RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 34


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca🍻


Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta.


****


Pagi-pagi sekali, Sinta dan tukang masak sudah sibuk di dapur. Sinta sengaja bangun pagi demi memasak.


Sinta pun banyak belajar dari tukang masak yang berada di barak. Sinta bertekad ingin belajar memasak. Tentu, Sinta lakukan ini demi Rama.


Setelah bertempur di dapur, Sinta berhasil memasak nasi goreng di tambah telor. Sinta langsung menatanya di piring.


Sinta lalu keluar dari dapur, tujuannya adalah kamar Rama. Tanpa permisi, Sinta langsung nyelonong masuk ke kamar Rama.


Namun, kosong! tidak ada siapapun disitu. Sinta yang merasa bingung, memilih meletakan piring berisi makanan itu di meja dekat ranjang.


Sinta mengeluarkan ponselnya, lalu mengirim pesan kepada Rama.


📩


Kamu di mana? aku bawain makanan


Lama Sinta menunggu balasan, ternyata tidak di lihat bahkan di balas. Sinta lalu duduk di ranjang Rama yang tampak rapi. Seolah tidak di gunakan.


Mata Sinta menangkap kertas putih yang tergelatak di atas bantal. Sinta pun membukanya, dan ternyata terdapat tulisan


**Dear Sinta


Maaf merah putih memanggilku....


aku harus pergi, maaf tidak bisa memberimu kabar.


Aku tidak lama, aku pastikan aku kembali.


#Jangan rindu! Berat


Dari: Rama**


Sinta menganga membaca pesan tersebut. "What?!! Jadi, Rama pergi? Kok dia gak pamit sih,"


Sinta berdecak kesal, lalu keluar dari kamar Rama. Mata Sinta mencari-cari, lalu pandangannya tertuju kepada pria yang saat ini tengah olahraga.


"Kak Satria..."


Satria menoleh kebelekang, mendapati Sinta yang sedang membawa sepiring makanan. "Eh Sinta, Ya ada apa?"


"Kak Satria tahu kemana, Rama?" tanya Sinta dengan wajah memelas


Satria terdiam, sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aduh, Saya gak bisa kasih tahu kamu, Sin."


"Kasih tahu tempatnya aja, saya gak akan nyusul kok. Please!" rengek Sinta


"Tetap tidak bisa, Sin. Ini rahasia negara, maaf saya tidak bisa memberi tahu kamu. Saya permisi!" tegas Satria, lalu pergi meninggalkan Sinta.


Sinta berdecak kesal di buatnya. Sinta pun memilih pergi ke ruang medis, Sinta duduk di ruangannya. Sembari memainkan media sosialnya.


"Kok gue bosen banget sih! Coba aja ada Rama." gerutu Sinta sebal


Tok.... Tok.... Tok....


(Suara ketukan pintu)


"Masuk!"

__ADS_1


Ceklek (Pintu ruangan Sinta di buka)


"Kamu siapa ya?" tanya Sinta. Lantaran asing dengan wanita yang saat ini di depannya.


Wanita itu membungkuk hormat kepada Sinta. "Nama saya Rita, saya assiten dan bodyguard baru, Mbak Sinta."


Sinta melotot mendengarnya. "Ya ampun jadi ini penggantinya, Meyga. Kaya nya udah ibu-ibu nih, wajahnya kelihatan garang." Sinta


Sinta berdehem lalu kembali menatap assiten barunya. "Emmm, Maaf Rita. Kalau boleh saya tahu kamu umur berapa ya?"


"Umur saya sekarang 29 tahun." jawabnya sopan


"Oh, Saya panggil kamu, Mbak Rita aja ya. Kamu panggil saya, Sinta saja." ujar Sinta merasa tak enak, karna assiten barunya saat ini lebih tua.


"Baik, Sinta."


Drtt.... Drttt.... Drtt...


Suara getaran handphone mengalihkan perhatian Sinta. Sinta menatap layar handphone, senyumnya mengembang lantaran sebuah panggilan dari Rama.


Sinta buru-buru mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo, Sinta?"


"Hallo?"


"Maaf ya aku gak kasih kabar ke kamu." suara Rama terdengar menyesal. Namun, Sinta juga bisa mendengar bahwa napas Rama ngos-ngosan


"Iya gakpapa, kamu ngapain kok napasnya ngos-ngosan?"


Sinta bisa mendengar, Rama berdehem. "Enggak apa-apa. Aku telfon cuma pengen denger suara kamu, aku tutup ya telponnya."


"Eh tunggu, Rama!" cegah Sinta cepat.


"Kangen..."


Sinta bisa mendengar, Rama terkekeh. "masa gitu aja kangen?"


"Ihh, Rama! Masa baru pacaran udah di tinggal-tinggal. Awas aja kalo kamu gak setia, kamu kan lagi jauh sama aku!!!"


Rama kembali tertawa mendengar omelan, Sinta. Rama pun berdehem mangatur napasnya.


"Setia itu bukan seberapa sering aku di sampingmu, melainkan seberapa sering kita menutup hati dan tetap bertahan, meski jarak memisahkan"


****


Pagi ini mungkin adalah pagi ternikmat bagi, Rednan. Pagi ini Rednan free, tidak mendapatkan tugas.


