
Budayakan Like Sebelum Baca🍻
Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta
****
Tok
Tok
Tok
“Siapa sih” Sinta bergumam sembari berjalan ke pintu.
Ceklek (Pintu penginapan di buka oleh Sinta)
“Pagi” Sapa Rama dengan senyum merekahnya.
“Pagi” balas Sinta dengan sesekali menguap. “Ini masih pagi buta, kamu ngapain disini?” tanya Sinta merasa heran dengan Rama.
Rama hanya tersenyum tipis, padahal ini masih sangat pagi, bahkan matahari belum memunculkan jati dirinya.
“Cuci muka sana”
“Ada apa sih, Ram? aku masih ngantuk,” Sinta berulang kali menguap, waktu masih menunjukan pukul 4 pagi.
“Kita lihat sunsrise”
Sinta langsung berbinar mendengar jawaban, Rama. “Oke bentar!”
Sinta pun ke kamar mandi untuk mencuci muka, Sinta juga mengenakan hoddie karna sangat dingin. Setelah itu Rama dan Sinta berjalan ke atas bukit.
Jalanan bebatuan membuat Sinta berulang kali beristirahat. “Aduh, Rama kita mau nonton sunsrise kemana sih?”
Rama hanya tersenyum tipis, melihat kekasihnya ngos-ngosan. “Ayolah masak kamu gitu aja capek sih, Sin”
Sinta mendengus kesal, lalu melanjutkan perjalanan dengan, Rama. “Nanti kalau sudah sampai atas kamu boleh tidur kok,” ujar Rama sembari mengusap rambut kekasihnya.
Rama dan Sinta pun melanjutkan perjalanannya. Hingga sampailah di pucuk bukit tersebut, dari atas Sinta bisa melihat luasnya lautan Raja Ampat.
Bersamaan dengan terbitnya matahari dari ufuk timur membuat siapapun yang melihat menghangat. Sinta merentangkan kedua tangannya, menikmati hangatnya matahari yang baru terbit.
Diam-diam, Rama memotret siluet Sinta. Rama lalu mendekat ke arah Sinta. “Gimana? lelahmu gak sia-sia kan?”
Sinta tersenyum, lalu menoleh ke arah Rama. “Kamu memang selalu pinter kalau buat aku senang”
Rama tersenyum mendengarnya. Mereka berdua masih menatap luasnya lautan dan indahnya matahari. Terdengar burung-burung berkicauaan, embun pagi pun terlihat di bunga dan dedaunan.
Alam memang selalu menyediakan kedamaiaan. Rama tersenyum menatap siluet gadisnya, terasa hangat, dan indah untuk di pandang.
Rama berjalan ke sebuah pohon, lalu memasang Hammock di pohon. “Sinta sini! Katanya ngantuk”
Mendengar namanya di sebut, Sinta berbalik badan. Matanya menatap hammock yang sudah terpasang di antara dua pohon, yang sudah di duduki Rama
Sinta tersenyum lalu mendekat. Sinta pun duduk di sebalah Rama
“Rama...”
“Hmm”
__ADS_1
“Makasih,” Sinta berucap sembari tersenyum manis.
Rama yang mendengar hanya tersenyum tipis. “Asal membuatmu tersenyum, apa pun itu akan aku lakukan,”
Sinta hanya diam tidak menjawab. Namun, senyum di bibirnya tetap terukir. Sampai Matahari benar-benar muncul, Rama dan Sinta turun dari hammock.
“Kita turun nih?” tanya Sinta sembari membantu, Rama melipat hamok.
“Iya kita turun, tapi lewat situ!” Rama menunjuk sebuah tebing tinggi, yang langsung menuju ke pantai.
Sinta menelan ludahnya, kekasihnya ini sangat menyukai hal ekstrim. “Bo--Boleh, tapi kamu sudah bawa alatnya kan?”
Rama mengangguk, lalu mengeluarkan tali panjang dari tasnya. Rama dan Sinta pun langsung memasang keamanan-kemanan di tubuh mereka.
Di tepi tebing, Rama dan Sinta saling menatap. Menyalurkan cintanya dari sebuah tatapan mata, melalui tatapan mereka mengatakan “Jika aku benar-benar mencintaimu!”
Cup
Rama mencium kening, Sinta. Lalu Rama langsung memulai aksinya. Sinta tersipu malu, Sinta pun langsung melakukan hal sama.
Rama tersenyum melihat keberanian, Sinta. “Gue beruntung punya pacar, Sinta. Cuma cowok bodoh yang melepaskan cewek seperti, Sinta” batin Rama.
Saat ini Rama dan Sinta masih berada di atas. Jika melihat kebawah maka akan langsung menatap putihnya pasir pantai. Sinta menatap luasnya lautan. Pemandangan alam yang sangat memukau.
“Kamu tahu kenapa aku ajak kamu kesini?”
Sinta hanya menggelengkan kepala, menanggapi pertanyaan Rama. Rama tersenyum tipis melihatnya.
