RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 24


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum BacašŸ»


Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta


****


Suara kicauaan burung, beserta matahari yang menaik membuat mata itu terbuka. Mata yang selalu menatap tajam itu perlahan membuka mata, di lihatnya jam yang berada di dekat ranjang


Rama lalu duduk bersandar pada ranjang, menggeliat guna merenggangkan otot-otot tubuhnya.


Tiba-tiba Rama mengingat kejadian semalam, dimana dirinya mengantar Sinta kembali ke barak, merelakan jaketnya untuk menutupi noda di bokong Sinta, dan yang terakhir ucapan selamat malam yang manis darinya


Tanpa sadar senyuman sudah terukir di bibir Rama, Rama hanya menggeleng kepala. Jantungnya berdebar-debar jika berada di dekat Sinta


"Apa mungkin gue suka sama, Sinta?" gumamnya pelan


Rama mencoba tidak memikirkannya, Rama lalu turun dari ranjang. Bersiap untuk mandi pagi, dan olahraga


Di depan kamar ternyata sudah di sambut oleh, Rednan. Rama hanya menatap datar Rednan, Hal itu membuat pria itu kesal


Rednan berdecak, lalu berkacak pinggang di depan Rama. "You crazzy, Rama!! Lo batalin misi dengan sepihak, Kolonel Satria marah besar!!!"


Rama hanya bisa menghembuskan napas berat, "Oke gue minta maaf, semalam itu keadaan sedang genting"


"Iya genting karna lo anterin, Sinta pulang" ketus Rednan


"Loh, Sinta itu dalam bahaya. Gue cuma menyelamatkannya, apa yang salah? Toh besok kita bisa melakukan penyelidikan lagi"


Rednan menggeram mendengar jawaban Rama yang santai, "Masalahnya bukan itu, Rama. Kita kehilangan target, gue semalem ngelihat orang-orang Cosa Nostra keluar pakai mobil, gue mau ngejar tapi gue bawa, Meyga"


Rama yang mendengar hanya tersenyum tipis


"Lo gak perlu capek-capek, mereka udah di ledakan sama, Sinta" ujarnya santai


Rednan melotot mendengar apa yang Rama ucapkan. "Hah, Sinta?!!"


Rama hanya mengangguk santai, lalu Rama berlalu menuju kamar mandi. Rednan langsung menyusul dan tetap menceloteh


"Sinta yang ledakin mereka?"


"Lo yakin, Ram?"


"What?! Sinta?"


Rama berdecak karna mulai jengah mendengar, Rednan menyeloteh. "Ck. Sakit telinga gue kalo lo ngomong terus, Iya Sinta yang lakuin itu"


"Jadi semalam kalian di kejar?"


Rama hanya mengangguk menanggapi pertanyaan, Rednan. Rama langsung masuk ke kamar mandi, setelah 20 menit Rama keluar dari kamar mandi.


Tak lama pintu kamar mandi lainnya terbuka, keluarlah sosok Rednan. "Ram, beneran Sinta yang nembak?"


"Kok lo jadi bawel gini sih,"


Rednan hanya nyengir gigi kuda. "Penasaran aja gue, soalnya semalam itu Sinta ke Club malam sama Meyga, biasa Sinta itu ada masalah sama mantan pacarnya. Kalo udah sedih jadi kebablasan minum-minuman"


"Mantan pacar?,"


Rednan mengangguk cepat. "Iya itu loh, Bima Fernandez"


"Bima? bukannya itu,"


"Suaminya, Clara. Sampai saat ini Sinta itu merasa patah hati karna di khianati sahabat dan pacarnya sendiri," potong Rednan

__ADS_1


Rama tampak tak suka mendengar nama 'Mantan pacar'. "Dasar gadis bodoh, penghianat saja masih di tangisin"


"Kenapa lo jadi yang marah?" tanya Rednan dengan nada menggoda


Rama hanya berdecak, lalu menatap Rednan tajam. "Red, Lo pernah gak merasa lo suka sama cewek, tapi pikiran dan hati lo itu sama cewek lain,"


Rednan mengernyitkan dahinya mendengar perkataan, Rama. "Maksud lo gimana nih?"


Rama menghembuskan napas kasar, lalu bersuara. "Oke, lo tahu gue suka sama cewek. Tapi anehnya gue gak pernah merasa ada getaran aneh, atau gue merasa berdebar-debar. Namun, saat gue sama cewek lain gue bisa merasakan semua itu, apa itu tandanya gue jatuh cinta sama orang lain?"


"Ini yang lo maksud, Nana?" tanya Rednan dengan tampang bingung


Rama berdecak kesal, Karna sahabatnya tersebut tidak terlalu konek. "Iya, Nana. Gue suka sama Nana, Tapi gue gak merasa apa-apa"


"Itu namanya lo cuma suka doang, gak cinta" jawab Rednan sembari menepuk bahu Rama pelan


"Dan kalo lo mau pastiin perasaan lo, lo harus pakai cara ini bro"


"Apa-apa?" Rama langsung antusias tak sabaran


"Lo deketin dia, ajak dia bertatapan. Kalo lo merasa jantung lo berdebar cepat berarti lo suka sama dia,"


"Oke akan gue coba," Rama pun langsung pergi meninggalkan Rednan yang masih melongo


****


"Sinta ini gimana, Papa lo telfon"


"Elo sih, pake ke Club malam segala"


"Untung lo gakpapa,"


"Lo itu bikin gue khawatir!"


