RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 26


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca🍻


Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta


****


Setelah berbincang dengan Rednan, Sinta lalu keluar dari ruangannya. Sinta menatap kedua orang tua Rama, Sinta sudah lama tidak melihat Aletha dan Yusuf. Karna Sinta besar di Singapura


"Tante..."


Aletha menoleh ke sumber suara, "Si--Sinta?"


Sinta duduk di samping Aletha. "Iya, Tante. Aku Sinta"


Aletha lalu memeluk Sinta erat, bahkan Aletha menangis sesegukan. Sinta mengusap punggung Aletha lembut


"Tante yang sabar ya, Rama pasti sadar,"


"Tante sedih, Sin. Anak itu selalu mengatakan dia akan selamat. Tapi sekarang anak nakal itu sedang terbaring tak berdaya.... hiks... hiks"


Sinta tetap mengusap punggung Aletha dengan lembut, membawanya ke pelukan hangatnya.


Ceklek (Pintu ruangan ICU itu terbuka)


Yusuf langsung mendekat ke dokter paruhbaya tersebut. "Bagaimana keadaan anak saya, Dok?"


"Untuk saat ini keadaan anak bapak sudah stabil, Pak. Bahkan sekarang sudah bisa di jenguk," jawab Dokter itu sembari membenarkan kacamatanya


Aletha yang mendengar langsung bangkit. "Sa--Saya bisa melihat anak saya, Dok?"


Dokter itu mengangguk mantap. Yusuf dan Aletha langsung masuk, memeriksa bagaimana Rama saat ini. Sinta masih di luar karna Dokter mengatakan minimal 2 orang untuk menjenguk, Rama.


Sinta masih diam di luar, Meyga berada di ruangan Rednan.


Ceklek (Pintu ICU itu terbuka)


"Sinta, kalau kamu mau melihat, Rama silahkan,"


"Baik, Om. Terimakasih" Setelah di perbolehkan Yusuf, Sinta lalu masuk ke ruangan ICU tersebut.


Mata, Sinta terpaku kepada pria yang saat ini menutup rapat matanya. Kabel-kabel menempel di tubuhnya, suara detak jantungnya terekam memenuhi ruangan.


Sinta menarik kursi, lalu duduk di samping ranjang Rama. Sinta meraih tangan Rama, menggenggamnya kuat


"Lo kapan bangun, Tentara songong? Katanya tidur lama-lama bikin lo pusing, buruan bangun dong!" Sinta beroceh sendirian meskipun tidak ada sahutan sama sekali


"Oke gue akuin gue hari ini, kangennnnnnnn banget sama lo,"


Sinta menghela napas berat. "Gue juga suka sama lo," Sinta berkata lirih, bahkan nyaris tak di dengar


"Iya gue juga suka sama lo, gue benci sama lo! Karna lo udah bikin gue jatuh hati, dan sekarang gue gak mau tahu, lo harus bangun!!!"


Sinta tak kuasa menahan air matanya, air matanya terus menetes, genggaman tangannya semakin kuat


"Lo ngeselin, gue gak mau ngomong sama lo. Kalo lo gak sadar,"


Tiba-tiba jari-jari, Rama bergerak. Hal itu membuat Sinta kaget, "Ra--Rama?"


Sinta langsung memanggil Dokter, Sinta menunggu di luar bersama Yusuf dan Aletha. Di dalam ternyata keadaan Rama kembali memburuk, detak jantungnya menjadi lemah

__ADS_1


"Dok, jantungnya semakin lemah,"


"Siapkan semuanya suster!!" perintah Dokter itu


Dokter pria itu langsung memopa jantung, Rama. Di luar Sinta tak henti-hentinya menangis, tak henti-hentinya berdoa.


"Tambah lagi suster!!!" perintah Dokter itu kembali


Jantung Rama semakin melemah, hal itu membuat Sinta merasa takut.


"No No No!!! Enggak, Rama please jangan!!!!" Sinta yang tak kuasa langsung memberontak, Sinta menerobos masuk ke ruang ICU.


Monitor perekam jantung itu sudah menunjukan bahwa detak jantung Rama terputus. Sinta langsung memeluk Rama erat, air matanya menetes erat


"No!!! Rama, wake up!!! enggak lo gak boleh pergi, please Rama. Gue juga suka sama lo, jangan pergi please!!!" Sinta mengguncang tubuh Rama membuat para perawat mencekal Sinta


"Maaf, Mbak. Pasien sudah meninggal," salah satu suster berusaha menarik Sinta


"Enggak, Rama please jangan tinggalin gue, gue cinta sama lo Rama. Please...."


Nit


Nit


Nit


"Detak jantungnya berdetak kembali, Dok"


Dokter itu langsung menangani Rama. Sinta dan Aletha kembali duduk di luar, Aletha baru saja sadar dari pingsannya.