“Aku ingin kamu merasakan, jika menginginkan sebuah keindahan harus melewati rintangan yang berat. Jika saja kamu sudah menyerah di tengah jalan, ya kamu tidak pernah menikmati suatu keindahan. Ingatlah usaha tidak menghianati hasil”
****
Sinta tertawa lebar, karna Rama selalu menggodanya. “Kamu tahu gak persamaan kamu sama mutiara di laut?”
Sinta yang berada di belakang, Rama menggeleng kepala. “Enggak, emang apa?”
“Kalian itu sama, sama-sama berharga dan langka”
Tawa, Sinta pecah mendengar gombalan receh, Rama. Dengan gemas Sinta menarik rambut, Rama.
“Jayus banget sih kamu!”
Rama hanya terkekeh mendengarnya. “Mungkin menurut kamu perkataanku hanya gombalan receh. Namun, ketahuilah Sinta, kamu memang langka dan sangat berharga, sekali ku genggam tak akan ku lepaskan!”
Sinta tertegun mendengar penuturan, Rama yang serius. Sinta tidak mengira jika cinta, Rama pun begitu besar!
Saat ini Sinta malah mengomentari dirinya sendiri. Rama begitu mencintainya, dia bahkan membawanya ke tempat seindah ini. Namun, apa yang Sinta bisa balas? Sinta malah suka ngambek hanya karna masalah sepele
“Rama...”
“Ya?”
“Maafin aku ya,” cicit Sinta lirih.
Rama yang berada di depan mengkerutkan keningnya. “Maaf apa? kamu kan gak salah,”
Sinta menghela napas mendengarnya. “Maafin aku, kadang sikap ku masih kekanak-kanakan. Aku masih suka marah kalo kamu pergi tugas tiba-tiba. Seharusnya aku ngertiin kamu, dan sekarang aku menjadi merasa bersalah, kamu gak pernah marah sama aku, ak--”
“Aku gak peduli gimana sikapmu, asalkan itu membuatmu bahagia pasti aku lakukan” potong Rama lembut.
Sinta lagi-lagi tertegun mendengar ucapan, Rama. Sinta memeluk Rama erat, menyandarkan kepalanya di punggung, Rama.
__ADS_1
Rama melirik kebelakang, melihat Sinta yang bersandar di punggungnya. Rama menambah kecepatan untuk menyusul, Rednan.
“Woy!”
Rednan tersentak karna Rama tiba-tiba datang. “Bikin kaget aja sih lo!” ketus Rednan
Rama hanya terkekeh melihatnya. “Melamun aja lo, ati-ati ini pulau udah lama loh. Kesambet baru tahu rasa lo,”
Rednan mendengus kesal, karna ledekan sahabatnya. “Sialan lo!”
Rama tertawa lalu meninggalkan, Rednan terlebih dahulu. Rama melirik kebelakang, Sinta masih diam.
“Gak usah di pikirin. Kamu sudah cukup bagiku, jangan merubah apapun selagi aku nyaman,”
Sinta mengadahkan kepalanya mendengar ucapan, Rama. "Tapi.... Aku berlebihan gak sih? Aku kekanak-kanakan ya?”
Rama tersenyum dan menggelengkan kepala. “Tapi buktinya sifat kekanakan mu ini membuatku nyaman,”
Sinta tersenyum mendengar jawaban, Rama. “Jadi....”
“Jadi jangan rubah apapun selagi aku nyaman”
Sinta tersenyum mendengarnya, Sinta merentangkan kedua tangannya, menikmati hembusan angin laut yang menerpa wajahnya. Tidak memperdulikan panas matahari, saat ini hanya sebuah kesenangan yang ada.
“Rama...”
“Ya?”
“Jika suatu saat hubungan kita ada masalah, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Sinta tiba-tiba.
Rama terdiam, lalu menjawab. “Apa dulu permasalahannya, jika itu salahku maka aku akan meminta maaf kepadamu. Jika itu salahmu aku pun tetap akan minta maaf,”
Sinta terkekeh mendengar nada bicara, Rama saat kata-kata terakhir. Terdengar pasrah dan tulus.
“Loh kok gitu? Kan aku yang salah, masa kamu yang minta maaf?”
“Aku kan sudah mencintaimu, jadi aku pun juga harus sabar menghadapi pacarku”
Blushh
Pipi Sinya langsung memerah mendengar jawaban, Rama. Sungguh kata-katanya yang langsung itu membuat, Sinta hampir melayang.
Sinta melipat bibirnya agar tidak tersenyum. Rama sudah hapal, jika kekasihnya akan menahan senyuman jika saat itu.
Rama menoleh ke belakang. Rama tersenyum mendapati, Sinta dengan pipi merahnya, apalagi saat menahan senyuman, terlihat sangat menggemaskan
“Kenapa kok gak senyum aja?” goda Rama
Sinta mencoba menguasai diri. Sinta tahu Rama mencintainya. Namun, Sinta terlalu malu untuk mengatakan hal-hal manis seperti, Rama.
*
*
*
*
*
*
“Aku tidak pandai merangkai kata-kata manis, Aku terlalu gengsi untuk mengatakan, Aku cinta kamu. Namun, izinkanlah aku mencintaimu dengan caraku” –Deswina Sinta Winata
TBC😘
__ADS_1