
Budayakan Like Sebelum Baca😘
The Last Mission (kisah Rednan)
****
Rama dan Sinta berjalan beriringan menuju tempat parkir rumah sakit. Sinta sengaja menyuruh Rama untuk mengantarnya, sedangkan Rita yang membawa mobil Sinta.
“Hmm... Sinta, apa Papamu berada di rumah?” tanya Rama saat mereka sudah sampai di tempat parkir.
Sinta menengok ke arah Rama, “Semalam, Papa berangkat bertugas.”
Rama mengangguk, lalu menggiring Sinta untuk ke parkiran motor. Sinta sedikit bingung di buatnya.
“Kamu bawa motor?”
“Iya akukan gak punya mobil.” jawab Rama sembari berjalan lebih cepat.
Sinta mengikuti Rama, sampai mereka berhenti di depan motor Vespa Matic berwarna putih. Sinta menganga melihat motor Classic tersebut.
“Wowwww, Ini keren!” Sinta berdecak kagum melihat motor Vespa matic yang dulu diidam-idamkannya.
Rama tersenyum melihat Sinta, yang tampak kagum. Rama lalu memberikan satu helm kepada Sinta.
Sinta menerima helm tersebut, lalu memakainya. Rama lalu duduk di depan, di susul Sinta yang berada di Jok belakang.
“Kamu haus enggak?” sebelum berangkat Rama bertanya kepada Sinta.
Sinta yang berada di belakang hanya menganggukan kepala. “Iya sih haus, tadi pekerjaan lagi numpuk banget.”
“Yasudah.” Rama lalu melajukan motornya. Tanpa di suruh, Sinta sudah melingkarkan tangannya di perut Rama.
Mereka menikmati angin sore Kota Jakarta, sesekali Rama dan Sinta saling bercanda, Rama dan Sinta selalu membuat iri kaum-kaum jomblo yang melihat.
Seperti saat ini, motor Rama berhenti di lampu merah. Rama selalu melayangkan godaan kepada Sinta.
“Sinta...?”
“Hmmm”
“Kamu tahu gak persamaan kamu sama rambu lalu lintas?” tanya Rama dengan nada menggoda.
Sinta menyandarkan kepalanya di bahu kiri Rama, yang melihat hal tersebut pasti akan di buat iri.
“Kok aku di samain sama rambu lalu lintas sih! gak romantis banget.” sungut Sinta kesal
Rama terkeleh mendengarnya. “Kamu kan emang sama, kalau udah dapet lampu hijau langsung trabas aja.”
Sinta tertawa mendengar godaan Rama. “Apaan sih gak jelas!”
Pemandangan itu sangat manis jika di lihat, seperti anak-anak ABG yang sedang berpacaran.
__ADS_1
“Eh udah lampu hijau, trabas gak nih?”
Sinta yang berada di belakang merasa kesal, karna Rama tak kunjung melaju. “Trabas lah, gimana sih?”
“Ashiapp, Ibu Negara! jangan lupa pegangan yang erat dengan Pak Tentara tampanmu ini.” ucap Rama dengan senyum jahilnya.
Sinta langsung melingkarkan tangannya di perut Rama. Rama lalu melajukan kembali motornya. Sinta sangat senang, bisa melepas rindu dengan kekasihnya yang sudah mengisi hatinya beberapa bulan ini.
Tiba-tiba motor Rama berhenti, Rama menepikan motornya di bawah pohon besar, yang dijadikan tempat pangkalan penjual es potong.
Rama lalu turun, di susul Sinta. Setelah melepas helm, Rama lalu mendekat ke arah penjual es potong yang sudah menjadi pria paruhbaya
“Assalamualaikum, Pak Mamat!”
Penjual es potong bernama Mamat itu membalikan badannya. Namun, penjual es potong itu nampak tak mengenali Rama.
“Kamu kenal saya?” tanyanya dengan bingung.
Sontak Rama tertawa mendengar pertanyaan tersebut. “Pak Mamat, lupa sama saya?”
Penjuel es potong itu tampak berpikir. Di amatilah wajah Rama, penjual es potong itu menatap Rama dengan intens.
“Dhani? kamu Dhani? bocah tengil yang suka ngutang itu kan?” seru Pak Mamat setelah berhasil mengenali Rama.
“Iya, Pak. Saya Ramadhani, tapi saya kan sudah bayar hutang-hutang saya, Pak.” Rama sedikit malu mendengar kata hutang, padahal saat ini dia sedang bersama Sinta.
“Dasar bocah tengik! kemana saja kamu? saya kira kamu meninggal!”
Rama hanya bisa mencibirkan bibirnya. Pria paruhbaya itu memang sangat akrab dengan Rama, karna Rama dulu adalah langganannya. Setiap pulang sekolah, Rama and The Genk pasti akan membeli es potong tempat Pak Mamat.
“Saya Sinta, Pak.” Sinta lalu memperkenalkan dirinya dengan sopan.
