
Budayakan Like Sebelum Baca😘
.
.
.
.
.
****
Rednan dan Sinta begitu panik! Aletha masih belum sadarkan diri. Kak Adnan yang saat itu sedang meeting langsung datang kerumah Aletha.
“Apa kita bawa kerumah sakit saja, Om?” tanya Sinta yang mulai khawatir.
“Tidak apa-apa, biarkan Aletha istirahat. Jiwanya masih terguncang.”
Sinta menghela napas dalam. “Aku permisi dulu ya!”
“Kamu mau kemana, Sin?” Rednan mencegah Sinta yang hendak pergi. Rednan takut jika Sinta melakukan hal yang tidak-tidak.
“Sebentar aja, Mas. Aku gak bakal lakuin hal-hal aneh!”
Rednan pun menganggukan kepalanya pasrah. Sinta pun pergi meninggalkan rumah Aletha.
Sinta menggunkan taxi untuk pergi ke tempat tujuannya. Tujuan Sinta adalah Kantor Papanya, Sinta sudah sangat curiga jika ini perbuatan Papanya.
Tak lama Sinta pun sampai di Kantor Kevin. Setelah membayar ongkos kepada supir taxi, Sinta langsung masuk ke Kantor Kevin.
Beberapa staf memberikan hormat dan salam kepada Sinta, namun Sinta hanya mengacuhkannya. Sinta terus berjalan dengan terburu-buru.
Ceklek
Tanpa mengetuk pintu, Sinta langsung masuk ruangan Papanya. Ternyata, Kevin sedang mengobrol dengan Pak Adji.
“Wah, Sinta kebetulan sekali kamu kesini!” Pak Adji langsung menyambut Sinta dengan senyuman manisnya.
Sinta tak menggubris Pak Adji, Sinta langsung berjalan menghampiri Papanya.
“Sinta biasakan ketuk pintu terlebih dahulu!"
Sinta tidak menjawab, Sinta hanya menatap tajam Papanya. “Katakan jujur kepada, Sinta! Papa yang sudah kirim Rama tugas untuk menyerang mafia-mafiakan?!”
Kevin mengernyitkan dahinya menatap Sinta. “Apa maksud kamu, Sinta?”
“Papa gak usah ngelak lagi! Sinta tahu semua rencana, Papa. Sinta denger kemarin waktu, Papa telponan.”
FLASHBACK
Sore itu, Sinta baru saja pulang dari rumah sakit. Sinta begitu senang karna mendapat dua tiket bioskop dari Eve.
Saat hendak menaiki tangga, tak sengaja Sinta mendengar pembicaraan Papanya dengan orang disebrang telpon.
📞 Kevin
“Ya, malam ini kirim Rama untuk menjadi tumbal kepada mafia-mafia itu. Suruh mereka membawa Bom yang sudah dirakit!”
📞
“.....”
📞 Kevin
“Aku menyuruh Rama karna hanya dia yang bisa mengaktifkan Bom itu. Ya meskipun akan banyak yang menjadi korban! Yang terpenting misi kita berhasil!”
📞
“.....”
📞 Kevin
__ADS_1
“Tenang saja anak itu akan selamat!”
Tuttt... Tutt... Tutt
Sinta pun sadar jika malam itu Rama berada di dalam bahaya.
FLASHBACK END
“Kenapa, Papa jahat banget sama Rama? Apa sebenarnya salah Rama sih, Pa? Papa gak kasihan sama, Bunda Aletha? Hah?!”
“Ka...kamu salah paham, Sinta. Papa gak maksud menyelakai Rama!” Kevin mencoba mendekati, Sinta. Namun, belum sempat tangan Kevin meraih Sinta, Sinta sudah menghempaskan kasar tangan Papanya.
“Sinta kecewa sama, Papa. Sinta gak tahu bisnis apa yang, Papa lakuin. Yang pasti Papa seperti gak suka kalau Sinta punya hubungan sama Keluarga Rama!”
Kevin menghela napas sebelum menjawab. “Sinta kamu sal—”
“Stop, Pa! Sinta udah kecewa sama, Papa. Demi sebuah uang dan kekuasaan, Papa lakuin ini semua! Sinta benar-benar kecewa!” Sinta lalu membalikan badannya hendak pergi, matanya menatap tajam Pak Adji yang sedang tersenyum kepadanya.
“Sinta, tunggu Sinta!!” Kevin berteriak menyusul putrinya. Namun, Sinta mengacuhkan panggilan Papanya.
Kevin hanya bisa menghela napas, menatap punggung putrinya yang menjauh. “Maafkan Papa, Sinta.”
“Ekhm!”
Suara deheman mengalihkan perhatian, Kevin. Kevin hanya menatap datar Pak Adji.
“Ingat Kevin, apapun yang terjadi perjodohan Sinta dan Satria akan tetap terjadi!”
Kevin hanya diam, persetan dengan balas budi! Kevin benar-benar muak!
Dulunya disaat Kevin mendaftar menjadi TNI. Pak Adji datang memberikan dia bantuan, dengan waktu yang cepat Kevin bisa naik pangkat. Namun, karna kepolosan Kevinlah dia dimanfaatkan. Kevin tidak tahu jika balas budi yang dimaksud adalah menghancurkan kebahagiaan putrinya.
