
Budayakan Like Sebelum Baca🍻
Kali ini di mulainya adegan Action dan Romantis di cerita ini. Ikuti terus sepak terjangnya percintaan dan pertempuran Rama & Sinta
****
Di sebuah ruangan gelap, terdapat meja bundar dan lima kursi yang sudah di duduki para abdi negara. Para pria berbadan tegap itu sangat serius
"Apa yang kamu takutkan, Rama? Mereka hanya pemburu liar, kita bisa laporkan mereka kepada rana hukum" Satria kini berbicara dengan formal
Rama, terdiam tampak berpikir. "Saya mengenal salah satu dari mereka"
"Maksudmu, siapa?" kali ini Rednan mengangkat suara. Mereka akan berbicara serius jika sudah berada di ruangan ini
"Saya mengenal salah satu dari mereka, Rednan kamu ingat pria yang memiliki tato naga di lengan kirinya. Saya yakin dia Tara"
Tara
Setelah menyebut, Nama itu kelima pria itu langsung berubah serius. "Apa kamu yakin, Rama?" kali ini Darwin yang mengangkat suara
"Saya yakin, setahu saya Tara adalah tangan kanan Marco. Setelah, Marco melarikan diri dari Italia bukankah dia bersembunyi di Indonesia? FBI pun mencari keberadaan mereka"
Satria, mengkerutkan keningnya mendengat penjelasan, Rama. "Maksudmu, Marco? Pemimpin Klan Cosa Nostra, Sisilia?"
Rama, mengangguk mantap. Seketika keempat pria yang mendengar menengang. Siapa yang tidak mengenal Marco, atau Marco Deruto. Pemimpin Klan Cosa Nostra Sisilia, Mafia besar yang berada di Italia. Marco berstatus buronan, Marco melarikan diri ke Indonesia. Namun, siapa yang mengira jika Marco pun memiliki anggota di Indonesia
"Berbahaya jika, Marco menyeludupkan narkoba, apalagi sampai dia menjual belikan manusia," Semua hanya mengangguk membenarkan perkataan Ryan
"Dia sangat berbahaya, Jika saja saya tertangkap Tara mungkin saya tidak akan hidup. Saya yakin, Tara akan kembali ke hutan ini" tutur Rama dengan suara tegas
"Kita harus melakukan jebakan. Klan mafia itu sudah menjadi buronan tahun ini, jika mereka berkeliaran di Indonesia itu sangat berbahaya" tambah Darwin dengan serius
Satria mengusap dagunya, tampak berpikir keras. Klan Cosa Nostra, Sisilia bukanlah hal sepele, mereka sangat berbahaya. Di tambah Marco Deruto berada di Indonesia!
"Apa dia setiap hari menembak dihutan ini?"
"Saya tidak tahu" jawab Rama menanggapi pertanyaan Satria
Kelima pria itu tampak berpikir keras, "Apa kita harus libatkan agen intelijin?"
Semua menatap Darwin yang bersuara. Tidak ada salahnya. Namun, apa mereka akan mudah percaya jika salah satu anggota Klan Sisilia berada di hutan ini. Sedangkan mereka hanya Tentara Ad satgas patmas
__ADS_1
"Namun, apa mereka percaya begitu saja? Kita hanya Tentara satgas patmas, pasti mereka pikir kita hanya menjaga perbatasan ini bukan?" Ryan berbicara dengan meragu
"Bukankah kita sama-sama menjaga bangsa Indonesia? Apa salahnya!" keempat pria itu mengangguk membenarkan jawaban Rama
"Ayo kita susun rencana!" Rama mulai mengeluarkan kertas besar
"Kemarin adalah hari jumat, apa mungkin Tara akan kemari pada hari jumat?" Satria tampak berpikir dengan mengelus dagu
"Bisa jadi, Ndan. Bagaimana jika kita awasi hutan itu setiap hari jumat" mereka tampak berpikir dengan usulan, Rednan
"Boleh juga, Rama bukannya 3 minggu kedepan kamu kosong? Apa kamu bisa memundurkan waktu pulangmu, untuk mengawasi hutan itu" Rama masih diam memikirkan perkataan Satria
"Minggu depan ulang tahun, Bunda. Gue udah janji mau pulang, Bunda marah gak ya kalo gue milih tugas ini."
