Reyhan tertegun mendengarnya. Akhirnya iya menemukan seseorang yang bisa mendengar curahan hatinya. Kini iya berbaring di pangkuan Rika. Dengan lembut Rika mengelus dan membelai rambutnya. Pebisnis kaya itu tampak merasa nyaman dan tenang. Iya kini memejamkan mata dengan berehat sejenak.
Hidup tanpa kasih sayang kedua orang tua memanglah sangat menyedihkan. Seseorang yang pernah merasakannya pasti akan mengatakan hal yang sama. Bayangkanlah, betapa menyakitkannya itu.
............semoga bahagia......
like, comen, and vote
__ADS_1