
Budayakan Like Sebelum Baca😘
The Last Mission Love (Kisah Rednan)
****
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Sinta melamun memikirkan setiap perkataan kakek Nana.
Sinta merasa takut jika Nana kembali suka dengan Rama. Apalagi kakek Nana yang mempunyai riwayat jantung, pasti Rama tidak tega untuk menolak permintaan kakek Nana.
Karna Rita yang sudah berada di rumah sakit, akhirnya Sinta sendiri yang menyetir mobil. Pikirannya meleyang entah kemana.
“Enggak! Nana gak akan suka lagi sama, Rama. Dia udah punya tunanangan!”
“Calm Sinta! Hubunganmu akan baik-baik saj–”
Brak
“Aaaaaa.....!!!”
Sinta terpenjat kaget mendengar suara tabrak keras. Sinta melotot karna dia telah menabrak orang.
Sinta langsung turun dari mobil. Sinta melihat seorang pria tampan dan anak kecil yang tersungkur.
Sinta langsung mendekat ke arah pria yang sudah tidak sadarkan diri, sedangkan si anak kecil berada di ujung jalan yang masih sangat shock.
Sinta langsung memeriksa keadaan pria itu. “Nafasnya masih ada!”
Sinta lalu meminta bantuan warga sekitar untuk memasukannya ke mobil. Ternyata pria yang pingsan ini hendak menyelamatkan anak kecil yang menyebrang sembarangan.
Anak kecil tadi langsung lari entah kemana, padahal Sinta ingin mengobatinya. Setelah si pria tak di kenal sudah berada di mobil Sinta, Sinta langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
20 menit mobil yang Sinta kendarai sudah sampai dengan cepat.
“SUSTER..!! TOLONG BANTU!!”
Para Suster langsung bergegas mendengar teriakan Sinta. Pria tadi langsung di bawa ke UGD.
Sinta pun juga bersiap untuk memeriksa keadaan pria tadi. Selama 4 jam Sinta melakukan pemeriksaan.
Meski tidak ada luka di bagian atas, namun si pasien harus mengalami patah tulang di kedua kakinya.
Sinta terduduk di samping ranjang pria tampan yang masih terpejam. Sinta sangat takut, karna dia sudah menabraknya.
“Dokter! Keluarga pasien sudah tiba.” ucap salah satu Suster yang masuk ke ruang inap pasien.
Sinta langsung mempersilahkan keluarga pasien masuk. Sinta terkejut karna nama lengkap pria yang dia tabrak adalah Richad Alexander. Dan saat ini dia harus berhadapan dengan Keluarga Alexander.
Sinta langsung berbicara empat mata dengan Tuan Alexander di ruangannya.
“Maafkan saya, Tuan. Ini murni kecerobohan saya! Sa–ya janji, saya akan merawat anak Tuan.”
Tuan Alexander hanya bisa menghela napas. “Untuk itu kami sudah memafkanmu, Dokter Sinta. Tapi masalahnya, 2 minggu lagi putra saya akan menikah. Bagaimana mungkin dia menikah sedangkan dia tidak bisa berjalan?”
Sinta tercekat mendengarnya. Sinta sudah melakukan kesalahan besar! untuk bernapas pun Sinta menjadi kesusahan.
__ADS_1
“Saya pamit dulu, Dokter Sinta!”
Setelah Tuan Alexander pergi, Sinta menghembuskan napas kasar. Sinta juga menceritakan hal ini kepada Rama dan Rita.
Seperti saat ini Sinta sedang bertukar suara dengan Rama, lewat via telpon.
“Aku takut, Ram...”
“Gakpapa gak usah takut, kamu kan udah tanggung jawab. Udah gakpapa!” Rama berusaha menghibur Sinta.
Sinta hanya bisa menggigit jari-jarinya. “T–Tapi, dia jadi gagal nikah Ram!”
“Kalau sudah saling mecintai, pasti mempelai wanita mau menerima keadaan prianya. Nanti kamu kasih dia kursi roda, sah-sah aja kok.”
Sinta menghela napas mendengarnya. “Tap–”
“Dokter, pasien ingin bertemu dengan anda!”
Tutt... tutt... tutt
Sinta yang mendengar ucapan suster langsung mematikan ponselnya. Sinta lalu pergi ke tempat di rawatnya Richad. Bahkan Sinta memberikan kamar VIP.
Ceklek.
Sinta melihat Richad sedang bersandar di ranjangnya. Sinta lalu mendekat ke Richad.
“Hmmm. Bagaimana keadaanmu? kamu sudah merasa enak?”
Richad menatap Sinta tajam, hal itu membuat Sinta takut. “Bagaimana keadaan anak itu?” tanya Richad.
