RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 40


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca😘


Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta.


****


Pagi-pagi, Clara menggeliat dan berusaha membuka matanya. Sesaat Clara menyadari keanehan, perutnya seperti tertimba beban berat.


Clara berbalik badan, matanya melebar mendapati Bima tidur dengan memeluk dirinya. Clara hanya diam, mengamati wajah tampan, Bima yang terlelap.


“Aku gak nyangka sekarang jadi istrimu, Bim”


Clara mengusap pipi, Bima. Tiba-tiba mata, Bima terbuka. Clara langsung menarik tangannya. Bima melotot mendapati, Clara di depannya.


“Ka--Kamu?” Bima terkejut dibuatnya.


Clara langsung turun dari ranjang. “Maaf, Bim” Clara langsung masuk ke kamar mandi.


Bima terduduk di ranjang, jantungnya tiba-tiba berdebar. Menatap, Clara dengan dekat mampu memompa jantung, Bima dengan cepat.


“Kenapa gue merasakan ini?” Bima merasakan hal yang dulu dia rasakan saat pertama kali bertemu, Sinta. Bima menggelengkan kepalanya.


Bima meraih handphonenya yang berada di meja samping ranjang. Bima membuka sosial media Instagram. Sesaat, Bima hanya menscrol beranda, sampai matanya mendapati foto kedua insan yang terlihat sangat mesra.


Bima mengeraskan rahangnya, menatap foto Rama dan Sinta. “Sial!” Bima melempar vas bunga yang berada di meja.


Pyar


Mendengar suara pecahan, Clara langsung keluar dari kamar mandi. Clara mendapati Vas bunga yang telah pecah dan Bima yang terlihat marah.


Clara takut-takut mendekat untuk membereskan pecahan Vas bunga. “A--apa yang terjadi denganmu?” tanya Clara ragu-ragu.


Bima tidak menjawab dan langsung masuk ke kamar mandi. Clara hanya bisa menghembuskan napas berat. Setelah membersihkan pecahan Vas bunga, Clara turun ke dapur.


“Pagi, Mom” sapa Clara kepada Ibu mertuanya.


Jane yang saat itu membantu pembantu rumah tangga itu memasak, langsung menoleh ke Clara. “Hay, Selamat pagi” Jane menyambut dengan senyum merekah.


Clara pun membantu memasak. Jane senang mendapat mantu yang tak pemalas. “Bima sudah bangun belum, Clar?”


“Sudah, Mom”


Jane menatap ke arah tangga. Bima menuruni tangga, Bima tampak tampan menggunakan setelan jas biru tua. Terlihat lebih maskulin.


“Morning, Mom”


“Morning, Ayo sarapan!” Jane dan Clara langsung menaruh piring-piring yang di penuhi makanan di meja.


Tak lama, Doni pun ikut bergabung. Sarapan pagi dengan hening. Clara merasa, Bima menjadi dingin kembali. Tatapannya menjadi tajam dan mematikan.


“Dad, Mom. Aku berangkat dulu, Clara jika kamu mau pulang suruh mengantar, Pak Wawan” ujar Bima datar, lalu meninggalkan meja makan.


Bima langsung meninggalkan, Clara yang mematung. Bima lalu masuk ke mobilnya, melaju kencang membelah jalanan Ibu kota.


Dadanya bergemuruh, membayangkan foto Rama & Sinta. Dengan kesal, Bima memukul stir mobil tersebut.


“Arghhhh!!! Rama sialan!!”


Bima tidak pergi ke kantor. Tapi Bima pergi ke taman hiburan tempat favoritnya dulu dengan, Sinta. Taman hiburan itu belum buka, karna ini masih sangat pagi.


Bima berjalan sendirian, menatap wahana-wahana yang tampak sepi. Ingatan-ingatan dulu bersama Sinta berputar di otaknya.


Bima terduduk di kursi taman hiburan tersebut. Bima menundukan kepala, meremas rambutnya frustasi.


“Arghhhhhhh!!! Sinta!!! Sampai kapan pun aku masih mencintaimu, Sinta...” air mata Bima tiba-tiba menetes. Cintanya begitu besar dan dirinya malah terjebak pernikahan, yang dirinya pikir karna kebodohannya.


“Bima...”

__ADS_1


Bima mengadahkan kepalanya. Mendapati, Clara yang berdiri di hadapannya. Namun, tiba-tiba wajah Clara seolah berubah menjadi, Sinta.


Bima tersenyum melihatnya. “Sayang kamu kesini?”


Clara merasa bingung karna Bima menjadi manis. “I--Iya”


“Kemarilah sayang duduklah” Bima langsung menarik, Clara duduk di sampingnya. Bima bahkan memeluk Clara.


Clara yang bingung hanya bisa membalas pelukan, Bima. Sampai, Bima menggumamkan hal yang membuat hati Clara menyayat.


“Jangan pergi, Sinta. Aku tetap mencintaimu, ku mohon tetaplah seperti ini, Sinta”


Jderrr


Bagikan di sambar petir. Hati Clara hancur berkeping-keping, air matanya luruh begitu saja.


“Tak bisa kah kamu memandangku sebagai Clara, Bima?. Bukalah matamu, aku Clara bukan Sinta!”


****


Hari ini adalah Hari terakhirnya, Sinta berada di Pulau Misool. Sinta sudah berkemas, bersiap untuk kembali bertugas.


