RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 61


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca😘


.


.


.


.


.


.


****


Saat ini Sinta sibuk membagikan undangan Birthday party kepada teman-temannya. Karna besok malam Sinta akan berulang tahun untuk ke 21 tahun.


Bertambahnya usia Sinta, bertambahnya juga ujian-ujian yang akan datang.


“Kemana lagi, Sin?” tanya Rita kepada Sinta, yang saat ini mereka sedang berada di kampus tempat Sinta kuliah.


“Udah semua kok, sisanya biar aku WhatsaAp aja.”


Mereka lalu berjalan menuju parkiran, lalu mereka masuk ke mobil. Karna Sinta akan membantu meronavasi taman rumahnya, untuk pesta ulang tahunnya.


Kring... Kring... Kring


Dering ponsel mengalihkan perhatian, Sinta. Sinta meraih ponsel yang berada ditas selempangnya, tertera nama sang pujangga hatinya yang sedang bekerja.


“Hallo, Rama?”


“Hallo? Kamu dimana?” tanya Rama di sebrang telpon.


“Ini mau pulang, habis dari kampus nyebar undangan.”


Disebrang telpon, Rama mangut-mangut. “Oh ya udah, cepet pulang gak usah capek-capek. Baru nyebar undangan ulang tahun aja udah seribet ini, gimana kalau kita nyebar undangan pernikahan kita nanti?”


Sinta terbahak-bahak mendengar celoteh Rama. “Hahahaha, kalau undangan pernikahan biar, Mas Rednan yang nyebarin!” balas Sinta dengan tawanya.


“Woy ngapain lu bawa-bawa nama gue?” bukan Rama yang bersuara, namun Rednanlah yang memang sudah kembali dari Kalimantan.


“Loh, Mas Rednan udah pulang?”


“Ealah, Dokter gesrek pake nanya lagi, lu gak tahu gue udah ada di Jakarta seminggu. Huhh! Pacaran mulu sih lo!” balas Rednan di sebrang telpon.


Sinta terkekeh mendengar ucapan Rednan yang tampak kesal. “Hehehehe.... Iya maaf, Mas. Gue gak tahu, terus gimana selama disana? Deket sama Agent Jullie?”


Sinta bisa mendengar Rednan menghela napas. “Udah sih, tapi dia lagi ke Belanda, gue sih yakin dia bakal balik,” jawab Rednan yang sangat terdengar yakin.


“Yaudah ih, gue mau ngobrol sama cowok gue!” ucap Sinta dengan nada ketus.


Dari sana Rama langsung merebut ponselnya di genggaman Rednan.


“Hallo, Sinta?”


”Iya, Hallo?”


“Aku tutup telponnya yaaa, Satria manggil nih”


“Iya tutup aja!”


tuttt.... tuttt.... tuttt....


Panggilan pun terputus, tak terasa Sinta sudah sampai dirumahnya. Sinta dan Rita lalu mengeluarkan beberapa makanan yang mereka beli tadi.


Di taman rumah Sinta yang luas, sudah ada beberapa hiasan-hiasan yang lucu.


“Ma...!! Mama...!!” teriak Sinta mencari-cari Mamanya itu.


“IYA SINTA...!!” dari arah dapur, Tari menyahuti.


Sinta pun langsung berjalan menuju dapur, dan benar saja Tari dan beberapa pembantu rumah tangga sedang sibuk membuat kue raksasa.


“Kebiasaan kamu itu, kalau pulang itu salam! malah teriak-teriak,” sindir Tari kepada Sinta, sedangkan Sinta hanya nyengir gigi kuda.

__ADS_1


“Hehehehe... Btw itu kue gede banget deh, Ma?” Sinta pun mencoba mengalihkan perhatian.


“Gakpapa dong! Ayo sini kamu bantu, Mama!”


Sinta langsung menggelengkan kepala. “Mama yakin suruh Sinta bantuin?”


Tari yang sedang mengoleskan beberapa cream itu menjadi teringat, bahwa anak gadisnya ini tidak bisa memasak!


“Gak jadi deh! dari pada hancur nih kue,” ucap Tari yang langsung sadar.


Sinta terkekeh melihat tingkah, Mamanya. “Yaudah, Sinta ke kamar dulu ya, Ma!”


“Eh tunggu!” Sinta yang hendak pergi langsung menghentikan langkahnya, saat mendengar suara Mamanya.


“Kenapa lagi sih, Ma?”


“Kamu undang, Bima sama Clara enggak?” tanya Tari lalu kembali fokus kepada kuenya.


“Gakpapa nih?”


“Ya terserah kamu!” balas Tari tanpa mengalihkan perhatian.


Setelah menimang-nimang, Sinta pun akhirnya meraih ponselnya. Sinta lalu mengirim pesan kepada Bima dan Clara.


📩


Hay guys, gue harap kalian bisa dateng ke party gue yaa


Jam 8 malem, di tunggu kado sama kehadirannya.


Sinta


Lama Sinta menunggu, namun tidak mendapat balasan. Dan hasilnya hanya milik Bimalah yang dibaca.


****


Malam ini adalah malam yang dinanti-nanti. Karna hari ini adalah hari dimana bertambahnya umur Sinta.


