
Budayakan Like Sebelum Baca😘
.
.
.
.
.
****
Rama dan Sinta saat ini baru sampai di area permakaman. Keranda pun baru saja sampai. Beberapa orang bersiap untuk meletakan jenazah Kakek Nana ke tempat persemayaman terakhirnya.
Rama dan Sinta langsung mendekat ke arah Nana yang terus menangis. Mama Nana yang berada di Aussi pun langsung kembali ke Indonesia dan menemani putrinya itu.
“Gue turut berduka cita ya, Na!” ucap Sinta sembari memeluk Nana. Meskipun keadaan Sinta masih setengah pulih, Sinta tetap bersekekeh untuk ke pemakaman Kakek Nana.
“Maafin gue, Sin... Hiks hiks... Ini semua salah gue! Hiks hiks.”
Sinta membelai rambut Nana dengan lembut. “Lo gak salah, Na. Gak ada yang perlu di salahin, ini sudah takdir Tuhan. Kabar baik buat lo, Richad sudah sembuh,” ucap Sinta setelah melepas pelukan.
Nana tampak senang mendengar Richad sembuh. “Allhamdulilah, setelah ini aku harus meminta maaf ke Keluarga Richad,” Nana sangat merasa bersalah dengan keluarga Richad. Meskipun cintanya harus kandas dengan Richad setidaknya, Nana bisa menebus kesalahan Kakeknya.
“Honey... Ayo kita pulang!” ucap Mommy Nana yang berwajah kebule-bulean.
Nana menganggukan kepala. “Wait, Momm!” Nana lalu menatap Rama. “Bagaimana penyelidikan penembakan itu, Mas Rama?” tanyanya.
“Jika di lihat dari peluru, peluru itu milik seorang Snipper. Dan menurut penelitian racun berada di peluru itu sangat berbahaya, singkatnya snipper ini sangat handal dan berbahaya. Karna menurut rekaman CCTV tidak ada orang yang mencurigakan, jika untuk persembuyian seorang snipper tidak ada gedung atau tempat tinggi di sekitar perumahan.”
Nana hanya diam mendengar penjelasan Rama. Nana tentu tidak mengerti dengan ucapan, Rama.
“Makasih ya, Mas Rama. Aku pamit dulu!” Nana pun pergi meninggalkan pemakaman.
Rama dan Sinta saling berpandang satu sama lain. “So, kita balikan?” Rama mulai menggoda Sinta.
Sinta hanya memalingkan wajahnya. “Hmm... Maunya gimana nih?” sahut Sinta yang ikut menggoda Rama.
Rama terkekeh dan langsung menyambar tangan sang kekasih. Mereka berjalan beriringan di pemakaman.
“Marcus?” langkah Rama terhenti karna melihat sahabatnya itu.
Marcus terlihat terkejut, seolah terpergok mencuri. “Ha—Haii Rama!” seru Marcus terlihat gugup.
“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Rama dengan bahasa inggris.
“Oh aku? Aku hanya berkunjung ke makam saudaraku.” Rama mangut-mangut mendengar jawaban Marcus. “H—Hey, siapa dia Rama?” Marcus mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk Sinta.
“Oh ini, My girlfreind!” jawab Rama sembari menggenggam tangan Sinta.
“Woww! Pacarmu sangat cantik! Haii my name is Marcus,” ucap Marcus sembari menjabat tangan Sinta.
“Sinta,” Sinta menerima uluran tangan Marcus.
“Hmm.... Rama, aku harus segera pergi. Bye!” Marcus langsung pergi sebelum mendengar jawaban Rama.
__ADS_1
Tinggalah kembali Rama dan Sinta. Rama tampak aneh dengan Marcus. “Itu sahabatmu?” tanya Sinta
“Ah iya, dia sahabatku saat aku menjadi Tentara bayaran.” jawab Rama yang tanpa sadar telah membuka jati dirinya
“Jadi kamu benar pernah menjadi Tentara bayaran?” Rama yang menyadari ucapannya langsung menepuk mulutnya.
“Eh, E—Enggak gitu, Sin—”
“Jawab aku jujur! Dimana tugasmu 8 tahun yang lalu?!” potong Sinta yang langsung bertanya dengan tanpa basa-basi kepada Rama.
Rama terkejut karna Sinta menanyakan masalalu 8 tahun yang lalu. Hal yang berusaha Rama lupakan.
“A—Apa maksud kamu, Sinta? 8 tahun yang lalu? Tentu aku sekolah di Akmil, mana mungkin pria 22 tahun sudah menjadi Tentara bayaran.”
Sinta tampak tak percaya dengan ucapan Rama. “Di Amerika, remaja 17 tahun bisa menjadi Tentara. Jangan membohongiku, Rama! Apa hubunganmu dengan Blackwater?!!”
Rama tercekat mendengar ucapan kekasihnya. “Ba—bagaimana kamu tahu tentang Blackwater?”
“Kamu? Kamu lelaki yang di Irak itu! Kamu yang sudah menyelamatkan ku!” tanpa persetujuan, Sinta langsung menyobek kemeja hitam Rama. Dan di bahu Rama terdapat tanda lahir yang sangat Sinta kenali.
