
Budayakan Like Sebelum Baca😘
.
.
.
.
.
****
Segala persiapan menuju hari H di siapkan matang-matang. Mulai dari pihak WO, undangan, prasmanan dan lain-lain. Saat ini Sinta dan Rama tinggal fiting baju pengantin.
Tin... Tin... Tin...
Suara klakson mobil membuyarkan lamun, Sinta. Sinta melihat mobil Rama yang berhenti dihadapannya.
Rama langsung keluar dari dalam mobil. Pria yang masih menggunakan seragam Tentara itu lalu menghampiri, Sinta.
“Maaf aku lama, tadi aku nolongin nenek-nenek keserempet mobil!” ucap Rama mencoba menjelaskan kepada Sinta. Rama datang tidak tepat waktu, janjiannya dengan Sinta 40 menit yang lalu. Dan sekarang, Rama baru tiba.
Sinta menghela napasnya kasar. Make upnya hampir luntur karna lama menunggu, Sinta dengan wajah cemberutnya langsung masuk kedalam mobil.
Rama pun hanya bisa menghela napas. Pria itu pun menyusul masuk kedalam mobil, Rama lalu melajukan mobilnya.
“Sinta, jangan ngambek dong! Maafin aku yaa?” ucapan Rama pun ternyata tak digubris oleh Sinta.
Sinta kesal, karna Rama yang telat. Meskipun memang harus telat, seharusnya Rama memberinya kabar, agar Sinta tak menunggu.
Padahal gadis itu sudah berdandan cantik demi berpenampilan perfect di depan, Rama.
“Sinta... Jangan ngambek gitu dong! Iya aku salah!”
“Aku bakal maafin kamu, asalkan ada syaratnya!” Tanpa berpikir panjang, Rama menganggukan kepalanya cepat.
“Oke, apapun syaratnya aku mau!”
“Setelah dari butik nanti, aku mau kita ke Mall main, Timzone!”
Rama melotot mendengar permintaan, Sinta. Pria itu pun hanya bisa pasrah.
Tanpa sadar mereka telah tiba di butik yang mereka pilih. Kedatangan Rama dan Sinta menyita beberapa pasang mata, tentu mereka mencuri pandang kepada Rama yang gagah dengan baju Tentaranya.
“Kamu gimana sih? mau kesini kok ganti baju dulu. Lihat tuh pada ngelihatin kamu semua!” ucap Sinta dengan nada tak suka. Rama pun mengedarkan pandangan, dan benar saja mulai dari remaja sampai Ibu-ibu memandangi Rama. Sampai ada yang tak sengaja matanya bertemu dengan Rama.
“Ya, Maaf. Aku juga gak peduliin mereka kok. Udah yuk kita nyoba bajunya!” ajak Rama yang langsung menarik tangan Sinta.
Rama dan Sinta kini berada diruangan berbeda, dari pengunjung-pengunjung butik lainnya. Mereka akan mengganti pakaiaannya dengan mencoba baju pengantin yang mereka pilih.
Karna Kevin dan Aletha menginginkan tema jawa. Mereka menggunakan pakaiaan versi Jogja.
__ADS_1
Sinta sangat cantik menggunakan kebayanya, yang sangat pas di tubuhnya.
Sedangkan, Rama sangat tampan menggunakan baju pengantin yang sangat pas ditubuhnya, ditambah blankon jogja yang menambah ketampanan Rama.
Rama keluar dari kamar gantinya. Dia tak sabar ingin melihat, bagaimana penampilan Sinta.
Ceklek
Pintu ruang ganti, Sinta terbuka. Rama terbengong melihat Sinta yang sangat cantik. Rama terhipnotis langsung dengan aura kecantikan Sinta.
“Ra...Rama?”
Lamun, Rama langsung buyar mendengar ucapan Sinta. Tanpa sadar, Sinta pun juga terpesona melihat kegagahan Rama.
“Kalian berdua emang bener-bener cocok deh!” ucapan manager butik membuat kedua insan yang saling terpesona itu memutuskan tatapan.
Rama dan Sinta terkekeh, sembari meruruki kebodohan masing-masing. Rama pun hanya bisa mengusap tengkuknya yang tak gatal.
“Kamu cantik, Sinta!”
Gadis yang menggunakan kebaya hitam itu tersipu malu. “Kamu juga tampan, Rama!”
Setelah mencoba beberapa baju. Rama dan Sinta pun kembali lagi kemobil, namun Sinta masih saja kesal dengan tatapan-tatapan kagum untuk Rama.
Ceklek
Sinta tiba-tiba keluar dari dalam mobil. “Kamu ganti baju cepet! Aku gak mau nanti di Mall pada lihatin kamu!”
Rama pun hanya bisa pasrah dan mengganti atasannya dengan hoddienya. Setelah selesai Sinta kembali masuk kedalam mobil.
“Nih kamu pake masker, aku gak mau kamu dilihatin cewek lain!” ucap Sinta sembari memberikan masker kepada Rama. Pria itu pun hanya bisa patuh.