“Maafkan Papa, Sinta... Papa menyesal!”
****
“Menyingkirlah kau serigala sialan!”
Marcus hanya berbekal sebuah kayu. Marcus benar-benar takut! Marcus tidak mempunyai senjata, sekali terkaman saja pasti dia dan Rama sudah tak bernyawa, mengingat mereka yang saat ini masih lemah.
“Harghhhhh...”
Marcus terus waspada, matanya menatap tajam serigala-serigala tersebut.
“Haurrghhhhhh....”
Tiba-tiba saja dari arah lain, datang serigala-serigala lainnya. Marcus bertambah takut saat ini, tidak lucu rasanya jika seorang pemimpin mafia mati di makan serigala.
“Menyingkirlah dasar binatang sialan...Arghhh!!” Kaki Marcus harus terkena gigitan serigala.
Marcus mundur beberapa langkah, dengan Rama yang masih dia papah. Namun, sialnya Marcus dan Rama sudah terpentok di pohon besar.
Mereka berdua benar-benar terkepung!
Perlahan-lahan mata, Rama mulai terbuka. Saat mata Rama benar-benar terbuka, Rama langsung melotot melihat dia di kepung serigala.
Saat, Rama menoleh kekanan dia mendapati Marcus yang sedang memapapahnya.
“Ma...marcus?”
“Ha, Rama syukurlah kau sudah sadar! Kita harus melewati binatang-binatang buas ini!”
Rama lalu mengalihkan perhatiannya kepada para serigala-serigala tersebut. Auman mereka semakin, membuat kepala Rama berat!
Dan, saat salah satu serigala yang paling besar mencoba mendekati Rama dan Marcus, mereka berdua menjadi sangat panik.
“Harghhhh...!!”
Dor
Dor
Dor
__ADS_1
Dor
Dor
Dor
Rama dan Marcus yang saat itu memejamkan mata, mulai membuka matanya perlahan saat mendengar suara tembakan. Mereka melotot melihat para serigala-serigala tadi sudah terkapar tak bernyawa.
“Tuan, anda tidak apa?”
Rama dan Marcus mengalihkan perhatiannya, kepada dua pria paruhbaya yang membawa senjata api berlaras panjang.
Namun, pandangan Marcus mulai kabur. Wajahnya pucat, Marcus pun langsung tak sadarkan diri!
Rama dan dua pria paruhbaya tadi begitu khawatir melihat Marcus tak sadarkan diri.
Salah satu pria tadi lalu memapah Marcus, dan satunya memapah Rama. Mereka lalu menuju kemobil Jeep yang terparkir tak jauh dari kejadian.
Mobil pun melaju meninggalkan area hutan. Rama masih diam dengan pikirannya, Rama begitu terkejut melihat Marcus yang telah menolongnya, dan dua orang yang Rama tebak seorang pemburu itu menyelamatkannya.
“Sebenarnya kalian siapa?” tanya Rama memecah keheningan.
“Kami hanya bawahan, Tuan Marcus.” jawab salah satu dari mereka.
Rama masih sangat bingung dengan jawaban pria tersebut. “Maksudku, kami hanyalah pembeli senjata dari, Tuan Marcus. Aku Jace dan ini temanku Tijo, kami membeli senjata dari Cosa Nostra, dan hari ini kami mencoba berburu di hutan ini dan malah menemukan kau dan Tuan Marcus yang di kepung serigala.”
“Co....sa Nostra?” Rama begitu terkejut mendengar nama organisasi penjahat tersebut.
“Ya, apa kau tak tahu jika, Tuan Marcus pemimpin mafia itu? Dan apa yang kalian lakukan di hutan ini? dan kenapa tubuh kalian penuh luka?” tanya Tijo kepada Rama yang masih sangat bingung.
“A...aku dan Marcus jatuh kesungai, kami terbawa arus,” jawab Rama pelan sembari menunduk.
“Astaga, lukamu dan Tuan Marcus pasti parah. Kami akan segera membawa kalian!” sahut Jace pula. Perjalanan pun kembali hening.
Sampai tak sadar mereka tiba di sebuah perumahan kumuh dan kotor. Rama dan Marcus dibawa kesalah satu rumah.
Rama langsung dibantu untuk membersihkan luka-lukanya. Begitupula Marcus yang masih tak sadarkan diri.
Gigitan serigala di kakinya membuat Marcus kehilangan banyak darah.
Rama tidak menyangka jika diperumahan kumuh tersebut, memiliki alat-alat medis yang komplit.
Iuka gigitan serigala Marcus pun bahkan langsung di obati. Rama bahkan diberikan makanan layak, setelah makan Rama langsung menuju kekamar yang di tempati Marcus.
Disana terdapat Jace yang sedang memandangi Marcus. “Kau mengenalnya lama?” tanya Jace saat menyadari kedatangan Rama.
“Kami dulu sahabat.”
“Dulu?”
“Sebelum dia menghancurkan rumahku,” ucap Rama pelan.
Jace tersenyum tipis mendengarnya. “Kau mengenal Marcus?”
Jace hanya menganggukan kepala. “Aku berbisnis dengannya, pria arogan inilah yang selalu menjadi panutanku.”
“Kenapa begitu?”
“Ya, karna dia adalah serigala malam yang sangat buas.”
.
.
.
.
.
.
TBC😘
__ADS_1