Richad menghembuskan napas kasarnya. “Ka–kamu menyelamatkan anak itu? dan malah membuat kaki mu patah.” cicit Sinta lirih.
“Anak Indonesia itu memang kebanyakan makan micin. Padahal anak tadi jika dilihat sudah berusia 13 tahun, mereka menjadi bodoh dan menyebrang sembarangan. Hah!! Memang bodoh!”
****
Sinta terkejut bukan main!
Ternyata pria yang dirinya tabrak adalah tunangan Nana. Ketakutannya bertambah saat ini. Jika di lihat Nana sangat mencintai Richad, namun berbeda dengan Kakek Nana yang tampak biasa saja.
“Sinta... Makasih ya, lo udah selamatin Richad.” ujar Nana sembari memeluk Sinta.
Sinta menerima pelukan Nana. Hal ini membuat Sinta lega, karna Nana tidaklah marah.
“Maafin gue ya, Na. Gue gak sengaja sumpah, tapi gue janji! gue bakal rawat dia!”
“Iya gakpapa, gue udah maafin lo!”
Nana lalu melepaskan pelukannya kepada Sinta. Sinta akhirnya bisa bernapa lega.
“Nana...?”
Nana menoleh ke arah Richad yang memanggilnya. “Ya, Richad?”
“Pernikahan kita di undur tidak apa-apa kan? Kakiku masih sak–”
__ADS_1
“Gak ada pernikahan-pernikahan!! Saya tidak akan menikahkan cucu saya dengan pria cacat seperti kamu!”
Semua yang berada di ruangan itu terkejut mendengar ucapan Kakek Nana. Begitupula Richad dan Keluarganya.
Nyonya Alexander langsung menghampiri Kakek Nana. “Tuan Adam, anda ternyata tidak konsisten dengan perjanjian ya? saya akan batalkan kerjasama perusahaan kita! berani-beraninya anda menghina anak saya!” ujar Nyonya Alexander menggebu-nggebu.
Namun, Kakek Nana malah tersenyum miring mendengarnya. “Lakukan saja! Hal itu tidak membuat Keluarga saya jatuh miskin. Saya memilih kehilangan satu patner, dari pada cucu saya menikah dengan pria cac–”
“Kakek cukup!” Nana langsung memotong perkataan Kakeknya. “Kakek jangan mengatakan Mas Richad cacat! Mas Richad akan sembuh. Jangan pisahkan Nana dengan Mas Richad, Nana sudah sayang dengan Mas Richad!”
Kakek Nana terlihat marah dengan ucapan Nana. “Kamu mau melawan ucapan Kakek?!”
Nana tertunduk, Nana merasa bersalah karna membentak kakeknya. Sedangkan Sinta dia menjadi bertambah bersalah, karna pernikahan mereka batal karna kesalahannya.
“Ini semua gara-gara saya! seharusnya kalian menyalahkan saya. Ini karna kecerobohan saya, saya yang harusnya kalian teriaki. Saya tunggu kalian di ruangan saya, biarkan Tuan Richad beristirahat.” Setelah mengatakannya Sinta pergi ke ruangannya.
Sesampainya di ruangannya, Sinta menangis sejadi-jadinya. Sinta sangat-sangat merasa bersalah. Meskipun dulunya Sinta dan Nana selalu bertengkar, namun kali ini Sintalah yang harus mengakui kesalahannya.
Ceklek
Mendengar pintu yang terbuka, Sinta langsung mengadahkan kepalanya. Sinta melihat Rama berdiri di hadapannya.
Sinta langsung berdiri dan memeluk Rama. “Rama.... hiks hiks hiks haa huu hiks hiks.... hua hua hiks”
Rama hanya diam, Rama membiarkan Sinta untuk menangis. Setelah Sinta tenang, Sinta lalu menceritakan semuanya.
Dari mulai ternyata pria yang dia tabrak adalah Tunangan Nana dan batalnya pernikahan Nana.
“A–Ak–ku jahat!!! Haaa hiks hiks... Aku jahat...!!”
Dengan lembut Rama mengusap kepala Sinta. “Udah jangan nangis terus. Itu murni kecelakaan, mungkin memang tanggal pernikahan Nana dan tunangannya belum tepat saja.”
Sinta lalu melepaskan pelukannya. Namun, dia masih saja terisak.
“Nak Rama... Nak...!!”
Rama dan Sinta membalikan badannya. Mereka melihat kakek Nana berlari menuju ke ruangan Sinta.
“Kakek? Kakek kenapa kok lari-lari?” tanya Rama menghampiri Kakek Nana.
“Nana, besok kamu menikahnya dengan Rama!”
Deg!!
*
*
*
*
*
TBC😘
__ADS_1