“Kamu pria bertopeng itu!”
****
“Bagaimana caramu menyelamatkan diri saat itu?” Sinta terus mengintrogasi Rama, yang terduduk di kursi caffe sore ini.
“Itu tidak penting, ini rahasia Sinta. Bagaimana kamu begitu yakin itu adalah aku?” Rama masih saja menutupi jati dirinya.
Sinta berdecak kesal karna kekasihnya tampak tak mau jujur. “Menyebalkan!” dengan geram, Sinta memukul keras bahu Rama.
Hal itu membuat pria tampan itu meringis. “Awwww... Sakit sayang!”
Pipi Sinta berseri merah mendengar ucapan 'sayang' dari Rama. Rama tertawa kecil melihat Sinta yang tampak bersemu-semu.
“Ciee, pipi kamu kok merah gitu sih——sayangku?!” Rama semakin menggoda Sinta, dan Sinta pun tidak bisa menyembuyikan senyumannya.
Akhirnya, Sinta menyerah! Sinta tertawa dengan ulah kekasihnya itu. “Gak usah alay deh! Pake sayang-sayang segala,” Sinta seolah mencibir dengan ucapan 'sayang' yang Rama lontarkan.
“Biarin deh jadi pasangan alay, yang penting aku bisa melihat rona di wajah kamu!” goda Rama kembali, yang saat ini menopang dagu dengan mata yang terfokus manik hitam legam Sinta.
Mereka tidak sadar, jika ucapan-ucapan manis Rama di dengar oleh pengunjung caffe, membuat mereka menjadi perhatian beberapa orang.
Sinta mengalihkan perhatiannya di pintu Caffe yang terbuka. Jantungnya berdetak kencang melihat, Clara dan Eve masuk ke Caffe tersebut.
Begitupula Clara yang begitu terkejut karna bertemu dengan Sinta.
“Si—sinta?”
“Hai Clara!” Sinta tersenyum kecut kepada Clara, Sinta sedikit kecewa dengan ketidak jujuran Clara.
“Sinta gue—”
“Gue udah tahu semuanya.” Sinta memotong ucapan Clara, hal itu membuat Clara bertambah cemas.
“Ak—aku terpaksa, Sinta. maaf—”
“Alasan sampah!”
__ADS_1
Bukan Sinta yang bersuara, bukan Rama atau pun Eve. Namun, pria tampan yang tadinya duduk di pojokan Caffe, yang sedari tadi memperhatikan Rama dan Sinta.
Clara terkejut melihat Bima. Setelah kejadian dimana semua terungkap, Bima menghilang! Dan saat ini akhirnya Clara bisa menemuinya.
“Bima...”
“Do not touch me! Setelah kupikir-pikir, kamu tetap licik!” seru Bima dengan tajam, Bima bahkan tidak memperdulikan tatapan-tatapan dari pengunjung caffe lainnya.
Clara begitu tersayat mendengar ucapan Bima. “Cukup Bima! Lo gak perlu kasar sama, Clara!” Sinta langsung mengangkat suara.
“Gak usah ikut campur urusan gue!” bentak Bima kepada mantan kekasihnya itu.
“STOP!! Guys litsen to me! Ini bukan salah Clara atau Bima! Ini salah gue!” tiba-tiba saja Eve yang sedari tadi diam langsung mengangkat suara.
Sebelum mendengar penjelasan Eve, mereka menggunakan ruangan privat di Caffe itu.
Eve mulai menceritakan semuanya.
Flashback
“Lah.. Clara kemana?” Malam itu Eve celingukan mencari sahabatnya itu. Gadis berambut sebahu itu langsung mencari-cari Clara.
“Clara..!!!” Eve berteriak kepada taxi yang di tumpangi Clara.
Eve langsung mencari kunci mobilnya dan mengikuti arah kemana Clara pergi. “Club malam?” gumam Eve.
Eve lebih memilih diam di mobil, sampai Eve melihat Clara memapah Bima. Eve terus mengikuti kemana perginya Clara.
Dan, ternyata Clara membawa mobil Bima di Hotel yang tak jauh dari hotel itu. Eve tampak tersenyum tipis melihat hal itu.
Eve langsung mengikuti langkah Clara dan Bima secara diam-diam.
Eve bahkan menunggu di luar kamar hotel yang di pesan Clara. Setelah merasa Bima dan Clara terlelap, Eve langsung masuk karna pintunya tak di kunci.
“Ini saatnya lo bahagia, Clar. Maafin gue, Sin. Tapi Clara juga berhak bahagia, gue doain lo nemuin laki-laki tepat ya, Sin. Maafin gue!”
Cekrek... Cekrek... Cekrek.
Eve langsung mengirim foto-foto Bima dan Clara yang tanpa sehelai benang itu kepada kedua keluarga.
Flashback end.
“Dan... Wa—ktu itu, gue yang udah neror lo, Sin. Maafin gue!” Eve menangis dan menyesali perbuatannya.
Sedangkan yang lainnya tidak bisa berkata-kata. Bima dan Clara begitu terkejut dengan Fakta!
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC😘