Di bantu, Rita. Sinta sudah selesai berberes. Sinta lalu keluar bersama, Rita dari kamarnya. Rama dan Rednan ternyata sudah menunggu di luar.


“Udah semua? gak ada yang ketinggalankan?”


Sinta menggeleng menanggapi pertanyaan, Rama. “Aman, udah semua kok”


“Kaya nya masih ada ketinggalan deh” ujar Rama dengan wajah serius.


Sinta mengkerutkan keningnya. “Ah masa sih? Kaya nya udah semua kok,”


“Kenangan manis kita tertinggal disini,” jawab Rama dengan senyum jahilnya.


Yang mendengar ucapan, Rama hanya bisa memutar bola mata malas. Rednan yang sudah selesai menerima telpon itu lalu mendekat ke arah, Rama.


“Bucin mulu lo, Ram. Cepet deh kita balik, gue dapet panggilan nih” ketus Rednan.


Rednan menggeram menahan kesal karna ledekan, Rama. Sinta hanya terkekeh melihatnya. Lalu mereka langsung menaiki kapal yang sama.


Sama seperti saat berangkat, pulangnya pun menempuh waktu 4 jam. Setelah sampai, Rama dan lainnya langsung pergi ke penitipan kendaraan.


Setelah memberikan kartu parkir. Rama dan lainnya langsung melesat untuk kembali ke barak. Sinta lebih memilih tidur, liburan menyenangkan tetap membuat lelah.


Setelah lamanya perjalanan, akhirnya Rama sampai di barak. “Sin, bangun udah sampai” Rama menepuk-nepuk kedua pipi Sinta.


Tak lama, Sinta menggeliat. “Udah sampai ya?”


Sinta pun turun dari mobil. Rama dan Rednan langsung menurun-nurunkan barang-barang.


“Lo kemarin pagi kemana sama, Sinta?” tanya Rednan


Rama hanya melirik sekilas kearah, Rednan. “Emang kenapa?”


“Lo mah cuma pacaran terus, gue liburan gak ada asik-asiknya,”


Rama tertawa mendengar gerutu, Rednan. “Makanya tobat jadi playboy, serius pacaran itu asik. Ada yang merhatiin, ada yang buat liburan bla bla bla”


“Halah males gue dengernya. Cewek itu semua sama! kalo gak manja ya galak. Enakan cewek yang galak, terus can--”


“Permisi....”


Ucapan, Rednan tiba-tiba mematung. Tatapannya langsung terpana, kepada gadis cantik yang ada di depannya.


“Ada yang bisa di bantu?” Rednan langsung maju satu langkah. Rama hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya.


“Saya mau bertanya, ruangan Komandan Satria dimana ya?” tanya gadis itu dengan nada datar.

__ADS_1


Rednan terpana dengan gaya perempuan di depannya tersebut. Perempuan tinggi, kulit putih, hidung mancung, dan tatapan tajam.


“Ini sih calon bini gue”


“Ekhm”


lamun Rednan langsung buyar mendengar deheman gadis di depannya tersebut.


“Ru--”


“Ayo saya antar” Rednan langsung memotong ucapan Rama yang hendak menjelaskan.


Rama hanya geleng-geleng kepala dibuatnya. Gadis itu lalu menatap, Rednan datar. “Oke.” jawabnya singkat.


Rednan tersenyum kemenangan. Lalu berjalan beriringan menuju ke ruangan, Komandan Satria.


“Baru juga di bilangin, udah kambuh aja plabonya.” gumam Rama sembari menatap punggung Rednan dan gadis tak di kenal tersebut.


Rama baru mengingat ada sesuatu yang ingin diberikan kepada, Sinta. Rama lalu mengambil sesuatu itu dari dashboard mobil.


Rama lalu menuju ke kamar Sinta. “Hay” sapa Rama saat mendapati, Sinta berdiri di depan pintu.


“Tadi ada cewek nyamperin kalian siapa?” tanya Sinta datar.


“Oh itu, tadinya sih mau minta foto sama aku. Katanya ngefans,” goda Rama dengan senyum jahilnya.


Sinta melotot mendengar ucapan, Rama. “Oh yaudah sana foto!!”


Rama tertawa melihat Sinta yang marah. “Hahaha. Enggak-enggak, Aku bercanda”


“Oh”


Rama kembali tertawa, Rama meraih telapak tangan Sinta. Meletakan sebucket bunga di tangan Sinta.


Sinta mengernyitkan dahinya. “Bu--Bunga?”


“Buat kamu,”


Sinta tersenyum menatap bunga-bunga indah tersebut. “Kamu beli kapan ini, Ram?”


“No. Aku gak beli ini aku buat saat di Pulau,”


Sinta menganga mendengarnya. “Seriously?” Sinta langsung melebarkan senyumannya. “Tapi kenapa kamu bikin ini?”


“Supaya kenangan manis kita tetap teringat.”


Sinta mengernyitkan dahinya. “Kenapa? bukankah kita punya foto-foto?”


Rama hanya tersenyum mendengarnya. Rama hanya mencium pucuk kepala, Sinta lalu pergi.


*


*


*


*


*


*


*


“Jika suatu saat aku tak lagi bersamamu. Aku hanya ingin kamu mengingatku, ingatlah dulu ada pria yang tak sempurna ini mencintaimu” – Ramadhani Asof


**TBC😘

__ADS_1


Jangan lupa, kalau suka dengan ceritanya berikan Like, Vote, dan Rat bintang 5nya.


Nantikan kisah Rednan juga ya**...


__ADS_2