RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 56


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca😘


.


.


.


.


.


****


Sudah selama 2 minggu Rama tidak bertemu dengan Sinta. Mereka tampak sibuk sendiri-sendiri, begitupula Rama.


Karna hari minggu, Rama menggunakan waktunya untuk berdiri di balkon rumahnya sembari menikmati kopi hitamnya.


Mata Rama menerawang ke langit-langit, memikirkan bagaimana hubungannya dengan Sinta. Sinta semakin susah untuk di hubungi, Hal itu membuat Rama begitu merindukan Sinta.


Dren... Dren... Dren


Rama mengalihkan perhatian ke bawah, Rama terkejut melihat beberapa mobil memasuki area rumahnya.


Rama langsung keluar kamar untuk keluar. Ternyata, Ayah dan Bundanya sudah ada di depan rumah, mereka tampak kebingungan.


“Siapa mereka, Bun?” Rama tampak bingung dengan orang-orang yang datang, mereka mengenakan pakaiaan adat betawi, buah-buahan, dan roti buaya besar. Ini lebih mirip seperti lamaran!


Rahang Rama mengeres melihat pria tua muncul dari mobil. Ini semua ulah Kakek Nana!


Aletha dan Yusuf langsung mendekat mengarah Kakek Nana. “Maaf, Pak. Bapak salah alamat ya? Maaf nih, anak saya itu laki-laki, Pak. Di rumah ini juga gak ada anak gadis, saya juga udah punya suami,” oceh Aletha yang belum tahu apa-apa.


Kakek Nana terkekeh mendengar ucapan Aletha. “Hahaha.... Maka dari itu, saya ingin anak anda melamar cucu saya! Nana turun kamu!” Kakek Nana dengan santainya menggeret Nana yang tampak menangis karna malu.


“Apa maksud anda? Maaf, Kek saya tidak mau menikahi cucu anda!” Rama langsung mengangkat suara.


“Kenapa tidak mau? Apa kurangnya cucu saya? Dia cantik, pintar, dan kaya. Bukankah kamu sudah putus dengan, Dokter yang sudah membuat cacat tunangan cucu saya?!”


Ucapan, Kakek Nana mengundang kepribadian ganda Rama yang pemarah. “Saya rasa, rasa sopan saya tidak akan pernah saya tunjukan lagi kepada anda! Saya minta bawa seluruh rombongan anda, dan pergi dari rumah saya!!” teriak Rama dengan emosi yang sudah tak terkontrol.


Yusuf mengelus pundak putranya tersebut. “Maaf, Pak. Mari kita bicarakan hal ini, karna jujur saya tidak mengerti dengan semua ini. Mari kita bicarakan di dalam,” ucap Yusuf yang memang selalu menjadi pemecah masalah.


Kakek Nana tampak antusias, namun tidak dengah Nana dan Rama. “Kek... Hiks hiks.. Ayo pulang! Nana malu kek... Hiks hiks.” Nana sudah terisak, karna merasa malu dengan tingkah konyol Kakek Nana.


Lamaran yang pada umumnya adalah keluarga pria yang mendatangi, namun kali ini Keluarga Nana diiring untuk ke rumah besar Aletha. Hal itu membuat Nana sangat malu, Nana tidak ingin Rama berpikiran jika ini rencananya. Nana sudah melupakan Rama! Dia hanya mencintai Richad saat ini.


“Diamlah, Nana! Ayo kita masuk!” Kakek Nana dengan angkuhnya berjalan menuju ke pintu utama.


Namun, baru beberapa langkah...


DOR


“KAKEK!!!”


Semua orang terkejut melihat Kakek Nana terkapar di lantai, dengan tembakan tepat di kepala bagian belakang.

__ADS_1


Rama dan Nana langsung mempobong Kakek Nana ke mobil. Mobil pun di lajukan dengan kecepatan di atas rata-rata.


Rama segera membawa Kakek Nana ke rumah sakit tempat Sinta bekerja, karna hanya itulah rumah sakit terdekat.


“Suster!!! Suster!!!” Nana berteriak histeris saat itu.


Para perawat dan Dokter langsung membawa Kakek Nana ke IGD, agar mendapat pertolongan pertama.


Jantung Kakek Nana semakin melemah, dan selama 2 jam peluru di balik kepala Kakek Nana dapat di keluarkan. Namun, karna kehilangan banyaknya darah, Kakek Nana tidak bisa di selamatkan. Di duga peluru tersebut beracun, dan secara sengaja racun itu menyerang syaraf otak dan pernapasan.


Nana hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Nana hanya di temani oleh pembantunya, sedangkan Rama hanya bisa mengucapkan turut berduka cita.


****


Ada perasaan senang dan sedih yang saat ini Rama rasakan. Akhirnya Rama bisa terbebas dengan permintaan sialan Kakek Nana, dan Rama juga merasa kasihan dengan Nana yang kehilangan Kakek Nana.


Namun, Rama mencoba melupakannya sejenak. Saat ini Rama sudah sangat semangat menuju ruangan Sinta, dia tidak sabar ingin menceritakan semua ini.


tok... tok... tok


Ceklek


Rama tampak kecewa karna yang membukakan pintu Rita. “Pak Rama?”