"Ck. Bisa diam gak sih!!!" Sinta akhirnya mengeluarkan suara, karna mulai jengah dengan ocehan Meyga. Dari tadi pagi sampai sore Meyga terus berceloteh menyalahkan Sinta


"Assalamualaikum" suara dari sebrang setelah tersambung


"Waalaikumsallam, Pa"


"Sinta, Papa mau bicara!" Sinta langsung tegang mendengar nada bicara, Kevin yang garang


"I--Iya, Pa?"


"Kemana kamu semalam?"


Deg


Sinta bertambah gugup karna, Papanya menanyakan kemana perginya semalam. Sinta memutar otak mencari jawaban yang tepat. Namun, otaknya terasa kopong, tidak ada terbesit akal sedikit pun


"Emmm, Ke--"


"Kamu pergi ke Club malam?," Sinta sontak menjauhkan ponselnya dari telinga, suara Kevin meninggi


"Iya, Pa" jawab Sinta dengan gemetar


Sinta dapat mendengar, Papanya menghembuskan napas kasar. "Kamu ini mau bagaimana lagi, Sinta? Apa perlu Papa kasih kamu bodyguard? Meyga mengatakan sudah tidak tahan,"


"Haaa?" Sinta langsung melotot, lalu menatap Meyga


"Sudah, Papa tutup telfonnya. Kamu tidak boleh pulang sebelum kamu berubah, Assalamualaikum"


"Tap-"

__ADS_1


Tutt


Tutt


Tutt


Sinta melemparkan ponselnya asal, karna Papanya yang langsung mematikan panggilan sepihak. Sinta lalu menatap Meyga yang sedari tadi diam


"Mey, Lo mau berhenti?"


Meyga mendongakan kepala, karna sedari tadi menunduk. "Maafin gue, Sin. Gue udah pusing urusin, lo"


Sinta mendadak sedih, "Maafin gue, Mey. Lo jangan berhenti," Sinta langsung memeluk assiten pribadinya, yang menemaninya selama 4 tahun


"Maafin gue, Sin. Gue harus berhenti, bukannya karna lo. Gue harus pulang, Ibu gue udah sakit-sakitan," Meyga membalas pelukan Sinta dengan hangat


"Gue antar, Mey"


"Enggak usah, lo fokus belajar aja biar makin pinter jadi dokter," Meyga melepaskan pelukannya, lalu menatap Sinta hangat


"Gue pergi dulu, Sin. Gue mau beli tiket"


Sinta hanya bisa pasrah melepas, Meyga. Sinta merasa kesepian karna, Meyga pergi membeli tiket pesawat. Sinta keluar dari kamarnya, angin sore mengayunkan rambut-rambutnya


Dor


"Astaga, lo mau bikin gue mati muda??" bentak Sinta kepada pria yang saat ini sedang cekikikan


"Haha, Sorry"


"Ngapain sih lo disini," ketus Sinta menatap Rama


Rama menghentikan tawanya, lalu berdehem. "Hmm, Sin"


"Kenapa?"


Rama langsung menarik Sinta membuat Sinta langsung menghadap ke Rama, Rama mencekal bahu Sinta membuat gadis itu memberontak


"Apaan sih, Ram?"


"Sebentar aja, gue mau lo natap gue!"


Sinta mengernyitkan dahinya mendengar permintaan, Rama. "Apaansih gak jelas, lepasin!" Sinta berusaha melepaskan cekalan Rama


Rama langsung menarik dagu Sinta, membuat gadis itu secara langsung menatap wajah Rama. Rama menatap manik hitam legam milik, Sinta. Jantungnya berdebar-debar hebat


"*Jantung gue berdebar, gue merasakan gelenjar aneh. Apa gue suka sama, Sinta?"


"Oh my god, Jantung please jangan begini*!!!!"


Sinta yang sadar langsung mendorong, Rama. "Apaan sih lo?"


Rama hanya tersenyum tipis mendengar nada bicara Sinta yang meninggi, "Gue ternyata jatuh cinta sama lo"


"Hah??!!" Sinta melotot mendengar perkataan frontal Rama


"Iya gue membuktikan perasaan gue, dan gue merasa jantung gue berpompa lebih cepat. Apa lo merasakan demikan, Sin?"


Sinta langsung memalingkan wajahnya, wajahnya saat ini sudah sangat merah


"Enggak gue gak merasa apa-apa," bohongnya


Rama hanya menatap datar Sinta. "Gue yakin lo merasakan hal sama,"

__ADS_1


"Sial, Rama denger suara jantung gue?!!"


TBC


__ADS_2