Sinta sudah sangat cantik dengan gaun selutut, berlengan panjang, dengan hiasan bunga-bunga cantik, dan berwarna merah muda


“Happy birthday, Sinta!!” Eve langsung memberikan cipika cipiki kepada Sinta.


“Thank you, Eve! gue mau kado ulang tahunnya undangan pernikahan lo sama Angga!” ucap Sinta dengan tawanya yang manis.


“Tahun depan deh, Sin!” sahut Angga yang bersama Eve.


Sinta dan Eve lalu berjalan-jalan untuk menyambu tamu-tamu lainnya. Namun, lama berjalan Sinta belum melihat tanda-tanda kedatangannya Rama.


“Rama belum dateng, Sin?” tanya Eve yang juga ikut celingukan.


Sinta menggelengkan kepala, sampai ekor matanya menangkap Rednan yang datang seorang diri. Rednan turun dari mobil Honda NSX yang baru dirinya beli.


“Happy bronjol ya, Sin! Jangan lupa traktir gue!” seru Rednan kepada Sinta.


Sinta berdecak kesal mendengarnya. “Dihhh, enak aja gue suruh nraktir lo. Btw, Rama mana?”


Rednan hanya mengangkat kedua bahunya. Sinta pun hanya bisa menghela napas lesu, pandangan mereka kini beralih kepada Clara.


Clara pun sangat cantik, dengan gaun merah mencoloknya. Karna memang Clara model terkenal, Clara menjadi sorot mata beberapa tamu undangan Sinta.


“Happy birthday, Sinta!” Clara pun juga memberikan cipika cipiki kepada Sinta.


“Makasih ya... Btw lo tahu, Bima nggak? gue WhatsaAp dia cuma dibaca,” ucap Sinta yang membuat Clara tersenyum kecut.


“Gu—e juga gak tahu deh.”


Sinta pun mengajak teman-temannya untuk menikmati hidangan-hidangan. Band malam ini pun langsung memutar lagu-lagu romantis, tamu-tamu Sinta beberapa menyumbangkan suara merdu mereka.


Namun, belum ada juga tanda-tanda kehadiran Rama dan Bima. Sinta berulang kali menelpon dan mengirim pesan untuk Rama, namun nomer Rama tidak aktif.


Dren... Dren... Dren...


Deru suara mobil sport mengalihkan perhatian Sinta. Sebuah mobil BMW i8, terparkir.


Ceklek

__ADS_1


Pintu mobil dibuka, keluarlah sosok yang sangat di kagumi kaum wanita.


“*Eh itu, Bima Fernanndez kan?”


“Iya bener, Bima!!”


“Gilak ganteng banget*!”


Desas desus tamu undangan langsung mengomentari penampilan Bima. Sinta menghela napas kecewa dirinya pikir itu Rama.


“Tapi... Rama kan gak punya mobil,” batin Sinta.


“Happy birthday, Sinta!” seru Bima sembari memberikan sebucket bunga untuk Sinta.


Sinta dan lainnya tentu tercenga, karna mereka tahu jika Bima adalah suami Clara.


“Thanks, Bim!”


Bima tersenyum tipis melihatnya. “Mana pacar lo? kok belum dateng?” tanya Bima yang memang sengaja ingin mengetahui kehadiran Rama.


“Dia belum datang,” jawab Sinta lirih.


“Sinta ayo potong kuenya!!” teriak Tari yang saat ini ada di gazebo.


Sinta pun dengan terpaksa berjalan menuju gazebo, Lampu hias sudah menghiasi gazebo tersebut.


“Rama belum dateng?” bisik Tari kepada Sinta yang berdiri di sampingnya.


“Belum, Ma.”


“Udah kamu potong kue aja, dia gak bakalan dateng,” celetuk Kevin dengan dingin.


Sinta pun menghela napas, dengan terpaksa Sinta bersiap untuk meniup kuenya.


Dren... Dren... Dren..... dren...


Deru mobil sport mengalihkan seluruh perhatian tamu, termasuk Sinta dan kedua orang tuanya.


Mobil W motors Lykan Hypersport terparkir mulus. Semua orang tercengang, melihat mobil sport keluaran terbaru plus edisi terbatas tersebut.


Ceklek


Saat pintu mobil dibuka, semua orang terhipnotis dengan keluarnya pria berbadan tinggi tegap nan tampan itu.


“Rama...?” gumam Sinta yang juga ikut tercengang.


“*So cool!!”


“Ganteng banget!”


“Gilak itu sih idaman gue banget!”


“So maskulin*!”


Ucapan dan decakan terus bersahutan, Rama berjalan dengan kharismatik menuju gazebo tempat Sinta berdiri.


“Happy birthday baby!” ucap Rama dengan senyuman manisnya.


Sinta yang sedari tadi cemberut langsung ceria melihat Rama. Acara potong kue pun berlangsung. Kini saatnya tamu undangan memberikan kado-kado mewah untuk Sinta.


“Wihhh pacar lo kasih kado apa tuh, Sin?” seru salah satu tamu undangan.


.


.


.


.


.


.


TBC😘

__ADS_1


__ADS_2