“Bukan pacar saya, Pak. Tapi calon ibu dari anak-anak saya.” Dengan santai Rama menyahuti, dan saat ini Rama sudah menikmati es potong yang dia ambil sendiri.
Sinta sudah merona mendengar ucapan, Rama. Namun, Sinta harus menutupinya.
“Dasar bocah tengik! sudah jadi Tentara masih suka aja minum Es.” sindir Pak Mamat sembari memotongkan es untuk Sinta.
“Waduh, Pak Mamat. Es buatan, Pak Mamat itu pasti selalu jadi yang paling enak, dan saya bukan bocah tengik lagi, Pak.” celoteh Rama membela dirinya.
“Halah bilang saja kamu mau ngutang!”
Deg!
****
Citt
Motor yang di kendarai Rama mendarat mulus, tepat di halaman rumah Sinta. Sinta sengaja menyuruh Rama mampir, untuk memberi tahu hubungannya kepada Mamanya.
Dengan semangat Sinta menarik tangan Rama. Rama pun bersikap santai, karna dia pun sudah mengenal Keluarga Sinta.
“Assalamualaikum! Mama...Ma...Mama!” Gadis berusia 20 tahun itu tampak semangat mencari Mamanya. Sinta tak menyadari jika ada pria yang duduk di ruang tamunya, sedangkan Rama dia masih mematung di depan pintu.
__ADS_1
“Waalaikumsallam, kamu kok teriak-teriak sih?” Tari keluar dari arah dapur, sembari membawa minuman dan camilan.
Sinta berbinar dan langsung menarik Rama. Betapa terkejutnya Sinta, melihat Bima saat ini duduk di sofa ruang tamu. Bima tak kalah terkejut, melihat Sinta datang dengan Rama.
“Loh, Rama? kamu kok bisa kenal Sinta?” tanya Tari yang sudah mengenal Rama.
Rama tersenyum, lalu dengan sopan bersalaman dengan Tari. “Apa kabar, Tante?”
“Baik, Ram. Terus coba dijelaskan, bagaimana Sinta mengenal Rama?” Tari masih tampak bingung.
Dengan bangga, Sinta meraih tangan Rama. Sinta tidak memperdulikan keberadaan Bima. Sinta lalu menunjukan kepada Mamanya.
“Rama, pria yang membuat Sinta tertawa, pria yang membuat Sinta tahu jika cinta itu memang tanpa alasan. Dan Mama harus tahu, kalau Sinta pacaran dengan Rama!”
Deg!
Bima yang mendengar ucapan Sinta tersebut langsung kaget. Bima pikir, Sinta hanya menganggap Rama temannya. Namun, saat ini kenyataan begitu menyakitkan.
“Untuk masalah kenalnya dimana, nanti malam Sinta ceritain deh, Ma. Intinya awalnya kita itu musuh!” imbuh Sinta semakin semangat.
Tari tampak senang mendengarnya, bisa berbesan dengan Aletha, pikir Tari.
“Allhamdulilah deh, yang penting pacarannya jangan kelewatan. Kalau sudah halal kalian bisa bebas!”
Rama tersenyum mendengar ucapan Tari. Bisa di pastikan, jika Tari menyetujuhi hubungannya dengan Sinta.
“Siap, Tante. Rama pasti akan menjaga Sinta.” sahut Rama dengan semangat.
“Ekhm.” deheman Bima menyadarkan orang-orang tersebut.
Dan, Rama baru menyadari jika ada Bima di antara mereka. Sorot mata Rama berubah tajam, tak kalah tajam dengan sorot mata Bima.
“Tante, saya pulang ya.” pamit Bima yang langsung beranjak dari duduknya.
“Oh, Iya bim. Maaf saya jadi lupain kamu.” Tari menjadi merasa tak enak kepada Bima.
“BUKANNYA EMANG HARUS DI LUPAIN?”
Jlep
Sindirian Sinta yang lantang itu langsung menusuk ke jantung Bima. Bima mencoba tegar, dia tidak boleh lemah di hadapan mantan kekasihnya.
“Saya pamit!” Bima lalu pergi meninggalkan rumah mewah tersebut.
Bima langsung masuk kedalam mobilnya, Bima pun menutupnya dengan kasar. Dadanya bergemuruh menatap apa yang sudah menjadi kenyataan. Kenyataan, dimana Sinta telah melupakannya.
Drttt.... Drttt.... Drttt
“Kamu dimana, Bima? kepalaku pusing, bisa kamu pulang?” isi pesan dari Clara.
Membaca pesan itu membuat Bima teringat, dimana Clara muntah-muntah dan mual. Bima melajukan mobilnya, dengan pikiran melayang kepada keadaan Clara.
“Gue harus lupain, Sinta. Gue sekarang punya tanggung jawab, kemarin Clara mual-mual. Apa jangan-jangan, Clara hamil ya? Itu hal bagus jika terjadi”
__ADS_1
TBC😘