Mereka berdua lalu berjalan kedalam Mall. Sinta langsung mengajak Rama untuk ketempat Timzone.
Setelah membeli koin, Sinta bebas memainkan permainan apapun. Gadis itu memilih bermain menembak.
“Kalau kamu bisa kalahin aku, besok setelah kita Sah, kamu bebas mau bawa aku kemana pun!” ucapan Sinta membuat Rama tergiur. Rama pun dengan percaya diri mengambil pistol mainan.
Mereka menggunakan kacamata 3D, permainan itu adalah menembaki zombie-zombie yang mendekat.
Poin Rama dan Sinta terus kejar-kejaran. Dan pada akhirnya, Ramalah yang memenangkannya. Dengan berhasil membunuh 100 Zombie, sedangkan Sinta 85 Zombie.
“Ihhhh... Kok kamu bisa menang sih?!”
Rama terkekeh melihat wajah Sinta yang cemberut lagi. Dengan gemas, pria itu mengacak-acak rambut Sinta.
“Aku bingung...”
“Bingung kenapa?” tanya Sinta
“Bingung, sampai detik ini gak bisa berhenti untuk gak mencintai kamu.”
****
__ADS_1
“Semua udah siap, Red?”
“Udah beres, yuk berangkat!”
Pria yang besok akan menikah itu langsung masuk kedalam mobil jeep. Pernikahan Rama dan Sinta sudah mencapai 99℅.
Pernikahan Rama dan Sinta akan digelar di Puncak, dengan tema outdoor. Rednan langsung melajukan mobil jeepnya.
Semua orang sudah berada di Puncak. Kurang, Rama dan Rednanlah yang baru berangkat hari ini, ini semua memang direncanakan oleh kedua pihak keluarga. Agar pengantin di pingit terlebih dahulu.
“Jullie udah duluan ya?” tanya Rama memecah keheningan.
“Iya, mana Istri gue lagi hamidun lagi.”
Rama langsung melebarkan matanya. “Istri lo udah hamil?”
“Iya, minggu kemarin gue tes sama dia. Gue khawatir kalau dia capek-capek nanti,” ucap Rednan dengan mata yant tetap fokus kepada jalanan.
“Ya, nanti kalau kita udah nyampe lo omongin Istri lo!”
“Iya bawel!”
Rama hanya bisa memutar bola mata malasnya. Pria yang besok akan menikah itu memilih melihat kejalanan.
“Gue gak nyangka, Red.”
“Kenapa?” Rednan menoleh sekilas kepada Rama.
“Gue gak nyangka kalau besok gue nikah. Dan nikahnya itu sama, Sinta. Cewek yang pas awal ketemu sama gue aja dari salah paham.”
Rednan terkekeh geli mendengar ucapan Rama. “Apa gue bilang, lo jilat ludah sendirikan? sok-sokan sih lo berdua saling benci, eh malah ujung-ujungnya dia yang bakal jadi Istri lo!”
Rama hanya bisa menghela napasnya mendengar ejekan Rednan. “Tapi gue takut gak bisa bikin dia bahagia, Red. Gue takut, Sinta akan bosen dengan kehidupan gue,” ucap Rama dengan nada lemasnya. Rednan kembali menoleh sekilas kepada Rama.
“Cuma cowok pecundang yang gak percaya diri tuh! Lo bisa lihat, gimana Sinta nolak perjodohannya? lo bisa lihat gimana terpuruknya dia saat pisah dari lo? lo bisa lihat gimana dia menangisi lo? Dia itu sayang sama lo! Kalau gak ada lo, dia gak akan bahagia!”
“Ta....Tapi, gue tetep gak percaya diri, Red. Gue takut suata saat akan membuat Sinta kecewa,” ucap Rama kembali sembari mengusap wajahnya kasar. Rednan menghela napas, Rednan pun pernah merasakan apa yang dialami Rama.
“Gue juga pernah kaya lo, dulu gue juga mikir. Apa gue bisa bahagiin Jullie? Gue sempat merasa insecure, dengan kelebihan Jullie. Tapi, Tuhan itu selalu memasangkan manusia dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tugas kita cuma melengkapi dan saling memahami!” Dengan sabar Rednan menjelaskan. Sesekali pria itu menoleh untuk melihat keadaan Rama, yang sempat tak percaya diri.
Rama pun mengangguk, Rama menarik napas dalam dan menghembuskannya secara perlahan
“Oke deh, gue yakin gue bisa bikin Sinta bahagia!”
“Bahagia itu gak bisa direncanakan, Ram. Lo mau bahagiakan Sinta model kaya apa? kalo cuma dari materi, dengan lo ngasih dia kehidupan mewah, itu belum cukup! Kebahagiaan yang asli itu. Saat lo masih bisa tertawa dengan Sinta dalam keadaan apapun itu, sampai rambut lo memutih, dan menurut gue bahagia itu sederhana. Lelucon garing aja bisa bikin keluarga semakin harmonis dan bahagia, itu baru namanya bahagia. Karna harta pun bukan segalanya.”
.
.
.
.
__ADS_1
.
TBC😘