
Budayakan Like Sebelum Baca🍻
Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta.
****
Sepanjang perjalanan menuju bandara, Rama maupun Rednan hanya diam. Rama sesekali melirik, Rednan. Wajahnya nampak tak bersemangat.
“Lo kenapa sih, Red? Masa gara-gara gak ketemu cewek kemarin lo jadi lemes,”
Rednan melirik kearah, Rama yang sehabis berbicara. “Ya. Gak gitu, cuma arghh....”
Rama hanya bisa menghembuskan napas kasar. Setelah itu Rama maupun Rednan, kembali diam.
Setelah lamanya perjalanan, akhirnya mobil yang di kendarai, Rama sampai di bandara.
“Hati-hati, Red. Gue yakin pembunuh keluarga Atmajaya bukan orang biasa,” ujar Rama sebelum, Rednan turun dari mobil.
Rednan tersenyum tipis mendengarnya. “Santuy aja lo, ini Rednan Adijaya”
Rama hanya bisa memutar bola mata malas. Setelah mengucapkan, sampai jumpa. Rama memacu kembali mobilnya untuk pulang. Namun, kemarin Rama baru mengingat, Sinta meninginkan sesuatu.
Rama pun membelokan mobilnya ke sebuah warung yang tampak ramai. Rama, lalu turun dari mobil. Warung itu sangat ramai, bermacam-macam pembeli.
Rama duduk di salah satu meja, sembari membaca menu makanan di warung makan tersebut.
“Heh sialan lo balikin duit gue!”
“Makan disini itu gak gratis, lo gak cuma bayar makanan tapi juga bayar pajak,”
“Pajak apaan anj*ng!?”
Rama yang sedari tadi diam melirik ke belakang. Tampaklah, dua anak muda yang berbeda RAS dan 4 pria dewasa berbadan besar. Rama hanya diam mencoba mendengarkan.
“Parkir disini itu bayar!!”
Salah satu anak muda itu mengeluarkan uang 2 ribuan. “Nih cukupkan?”
Nampak keempat pria dewasa itu marah. “Heh. Lo pikir kita apaan lo kasih 2 ribu, parkir disini 30 ribu untuk mobil!”
Keempat pria dewasa itu langsung meninggal dua pria muda yang babak belur karna diberi pukulan. Keempat pria dewasa tadi, langsung menuju meja makan.
“Uang pajak!”
Rama mengadahkan kepalanya, dengan santai Rama memberikan uang sebesar 1 ribu rupiah. Nampaklah wajah garang, keempat pria dewasa.
“Lo mau gue bikin nasib lo kaya kedua anak muda tadi?” bentaknya kepada Rama.
“Gue aja cuma beli makanan sebesar 20 ribu rupiah. Kenapa parkir jadi lebih mahal? kalo cuma numpang nyari penghasilan yang tahu diri dong, parasit gak tahu malu”
Brak
Karna cibiran, Rama membuat keempat pria dewasa itu sangat marah. “Sialan, siapa lo?!”
Rama dengan santai melepas jaketnya. “Kalo kalian pengen menunjukan kelakian, di luar aja. Kasian yang punya warung, udah jualan di tumpangin sama parasit gak tahu diri kaya kalian!”
“Arghhh banyak Ba*ot lo!”
Rama dan keempat pria tadi lansung keluar. Rama akan menghadapi keempat pria berbadan besar, tentu Rama santai saja. Karna ini bukanlah hal yang pertama.
“Kya...!!!”
Rama membalas setiap pukulan-pukulan. Dan hal itu membuat tontonan para pembeli, Rama terus menghindar dan memberi pukulan ke bagian-bagian tertentu.
Rama melirik pemilik toko itu mengamati dirinya. Rama mendekat ke arah pemilik toko itu, sembari menghindari pukulan-pukulan.
“Pak, mie nya 2 yang paling spesial” bisik Rama.
__ADS_1
“Ba--Baik”
Bugh
Rama ambruk karna pukulan dari belakang, kepalanya terbentur batu dan membuat berdarah. Rama tidak bisa membuang waktu lagi, Rama pun bangkit.
“Saya peringatkan! jika kalian masih memintai uang parkir dengan harga tak masuk akal, saya bisa masukan kalian ke penjara!”
“Alah emang lo tuh siapa? Hah!?”
Dengan santai, Rama mengeluarkan pistolnya. Keempat pria itu langsung gelagapan, dan lebih memilih pergi.
Setelah drama di rumah makan selesai, Rama langsung kembali ke barak. Rama langsung menuju ruang medis.
Sinta begitu terkejut dengan keadaan, Rama. Dengan cepat, Sinta langsung memberikan perban di kepala Rama.
“Dasar ceroboh! lagi dalam bahaya juga masih mikirin pesen mie,” Sinta terus mengomel di buatnya.
Rama hanya tersenyum tipis. “Hehe, Maaf nih aku bawain mie”
Sinta tersenyum dan langsung menikmatinya bersama, Rama.
“Dapetin mie enak kaya gini, sama kaya dapetin kamu ya, Sin”
Sinta menoleh mendengar ujaran Rama. “Sama kaya aku gimana?”
“Sama-sama butuh perjuangan”
****
Sembari menatap hangatnya api unggun. Rama dan Sinta sesekali bercanda, kedua manusia yang sudah lengket seperti perangko.