“Eh, Mbak Rita? Sintanya kemana, Mbak?”


“Emangnya, Pak Rama gak tahu?” ucap Rita yang merasa bingung dengan pertanyaan Rama.


Rama mengkerutkan dahinya mendengar ucapan Rita. “Saya memang gak tahu, Mbak. Sudah 1 minggu kebelakangan ini Sinta susah di hubungi.”


Ucapan Rita tentu membuat Rama begitu terkejut. “Hah?!! Sinta sakit? Dimana sekarang Sinta, Mbak?” Rama tampak sangat khawatir dengan Sinta.


“Sinta ada di kamar Melati nomer 15.”


Tanpa menjawab, Rama langsung berlari menuju ruangan Sinta. Rama begitu khawatir mendengar Sinta sakit, dia tidak ingin Sinta sakit hanya karna memikirkan ini semua.


Ceklek


Tanpa mengetuk pintu Rama langsung masuk ke ruangan bernuansa putih itu. Pandangan Rama terpaku kepada gadis yang dia rindukan, Sinta terbaring lemah di ranjang dengan wajah yang pucat.


“Rama?”


Rama mengalihkan perhatiannya, terdapat Eve dan Angga. Angga yang memang saling mengenal Rama itu langsung memberikan salam.


“Sinta kenapa?” tanya Rama dengan nada sangat cemas.


“Sudah selama 1 minggu, Sinta di rawat. Sinta demam tinggi, tipesnya Sinta juga kambuh, dia selalu telat makan.”


Rama hanya diam mendengar seluruh penjelasan Eve. “Kita keluar dulu ya, kita mau ke kantin.” ucap Angga langsung menarik Eve agar pergi dari kamar inap Sinta.


Rama tidak menjawab, Rama terus berjalan mendekat ke arah ranjang Sinta. Rama menarik kursi dan duduk di samping ranjang Sinta.


Rama meraih tangan Sinta, di genggamnya tangan itu dengan erat. Ternyata perlakuan Rama, membuat mata hitam legam itu mengerjap.


Perlahan Sinta membuka matanya, pandangannya langsung tertuju kepada pria tampan yang berada di sampingnya.

__ADS_1


“Ra—ma?! Rama? Maafin aku!” Sinta langsung menangis dan memeluk Rama.


Rama hanya diam dan membalas pelukan Sinta, sedangkan Sinta masih terisak di pelukan Rama.


“Hiks.. Hiks ma—afin aku, Rama... Aku salah, aku gak mikirin perasaan kamu, aku egoi—”


“Sttssss!” Rama langsung memotong ucapan Sinta. “Gak ada yang perlu di salahkan, kamu gak salah! Aku sudah katakan, ini hanya ujian untuk hubungan kita. Dan takdir telah menyatukan kita kembali, Kakek Nana...” Rama lalu menceritakan apa yang terjadi dengan Kakek Nana. Sinta yang mendengar sangat terkejut.


“Inallilahi wainalilahi rojiu'un.” Sinta pun hanya bisa mengucapkan hal tersebut. “Terus, Nana gimana?”


“Nana lagi ngurus jenazah Kakeknya, palingan besok pemakamannya,” jawab Rama santai. Namun, Sinta tampak tak suka dengan sikap santai Rama.


“Kamu kok malah kesini sih! Kenapa gak temenin, Nana?”


Rama memutar bola mata malas mendengar ucapan Sinta. “Yakin kamu mau nemenin, Nana?” goda Rama.


Sinta menggelengkan kepalanya dan kembali memeluk erat Rama. “Aku munafik, Ram. Aku gak ingin kamu menikahi wanita lain, tapi aku sangat mencintaimu. Aku gak mau kehilangan kamu, Ram!”


Rama mengusap lembut rambut Sinta. “Tuhan sudah membuat rencana indah untuk kita. Sabar saja, tunggu nama kita tertera di undangan pernikahan.”


Ucapan Rama membuat pipi Sinta bersemu merah.


Ceklek


Tiba-tiba pintu ruangan kamar inap Sinta terbuka, munculah Kevin dan Tari. Rama langsung menyalami kedua manusia paruhbaya itu.


“Apa kabar, Om?” tanya Rama dengan sopan.


“Baik,” Kevin hanya menjawab dengan datar. Sinta bisa melihat jika Papanya tersebut sangat dingin.“ Kenapa kamu baru datang?” imbuh Kevin dengan nada ketus.


“Saya gak tahu, Om. Maaf saya susah menghubungi, Sinta.” Rama menjawab dengan nada bersalah.


Kevin berdecih mendengar ucapan Rama. “Cih, selama 2 minggu saja kamu tidak berusaha mencari anak saya. Bagaimana saya mempercayai kamu untuk menjadi suami anak saya.”


Deg!


.


.


.


.


.


TBC😘


Hola readers!


Maaf jarang up!


Minggu kedepan bakal sibuk belajar untuk PTS. Jangan bosan menunggu kisah Rama & Sinta ya...


Kira-kira siapa ya yang nembak Kakek Nana? Dan siapakah Marcus? Lalu bagaimana ya nasib Nana?

__ADS_1


__ADS_2