"Sinta..."


"Bagaimana keadaan, Rama?"


"Rama sudah membaik," jawab Sinta lirih


Satria lalu bersalaman dengan Yusuf dan Aletha. Sinta terus menatap dari kaca ICU, melihat bagaimana prianya masih terbaring lemah


"Wake up honey!!"


****


Sinta dan Meyga kembali ke barak. Saat sampai Sinta langsung membersihkan diri. Barak malam ini sangat sepi, sebagian Tentara terluka, dan sebagian lainnya menolong korban-korban gempa


Sinta terduduk di ranjang, menatap boneka beruang pemberian Rama. Air matanya menitik perlahan-lahan.


"Sinta!!"


Sinta menoleh di ambang pintu, mendapati Meyga yang tampak berbinar.


"Rama sudah sadar,"


Tanpa menjawab Sinta dan Meyga langsung melesat kembali ke kota, Di lorong rumah sakitpun Sinta terus berlari. Rama sudah di rawat ke kamar rawat inap VIP


Sinta langsung membuka kamar rawat inap itu, di dalam ternyata ada Aletha, Yusuf, Cakra, Dina, dan Rednan. Semua mata tertuju kepada Sinta yang tampak ngos-ngosan, termasuk mata hitam yang saat ini menatap Sinta.


Sinta menatap pria yang sedang terduduk di ranjang, Perlahan Sinta mendekati ranjang itu. Aletha dan Yusuf menepi memberikan ruang untuk Sinta


"Gi--Gimana keadaan lo, Ram?" Sinta saat ini malah tampak canggung dengan Rama

__ADS_1


Rama tersenyum tipis melihatnya. "Gue gakpapa kok,"


Sinta sedikit kesal mendengar Rama yang tampak santai, "Lo aneh. Nyawa lo tadi hampir melayang, dan lo bilang lo gakpapa?!!"


Rama malah terkekeh melihat Sinta yang merasa kesal. "Apa lo lagi mengkhawatirkan gue?"


Sinta langsung menunduk, menutupi rona di wajahnya. Semua orang yang melihat hanya terkekeh.


"Ayo kita keluar, aku sangat lapar. Papi ayo kita ke kantin" ujar Rednan


"Baiklah, mumpung sudah ada Sinta, aku juga lapar" tambah Aletha.


Di ruangan itu kini hanya tersisa Rama dan Sinta. Mereka berdua hanya diam, kecanggungan pun menyelimuti keduanya


"Lo gak usah khawatir sama gue," ujar Rama memecah kecanggungan


"Gak khawatir gimana? Lo itu hampir mati!" nada Sinta kian meninggi, karna merasa kesal dengan yang Rama ucapkan


"Iya gue mungkin mau mati, tapi gue mendengar lo manggil gue, dan lo juga mengatakan kalo lo pun suka sama gue,"


Deg!!


Sinta langsung gugup mendengarnya, "L--Lo denger?"


Rama menghela napas berat. "Gue juga gak tahu, gue cuma bisa mendengar suara lo"


"O--Oh"


Tiba-tiba tangan Sinta diraih oleh Rama, hal itu membuat Sinta terkejut.


"Karna lo suka sama gue, dan gue suka sama lo. Kita pacaran saja!!"


"Ha!???" sepontan Sinta langsung berteriak, tak kala mendengar ajakan Rama yang tiba-tiba


"Iya kita pacaran. Pertemuan awal kita memang tidak berkesan apapun, Sinta. Tapi gue gak tahu, rasa ini tiba kapan. Gue cinta sama lo Sinta, gue merasa sakit saat lihat lo sedih, gue merasa senang saat melihat lo senang. Dan gue gak bisa berhenti untuk nggak melindungin lo"


Sinta hanya diam tidak bisa berkata-kata. Rama tiba-tiba mengecup punggung tangan Sinta. Hal itu membuat Sinta tersipu


"Gu--Gue gak suka sama lo!"


Rama mengkerutkan keningnya mendapat penolakan dari, Sinta. "Kenapa lo bohongin perasaan lo sendiri?"


"Gue emang gak suka sama lo!"


Entah apa yang Sinta pikirkan, Sinta masih saja gengsi untuk mengakui perasaannya. Sinta langsung bangkit dari duduknya, Sinta hendak pergi. Namun, tiba-tiba Rama pingsan


"Rama...!!" Sinta mengguncang tubuh Rama, bayang-bayang dimana Rama hampir meninggal terbesit di pikirannya.


Air mata Sinta terus menetes. "Iya!!! Gue suka sama lo Rama, gue cinta sama lo!!!"


Sinta memejamkan matanya sembari memeluk tubuh Rama.


"Yaudah kita resmi pacaran,"


Deg!!


TBC🍻


follow ig author:

__ADS_1


@yesitree_


__ADS_2