“Kamu ngapain sih masih disini? kamu tadi kan di panggil, Pak Satria” ujar Sinta pelan.
“Males ah, ini bukan tentang tugas” Rama hanya menjawab dengan santai, sembari menselonjorkan kakinya.
“Iya aku tahu,”
Sinta mengernyitkan dahinya, mendengar jawaban Rama yang santai. “Kamu gak sedih aku tinggal? apa kamu mau cari, Dokter cantik lainnya?”
Rama terkekeh mendengar omelan, Sinta. “Kenapa aku harus sedih?”
Sinta melotot mendengarnya, Sinta langsung mengerucutkan bibirnya. Rama terkekeh melihatnya.
“Hahaha. Enggak aku cuma bercanda, Sinta. Aku kan sudah selesai tugas, 1 minggu besok tugas terakhirku” ujar Rama dengan mengusap rambut Sinta.
“Lama banget masa 1 minggu. Kita gak ketemu selama 1 minggu dong?”
Rama hanya tersenyum mendengar rengekan, Sinta. “Masa 1 minggu lama, kan cuma 7 hari”
“Tauk ah” ketus Sinta dengan mengalihkan muka.
Rama hanya tertawa, melihat tingkah kekasihnya. Dengan lembut Rama mengusap kepala, Sinta.
Drtt Drtt Drtt
Getaran di ponsel mengalihkan perhatian, Rama. Rama pun mengambil ponselnya dari saku. Tertera nama 'Rednan'
Rama pun menekan emoticon hijau, untuk mengangkat panggilan via telpon.
“Hallo kenapa sih?” ketus Rama.
Dari sebrang, Rama bisa mendengar Rednan tertawa. “Bro, Lo tahu gak?”
“Gak usah ngasih tahu gue udah tahu,”
dari sebrang, Rednan tampak bingung mendengar jawaban, Rama. “Beneran lo udah tahu?”
__ADS_1
“Ck. Ya belum lah, orang lu belum kasih tahu!” Rama berdecak kesal, karna panggila dari Rednan membuat waktunya dengan, Sinta di ganggu.
“Hehehe, Santuy dong. Bro, lo tahu gak cewek yang kemarin?” Rednan langsung semangat untuk menceritakan.
“Hmmm?”
“Gu--gue ketemu dia lagi bro!!!” Sontak Rama yang mendengar teriakan, Rednan langsung menjauhkan telponnya.
“Heh, bisa gak lo gak usah teriak-teriak?!!" kali ini bukan, Rama yang mengangkat suara. Namun, Sinta yang langsung mengambil alih telpon, Rama.
Dari sebrang telpon, Rednan terkekeh mendengar Sinta marah. “Hehehe. Maaf, Sin. Gue terlalu seneng malam ini, soalnya cewek kemarin satu tim sama gue,”
“Lo cuma mau bilang itu doang? ganggu aja sih lo!”
Rednan hanya tertawa mendengar, Rama yang tampak sangat kesal. “Hehehe. Sorry bro, gue bahagia banget malem ini, Bro. Besok gue udah terbang ke kalimantan”
“Lah kenapa lo sekarang jadi semangat?” tanya Rama merasa heran, dengan perubahan iklim sahabatnya tersebut.
“Hehehe, Kan kesananya sama, Mbak Jullie”
“Oh, Namanya Jullie?” Rama bergumam. Namun, gumamnya itu masih bisa di dengar, Sinta.
“Udah bro, gue tutup telponnya. Gue mau cepet-cepet tidur nih, jadi gak sabar pengen pagi”
“Cih, lebay banget sih lo. Iya udah lo tutup telponnya, ganggu aja!” Rama langsung mematikan panggilannya bersama, Rednan.
“Jadi cewek kemarin namanya, Jullie” sindir Sinta.
Rama langsung mengalihkan pandangannya kepada, Sinta. “Iya emang kenapa?”
“Oh cantik ya”
Rama hanya tersenyum tipis, mengingat kekasihnya yang sangat posesif dan pencemburu tersebut.
“Santai aja, dia gebetannya Rednan. Gak mungkin kan aku suka sama dia,” Rama mencoba menjelaskan, agar kekasihnya tersebut tidak salah paham.
“Oh. Tapi besok kita gak ketemu 1 minggu, perawat-perawat disini kan cantik-cantik” sindir Sinta kembali.
Rama tertawa mendengar kekasihnya yang sangat menggemaskan. “Hahaha. Aku gak mungkin suka sama perawat, kan udah punya Bu dokter,”
“Tapi kan kita jauh, aku gak tahu kamu ngapain” ketus Sinta.
Rama hanya tersenyum, dan mengusap kepala Sinta.
*
*
*
*
*
*
*
“Aku, kamu, dan jarak adalah Tim solid, yang akan membawa kisah manis. Yaitu, Pernikahan” – Ramadhani Asof
TBC🍻
Yang mau baca kisahnya Rednan. Judulnya "The Last Mission Love"
Ikuti juga kisah Rednan. Bagaimana perjuangannya, mencarikan es sang agent galak dan teka teki mengungkap pembunuhan berantai, yang ternyata ada sangkut pautanya dengan Klan mafia yang mengincar Rama.
__ADS_1