"Rama!" Lamun, Rama buyar karna tepukan di pundaknya, Rama menatap Satria yang kini di sampingnya
"Saya tahu minggu depan adalah ulang tahun, Bunda Aletha. Beliau sudah setuju bukan di nomor duakan oleh negara? Keluargamu sudah setuju jika mereka harus di prioritaskan setelah negara, Kamu tidak sendiri Darwin dan Tim nya akan membantu" Rama terdiam mendengar tuturan Satria
"Saya akan berbicara terlebih dahulu, Ndan bersama Bunda saya. Saya sudah berjanji untuk pulang, saya merasa bersalah jika harus mengecewakannya" Satria tersenyum tipis mendengar jawaban Rama
"Pikirkanlah terlebih dahulu sebelum mengucap kata Janji. Kecewa itu lebih menyakitkan dari apa pun, mungkin Bundamu akan sedikit kecewa"
Rama, mengangguk mendengarkan ujaran Satria. "Gakpapa bro, nanti gue bilang sama Bunda" bisik Rednan di telinga Rama
****
"Awhhh aduh, Bu dokter pelan-pelan"
"Nah, udah pak. Lain kali hati-hati ya!" pria parubaya itu segera turun dari ranjang medis
"Makasih, Bu Sinta. Saya akan hati-hati agar gak perlu di perban-perban lagi"
Sinta, tersenyum manis mendengarnya, "Itu luka belingnya jangan sampai kena air dulu lo, Pak. Besok lagi kalau nyuci piring hati-hati"
Pria paruhbaya itu menangguk dan tersenyum. "Baik, Bu dokter. Saya pamit"
Sinta mengangguk, lalu Sinta duduk di kursi miliknya. Sinta baru saja mengobati tukang masak di tempat ini, karena kecerobohan membuat tukang masak itu terkena pecahan beling dari piring yang dia cuci. Untung saja ada dokter relawan cekatan seperti, Sinta
"Hayoo! Mikirin apa?" Sinta tersentak dengan suara assiten pribadinya yang tiba-tiba datang
Sinta, hanya memandang jengah Meyga. "Ngagetin aja lo!"
__ADS_1
Meyga, malah terkekeh melihat wajah kesal majikannya, "Sin lo gak nelfon bokap lo?"
"Gak lah gue marah sama, Papah" jawab Sinta datar
"Tadi, Pak Jendral telfon gue. Gue angkat dia nanyain keadaan lo, gue jawab aja kalo lo sehat dan betah ada disini"
Sinta, melotot mendengar penjelasan assiten pribadinya. "Aduh, Meyga! Kenapa lo harus bodoh banget sih? Kenapa lo gak bilang aja, gue tersiksa disini. Lo bilang kek gue kedinginan, sakit apa gitu kek"
Meyga, malah nyengir mendengar omelan Sinta, "Hehe ya sorry. Gue cuma mau lo disini aja"
"Dih, itukan mau lo. Bilang aja lo mau godain, Tentara-tentara itu" tuding Sinta dengan mata menatap sinis Meyga
Meyga malah terkekeh mendengar tudingan, Sinta. "Omongan lo ada benernya, Sin. Sukur-sukur ada Tentara tertarik sama gue, dan kedua gue pengen lo ada disini, buat lo lupain Bima aja"
Sinta terdiam, benar apa yang di katakan Meyga. Sinta, seolah lupa dengan Bima jika di tempat ini
"Gue seneng lihat lo ketawa-ketawa, ya meskipun lo ketawanya karna perdebatan lo sama, Pak Rama. Tapi gue kangen lo yang dulu, gue gak bisa bayangi kalo lo tetep di Jakarta" Sinta masih terdiam mendengar celoteh Meyga
"Meyga bener, gue disini bisa ketawa. Gue aja gak bisa bayangin kalo sampe berpapasan atau ketemu sama Bima, Gue disini bisa kehibur ya meskipun harus olok-olokan sama si Tentara songong itu!!"
"Sin" Lamun, Sinta buyar karna tepukan di bahunya
"Ha-- Apa?" Meyga mendengus kesal karna, Sinta hanya diam, melamun
"Lo ngelamunin apa sih? Gue dari tadi nyeloteh gak lo dengerin?"
Sinta, langsung menggeleng, "Gue denger kok"
"Ya, gimana? Gue bener kan, lo betah disini?"
Sinta pun dengan terpaksa mengiyakan!. Sinta melangkah keluar dari ruangan medis. Sore ini langit sangat cerah, bahkan terdapat angin sepoi-sepoi. Rambut panjang Sinta pun ikut terbawa arus angin
Pandangan, Sinta jatuh kepada pria yang sedang duduk di sebuah batu besar. Pria itu tampak selesai bertelfon, "Bosen nih, gue kerjain ah!" dengan menyeringai Sinta mendekat kepada pria itu
Dengan pelan-pelan, Sinta melangkah tidak ingin jika langkah kakinya terdengar. Sinta sudah sangat dekat, bersiap untuk membuat pria itu terkejut. Namun..
"Lo mau apa? Lo gak bisa bikin gue kaget!" sontak saja Sinta yang sudah berada di posisi siap mengagetkan itu kesal
Sinta, langsung berjalan di depan pria itu. Sinta berkacak pinggang menatap pria itu, "Duh, Tentara songong. Lo adiknya Roy kiyoshi ya? Kok lo tahu sih gue ada di belakang lo"
Rama yang mendengar hanya tersenyum miring. "Gue denger langkah kaki lo" Rama pun bangkit dari duduknya meninggalkan, Sinta yang menganga
__ADS_1
"What? Dia mendengarnya?!!!"
TBC🍻