Rednan memilih bermalas-malasan di sofa. Karna 3 hari lagi, Rednan harus kembali ke barak. Rednan menggunakan kesempatan untuk bersantai.


"Oh iya. Sinta kan nyuruh gue ke rumahnya." gumam Rednan pelan.


Rednan pun berdiri dari sofa. Lalu membersihkan dirinya, setelah selesai Rednan keluar dari rumah dinasnya. Tujuannya ke komplek militer, tempat tinggal Jendral Kevin.


30 menit, Rednan sudah tiba di rumah Jendral Kevin. Rednan langsung masuk saja, karna semua penghuni rumah juga sudah tahu siapa Rednan. Karna dari dulu Rednan dan Sinta selalu bersama, membuat kedua keluarga akrab layaknya keluarga.


"Assalamualaikum, Mama Tari!"


Tari yang saat itu menuruni tangga terkejut melihat, Rednan. Tari pun sudah menganggap Rednan adalah anaknya.


"Eh, anak Mama." Tari langsung menghambur ke Rednan. Rednan mencium punggung tangan, Mama keduanya tersebut.


"Sudah lama gak pernah main, ayo sarapan!"

__ADS_1


Rednan menurut saja, karna sudah biasa. Rednan lalu duduk bersama Tari, Tak lama Kevin pun ikut bergabung.


"Loh, Rednan. Kamu masih libur?" tanya Kevin, sembari menarik kursi untuk duduk.


"Iya, Pa. Tapi besok lusa udah balik lagi," Rednan menjawab dengan tersenyum manis.


"Sinta gimana? betah disana?"


"Betah banget malahan, Pa" jawab Rednan sembari menyendok lauk pauk.


"Katanya, Sinta suka merengek pengen pulang?"


Rednan hanya terkekeh mendengarnya. "Itu dulu, Pa. Kalo sekarang mau bertahun-tahun pun dia betah, orang Sinta udah jatuh hati sama, Rama."


uhuk.... uhuk.... uhuk....


Kevin yang mendengar langsung tersedak, Tari yang melihat suaminya tersedak itu langsung memberikan segelas air putih. Kevin pun meneguknya.


"Pelan-pelan, Pa!" Tari menggosok lembut, punggung suaminya.


"Rama? Ramadhani asof?" tanya Kevin kembali.


Rednan merasa bingung dengan sikap, Kevin. "Iya, Pa. Anaknya Ustadz Yusuf sama Tante Aletha."


Kevin terdiam, tidak menjawab. Lalu dirinya memilih untuk melanjutkan makannya. Rednan merasa bingung dengan sikap Kevin. Kevin tampak tak menyukai hubungan Rama dan Sinta.


"Bukannya, Papa Kevin sahabatnya Tante Aletha? Kok kaya gak suka gitu sih? Bukannya bagus ya, semakin erat persahabatannya kalo jadi besan. Ah bodolah!" gumam Rednan di hati.


Mereka pun melanjutkan sarapan dengan hening. Setelah selesai, Rednan kembali. Tujuannya padahal hanya ingin menyampaikan tentang, Sinta. Menjadi bertambah numpang sarapan.


Kevin kembali duduk di ruang kerjanya. Tak lama pintu ruangan Kevin di buka, nampaklah sosok yang Kevin kenal.


"Pak Adji?" Kevin terkejut, dan langsung membungkuk hormat.


"Tidak perlu seperti itu, Vin. Saya kesini hanya ingin membicarakan balas budi." ujarnya dengan suara datar.


Kevin lalu mempersilahkan, Adji duduk. Pria paruhbaya itu lalu duduk di sofa ruangan Kevin. Pria paruhbaya yang masih nampak gagah itu berdehem.


"Sudah lama saya pensiun dari kemiliteran. Saya kesini hanya ingin membicarakan tentang perjodohan anak kita."


Kevin mengadahkan kepala, menatap mantan Jendral tersebut. "Tapi, Pa—"


"Tapi apa? Bukankah, Anakmu sudah putus dengan, Bima? Berarti kita tidak perlu susah-susah untuk memisahkan mereka."


Glek


Kevin hanya bisa menelan salivanya. "Ingat Kevin! Saya sudah menyelamatkan nyawa kamu, saya sudah memberikan pangkat Jendral kepada kamu!"


Kevin hanya bisa mengangguk pasrah. "Iya, Pak Adji. Saya sangat berterimakasih, mungkin kata Terimakasih saja tidaklah cukup. Namun, anak saya baru saja berhubungan dengan Letnan Rama"


Deg!!


Adji yang mendengar langsung melotot mendengarnya. "Apa?!! Mantan Tentara bayaran itu? Cih singkirkan saja dia!"


"Ta--Tapi, Pak Adji. Rama itu anak dari Yusuf, Pak Adji."


Pria paruhbaya itu hanya berdecih mendengar nama Yusuf. "Halah keluarga itu lagi, kalau kamu gak bisa menyingkirkan, Rama. Maka saya akan cabut pangkat kamu!"


Setelah mengucapkan hal itu, Adji pergi dari rumah Kevin. Kevin terdiam dan merenung.


"Bagaimana ini? apa aku harus mengorbankan persahabatan?"


TBC🍻

__ADS_1


__ADS_2